Unknown's avatar

About hai hai bengcu

Hanya seorang Tionghoa Kristen.

Seikat Kembang Ke Tempat Sunyi


Pada salah satu hari Minggu di tiap bulan, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat sunyi di pinggir kota itu. Banyak sahabat yang kerap bertanya, “mengapa?” Banyak pula kenalan yang mengernyitkan dahi tak mengerti. Demikian pula, seperti dunia memiliki sisi gelap dan terang yang selalu berdampingan, para penentang pun mencibir sinis. Bagi  mereka apa yang saya lakukan sia-sia belaka. Orang yang sudah pergi ke alam baka tak mungkin lagi menyapa yang di alam dunia.

Continue reading

Menafsir Bengcu Menggugat Pendeta


Oleh Nusya Kuswantin*

Gambar: jualbukusastra.blogspot.com

Pada penutup bagian Prakata di halaman viii, Bengcu menuliskan namanya dalam huruf kecil semua: hai hai bengcu ang ci yang. Bisa ditebak bahwa nama yang diberikan oleh orangtuanya adalah Ci Yang saja, dengan Ang adalah nama keluarga, sementara Bengcu dan Hai Hai adalah julukan tambahan. Berangkat dari nama ini saya ingin menafsir Bengcu dalam bukunya “Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh” (Atma Bina Semesta Jakarta, 2013, 286 halaman). Cara menuliskan nama – yang dengan huruf kecil semua – saya tafsir sebagai upaya Bengcu menunjukkan sisi kerendahhatiannya. Ini bisa disetarakan ketika dalam bahasa Inggris orang memilih menggunakan i (huruf kecil) untuk menggantikan I (yang bermakna saya, yang menurut konvensi harus ditulis dalam huruf besar) dengan dalih bahwa penggunaan huruf besar menyiratkan keakuan yang arogan. Continue reading

Kegelisahan Sang Apologet Jalanan


FOTO: Ita Siregar

Menuruti garis keturunannya sebagai seorang Tionghoa, hai hai bengcu mempelajari kitab dan tradisi leluhur dan tidak berupaya menghapusnya hanya karena ia beragama Kristen. Menerima takdirnya yang lain sebagai pengikut Kristus, tidak lantas membuat penulis buku ini menjadi lemah menghadapi perilaku pemimpin agama yang dianggapnya tidak lagi setia pada teks Kitab Suci. Keberanian penulis dalam mengaitkan teks kedua kitab dengan kondisi mutakhir, lalu memunculkan makna baru, merupakan kepekaan yang mengagumkan. Dan lahirnya buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh ini (Atma Bina Semesta, 2013), lebih merupakan berbagi kegelisahan atas apa yang dialami dan dilihat penulis sedikitnya dalam tujuh tahun belakangan. Continue reading

Meja Sembahyang Leluhur Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


FOTO: bayuwinata

Orang Tionghoa Kristen harus menghancurkan meja sembahyang leluhurnya karena itu adalah penyembahan berhala dan pemujaan Iblis?  Mungkinkah menjadi Kristen yang saleh namun mempertahankan meja sembahyangnya? Continue reading

Wisely Senang Papanya Sesat


100_1172Semalam, makan ramen di mall. Setelah makan kami akan beli sepeda untuk hadiah ulang tahun. Hari ini, 7 September 2013, Wisely anak kami ulang tahun yang ke 12. Saat jalan ke Mall, Wisely cerita siapa saja yang dia undang ke rumah. Saya lalu bertanya, kenapa si anu tidak di undang dan kenapa si anu tidak diundang? Dia bilang, “karena dia nggak cool!”

hai hai: Ketika teman kamu ulang tahun dan kamu tidak diundang, kamu kecewa bukan?

Wisely: Bukan cuman kecewa, rasanya sakit sekali. Continue reading