Penipuan Penjara Tuyul


Isi blog ini saya HAPUS karena beberapa orang sahabat menganggapnya kurang ETIS sebab informasi yang saya kutip itu berasal dai grup FB SECRED. Saya tidak pernah menulis blog untuk menyakiti seseorang. Saya menulis untuk memberi pencerahan. Apabila harus memilih BLOG atau SAHABAT, maka saya memilih SAHABAT! Saya akan menulis dengan cara yang lain agar tidak membuat kesal para sahabat.

Beginilah Cara Bengcu Menggugat Pendeta-pendeta Kristen Indonesia


By: Tante Paku

BengcuTanteBagi pembaca setia Sabda Space tentu sudah tak asing dengan blogger yang bernama Hai Hai dengan artikel-artikelnya yang sebagian besar menguliti ajaran-ajaran kekristenan yang diajarkan dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan Alkitab, melainkan ditafsirkan sekehendak hatinya itu, begitulah alasan utamanya. Continue reading

Menafsir Bengcu Menggugat Pendeta


Oleh Nusya Kuswantin*

Gambar: jualbukusastra.blogspot.com

Pada penutup bagian Prakata di halaman viii, Bengcu menuliskan namanya dalam huruf kecil semua: hai hai bengcu ang ci yang. Bisa ditebak bahwa nama yang diberikan oleh orangtuanya adalah Ci Yang saja, dengan Ang adalah nama keluarga, sementara Bengcu dan Hai Hai adalah julukan tambahan. Berangkat dari nama ini saya ingin menafsir Bengcu dalam bukunya “Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh” (Atma Bina Semesta Jakarta, 2013, 286 halaman). Cara menuliskan nama – yang dengan huruf kecil semua – saya tafsir sebagai upaya Bengcu menunjukkan sisi kerendahhatiannya. Ini bisa disetarakan ketika dalam bahasa Inggris orang memilih menggunakan i (huruf kecil) untuk menggantikan I (yang bermakna saya, yang menurut konvensi harus ditulis dalam huruf besar) dengan dalih bahwa penggunaan huruf besar menyiratkan keakuan yang arogan. Continue reading

Kegelisahan Sang Apologet Jalanan


FOTO: Ita Siregar

Menuruti garis keturunannya sebagai seorang Tionghoa, hai hai bengcu mempelajari kitab dan tradisi leluhur dan tidak berupaya menghapusnya hanya karena ia beragama Kristen. Menerima takdirnya yang lain sebagai pengikut Kristus, tidak lantas membuat penulis buku ini menjadi lemah menghadapi perilaku pemimpin agama yang dianggapnya tidak lagi setia pada teks Kitab Suci. Keberanian penulis dalam mengaitkan teks kedua kitab dengan kondisi mutakhir, lalu memunculkan makna baru, merupakan kepekaan yang mengagumkan. Dan lahirnya buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh ini (Atma Bina Semesta, 2013), lebih merupakan berbagi kegelisahan atas apa yang dialami dan dilihat penulis sedikitnya dalam tujuh tahun belakangan. Continue reading