Buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh Dan Pendeta GKI


Gambar: Satu harapan.com

Pertama-tama saya ingin menyatakan penghargaan saya atas usaha saudara saya, Hai Hai Beng Cu, yang telah bekerja keras untuk menerbitkan buku ini. Melihat isi buku dan tebalnya, saya membayangkan Hai Hai sudah menghabiskan banyak sekali waktu – entah berapa tahun – untuk menggali isi Alkitab dan menggumuli pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam hatinya. Saya jarang sekali menemukan anggota gereja seperti Hai Hai yang mempunyai ketekunan untuk menggali isi Alkitab dengan sungguh-sungguh serius, mencoba menggali kata-katanya dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani dan Yunani, dst. Continue reading

Beginilah Cara Bengcu Menggugat Pendeta-pendeta Kristen Indonesia


By: Tante Paku

BengcuTanteBagi pembaca setia Sabda Space tentu sudah tak asing dengan blogger yang bernama Hai Hai dengan artikel-artikelnya yang sebagian besar menguliti ajaran-ajaran kekristenan yang diajarkan dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan Alkitab, melainkan ditafsirkan sekehendak hatinya itu, begitulah alasan utamanya. Continue reading

Menafsir Bengcu Menggugat Pendeta


Oleh Nusya Kuswantin*

Gambar: jualbukusastra.blogspot.com

Pada penutup bagian Prakata di halaman viii, Bengcu menuliskan namanya dalam huruf kecil semua: hai hai bengcu ang ci yang. Bisa ditebak bahwa nama yang diberikan oleh orangtuanya adalah Ci Yang saja, dengan Ang adalah nama keluarga, sementara Bengcu dan Hai Hai adalah julukan tambahan. Berangkat dari nama ini saya ingin menafsir Bengcu dalam bukunya “Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh” (Atma Bina Semesta Jakarta, 2013, 286 halaman). Cara menuliskan nama – yang dengan huruf kecil semua – saya tafsir sebagai upaya Bengcu menunjukkan sisi kerendahhatiannya. Ini bisa disetarakan ketika dalam bahasa Inggris orang memilih menggunakan i (huruf kecil) untuk menggantikan I (yang bermakna saya, yang menurut konvensi harus ditulis dalam huruf besar) dengan dalih bahwa penggunaan huruf besar menyiratkan keakuan yang arogan. Continue reading

Kegelisahan Sang Apologet Jalanan


FOTO: Ita Siregar

Menuruti garis keturunannya sebagai seorang Tionghoa, hai hai bengcu mempelajari kitab dan tradisi leluhur dan tidak berupaya menghapusnya hanya karena ia beragama Kristen. Menerima takdirnya yang lain sebagai pengikut Kristus, tidak lantas membuat penulis buku ini menjadi lemah menghadapi perilaku pemimpin agama yang dianggapnya tidak lagi setia pada teks Kitab Suci. Keberanian penulis dalam mengaitkan teks kedua kitab dengan kondisi mutakhir, lalu memunculkan makna baru, merupakan kepekaan yang mengagumkan. Dan lahirnya buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh ini (Atma Bina Semesta, 2013), lebih merupakan berbagi kegelisahan atas apa yang dialami dan dilihat penulis sedikitnya dalam tujuh tahun belakangan. Continue reading

Buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


SampulbengcuPukulan yang tidak mematikan membuat yang dipukul semakin kuat. Itulah alasan kenapa buku ini tidak jadi terbit tahun 2006 yang lalu. Diperlukan waktu tujuh tahun untuk menggali Alkitab lebih dalam lagi dan menguji lebih banyak kesaksian lagi serta diuji lebih banyak orang lagi. Itu sebabnya yang tertulis di dalam buku ini benar-benar tidak takut diuji bahkan dipuji karena sudah berkali-kali diuji ratusan orang. Continue reading