Peluncuran sekaligus diskusi buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh, Di Mata Seorang Tionghoa Kristen, diboikot beberapa gereja di Medan. Perhelatan di kafe Ye Xiang Coffee, Komplek Asia Mega Mas Medan, pada 25 Agustus 2013 itu hanya dihadiri beberapa orang. Tokoh gereja dan sarjana teologi yang diundang, tidak muncul. Continue reading
Monthly Archives: September 2013
Adiknya Digigit Anjing Pitbull Barunya
Adikku di gigit anjing pitbullnya yang baru dibeli. Gua bilang juga apa, anjing adalah anjing. Grounded adalah CARA yang benar untuk membina anjing baru memasuki KELOMPOK barunya. Grounded artinya menempatkan anjing itu dalam KASTA yang paling RENDAH. Jangan lupa di foto luka-lukanya, sebelum dan sesudah dijahit, biar para pembaca bukuku tentang Pitbull nanti tahu apa arti digigit anjing terutama digigit Pitbull. Continue reading
Daftar Isi Buku Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh Di Mata Seorang Tionghoa Kristen
| Peruntukan |
v |
| Prakata |
xi |
| Kata Sambutan Pdt. Thomy J. Matakupan SE, MTh |
xiii |
| Kata Sambutan Tommy Wijaya S.K.M, MDiv |
xvii |
| Bab Satu: Bengcu Menggugat Karena Bertanggung Jawab |
1 |
|
3 |
|
5 |
|
7 |
|
Seikat Kembang Ke Tempat Sunyi
Pada salah satu hari Minggu di tiap bulan, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi tempat sunyi di pinggir kota itu. Banyak sahabat yang kerap bertanya, “mengapa?” Banyak pula kenalan yang mengernyitkan dahi tak mengerti. Demikian pula, seperti dunia memiliki sisi gelap dan terang yang selalu berdampingan, para penentang pun mencibir sinis. Bagi mereka apa yang saya lakukan sia-sia belaka. Orang yang sudah pergi ke alam baka tak mungkin lagi menyapa yang di alam dunia.
Menafsir Bengcu Menggugat Pendeta
Oleh Nusya Kuswantin*

Gambar: jualbukusastra.blogspot.com
Pada penutup bagian Prakata di halaman viii, Bengcu menuliskan namanya dalam huruf kecil semua: hai hai bengcu ang ci yang. Bisa ditebak bahwa nama yang diberikan oleh orangtuanya adalah Ci Yang saja, dengan Ang adalah nama keluarga, sementara Bengcu dan Hai Hai adalah julukan tambahan. Berangkat dari nama ini saya ingin menafsir Bengcu dalam bukunya “Bengcu Menggugat Teologi Alam Roh” (Atma Bina Semesta Jakarta, 2013, 286 halaman). Cara menuliskan nama – yang dengan huruf kecil semua – saya tafsir sebagai upaya Bengcu menunjukkan sisi kerendahhatiannya. Ini bisa disetarakan ketika dalam bahasa Inggris orang memilih menggunakan i (huruf kecil) untuk menggantikan I (yang bermakna saya, yang menurut konvensi harus ditulis dalam huruf besar) dengan dalih bahwa penggunaan huruf besar menyiratkan keakuan yang arogan. Continue reading
