
Nenekku lahir tahun 1900 di Hokkien, Tiongkok. Dia ikut merantau dengan suaminya ke Hindia Belanda jauh sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Walaupun selalu berbahaasa Melayu (Indonesia) namun bahasa Indonesianya lucu bin ajaib.
Continue reading

Nenekku lahir tahun 1900 di Hokkien, Tiongkok. Dia ikut merantau dengan suaminya ke Hindia Belanda jauh sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Walaupun selalu berbahaasa Melayu (Indonesia) namun bahasa Indonesianya lucu bin ajaib.
Continue reading
Hari itu dia memberitahu adikku bahwa dia tidak kuat lagi untuk menggantung sangkar-sangkar burung-burung kesayangannya. Tanpa musiawarah, dia dan istrinya serta anak-anaknya pun tahu bahwa hitung mundur sudah dimulai.
Continue reading
Aneh bin ajaib! Saat diteriaki, “CINA SIALAN LU!” Tionghoa Indonesia langsung meradang dan sakit hatinya tuh di sini padahal MEREKA sama sekali tidak tahu, “SIALAN,” artinya apa? Mereka juga tidak tahu kenapa MARAH diteriaki, “CINA LU!”?
Continue reading
Catatan: Siapa saja bisa membacanya karena tulisan Kwee Tek Hoay (1886–1951) yang terbit pertama kali dalam Moestika Romans, 1933 enak dibaca dan mudah dipahami. Walaupun belum merdeka (1945) namun istilah “Indonesia” sudah lazim.
Continue reading
Faktanya, orang Tionghoa di Tiongkok dan perantauan (Amerika, Eropa, Jepang, Asia Tenggara) pada jaman Sun Yat Sen (1866 -1925) memang hidup dalam TAKHAYUL. Takhayul menyebabkan KEBODOHAN an KEMISKINAN.
Continue reading