NATAL pertama berhenti kerja jalan terlunta
di tanah kelahiran tak punya uang tak ada tempat bernaung perut membusung mengemis belas kasihan
di kandang hewan saling menghangati terpaksa rela tak punya pilihan
seribu tanya senyap seribu ragu sia-sia janji indah hanya janji dingin, bau, sepi
pun tahu sia sia menangis juga luka hati muncratkan darah suamiku malang, kasihan bukankah salah bunda? sejak awal sudah terluka istriku bukan istriku harga diri benang basah inikah cinta? lelaki lemah sedunia
pun tahu pahit kukunyah juga lelaki tanpa nyalikah aku atau lelaki hati samudera? percuma memilih Continue reading

Saya memulai karir tampil di muka umum sejak kecil, jadi asisten penjual obat keliling di pasar, upahnya selain uang juga trik-trik sulap dan jurus-jurus bela diri, karena karir tersebut, saya nggak pernah dikompas (dimintai uang) lagi oleh preman pasar. Saya menjalankan karir itu dengan memakai topeng, agar mama tidak tahu, teman teman tidak tahu. Saya menjalani karir itu bukan karena kemauan sendiri, tetapi terpaksa menjalaninya sejak suatu hari setelah mengantarkan kueh ke toko yang memesan kue buatan mamaku, aku tertarik untuk ikut berkerumun menonton seorang tukang obat berbadan kekar dengan kumis baplang dan golok tersandang sedang memperagakan jurus-jurus bela dirinya dan sulap. tiba-tiba saja dia melotot padaku, satu-satunya china yang ikut nonton dan menarikku ke tengah lalu menghujani tubuhku dengan berkali-kali bacokan. Saya tidak sempat berteriak karena tidak menyangka apa yang akan terjadi. Anehnya, saya tidak merasa sakit sama sekali. Saya kebal. Dia lalu menyuruh saya mengedarkan obat kuat yang dijualnya. Ketika pertunjukan selasai, dia meberiku uang, Rp. 500, – cukup untuk membeli 20 mangkok bakso komplet. 