Unknown's avatar

About hai hai bengcu

Hanya seorang Tionghoa Kristen.

Natal Pertama


NATAL pertama berhenti kerja jalan terlunta

di tanah kelahiran tak punya uang tak ada tempat bernaung perut membusung mengemis belas kasihan

di kandang hewan saling menghangati terpaksa rela tak punya pilihan

seribu tanya senyap seribu ragu sia-sia janji indah hanya janji dingin, bau, sepi

pun tahu sia sia menangis juga luka hati muncratkan darah suamiku malang, kasihan bukankah salah bunda? sejak awal sudah terluka istriku bukan istriku harga diri benang basah inikah cinta? lelaki lemah sedunia

pun tahu pahit kukunyah juga lelaki tanpa nyalikah aku atau lelaki hati samudera? percuma memilih Continue reading

Aku Tidak Percaya Mukjizat Dan Ini Tidak Boleh Terjadi Lagi


Ketika Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” orang itu pun bangun lalu pulang. Ketika Petrus berkata kepadanya: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangunlah orang itu. Ketika Paulus berkata dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari. Saya sudah bosan melihat seseorang berjalan tertatih-tatih menuju mimbar dengan tangan terayun tak terkendali lalu terbata-bata bersaksi bahwa dia telah sembuh dari lumpuhnya, sementara pengkotbah dengan tegas mengumumkan telah melakukan mujizat kesembuhan ilahi, orang lumpuh berjalan. Tidak perlu menjadi dokter untuk tahu bahwa orang itu sama sekali belum sembuh karena seluruh tubuhnya dengan jelas dan tegas menunjukkan, dampak serangan stroke padanya. Itukah mujizat kesembuhan ilahi generasi ini? Continue reading

Saya Masih Perjaka


Saya memulai karir tampil di muka umum sejak kecil, jadi asisten penjual obat keliling di pasar, upahnya selain uang juga trik-trik sulap dan jurus-jurus bela diri, karena karir tersebut, saya nggak pernah dikompas (dimintai uang) lagi oleh preman pasar. Saya menjalankan karir itu dengan memakai topeng, agar mama tidak tahu, teman teman tidak tahu. Saya menjalani karir itu bukan karena kemauan sendiri, tetapi terpaksa menjalaninya sejak suatu hari setelah mengantarkan kueh ke toko yang memesan kue buatan mamaku, aku tertarik untuk ikut berkerumun menonton seorang tukang obat berbadan kekar dengan kumis baplang dan golok tersandang sedang memperagakan jurus-jurus bela dirinya dan sulap. tiba-tiba saja dia melotot padaku, satu-satunya china yang ikut nonton dan menarikku ke tengah lalu menghujani tubuhku dengan berkali-kali bacokan. Saya tidak sempat berteriak karena tidak menyangka apa yang akan terjadi. Anehnya, saya tidak merasa sakit sama sekali. Saya kebal. Dia lalu menyuruh saya mengedarkan obat kuat yang dijualnya. Ketika pertunjukan selasai, dia meberiku uang, Rp. 500, – cukup untuk membeli 20 mangkok bakso komplet. Continue reading