Yesus Dan Mak Comblang


Anaknya Ditinggal Kaesang Pangarep, Ibu Felicia Murka

Suatu malam pamanku bilang, “Yesus gong aba!” Dalam bahasa Hokkien artinya abang TOLOL. Dia lalu melanjutkan, “Daripada jadi juruselamat seharusnya Yesus jadi mak comblang saja,” Jadi mak comblang Hokkiennya adalah co hemlang (zào hóngniáng 造 紅娘)..

Hampir sepuluh tahun aku tinggal di rumah paman keenamku dari ayah. Dia lumpuh sejak kecelakaan jatuh dari Vespa-nya. Selain lumpuh dia juga mengidap kanker THT (Telinga Hidung Tenggorakan). Belum seminggu aku tinggal di sana dia sudah mengejekku, “Lu Kristen apa? Kristen gong aba ya?”

Di kalangan Hokkien Medan, aba artinya abang. Mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat, setiap kali istilah Aba dikenakan kepada seorang lelaki, pasti diimbuhi kata gong yang artinya TOLOL jadi “Gong aba!” artinya abang tolol. Karena suka memaki namun ingin dianggap rohani maka dari kisah itulah saya membuat makian “abal-abal” untuk melengkapi makian-makian yang sudah saya buat sebelumnya, “oncom”, “dodolipet”, “bonga-bonga”, “dari hongkong?” dan memprovokasi orang hokkien Medan untuk memuliakan kata “A bang” di kalangan sungai telaga untuk menggantikan sapaan “bos”.

Tahun 80-an bahkan sampai hari ini, banyak orang Kristen menganggap sesajen orang Tionghoa (khonghucu, Buddha, tao) bukan hanya najis namun jalan iblis masuk ke tubuh orang Kristen. Bukan hanya mendatangkan kutuk (naas dan jahat) bahkan setelah mati masuk neraka. Haram bagi orang Kristen mengonsumsi makanan bekas sembahyang.

Itu sebabnya di kalangan Cina Medan di mana saja, umumnya memisahkan sebagian makanan khusus untuk kerabat Kristen sebelum menyajikan sesajen. Sesajen ada kertas merahnya. Makanya pamanku bertanya, karena dia pikir saya berlagak TOLOL sebab rakus. Ha ha ha …

Dari asal-usulnya kita langsung tahu bahwa mak comblang bukan tradisi asli Nusantara namun diimport dari Tiongkok kuno. Kata Comblang adalah terjemahan literal dari kata Hokkien Co hemlang (zào hóngniáng 造 紅娘) yang artinya menjadi nyonya/nona merah.

Di Tiongkok, sejak purbakala bahkan sampai hari ini profesi mak comblang sangat dihormati. Namun di antara Tionghoa Indonesia makin hari makin sedikit keluarga yang memakai jasa mak comblong terutama mereka yang Kristen.

“Ngapain pake mak comblang? Anak gua bisa liàn’ài 戀愛 (membina cinta) sendiri. Tuhan Yesus bukan hanya menjodohkan namun menciptakan keduanya sejak kekal.” Jeblak mereka jumawa. “Emangnya Siti Nurbaya? Gua dijodohin? Tak u u ya?” Celetuk anak-anak muda itu.

Waktu muda, suatu kali aku ke resepsi pernikahan teman kuliahku. Begitu melewati pintu aku langsung merasakan hawa pembunuhan di mana-mana. Karena menduga ada yang nggak beres, aku langsung menyibakkan orang-orang yang berkerumun di depan pintu ruang mempelai. Karena penampilanku keren, berdasi dan berjas aku dibiarkan lewat karena dipikir orang penting. Ha ha ha …

Ternyata masalahnya sepele. Orang tua lelaki menuntut agar anaknya berdiri dan duduk di sebelah kiri mempelai perempuan. Sementara orang tua perempuan didukung pendetanya ngeyel, “Dari dulu mempelai perempuan pasti duduk dan berdiri di sebelah kiri lelaki!”

Setelah tahu masalahnya, saya langsung minta tolong agar semua orang keluar dulu agar saya bisa co kongchin (zào xiāngqīn 造 相親) artinya mendamaikan kedua pihak. Kepada kedua mempelai saya berkata, “Tiongkok kuno memuliakan tangan KIRI dan warna MERAH. Yesus memuliakan tangan KANAN dan warna PUTIH. Keluarga lu udah terima ANGPAO dan lu pakai baju putih. Sekarang giliran keluarga lu untuk mengalah satu langkah. Bagaimana?” Setelah melengking “O” panjang, mempelai perempuan langsung setuju. Kepada orang tua perempuan, tanpa Pendeta, saya mengucapkan hal yang sama. Dan mukjizat setelah “O” panjang meereka langsung mengerti dan buru-buru mengalah sepuluh langka.

Tahukah anda apa yang terjadi dengan pernikahan Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit dengan Dyah Pitaloka Citraresmi anak Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda? Inilah kisahnya.

Dengan rendah hati Maharaja Linggabuana mengajak permaisurinya dan hampir seluruh pejabatnya dikawal pasukan kecil seperti rakyat jelata mengantar Dyah Pitaloka Citraresmi ke Majapahit untuk menikah. Di perbatasan ibu kota mereka berhenti di Pesanggrahan Bubat.

Sejarah mencatat bagaimana Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka dan mertuanya bahkan semua orang Sunda yang hadir di Pesanggrahan Bubat hari itu.

Prabu mengirim darmadyaksa (utusan) dari Bali yang sedianya datang untuk menghadiri pernikahan agung tersebut guna menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara Maharaja Linggabuana ke Majapahit dan menceritakan apa yang sesunguhnya yang terjadi?

Kisah itu tercatat di dalam Kidung Sunda alias Kidung Sundayana yang di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda agar diambil hikmahnya.

Apa yang terjadi? Maharaja Linggabuana, para menteri, pembesar kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda dan punggawa-punggawanya bertempur habis-habisan sampai mati melawan Majapahit.

Ibu permaisuri dan Putri Dyah Pitaloka beserta semua perempuan Sunda yang hadir saat itu melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya serta keluarganya. Semuanya mati. Benar-benar mati. Semoga Allah menjauhkan kita dari hari=hari demikian

Kenapa bisa begitu? Setelah lama memikirkannya sambil mencari-cari akhirnya saya menyimpulkan karena inilah yang diajarkan Tiongkok kuno tentang Kaisar yang lalu diteladani sampai rakyat jelata:

Mengambil istri harus jemput sendiri. Merendahkan diri seperti pelayan, memegang kekang dan memacu sendirian guna membangun kekerabatan. Kesusilaan pernikahan sehikmat sembahyang korban.

Aku sering merenung, kalau saja Majapahit mempekerjakan mak comblang dan Kerajaan Sunda juga mempekerjakan mak comblang, mustahil pesangrahan Bubat banjir darah.

Umur lima belas tahun dia jī 笄 (mengenakan konde). Umur dua puluh tahun dia menikah. Bila tahun itu berhalangan, dia baru menikah saat berumur dua puluh tiga tahun. Yang bertunangan dulu (sebelum menikah) namanya istri (qī 妻). Yang pergi dari rumah begitu saja namanya selir (qiè妾). Semua perempuan melakukan salam (bài 拜) dengan memuliakan tangan kanan. Liji X:2:37 – Neize

Maharaja Linggabuana sudah mengalah selaksa langkah ke Majapahit, itu sebabnya ketika disuruh mengantar putrinya sendiri ke peraduan Hayam Wuruk seolah mucikari menjajakan pelacurnya, maka KUJANG-lah yang berteriak. TERJANG! Rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Kalau saja Kaesang mempekerjakan mak comblang? Kalau saja keluarga Jokowi mempekerjakan mak comblang? Kalau saja ibu Felicia memperlakukan mak comblang? Mak comblang pun co kongchin (zào xiāngqīn 造 相親) mendamaikan semua pihak.

Itu sebabnya sampai hari ini mak comblang sangat dihargai di Tiongkok dan di antara orang-orang Tionghoa Indonesia yang mengerti karena mereka mak comblang mendamaikan semua pihak tanpa melanggar kesusilaan.

Makanya almarhum pamanku berkata, ““Yesus gong aba! Daripada jadi juruselamat seharusnya Yesus jadi mak comblang saja untuk co hemlang (zào hóngniáng 造 紅娘) – mendamaikan Allah dan manusia.

One thought on “Yesus Dan Mak Comblang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.