Pak Anies, Pribumi Bukan Penista


Hasil gambar untuk PribumiPak Anies, PRIBUMI bukan PENISTA karena mereka hanya orang-orang yang kau hasut untuk menista bahwa “Di depan mata kita ada kolonialisme dan penjajahan selama ratusan tahun di Jakarta yang menindas PRIBUMI.”

ANIES: Dan Jakarta ini satu dari sedikit. Satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata itu di jakarta. Selama ratusan tahun. Betul tidak, saudara-saudara? Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh, tapi di Jakarta bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata, dirasakan sehari-hari. Karena itu BILA kita MERDEKA maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu kita semua PRIBUMI, ditindas dan dikalahkan. Kini TELAH merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

ANIES: Istilah itu digunakan untuk pada konteks pada saat era penjajahan karena saya menulisnya juga pada era penjajahan dulu. Karena Jakarta ini kota yang paling merasakan. Kalau kota-kota lain itu nggak ngeliat Belanda deket. Yang ngeliat belanda dari jarak dekat siapa? Jakarta. Coba kita liat di plosok-plosok Indonesia, tahu ada Belanda, tapi lihat di depan mata? Nggak. Yang liat di depan mata itu kita. Pokoknya. Pokoknya itu digunakan dan menjelaskan era kolonial belanda dan itu memang kalimatnya di situ, kan.

Tidak ada yang disebut Indonesia sebelum Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia dan sebelum proklamasi, tidak ada yang disebut Bangsa Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka tidak ada yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebelum NKRI merdeka tidak ada yang disebut Wilayah Indonesia. Sebelum NKRI merdeka tidak ada yang disebut Warga Negara Indonesia.

Adakah Warga Negara Indonesia sebelum Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945? Tidak ada. Lalu, siapakah yang disebut Warga Negara Indonesia pada hari Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945? Semua MANUSIA yang ada di dalam Wilayah Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah orang Indonesia Asli.

UU No. 3 Tahun 1946 Tentang Warga Negara Dan Penduduk Negara menyatakan bahwa Warga Negara Indonesia ialah: Orang yang aseli dalam daerah Negara Indonesia. Artinya: Orang Indonesia asli adalah semua orang yang ada di dalam daerah Negara Indonesia pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Itu berarti, karena lahir di Jawa pada tahun 1930 maka Paimin disebut “Pribumi” oleh Pemerintah Hindia Belanda. Karena lahir di China pada tahun 1920 lalu merantau ke Bogor pada tahun 1940, makanya Bengcu disebut “Cina” oleh Pemerintah Hindia Belanda. Prakhas lahir di India pada tahun 1941 lalu merantau ke Medan, makanya sebagai orang India dia disebut orang “Timur Asing.” Karena lahir di Amsterdam tahun 1935 lalu bekerja kepada pemerintah Hindia Belanda di Batavia tahun 1942 maka Marco van Basten digolongkan sebagai orang “Eropa.”

Pada hari Indonesi merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, secara otomatis, baik Paimin maupun Bengcu maupun Prakhas juga Vanderbilt disebut “Orang Indonesia Asli” alias “Orang yang aseli dalam daerah Negara Indonesia”.

Walaupun lahir di wilayah Indonesia tahun 1969 dan seumur hidupnya tinggal di wilayah Indonesia dan sukunya Jawa serta agamanya Islam, namun Paijo bukan “Orang Indonesia Asli” karena dia hanya “Orang kerutunan Indonesia ASLI”. Kenapa demikian?

Karena walaupun umur Paimin, Bengcu, Prakhas dan Marco van Basten berbeda-beda namun secara kewarganegaraan Indonesia mereka lahir pada hari yang sama yaitu: 17 Agustus 1945 di wilayah Indonesia. Walaupun lahir di tempat-tempat yang berbeda-beda namun secara kewarganegaraan mereka lahir di wilayah yang sama yaitu dalam daerah Negara Indonesia pada hari Indonesia merdeka yaitu 17 Agustus 1945.

Bukankah Marco van Basten adalah orang Belanda? Tidak tahukah anda bahwa dia adalah penjajah yang mengalahkan dan menindas bangsa Indonesia selama ratusan tahun? Mustahil. Indonesia baru merdeka alias lahir pada tanggal 17 Agustus 1945, itu sebabnya mustahil dijajah dan ditindas selama ratusan tahun pada hari itu.

Kisanak, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, yang dijajah ratusan tahun oleh Bangsa Belanda itu bukan bangsa Indonesia. Yang dijajah oleh Belanda adalah 186 Kerajaan lebih, misalnya, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kasunanan Surakarta, Kesultanan Banten, Kesultanan Ternate, Kesultanan Deli, Kesultanan Aceh, dan lain-lainnya.

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Djakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.

Pada hari itu, kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, bukan kemerdekaan orang-orang yang disebut Pribumi saja. Kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia, bukan memproklamasikan PERANG kepada Belanda dan Jepang apalagi kepada seluruh dunia apalagi memproklamasikan kita pribumi dan orang cina cuman numpang.

Itu sebabnya, pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1945 kita tidak mengumbar permusuhan dan kebencian kepada orang-orang Jepang dan orang-orang Belanda apalagi orang-orang Tionghoa yang ada di dalam wilayah NKRI. Bahkan kita juga tidak memusuhi apalagi membenci para penjahat di penjara menurut hukum Hindia Belanda.

Kenapa demikian? Karena pada hari kemerdekaan Indonesia, semua manusia yang ada di dalam wilayah Indonesia adalah SESAMA warga negara Indonesia yang sama-sama MERDEKA dan sama-sama orang Indonesia ASLI alias Warga Negara Indonesia Asli.

Handai taulanku sekalian, karena sejak Indonesia MERDEKA konsep Warga Negara Indonesia (WNI) tidak pernah diajarkan dengan benar kepada masyarkat bahkan dipakai untuk mendiskriminasi orang-orang Tionghoa itu sebabnya sampai hari ini masih banyak orang Indonesia yang mengagul-agulkan dirinya PRIBUMI dan mengejek orang-orang Tionghoa NON PRI.

Bagaimana dengan anda, wahai orang Indonesia, anda merasa tersanjung diagul-agulkan sebagai PRIBUMI oleh Gubernur Anies Baswedan pada hari pelantikannya? Anda merasa diri anda lebih BERHAK atas NKRI dibandingkan orang Tionghoa? Ha ha ha …

3 thoughts on “Pak Anies, Pribumi Bukan Penista

  1. pada 17 Agustus 1945 semua yang lahir di Indonesia adalah orang Indonesia Asli walaupun keturunan tionghoa, belanda, inggris, jepang. (hai hai benar )
    Tapi yang dipake menilai oleh anies baswedan adalah ciri ciri fisik .keturunan. Yang dipake anies baswdan bukan kontek sejarah tapi kontek biologi asal-usul ras manusia. Demi apa ?? tentu saja demi adu domba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.