Sejarah Kelenteng


Hal beragama, karena tidak tahu ajarannya maka disesatkan dan dibohongi sehingga hidup dalam tahyul yang penuh ketakutan dan harapan kosong serta pemerasan dan pemborosan. Itu namanya Cung Cung Cap.

Agama diajarkan untuk membantu umat manusia menyelesaikan masalah kehidupannya. Itu sebabnya, kalau ajaran agamamu dan tata ibadahnya, alih-alih menyelesaikan masalahmu, justru membuatmu bermasalah, itu berarti anda sudah disesatkan dengan tahyul sehingga hidup dalam ketakutan dan harapan kosong serta pemerasan dan pemborosan.

Agama Tiongkok kuno adalah agama akal budi. Itu sebabnya, ajarannya dan tata ibadahnya masuk akal dan tidak tahyul. Tahyul adalah: Kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, namun sebenarnya tidak ada dan tidak sakti sama sekali.

Bagaimana dengan kehidupan beragama orang-orang Tionghoa hari ini? Mengenaskan. Ajarannya penuh tahyul dan dongeng sementara tata ibadahnya penuh pembohongan publik dan pemborosan sia-sia.

Penuh tahyul artinya penuh dengan segala yang dianggap ada dan sakti namun sesungguhnya tidak ada dan tidak sakti sama sekali. Penuh dengan dongeng artinya cerita-ceritanya tidak benar-benar terjadi alias bukan kejadian nyata. Penuh pembohongan publik karena tata ibadahnya hanya diadakan untuk memeras kocek dan penuh pemborosan sia-sia.

Dalam hal beragama ada tiga hal utama yaitu: Rumah ibadah, tata ibadah dan ajaran agama. Yang saya maksudkan dengan Agama Tionghoa adalah agama yang dianut oleh orang-orang Tionghoa Indonesia dengan keyakinan bahwa itu adalah agama yang dianut oleh nenek moyang orang Tiongkok sejak purbakala.

Anda pernah membaca kitab suci Agama Tionghoamu? Berapa banyak ajarannya yang kaupahami? Hampir NOL besar, bukan? Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, faktanya, anda tidak mempelajari ajaran agamamu bukan karena tidak punya kesempatan namun karena anda nggak peduli. Buktinya, walaupun nggak ngerti ajarannya namun anda rajin sekali sembahyang. Satu hari dua kali anda sembahyang. Pagi dan malam. Setiap tanggal satu dan tanggal lima kalender Tionghoa, anda menyajikan sesajen.

Kenapa rajin sembahyang? Hoki. Supaya cepat kaya dan makin kaya. Kenapa takut tidak sembahyang? Takut dikutuk. Takut usahamu dan pekerjaanmu bangkrut. Nyatanya, anda beramal bukan karena peduli dan semangat untuk berbagi namun karena diyakinkan bahwa semakin besar sumbanganmu, semakin hoki pula usahamu. Semakin pelit sumbanganmu semakin seret pula usahamu.

Itu namanya cung cung cap. Ngacung ngacung tanpa ucap. Ngacung ngacung dengan hio tanpa mengucapkan apa pun. Apa buktinya anda cung cung cap? Buktinya anda nggak paham dengan rumah ibadahmu sendiri.

Apa itu Kelenteng? Ada yang bilang: Disebut Kelenteng karena setiap hari terdengar kelenengan. Padahal, suara keras orang Tiongha sembahyang itu bukan kelenengan namun cheng cheng, tung cheng, tung cheng. Yang suara kelenengannya keras itu gereja, bukan Kelenteng. Kalau suara yang jadi alasan, harusnya rumah ibadah orang Tionghoa disebut “tung cheng tung cheng” saja bukan?

Menurut catatan sejarah, tahun 1650 Letnan Kwee Hoen mendirikan Kwan Im Keng (guānyīn tíng 觀音 亭) artinya kios Kwan Im, Batavia (petak sembilan). Gedung itu lalu dipugar oleh Kapitan Oei Tji Lo tahun 1755 dan diberi nama Kim Tek Ie (jīn dé yuàn 金 德 院) artinya lembaga kebajikan emas. Atas catatan sejarah tersebut, seseorang langsung menulis dongeng bahwa Kelenteng berasal dari kata Kwan Im Keng, padahal ucapan keduanya berbeda ibarat langit dan bumi.

Apa itu Ke Len Teng? Mari kita belajar bersama! Sampai hari ini, orang Hokkien Medan masih menggunakan istilah, “ke leng,” untuk menegur seseorang yang prilakunya kelewatan. Ke leng (koi leng) artinya apa? Artinya kelewatan naga (guò lóng 過 㡣). Kenapa kelewatan naga?

Lóng 龍 dan lóng 㡣 adalah dua aksara yang berbeda. Ucapannya sama namun tulisannya berbeda. Artinya pun berbeda. Lóng 龍 adalah seekor binatang di Tiongkok kuno. Saat ini kita tidak melihatnya lagi namun sejarah mencatat keberadaannya. Long alias naga dijadikan simbol oleh para kaisar Tiongkok. Hanya kaisar yang boleh memakai simbol long.

Aksara long 㡣 ini ada di dalam kamus mandarin, namun saya belum pernah membaca penggunaannya dalam Sishu Wujing (kitab suci agama Khonghucu), Dao de Jing, Mozi, Zhuangzi, Liezi, Shiji, dll. Bahkan, di Internet pun, hanya saya melihatnya di kamus mandarin online.

Dengan memperhatikan aksara dì 帝 di dalam aksara Long 㡣 tersebut maka saya menduga bahwa itu adalah simbol untuk Shàngdì 上帝 Kaisar Yang Mahatinggi. Karena manusia tidak pernah melihat simbol Long 㡣 digunakan oleh Shàngdì, itu sebabnya kita hanya tahu bahwa aksara tersebut disediakan oleh nenek moyang kita namun tidak pernah dibahas dan dibicarakan, baik rupanya, warnanya, bentuknya, bahannya, dll.

Sesungguhnya, di Nusantara, ada yang merasa dirinya kaya dan berkuasa sehingga sombong dan jumawa bukan alang kepalang. Untuk membuktikan diriny adigung adiguna, mereka pun memahat naga di atap rumahnya. Padahal, hanya kaisar yang boleh memakai simbol long 龍 naga.

Ke Leng Teng adalah frasa bahasa Hokkien: Ke (guò 過): Kelewatan. Leng (lóng 㡣): Naga. Teng (céng 層): Atap. Ke Leng Teng (guò lóng céng 過 㡣 層): Atap naganya kelewatan, karena hanya kaisar yang boleh memakai simbol Long 龍 naga.

Sejarah mencatat bahwa sejak 3.000 tahun sebelum masehi, secara tradisi, orang Tiongkok suka pantun. Salah jenis pantun yang disukai masyarakat jelata adalah pantun ejekan. Mereka suka mengubah kata dan frasa atau kalimat dengan yang bunyinya hampir sama namun maknanya bertolak belakang untuk mengejek para penguasa. Ternyata, orang Hokkien juga suka dengan pantun demikian.

Misalnya: Em cia lang (bu ruo ren 不 若 人) artinya tidak seperti manusia. Pantun itu diubah menjadi: Em cia lan (bu ruo luǎn 不 若卵) artinya tidak seperti kontol. Ucapan itu dipakai untuk mengejek para penguasa yang perilakunya jahat sekali sehingga tidak seperti manusia.

Tindakan orang-orang kaya membangun rumah dan altar dengan simbol Long 龍 naga itu benar-benar menghujat kesusilaan (Li 禮) namun apa daya, mereka kaya dan berkuasa. Itu sebabnya setelah menyindir “Ke Leng Teng – atap nagamu kelewatan,” mereka juga mengejeknya, “Ke Len Teng (jiē yīn tuán 皆因 團) semuanya punya pala lu benjut,” ha ha ha ha ….

Menurut pengamatan saya, saat ini, hanya ada satu Kelenteng kuno yang dibangun sesuai dengan kesusilaan. Konon, itu dibangun oleh Cengho di Cirebon tahun 1450. Masyarakat kuno mengenalnya sebagai Sam Po Toa Lang, masyarakat sekarang mengenalnya sebagai Kelenteng Talang.

2 thoughts on “Sejarah Kelenteng

    • Ha ha ha …. Saya sering bilang kepada teman-teman, orang-orang Hokkien itu wong cilik. Gayanya diam-diam makan dalam. Selera humornya dan lagu-lagunya sangat sederhana seperti lagu dangdut. Kadang-kadang kita pikir itu adalah lagu yang asal ngejeblak padahal isinya sangat dalam. Ha ha ha … Ketika bicara tentang ajaran Tiongkok kuno, banyak orang yang tiba-tiba bertanya apakah saya sudah pernah ke China dan apakah saya bisa bahasa dan tulisan mandarin? Ketika dijawab tidak pernah dan tidak pernah bisa, mereka suka tersenyum dan bilang, “Dasar orang hokkien.” ha ha ha …Itu karena katanya, orang Hokkien suka ngobrol itu sebabnya suka membual juga. ha ha ha …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.