Cina Sialan Turun Temurun


Image result for Tionghoa jadulOrang Tiongkok ke Nusantara untuk merdeka namun tahun 1740 Belanda membantai mereka di Batavia dan mati 10.000 lebih. Hal itu memicu pemberontakan Cina dan pribumi melawan Belandan yang baru padam tahun 1743.

Setelah kejadian itu, orang-orang Cina pun dipasung dan dilarang bergaul dengan pribumi. Itu sebabnya orang Cina harus punya KTP (kartu tanda penduduk) dan membekal Surat Jalan (SJ) untuk bepergian keluar dari kampungnya. Itulah kolonialisme Belanda.

Penemuan arkeologi menunjukkan bahwa sejak 600 SM, orang-orang Tiongkok bukan hanya berlayar ke Nanyang 南洋 (laut selatan – Asia Tenggara) namun bermukim di sana. Peninggalan Kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh raja Airlangga (990-1049) membuktikan bahwa, selain reruntuhan komunitas orang-orang Tiongkok di sana juga ditemukan tulisan bahwa mereka disebut Cina. Kenapa disebut Cina?

Hanya lelaki Tiongkok yang merantau naik kapal, perempuannya tidak ikut berlayar. Itu sebabnya orang-orang Tiongkok perantauan itu pun lalu menikah dengan perempuan-perempuan pribumi. Sehingga mereka tidak pernah kekeh jumekeh mempertahankan kesukuannya. Itu sebabnya, dengan berlalunya waktu, kita hanya menemukan jejak sejarah dan kebudayaan mereka.

Hal yang sama juga terjadi ketika salah satu pemimpin Cina Islam keturunan suku Hui yang bernama Jin Bun yang digelari Raden Patah mendirikan kekhalifahan Demak, demikian pula ketika Susuhunan (Jūnzhǔ huínán 君主 回男)artinya anak cucu “Sunan” alias “Wali” (wali songo) mendirikan Kasunanan Surakarta, mereka pun tidak kekeh jumekeh mengagul-agulkan marga dan kesukuannya.

Diskriminasi terhadap orang-orang Cina yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda memaksa mereka menjadi “Cina sialan turun-temurun,” orang Cina yang mengalami kesialan turun-temurun. Kenapa demikian? Karena mereka dipaksa untuk mempertahankan kecinaannya turun-temurun.

Karena ribet dan berbahaya maka perempuan-perempuan Tiongkok tidak diajak berlayar dan merantau. Itu sebabnya setelah Cina perantauan merasa kehidupannya mapan, dia pun menikah dengan perempuan pribumi (misal: Jawa), sehingga secara otomatis anak-anak mereka adalah campuran Cina dan Jawa alias Cina Jawa (Cina pribumi).

Apa jadinya kalau Cina Jawa kawin dengan Cina Jawa? Bagaimana kalau Cina Jawa nikah dengan orang Jawa? Bagi Belanda, peduli setan, bagi Belanda, mereka tetap Cina dan harus punya KTP Cina serta membekal surat jalan kalau mau bepergian juga bayar pajak yang lebih mahal.

Diskriminasi Belanda demikianlah memaksa KETURUNAN Cina untuk kekeh jumekeh CINA, walaupun ciri-ciri Cinanya sudah lenyap karena tampangnya Melayu asli. Keturunan Cina demikian dipaksa harus mempertahankan kecinaannya suka atau tidak suka. Mereka dipaksa harus bangga jadi Cina walaupun tampangnya Papua dan hatinya penuh luka.

Kerabatku sekalian, orang-orang demikianlah yang saya sebut, “Cina sialan turun-temurun,” alias orang KETURUNAN Cina yang dipaksa untuk mengalami kesialan secara turun-temurun. Mengenaskan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.