Kenapa Pribumi Disebut Huana Artinya Orang Asing Oleh Orang Tionghoa?


suhuhaihaiKarena kesusilaan (lǐ  禮) tidak diajarkan lagi dengan lengkap itu sebabnya dalam generasi ini  banyak yang tidak tahu lagi kenapa orang Tionghoa Indonesia justru menyebut non Tionghoa huana, artinya orang asing?

Nenek saya bercerita bahwa, “Awalnya kakekmu mencari kehidupan yang labih baik ke huanpeng artinya daerah asing hanya untuk sementara. Meskipun tanpa uang namun kakekmu menyewa tanah 7,5 ha untuk diolah menjadi sawah dan kebun serta beternak babi. Biaya sewanya akan dibayar tahun depan. Kakekmu tidak kuatir karena seumur hidupnya dia belum pernah melihat tanah sesubur ini. Ia yakin setelah tanahnya diolah maka padinya bisa dipanen dan babinya cukup besar untuk dijual.”

Huanpeng artinya daerah asing. Huan (fān 邊) artinya asing. Peng (biān番) artinya daerah.

Nenek bilang, “Setelah punya rumah dan uang, kakekmu pulang ke Tengsua untuk mencari istri. Perjalanan pulang pergi mencari istri menghabiskan waktu satu tahun. Enam bulan pergi dan enam bulan lagi pulangnya. Ketika pamanmu berumur dua tahun, kami ke Tengsua lagi untuk pamitan dan sejak itu kami tidak pernah ke Tengsua lagi.”

“Tanah yang memberimu makan adalah negerimu. Jangan menyangka Tengsua itu hebat karena kami miskin sekali di sana,” menurut nenekku, itulah ucapan kakekku yang selalu diulang-ulangnya kepada ke delapan anaknya dan keponakan-keponakannya juga penduduk kampung kita.

Tengsua adalah nama lain dari Tiongkok. Teng (Tóng 㠉) artinya pegunungan. Shua (shān 山) artinya gunung. Tengsua alias Tóngshān adalah nama tanah air orang Tionghoa. Tanah air kok namanya pegunungan dan gunung? Bukan masalah, bukankah Majapahit menamai tanah airnya Nusantara, artinya kepulauan.

Devide At Impera

Banyak teman-temanku yang menuduh orang Tionghoa rasis karena tidak mau membaur dengan pribumi. Kenapa menyebut orang pribumi Huana? Ketika banyak orang Tionghoa yang tidak tahu artinya?

Nenekku bilang, “Dulu Tenglang dan Huana harus hidup di kampung terpisah. Sembarangan masuk dan tinggal di kampung orang lain bisa di penjara. Bahkan orang-orang Kakang yang kerja bahkan tinggal di rumah kita harus punya surat Polisi.”

Kita menyebut diri kita Tenglang artinya orang panjang. Tenglang adalah singkatan dari Banli tengsia lang (wànlǐ chángchéng rén 萬里 長城 人) artinya orang yang tinggal di tembok yang panjangnya sepuluh ribu li (tembok china).

Kenapa para pekerja disebut Kakang? Para pekerja yang dimaksudkan nenekku adalah orang Jawa. Mereka menggunakan kata “Ka” untuk menyapa yang perempuan dan “Kang” untuk memanggil yang lelaki. Itu sebabnya mereka disebut Kakang.

Huan (fān 番) artinya orang asing. Lang (rén  人) artinya orang. Kenapa kita tidak menyebut mereka Huanlang (fānrén 番人) artinya orang asing? Kenapa kita justru menamai mereka Huana (fānzī 番仔) artinya orang lain? Orang asing yang tinggal di luar negeri kita namanya Huanlang. Orang asing yang tinggal di luar kampung kita namanya Huana artinya orang lain.

Kerabatku sekalian, sejarah mencatat bahwa sejak purbakala orang Tionghoa selalu membaur dengan penduduknya. Untuk memecah bela Nusantaralah pemerintah Hindia Belanda memaksa orang Tionghoa untuk tetap tinggal di dalam kampungnya dan tidak boleh membaur dengan penduduk lainnya.

Para Pahlawan Bangsa Mengkhianati NKRI

Bukan orang Tionghoa yang tidak mau membaur namun para pahlawan bangsalah yang mengkhianati NKRI dengan melanggar hukum dan HAM serta keadilan lalu mengusir orang Tionghoa keluar dari kampung-kampung dengan PP 10 tahun 1959.

Bukan orang Tionghoa yang kemaruk jadi konglomerat namun para pahlawan bangsalah yang mengkhianati NKRI dengan melanggar hukum dan HAM serta keadilan dengan melarang orang Tionghoa menjadi pedagang kecil di kecamatan bahkan desa. Di waktu yang sama mereka memaksa orang Tionghoa hanya boleh menjadi pedagang besar di ibukota-ibukota kabupaten dan provinsi dengan PP 10 tahun 1959.

Bukan orang Tionghoa yang kemaruk berkuasa dan merampok negeri ini namun mereka yang menyebut dirinya pribumi dan mayoritaslah yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa dan menjarah negeri ini gila-gilaan.

Bukan orang Tionghoa yang menjarah NKRI namun mereka yang menyebut dirinya pribumi dan mayoritas serta orang kecillah yang menjarah toko-toko dan rumah-rumah orang Tionghoa tanpa perikemanusiaan.

Handai taulanku sekalian, berapa jumlah orang Tionghoa di Indonesia? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi pegawai negeri? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi anggota DPR dan DPRD? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi anggota MPR? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi jendral Polisi? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi jenderal TNI? Berapa jumlah orang Tionghoa yang jadi hakim? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi Jaksa?

Berapa jumlah orang Tionghoa yang jadi Gubernur? Berapa jumlah orang Tionghoa yang jadi walikota atau bupati? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi pimpinan BUMN? Berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi menteri? Berapa jumlah orang Tionghoa yang berkesempatan sekolah di sekolah-sekolah negeri terbaik di Indonesia? Berapa jumlah orang Tionghoa yang berkesempatan kuliah di universitas-universitas negeri terbaik di Indonesia?

Sejak Indonesia merdeka, orang Tionghoa tidak pernah diistimewakan oleh pemerintah. Alih-alih mendapat fasilitas istimewa orang Tionghoa justru berkali-kali mengalami ketidakadilan dari pemerintah dan masyarakat.

Walaupun sudah berkali-kali menerima fasilitas istimewa dari pemerintah NKRI namun mereka yang mengaku dirinya pribumi dan mayoritas justru sampai hari ini masih gembar-gembor memfitnah orang Tionghoa merampok dan mencuri. Benar-benar mengenaskan.

Apa kelebihan orang Tionghoa Indonesia? Izinkan saya berkata bahwa Orang Tionghoa relatif lebih kaya karena mereka  RAJIN bekerja dan HEMAT.

108 thoughts on “Kenapa Pribumi Disebut Huana Artinya Orang Asing Oleh Orang Tionghoa?

  1. Wow, super…. super sekali ko hai hai… saya mendapat paradigma baru tentang tionghoa. Saya juga jadi penasaran dengan PP No. 10 Tahun 1959 itu (nanti sy cek dech di google).

    Makasih, atas rilis terbarunya, ko hai hai. Oya, mampir2 juga ke lapak saya ko, untuk melihat tulisan “lebay” saya dan ikutan komentar 😀😀👍👍👍

  2. Yang benar adalah PP 10 tahun 1959, bukan 1950. Saya sudah mengeditnya termasuk komentar anda.

    Rahasia kesuksesan orang Tionghoa sama dengan kesuksesan orang mana saja yaitu: RAJIN bekerja dan HEMAT. Masalah angkatan kerja di Indonesia adalah kita MELATIH anak-anak kita menjadi PEMALAS. contohnya: anak-anak kita hanya dipaksa untuk NONTON ketika mereka belum bisa JALAN. Selanjutnya kita PAKSA mereka untuk menonton kita nonton.

    Apa yang terjadi ketika anak-anak itu mulai belajar BEKERJA, misalnya MAKAN sendiri? Kita paksa mereka untuk MALAS makan sendiri. Kita tidak pernah melatih anak-anak kita untuk BEKERJA, puang sampai di tempatnya. Menyapu. Mencuci piring. mengumpulkan pakaian kotor di tempatnya. dll dan dll, padahal ANAK-ANAK kecil justru merasa ASYIK melakukan pekerjaan-pekerjaan demikian.

    apa yang terjadi ketika anak-anak itu menjadi BESAR? Mereka sudah terlatih untuk menjadi PEMALAS yang maunya hanya dilayani.

  3. Dapat paradima baru? jd selama ini paradigma lu apa sbg kepala sekolah penjilat hai hai wkwkwkkwkwkekwkwk

  4. Wah, Anda ini orang unik, sudah gak mampu sarkastik lagi. Ckckck ….. koq di tahun 2017 masih ada yang beginian.

    Padahal kalau hai hai mau “menghapus” kotoran Anda ini tinggal klik aja.

    Tolong kalau jadi orang, jangan begitu dong. Saya yang baru aja nimbrung disini, koq ngebacanya “gak banget”.
    Hanya pengecut yang berlagak, tapi kalau gak mampu percuma…..

  5. Pak hai hai, apa arti Cina Loleng? Saya pernah dengar, tapi lupa.

    Menurut saya orang Tionghoa itu memang pekerja keras. Makanya dalam banyak hal sukses. Seharusnya kita belajar dari mereka dalam banyak hal. Saya sebagai orang pribumi merasa malu dengan perilaku kita yang underestimate mereka.

    Sejarah Tionghoa kalau saya baca memang luar biasa.

    Cuma saran saya, tulisan Anda ini seharusnya disampaikan ke pemerintah juga atau ke para pakar sejarah supaya lebih diuji lagi, karena jujur, saya baru tahu kalau ada pendapat khusus di balik politik adu domba (Devide At Impera) Hindia Belanda waktu lampau di bumi nusantara ini seperti yang Anda tulis di atas.

    Jaja Aryadi
    (Si Tuna Wicara yang ingin maju)

  6. Maaf….gw cuma kasar pada org yang sok bijak dan sok tau saja seperti hai2.
    pengecut? hahahahahaha…
    anda blm tau seberapa pengecutnya hai2 dan gw ga sembarang bilang pengecut tanpa bukti…..itu namanya menuduh, betul?

  7. Setuju pak hai hai. Saya justru reflektif membacanya.

    Btw, kayaknya ada suara anjing menggonggong di sekitar. Anjing menggong, kafilah berlalu, ya gak? Wkwk …😁😁😁😁

  8. Jiaaaaahhhh… sekali lagi, harus gua katakan… PEMAHAMAN sebahagian besar tulisan yang dibuat ini adalah “Pemahaman NENEK elo…” (pinjam kalimat A HOAX) 😛 😛 😛

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.