Bukan Untuk Menjajah Namun Menjadi Rakyatnya


John-LieKenapa orang Tionghoa menguasai 80% perekonomian Indonesia padahal mereka dipaksa membayar lebih mahal dan memberi komisi bahkan menyetor upeti dan tidak pernah mendapat fasilitas dari pemerintah?

Handai taulanku orang Tionghoa Indonesia sekalian, nenek moyang kita datang ke negeri ini bukan untuk jalan-jalan namun menetap. Itu sebabnya sekali menginjak negeri ini mereka tidak kambali lagi ke kampungnya.

Mereka tidak datang untuk belanja namun mencari kehidupan yang lebih baik. Begitu mendarat mereka segera bekerja. Begitu uang didapat mereka segera membangun rumah. Ketika uangnya cukup mereka pun membeli tanah.

Kerabatku orang Tionghoa Indonesia sekalian, para pendahulu kita datang ke negeri ini bukan untuk menjajah namun menjadi rakyatnya. Bukan mengeruk segala kebaikan negeri ini untuk dibawa pulang ke kampungnya namun membangun negeri ini sebagai kampung halamannya.

Itu sebabnya semua uang yang mereka kirim ke Tiongkok hanya untuk menolong handai taulan yang kekurangan bukan keuntungan dagang apalagi pampasan perang yang dibawa pulang. Makanya, meskipun banyak uang yang dikirim namun mereka tak pernah pulang.

Hai kerabatku sekalian, ketahuilah bahwa sejak purbakala orang Tionghoa bukan benalu yang hanya menyerap semua kebaikan negeri ini tanpa sumbangsih sama sekali. Sejarah mencatat bahwa orang Tionghoa tidak kekurangan andil dalam perjuangan Indonesia merdeka. Bahkan orang Tionghoa diakui sebagai yang paling rajin membangun negeri ini di alam kemerdekaan.

“Lahir di Indonesia, besar di Indonesia menjadi Putra-putri Indonesia” adalah semboyan yang dikumandangkan oleh Kwee Hing Tjiat melalui Harian MATAHARI Semarang tahun 1933.

Tionghoa Hweekwan (zhonghua huiquan 中華 會館) adalah LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) pertama yang didirikan oleh orang non Belanda di Hindia Belanda dengan tujuan untuk membangkitkan semangat kebangsaan Tionghoa dan melawan penindasan kolonial Belanda.

Mungkinkah Tionghoa Hweekwan yang menginspirasi anak-anak muda Jawa mendirikan Boedi Oetaomo pada 20 Mei 1908? Saya tidak tahu.

Namun pata tahun 1904, Raden Muhamad Umar, seorang Kyai di Kendal menulis surat kepada Tionghoa Hweekwan Batavia untuk meminta keterangan tentang kegiatan-kegiatan mereka. Pada tahun 1919, Radja Sabarudin presiden Boedi Oetaomo minta izin untuk menghadiri rapat-rapat Tionghoa Hweekwan untuk mempelajari metode dan teknik organisasi mereka.

Untuk mencapai tujuan pendiriannya, Tionghoa Hweekwan yang didirikan pada 17 Maret 1900 mendobrak dominasi dan diskriminasi Belanda di sektor pendidikan dengan mendirikan sekolah Tionghoa Haktong (zhonghua xue tang 中華 學堂) dengan bahasa pengantar mandarin pada 17 Maret 1901. Sekolah ini merupakan sekolah swasta modern pertama di Hindia Belanda.

Pada 2 September 1901 Tionghoa Hweekwan mendirikan sekolah Tionghoa Haktong dengan bahasa pengantar Inggris. Pada tahun 1904 Tionghoa Haktong bahasa Mandarin dan Inggris digabungkan menjadi satu.

Melalui sekolah Tionghoa Haktong orang Tionghoa menolak dominasi kolonial Belanda yang mengharuskan bahasa Belanda menjadi satu-satunya bahasa pengantar di sekolah dan Pemerintah Hindia Belanda yang berhak menentukan siapa saja yang boleh sekolah.

Kongzi berkata, “Youjiao wulei 有教無類, ada pendidikan tidak ada diskriminasi. Lunyu 15:39 – Weilinggong

Selain mengajarkan bahasa mandarin dan bahasa Inggris, sekolah Tionghoa Haktong juga mengajarkan bahasa Melayu. Orang-orang Bumi Putera tidak sekolah di sekolah Tionghoa Haktong bukan karena ditolak namun karena mereka tidak berminat. “Ada pendidikan tidak ada diskriminasi” adalah prinsip yang dipegang dan ditaati oleh sekolah-sekolah yang didirikan oleh Tionghoa sampai hari ini.

Mungkinkah sekolah Tionghoa Haktong yang menginspirasi Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa pada Juli 1922? Mungkinkah pengajaran bahasa Melayu di sekolah Tionghoa Haktong dan penggunaan secara luas oleh orang-orang Tionghoa yang mendorong bahasa Melayu menjadi lingua franka (bahasa pergaulan) di Hindia Belanda? Saya tidak tahu.

Faktanya, sekolah Tionghoa Haktong membuat orang-orang Tionghoa melek huruf dan haus akan bacaan. Itu sebabnya penerbitan dan pers Tionghoa pun bermunculan di mana-mana. Pada tahun 1931 ada 31 koran Tionghoa berbahasa Melayu di Hindia Belanda.

Faktanya selama kurun waktu 1870-1960 ada lebih dari 3.005 karya sastra Melayu Tionghoa dari 806 penulis Tionghoa. Baik jumlah penulis maupun tulisannya jauh di atas karya sastra penulis Bumi Putera.  Sastra Melayu Tionghoa tidak diakui sebagai sastra  Indonesia Modern karena ditulis oleh orang Tionghoa menggunakan bahasa Melayu Pasar. Yang diakui hanya tulisan-tulisan Bumi Putera dengan bahasa Melayu Tinggi.

Tionghoa Hweekwan juga membangkitkan semangat kebangsaan Tionghoa. Pada tahun 1902, karena kesal dengan perilaku serikat dagang Belanda (HVA – Handels Vereeniging Amsterdam) yang mau menang sendiri maka 80 orang pengusaha besar Tionghoa Hweekwan yang dipimpin oleh Tjo Sik Giok dan Tjo Tjie pun membuat kesepakatan dan mengajak semua pengusaha Tionghoa untuk melakukan aksi menolak berdagang dengan HVA.

Atas permintaan HVA beberapa bank mengirim surat ancaman tidak akan memberi kredit bila boikot tidak dihentikan. Atas permintaan HVA Asisten Resident Surabaya memberi perintah agar boikot dihentikan. Para pengusaha Tionghoa menganggap ancaman-ancaman demikian angin lalu.

Karena putus asa, HVA lalu membawa kasus tersebut ke pengadilan namun sayang mereka kalah sehingga harus membayar denda sebesar 25.000,- gulden pada tahun 1906. Para pengusaha Tionghoa lalu menyumbangkan uang tersebut untuk membangun Klenteng Boenbio.

Meskipun pihak Orde Baru berusaha menghapusnya dari sejarah namun faktanya: Wage Rudolf Supratman pencipta lagu Indonesia Raya adalah wartawan harian Sin Po, harian Tionghoa berbahasa Melayu yang meliput dan memberitakan serta mendukung kongres pemuda II. Dalam kongres pemuda II itulah lagu Indonesia Raya dinyanyikan pertama kalinya. Di dalam kongres itu pula untuk pertama kalinya Sumpah Pemuda diucapkan. Itu sebabnya kongres ersebut dikenal dengan nama Sumpah Pemuda 1928.

Lebih lanjut, Sumpah Pemuda 1928 dilaksanakan di rumah Sie Kong Liong, orang Tionghoa. Pemuda Tionghoa yang hadir dalam pertemuan itu mewakili Pemuda Tionghoa Hweekwan adalah: John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. Kehadiran Kwee Thiam Hiong sebagai wakil Jong Sumatranen Bond adalah bukti bahwa keterlibatan pemuda Tionghoa dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia tidak hanya terjadi di Batavia saja.

Perang Kemerdekaan adalah perang melawan Belanda dan Sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Siapakah yang membiayai TNI dalam perang tersebut? Dari mana TNI mendapatkan uang untuk membeli senjata dan amunisi serta logistik? Meskipun Orde Baru menghapusnya dari sejarah namun faktanya orang-orang Tionghoa secara sukarela turut membiaya perang tersebut.

Hari ini 17 Agustus 2015. Indonesia sudah merdeka 70 tahun. Dalam hal pendidikan, setelah pemerintah, siapa yang memberi sumbangsih terbesar? Orang Tionghoalah yang paling banyak mendirikan sekolah dan universitas di Indonesia. Setelah pemerintah, orang Tionghoalah yang paling banyak mendirikan rumah sakit di Indonesia.

Sejak Merdeka sampai sekarang, persentase jumlah orang Tionghoa Indonesia hampir tidak berubah yaitu sekitar 4%. Ketiga terbesar setelah orang Jawa dan Sunda.

Tanpa tedeng aling-aling, dalam orasi kampanye di GBK (Gelora Bung Karno) Jakarta, Minggu 23 Maret 2014, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan. “Orang Tionghoa, yang nota bene adalah pendatang, menguasai 80% perekonomian Indonesia. Di mana 10 orang terkaya di Indonesia, sebagian besar konglomerat Cina. Mereka menghisap darah bangsa Indonesia, bukan hanya sebagai parasit, tetapi sudah menjadi predator.

Kenapa orang-orang Tionghoa bisa menguasai 80% perekonomian Indonesia padahal mereka selalu dipaksa untuk membayar lebih mahal dan memberi uang komisi bahkan membayar upeti agar bisa berdagang dengan tenang? Kenapa orang Tionghoa tidak pernah mendapat fasilitas istimewa dari pemerintah?

Apa yang terjadi pada 700 orang pengusaha “pribumi” alias non Tionghoa yang mendapat kucuran dana pemerintah Rp. 4,7 miliar lewat program Gerakan Banteng tahun 1950-1957? Program Banteng direncanakan oleh Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo. Rp. 4,7 miliar tahun 1950-1857 itu setara dengan berapa triliun nilai sekarang ya? Sejarah mencatat bahwa mereka bukan bangkrut karena gagal dalam usahanya namun karena ngemplang dana yang diterimanya untuk bersenang-senang.

Handai taulanku orang Tionghoa sekalian, adalah FAKTA bahwa orang Tionghoa adalah yang paling bekerja KERAS untuk membangun perekonomian negeri ini. Penguasaan atas 80% perekonomian Indonesia adalah buktinya.

Alih-alih menyatakan hormat dan terima kasih Prabowo justru menuduh orang Tionghoa menghisap darah bangsa Indonesia, bukan hanya sebagai parasit, tetapi sudah menjadi predator.

Alih-alih meneladani, DR. Sri Bintang Pamungkas menuduh kelompok Cina ingin menguasai kedaulatan politik, dan ikut dalam usaha-usaha pengambil alihan kekuasaan melalui pemilu.

Kerabatku sekalian, apakah tuduhan Prabowo benar adanya? Apakah dakwaan Sri Bintang Pamungkas benar?

Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan saya bertanya, apa jadinya bangsa Indonesia pada ulang tahun kemerdekaannya yang ke 70 tanpa orang Tionghoa? Bagaimana cara rakyat Indonesia menjalani 70 tahun kemerdekaannya tanpa orang Tionghoa?

Dengan dana berapa pembangunan negara ini selama 70 tahun tanpa orang Tionghoa? Kurangi saja dengan 80%. Apa jadinya bangsa Indonesia tanpa 80% perekonomiannya yang dikuasai orang Tionghoa yang bekerja keras siang malam?

Kalau orang Tionghoa adalah pendatang dan parasit bahkan predator di negeri ini kenapa Prabowo tidak menyebutkan jumlah yang telah orang-orang Tionghoa gondol dan bawa pulang ke China?

Jumlah orang Tionghoa di Indonesia hanya 4%. Anak kecil juga tahu, mustahil menguasai kedaulatan politik dan mengambil alih kekuasaan lewat Pemilu.

Kerabatku sekalian, sebagai orang Tionghoa, sejak kecil saya menerima ancaman seperti anda, “Hai Cina, ingat elu cuman numpang di negeri ini. Hati-hati! Jangan blagu!”

Ketika nggak sanggup menahan kemarahan, terhadap anak-anak yang mengancam demikian saya berteriak, “Hai pribumi, ingat bapak elu kerja sama siapa? Tanya bapak elu, dia masih mau kerja nggak? Jangan blagu! Kalau bapak elu dipecat elu mau makan apa? Jangan adigung adiguna!”

Setelah dewasa, menghadapi ancaman demikian umumnya saya bertanya, “Bang kalau semua Cina minggat dari Indonesia elu mau kerja sama siapa? Elu mau pinjem duit tanpa bunga sama siapa? Elu pikir kalau nggak ada Cina elu bakal kaya-raya? Mimpi!”

Handai taulanku Tionghoa Indonesia sekalian, saya mengungkapkan fakta-fakta sejarah di atas untuk mengingatkan agar kita tetap konsisten bahwa para pendahulu kita datang ke negeri ini bukan untuk menjajah namun menjadi rakyatnya. Bukan untuk mengeruk segala kebaikan negeri ini namun untuk membangunnya sebagai kampung halaman anak cucunya. Mari kita membangun negeri ini dan menjaganya untuk diwariskan kepada anak cucu generasi ini.

Kerabatku sekalian orang-orang non Tionghoa. Empat penjuru lautan adalah saudara! Saya menceritakan kisah-kisah orang Tionghoa di atas bukan untuk mencari nama apalagi untuk mengagul-agulkan Tionghoa Indonesia namun untuk menunjukkan kepadamu bila engkau belum tahu bahwa dalam hal mengabdi negeri ini orang Tionghoa tidak setengah-setengah. Dalam hal bekerja membangun negeri ini orang Tionghoa tidak mengenal lelah. Namun kita adalah INDONESIA! Salam MERDEKA!

“Tanah yang memberi engkau makan adalah negerimu! Bangunlah! Rawatlah! Pertahankan, bila perlu dengan mengorbankan nyawamu! Rakyat negeri ini adalah orang sekampungmu. Rukunlah! Saling menjagalah!” Itulah amanat kakekku kepada ayahku yang diwariskan kepadaku. Engkau mau MERUSAK negeri ini? Langkahi dulu mayatku!

Jakarta, 17 Agustus 2015
bila aku mati hari ini
kutitipkan anak istriku
untuk dijaga dan dirawat
oleh bangsa ini

32 thoughts on “Bukan Untuk Menjajah Namun Menjadi Rakyatnya

  1. Anda tahu kenapa orang simpan uang di luar negeri? Karena mereka TAKUT menyimpannya di dalam negeri. Siapa yang salah? ha ha ha ha …

  2. Banyak orang kaya di Indonesia, dan bukan hanya keturunan Cina saja. Tetapi mengapa keturunan Cina yang kerap (di)jadi (kan) kambing hitam ?

    Mungkin karena sentimen agama salah satunya. Namun kini keturunan Cina sudah banyak sekali yang berpindah agama dan bukan disatu agama saja. Apakah masih (di) jadi (kan) kambing hitam ? entahlah, Hanya Tuhan dan tukang kambing hitam yang tahu.

    Semoga dengan terbukanya informasi peran dan sepak terjang keturunan Cina sejak dulu hingga sekarang, dapat membuka mata suku-suku di Indonesia agar dapat melihat suatu peristiwa dengan jernih.

    Pun, semoga semua suku-suku di Indonesia juga sadar diri bahwa apabila suatu suku di Indonesia bisa dibuat sedemikian rupa menjadi kambing hitam, bukan tak mungkin suatu saat suku mereka sendiripun mengalaminya.

    70 tahun merdeka, saatnya kita tahu siapa musuh kita sebenarnya. Dan saatnya kita menjadi peran utama, dan bukan hanya peran penderita karena mudah dihasut sekelompok politikus busuk yang gemar menebar kebencian sebagai jualannya.

  3. jempol om buat artikelny..
    kata orang2 tua dulu jaman orng tionghua ditekan n dibantai habis-habisan..
    negara china gak tega ngeliatny sampai memperingati presiden waktu itu katany klo gak dihentikan maka negara cina akan mengangkut semua keturunan tionghua pulang ke negri asal..
    presiden pd masa itu mengira peranakan tionghua gak mau pulang..
    ternyata ketika kapal-kapall yg menjemput org tionghua tiba sebagian besar sudah naik kekapal,melihat sudah sebagian besar sudah dijemput maka peguasa saat itu menghentikan kapal yg masih blm berlabuh karna takut semuanya pulang ke negri asal..sampai saat ini nenek n kakek sy sering cerita kejadian ini karna beliau adalah yg tertinggal pada saat itu..
    sedih klo gak dihargai dinegri yg saat ini..padahal sama2 cinta Indonesia..

  4. PP No. 10 Tahun 1959 bukan Peraturan Peresiden yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno. Yang menandatanganinya adalah Menteri Perdagangan Rachmat Mujomisero pada tanggal 11 November 1959 namun BERLAKU SURUT sampai 10 Juli 1959. Isinya adalah:

    1. Orang Asing tidak boleh berdagang langsung kepada masyarakat (eceran) dan tidak boleh beli barang langsung kepada masyarakat (pengepul eceran)
    2. USAHA dan barang dagangannya harus diserahakn kapa koperasi atau badan yang dibentuk CAMAT.
    3. Kalau penguasa PERANG Daerah (Panglima Daerah) menganggap perlu maka Orang-orang Tionghoa HARUS diusir dari daerah itu.

    Kenapa berlaku MUNDUR? Karena SEJAK 10 Juli 1959, sebelum PP itu keluar, sudah terjadi PERAMPOKAN Tionghoa.

    Akitab PP 10 itu, banyak orang Tionghoa di kampung dan kecamatan yang DIUSIR begitu saja. Tanahnya dirampas dan barangnya seta uangnya dirampas. Mereka ke kabupaten, namun TIDAK ada tempat di sana bahkan Pemerintah TIDAK menyediakan BARAK PENGUnGSIAN sama sekali.

    Hal demikian membuat Pemerintah Tiongkok BERANG lalu mengerahkan kapalnya untuk membara orang-orang Tionghoa pulang. Konon ada 120.000,- orang Tionghoa yang pergi ke Tiongkok. Peran mereka dalam perekonomian Tiongkok LUAR biasa.

    kondisi baru REDA setelah Perdana Menteri China Zhou En Lay bertemu dengan Soekarno.

    Generasi Tionghoa khususnya dan generasi non tionghoa umumnya Harus sama-sama MENGERTI dan FAKTA sejarah tersebut agar TIDAK melupakannya supaya TIDAK terjadi lagi.

  5. sampai saat ini masih ada sebagian non tionghoa yg ngareb keturunan tionghoa hengkang dr sini,buktinya disosmed masih ad yg ngareb klo2 nanti rusuh lg kayak thn 98..apalagi skrg lg krisis ekonomi sm ada isu2 tentang mata uang yuan..

  6. Orang Tionghoa di Indonesia itu ibarat ANGSA bertelur EMAS. PP 10 tahun 1959 adalah peristiwa NKRI memotong Angsa bertelur emasnya. apakah hal demikian MELAHIRKAN pedagang-pedagang peribumi? Membuat petani dan nelayan lebih MAKMUR? ha ha ha ha …. akibatnya jusru EKONOMI Indonesia KACAU balau.

    Tidak ada pedagang pribumi yang menjadi KAYA karena PP 10 tahun 1959 namun banyak yang KAYA dengan MERAMPASI harta orang-orang Tionghoa. Apakah orang Tionghoa yang tidak ke Tiongkok TERPURUK? Benar mereka TERPURUK namun TIDAK menyerah dan HANYA perlu 10 tahun bagi mereka untuk MENJADI kaya lagi bahkan LEBIH kaya dari sebelum PP 10. ha ha ha ha ha ….

    Kenapa orang tionghoa SUKSER dalam USAHA? Kerja Keras, KEJUJURAN dan SALING menguntungkan.

  7. Jadi ingat, dulu waktu masih kecil , di lingkungan ku ada org yg kalo ketemu org keturunan tionghoa pasti selalu ngejek :”CINA LOLENG MATI di GORENG” , atau kalo liat anak keturunan tionghoa lg bertengkar, pasti bakal panas panasi biar kita berantem beneran, atau kalo liat kita main layangan pasti layangan kita bakal di incar tuk di putusin, juga banyak “hinaan lainnya”

    Tapi org yg sama itu sekarang malah jadi “ekor” nya org2 tionghoa, di mana org tionghoa ngumpul disitu pasti dia ada,bahkan oleh teman nya sendiri dijuluki “cina hitam, karena lebih memilih kumpul2 ama org keturunan tionghoa
    Dan juga hidup nya banyak di bantu oleh org tionghoa, contoh nya dengan ngasih proyek ke dia.
    bahkan kuliah adik nya di bantu biaya nya oleh org keturunan tionghoa

    Sekarang coba ada yg mau bilang “siapa yg bakal di GORENG?” 🙂

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.