Karena Dinasti Zhou Memuliakan Warna Merah Maka Merah Pun Identik Dengan Tiongkok dan Tionghoa


Bukan Imlek namanya kalau tidak dipenuhi warna merah. Bukan Tionghoa namanya bila dekorasinya tidak dominan warna merah. Kenapa harus merah? Sejak kapan warna merah identik dengan Tiongkok dan Tionghoa? Merah artinya apa?

Kerabatku sekalian, bukan hanya di Indonesia saja bahkan di seluruh dunia, bukan hanya Tionghoa Indonesia saja namun Tionghoa seluruh dunia bahkan Tionghoa di Tiongkok sendiri bertanya-tanya tanpa jawab dari generasi ke generasi, “Kenapa merah? Sejak kapan warna merah identik dengan Tiongkok dan Tionghoa? Merah artinya apa?”

Warna merah melambangkan keberuntungan, kegembiraan dan kebahagiaan. Merah melambangkan semangat dan keberanian. Merah juga simbol kebaikan hati dan kebenaran serta ketulusan hati. Warna merah menolak bala. Kerabatku sekalian, siapa saja bisa berkata apa saja tentang warna merah, itu sebabnya banyak teolog Kristen yang mengajarkan bahwa warna merah Tiongkok kuno adalah lambang pengorbanan. Tidak ada hukum yang melarangnya juga tidak ada orang yang menentangnya.

Marga Xia (xià hòushì 夏 後氏) memuliakan warna HITAM. Perayaan agungnya dilakukan pada waktu malam. Bala tentaranya menunggang kuda HITAM. Hewan korban mereka berwarna HITAM. Orang Yin (yīnrén 殷人 – shāng 商) memuliakan warna PUTIH. Perayaan agung mereka dilakukan pada tengah hari. Bala tentaranya menunggang kuda PUTIH. Hewan korban mereka berwarna PUTIH. Orang-orang Zhou (zhōurén 周人) memuliakan warna MERAH. Perayaan agungnya dilakukan pada waktu fajar. Bala tentara mereka menunggang kuda MERAH. Hewan korbannya juga berwarna MERAH. Liji IIA:I:13 – Tangong

Kerabatku sekalian, itulah yang tercatat di dalam kitab kesusilaan (lǐjì 禮記) Tiongkok kuno zaman dinasti Zhou. Dinasti Xià 夏 berkuasa tahun 2070 SM–1600 SM. Dinasti Yīn 殷 – shang 商 memimpin 1600 SM -1046 SM. Dinasti Zhōu 周 berjaya tahun 1046 SM-256 SM.

Kenapa Tiongkok dan Tionghoa memuliakan warna Merah? Karena dinasti Zhou, dinasti ketiga Tiongkok kuno MEMULIAKAN warna MERAH. Itu sebabnya sampai hari ini orang Tionghoa di seluruh dunia memuliakan warna merah.

Bukankah setelah dinasti Zhou runtuh, bangkit dinasti-dinasti Tiongkok yang lebih besar karena wilayah kekuasaannya lebih luas? Kenapa mereka tidak MEMULIAKAN warna lainnya? Kenapa mereka tetap memuliakan warna MERAH dari dinasti Zhou yang telah runtuh?

Karena langit dan bumi (tiāndì天地) adalah ayah bunda (fùmǔ 父母) berlaksa ada (wànwù 萬物). Di antara berlaksa ada, hanya manusia (Rén人) yang memiliki akal budi (líng 靈). Dia yang paling cerdas dan bijaksana (cōngmíng 聰明) pun dijadikannya penguasa (yuánhòu元後). Penguasa adalah ayah bunda (fùmǔ 父母) masyarakat (mín 民). Shujing V:IA:3 – Taishi shang

Handai taulanku sekalian, kitab sejarah (Shūjīng 書經) mencatat bahwa pertambahan wilayah dan penduduk Tiongkok kuno terjadi bukan karena perang dan penaklukan namun karena suku-suku dan raja-raja itu menaklukkan diri minta dipimpin oleh Putra Langit (tiānzǐ 天子) alias kaisar karena mereka melihat bagaimana kepemimpinan kaisar itu mendatangkan kesejahteraan dan keamanan.

Itu sebabnya bangsa Tiongkok kuno percaya bahwa menjadi Putra Langit (tiānzǐ 天子) alias kaisar adalah kehendak langit (tiānmìng 天命). Huángtiān shàngdì 皇天 上帝 (Langit yang mulia kaisar yang mahatinggi) yang memberi mandat kepada Putra Langit (tiānzǐ 天子) untuk berkuasa.

Tidak ada takhayul kenapa seseorang menjadi Putra Langit (tiānzǐ 天子). Kenapa dia jadi putera langit alias kaisar? Kitab Shujing V:IA:3 – Taishi shang menyatakan, karena dia yang paling cerdas dan bijaksana pun dijadikannya penguasa.

Kaisar dinasti Zhou (Zhōu yōuwáng 周 幽王 – 781 SM – 771 SM) adalah kaisar terakhir dinasti Zhou barat. Walaupun menajdi penguasa namun dia mengaku dirinya tidak menerima mandat Putra Langit (tiānzǐ 天子). Aneh bin ajaib.

Sejak itu, meskipun kaisar datang dan pergi, dinasti saling berganti namun tidak ada satu kaisar Tiongkok pun yang berani mengklaim dirinya Putra Langit (tiānzǐ 天子) dan melakukan sembahyang kepada huángtiān shàngdì 皇天 上帝 (Langit yang mulia kaisar yang mahatinggi) di altar perbatasan (Jiāo 郊).

Kongzi berkata, “I hu (yúhū 於呼 – mengeluh), Ai za! (āi zāi 哀哉 – mengeluh). Ketika aku menyelidiki jalan dinasti Zhou, ternyata You (Zhōu yōu wáng 周 幽王 781 SM – 771 SM raja terakhir kerajaan Zhou barat) dan Li (zhōu lìwáng 周 厲王 877 SM – 841 SM di tangkap lalu diasingkan) sudah menodainya. Aku meninggalkan negeri Lu dan inilah yang terjadi. Sembahyang perbatasan (jiāo 郊) untuk menyembah kaisar di atas (Dì 禘) di Lu yang didirikan oleh pangeran Zhougong telah ingkar dari kesusilaan (lǐ 禮). Sembahyang perbatasan (jiāo 郊) di Qi adalah milik keturunan raja Yu (Yǔ 禹 – pendiri dinasti Xia). Sembahyang perbatasan (jiāo 郊) di Song adalah milik keturunan Qi (Qì 契 – Menteri pendidikan raja Shun). Hanya kaisar (Tiānzǐ 天子 – putra langit) yang boleh mempertahankannya karena hanya kaisar yang boleh menyembah langit dan bumi (Tiāndì 天地 ). Raja muda (zhūhóu 諸侯) hanya boleh menyembah Sheji (shèjì 社 稷 – ekosistem dan hasil panen ). Liji VII:2:1 – Liyun

Hanya raja suci (Shèngwáng 聖王) yang berhak menetapkan tradisi sembahyang (zhì jìshì 制 祭祀). Liji XX:9a – Jifa

Karena tidak pernah ada Putra Langit (tiānzǐ 天子) apalagi raja suci (Shèngwáng 聖王) di Tiongkok, itu sebabnya yang kita miliki hanya tradisi sembahyang (zhì jìshì 制 祭祀) yang sudah ada pada jaman dinasti Zhou. Itu sebabnya sampai hari ini orang-orang Tionghoa di seluruh dunia dan di Tiongkok sama-sama memuliakan warna merah.

12 thoughts on “Karena Dinasti Zhou Memuliakan Warna Merah Maka Merah Pun Identik Dengan Tiongkok dan Tionghoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.