Mengadu dan Berpesan Kepada Nenekku


Kantong Persembahan atau Kantong Kolekte | Shopee Indonesia

Wijayanto Dipuro Tanya: Jika ke makam dan berdoa, Anda berdoa untuk/tentang apa? Suhu hai hai Membabarkan: Secara NALURI, ketika seseorang wafat, kita tetap menyayanginya dan merindukannya serta INGIN berinteraksi dengannya.

BBerdasarkan FAKTA demikianlah Ketiga Raja dan Kelima Kaisar (Sanwang Wudi) lalu mengajarkan kesusilaan Sembahyang Orang Mati. Tujuannya untuk MEMUASKAN kerinduan kepada almarhum tanpa melanggar Kesusilaan.

Dalam bahasa Hokkien, “Tau kau artinya mengadu dan berpesan,” Itulah yang orang Kristen sebut BERDOA.

Sebelum periode Musim Semi dan Gugur (770 SM-476 SM), Sanwang Wudi menetapkan bahwa setelah tumbuh rumput maka baik dari Kaisar maupun rakyat jelata tidak mengunjungi makam. Itu sebabnya tidak ada makam sama sekali.

Itu sebabnya membuat kuburan adalah tradisi yang baru muncul kemudian di (periode) Musim Semi dan Gugur.

Kalau tidak ada MAKAM-nya lalu bagaimana cara bangsa Tiongkok kuno melakukan sembahyang Arwah alis Sembahyang Orang Mati? Dengan membuat Papan Arwah.

Pada hari ulang tahun kematian almarhum, diselenggarakanlah sembahyang Co Ki, dalam bahasa Hokkien artinya Membuat Catatan.

Pada saat itulah, mereka MEMANGGIL Almarhum pulang dan MENYAJIKAN Makanan dan Minuman sambil seluruh keluarga makan minum bersama.

Dalam acara makan minum itulah orang-orang HIDUP melakukan TAO KAO alias MENGADU dan BERPESAN. Menceritakan kejadian-kejadian selama setahun ini dan menyampaikan RENCANA alias HARAPAN untuk tahun berikutnya.

Banyak Tionghoa Kristen yang MENGEJEK tradisi Co Ki – Membuat Catatan, sebagai Penyembahan BERHALA. Mereka menghinanya sebagai TAKHAYUL, “Memangnya almarhum datang? Kok nggak ada bekasnya? Ha ha ha ha …..”

Waktu kecil, kami tidak pernah dikasih uang jajan. Kalau menerima angpao dari orang lain, segera kami laporkan itu kepada mamaku. Ketika Papaku memberi kami upah atas suatu pekerjaan, langsor lapor mama. Angpao dan upah itu kami tabung ke mama.

Karena tidak punya uang, makanya aku nggak pernah kasih kolekte di Sekolah Minggu. Saat teman-teman makan bakso, aku dan adik-adikku hanya puas mencium wanginya.
Suatu kali mamaku mengubah kebijakannya. Setiap kali ke gereja, kami mendapat uang LIMPER (lima rupiah) untuk kolekte dan CAPTUN (10 rupiah) untuk makan bakso.

Sejak kecil aku percaya TAKHAYUL. Itu sebabnya aku selalu berusaha agar tidak tertidur karena takut tiba-tiba Giam Lo Ong – malaikat maut muncul dan mencabut nyawa orang-orang yang aku sayangi.

Pertama kali ke sekolah minggu, aku dan adikku Cilin diajari memberi uang sambil menyanyi. “Aku bawa aku brikan persembahanku, pada Yesus pada Tuhan juruselamatku.”

Gagangnya terbuat dari kayu berpelitur. Kainnya adalah kainn beludru yang mahal. Warna kainnya ada yang hitam, ada yang biru terong, ada yang biru, ada pula yang merah kehitaman.

Aku pikir itu kantong ajaib, semua uang yang diberikan kepada Tuhan dan Yesus langsung hilang diambil-Nya. Perlu waktu cukup lama, baru aku tahu bahwa uang-uang yang dimasukkan ke dalam kantong-kantong kolekte itu tidak pernah diambil oleh Tuhan Yesus.

Aku baru tahu hal itu ketika suatu hari aku disuruh guru sekolah mingguku untuk mengambil Alkitab di pastori, di sana aku melihat mereka sedang mengeluarkan uang-uang itu dari kantong kolekte lalu menghitungnya.

Makanya sejak itu aku nggak pernah memberi uang kepada Tuhan Yesus lagi. Uang yang mama berikan untuk kolekte selalu aku simpan dan gunakan untuk beli cemilan di warung.

Setelah aku dewasa, aku memberi kolekte bukan untuk Tuhan namun untuk ikut serta membiayai Gereja dan kegiatan-kegiatan gereja.

Kalau ikut Cengbeng, sembahyang kuburan, aku hanya menyapa, “Kakek, aku anak sulung si Tekleng,” lalu memberi hormat. Kenapa demikian? Karena kakekku wafat waktu ayaku berumur 2,5 tahun. Aku tidak mengenalnya, hanya tahu cerita nenekku tentangnya dan sepak terjangnya.

“Emah – Nenek, ancua – bagaimana?” Dan aku biasa ngobrol banyak kepadanya untuk mengobati kerinduanku kepadanya selama ini, karena bukan hanya menggenalnya namun hubungan kami sangat akrab, sampai dia wafat tahun 1991.

2 thoughts on “Mengadu dan Berpesan Kepada Nenekku

  1. Islam itu agama teroris, ini bukti nya

    Abu Hurairah radhiyallahu anhum (RA) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari kiamat belum akan terjadi sampai kaum Muslimin memerangi bangsa Yahudi. Mereka diserang oleh kaum Muslimin hingga bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun, batu maupun tumbuhan akan berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, di belakang ku ada orang Yahudi. Kemari dan bunuhlah dia!’ kecuali pohon Gharqad. Sebab, pohon Gharqad adalah pohon orang Yahudi.” (HR Muslim).

    ISLAM AJARAN PEMBUNUH

  2. Islam itu agama teroris, ini bukti nya

    Abu Hurairah radhiyallahu anhum (RA) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari kiamat belum akan terjadi sampai kaum Muslimin memerangi bangsa Yahudi. Mereka diserang oleh kaum Muslimin hingga bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun, batu maupun tumbuhan akan berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, di belakang ku ada orang Yahudi. Kemari dan bunuhlah dia!’ kecuali pohon Gharqad. Sebab, pohon Gharqad adalah pohon orang Yahudi.” (HR Muslim).

    Taliban,HAMAS,ISIS, Dan Bendera Syahadat Lainnya

    ISLAM AJARAN PEMBUNUH DAN BIADAB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.