Holopis Kuntul Baris


Holopis Kuntul Baris by AYIBMenyelesaikan masalah dan melampiaskan kemarahan adalah dua hal yang berbeda. Memarahi seharusnya adalah cara untuk menarik perhatian orang yang dimarahi agar kapok melakukan kesalahan dan langsung memperbaiki kesalahannya.

Menyelesaikan masalah dengan melampiaskan kemarahan memang memuaskan, namun, apakah itu menyelesaikan masalah atau justru nambah masalah? Sering kali, melampiaskan kemarahan selain tidak menyelesaikan masalah justru menambah masalah baru. Melampiaskan kemarahan adalah tanda tak berdaya.

Manajeman adalah SENI dan ILMU menyelesaikan pekerjaan lewat orang lain. Menyuruh orang lain melakukan pekerjaan untuk kita adalah ILMU. Namun menyuruh orang lain melakukan pekerjaan dengan benar secara sukarela hanya mampu kita lakukan melalui SENI menyuruh.

Banyak ahli manajeman yang hanya mengajarkan manajemen sebagai SENI alias seni MENYURUH orang lain namun tidak mengajarkan manajemen sebagai ilmu alias ILMU menyuruh orang lain padahal itu perlu sekali. Manajemen sebagai ILMU adalah MELATIH orang lain untuk MAMPU melakukan pekerjaan dengan benar. Kata lainnya adalah PELATIHAN.

Kisah Adam dan Hawa makan buah pengetahuan dalam kitab Kejadian mencatat bagaimana manajemen telah diterapkan oleh sesama manusia. Kalau kita mempelajari Alkitab dengan teliti dan hati-hati maka banyak sekali pengetahuan manajemen di dalamnya yang sangat berguna bagi kita.

Siapa yang perlu belajar manajemen? Banyak pengusaha yang merasa tidak perlu belajar manajemen karena dirinya adalah BOS. “Nyuruh orang? Apa susahnya?” Banyak karyawan yang merasa tidak perlu belajar manajemen karena dirinya cuma kepala bagian disuruh-suruh. “Sebagai orang kecil pekerjaanku memang disuruh-suruh. manajeman apa lagi?” Itu sebabnya banyak karyawan yang baru belajar manajemen ketika dia naik pangkat dan punya anak buah.

Padahal seni dan ilmu manajemen itu diperlukan oleh siapa saja dan di mana pun serta dalam hubungan apa saja. Atasan dan bawahan, penguasa dan rakyat jelata, orang tua dan anak, kakak dan anak, kawan dan lawan, semuanya perlu ilmu dan seni manajeman kalau mau harmonis. Bahkan tanpa ilmu dan seni manajemen, aku dan diriku sendiri pun mustahil harmonis.

Seorang pengusaha konraktor bercerita bahwa dirinya sedang membina (melatih) dirinya agar menyelesaikan masalah di dalam perusahaannya tanpa melampiaskan kemarahan. Membangun gedung adalah pekerjaan kontraktor. Pagi itu dia menemukan dinding rumah yang sedang dibangun, plesterannya terlalu tebal. Dia minta agar pekerjaan tersebut dibongkar.

Kerugiannya adalah: Untuk pekerjaan pembongkaran itu, karyawan tidak dibayar. Perusahaan menanggung biaya bahan baku (semen & pasir). Pemilik rumah rugi waktu karena penyelesaian rumahnya lebih lambat.

Kepalang Basah

Ketika dinding yang dibangun tidak sesuai dengan standar, banyak pengusaha yang walaupun marah atas kesalahan tersebut namun menolak untuk membongkarnya. “Akalin saja asal pemilik rumah tidak tahu.” Walaupun tindakan tersebut tidak merugikan pemilik rumah bahkan tidak mendatangkan bahaya, namun perilaku demikian sangat berbahaya karena kerugiannya besar sekali bagi perusahan.

Kepalang basah adalah cara untuk melatih anak buah untuk terus menerus melakukan kesalahan yang sama atas restu dan dukungan perusahaan. Itulah cara pengusaha untuk mengajari anak buahnya untuk menipu. Kali ini pengusaha dan karyawannya kong kali kong menipu pemilik rumah. Lain kali, karyawanlah yang akan menghalalkan segala cara untuk menipu perusahaan ketika dia melakukan kesalahan. Atasan menipu maka selanjutnya bawahannya pun pasti saling menipu.

Do the right thing. Do the thing right.  Apa perbedaan kedua kalimat di depan? Do the right thing, artinya melakukan hal yang benar. Memplester dinding dengan benar. Do the thing right, artinya memperbaiki pekerjaan yang salah agar menjadi benar. Membongkar plesteran yang salah kemudian memplester ulang dinding tersebut.

Tujuan melatih karyawan untuk melakukan pekerjaan dengan benar adalah agar pekerjaannya SELALU benar alias 100% BENAR. Selain kualitasnya baik, juga menghindari PEMBOROSAN. Kalau tidak dilatih dengan benar maka hasil kerja karyawan kadang-kadang benar, kadang-kadang salah.  Akibatnya, selain kualitasnya naik turun, pemborosan juga sering terjadi. Juga mendatangkan bahasa untuk masyarakat.

Kepalang basah memang berguna untuk menekan biaya untuk jangka pendek namun secara jangka panjang, PERILAKU demikian, sangat merugikan dan mendatangkan bahaya baik bagi perusahaan maupun bagi masyarakat.

Itu sebabnya, tindakan untuk membongkar tersebut HARUS dikomunikasikan kepada karyawan karena bila tidak, alih-alih MEMBINA dirinya untuk bekerja dengan BENAR justru MERUSAK moralnya di masa depan. Kenapa demikian? Karena alih-alih menyadari kesalahannya, dia justru MENUDUH sang BOS pelit dan mau ENAK sendiri.

Itu sebabnya PENGHUKUMAN itu harus dikomunikasikan kepada semua pihak perusahaan agar masing-masing TAHU kerugian yang harus ditanggung akibat kesalahan tersebut. Dengan tahu bahwa semua pihak RUGI maka semua pihak pun akan HARUS membina diri alias DILATIH agar bekerja dengan benar dan SALING menjaga serta saling MENOLONG.

Rekomendasi Audit

Ketika muncul masalah, ada dua pihak yang terlibat dalam penyelesaian masalah yaitu: Orang yang melakukan pekerjaan. Auditor yaitu orang yang menyelidiki dan memberi rekomendasi.

Disalahkan tanpa diberitahu kesalahannya dan dilatih untuk bekerja dengan benar agar tidak melakukan kesalahan di masa depan? Itulah yang dilakukan oleh kebanyakan atasan. Umumnya tindakan itu hanya cara untuk melampiaskan kekesalan atau kemarahan. Hasilnya adalah, dendam dari anak buah. Menambah masalah dengan masalah.

Itu sebabnya diperlukan TIM independen untuk menyelidiki kesalahan dan memberi rekomendasi. Ketika muncul kesalahan, pelaksana adalah tertuduh. Dia tidak independen karena cenderung mencari alasan dan membenarkan diri. Dalam hal demikian, atasan juga tidak independen karena cenderung hanya melampiaskan kemarahan dengan menyalahkan. Itu sebabnya diperlukan TIM independen agar KEJADIAN tersebut bisa disikapi secara ILMIAH dan disusun rekomendasi agar KEJADIAN tersebut tidak terjadi lagi di masa depan.

Dengan adanya Laporan Audit dan Rekomendasi, maka semua PIHAK bisa memandang KEJADIAN tersebut secara ILMIAH karena tujuannya bukan MENYALAHKAN juga bukan BELA DIRI namun bersama-sama mencari CARA agar kesalahan tersebut TIDAK terjadi lagi di masa depan.

Orang Tua VS Anak

Sering kali orang tua menuduh anaknya malas dan tidak peduli serta enggak bisa diandalkan. Setiap hari pekerjaannya hanya Main HP. Ketika disuruh melakukan sesuatu, dia malah cuek dan terus main game. Ketika dimarahin, dia maka DIAM bahkan NANGIS. Benar-benar anak tidak berguna.

Kepada orang tua demikian, sering kali saya berkata, “Bro, yang elu sebut NGAJAR anak itu ternyata cuman meng-HAJAR anak untuk melampiaskan kemarahan lu doang.” Tentu saja orang-orang tua demikian langsung membantah kemudian menunjukkan bukti-bukti bahwa anaknya memang kurang ajar dan malas serta tidak cakap bekerja.

“Yang anda katakan itu benar bro. Dia memang kurang ajar. Namun kapan anda mengajarinya sampai CUKUP ajar? Bukankah selama ini anda hanya MELAMPIASKAN kemarahan-MU namun tidak pernah MENGAJARI-nya dengan CARA yang BENAR?” Apa buktinya?

“Ketika anda MEMVONIS anakmu KURANG ajar, tahukah anda apa itu kurang ajar? Melipat selimut, merapihkan teman tidur, nyapu kamar, nyapu rumah, nyapu halaman, buang sampah di keranjang sampah, mengumpulkan sampah ketika tukang sampah datang, mencuci piring, mencuci pakaian, mengganti anduk yang sudah kotor, menyapa dan menyalami orang yang lebih tua, menyiram tanaman, melihat ketika ada orang ketuk pintu atau memanggil, ikut melayani pelanggan. Tentu saja anak anda KURANG ajar karena sejak kecil anda tidak pernah melatihnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan demikian, bahkan sering kali anda menuduhnya, “Kepoh!” ketika dia belajar untuk bekerja.

Tiba-tiba saja anda MARAH dan MEMARAHI-nya, “Malas,” padahal dari kecil anda tidak pernah melatihnya melakukan pekerjaan demikian.

Dia sedang asyik main game. Anda marah, “Main game terus,” lalu menyuruhnya nyapu. Dia menjawab, “Nanti. Lagi tanggung.” Karena kesal anda pun nyapu sendiri. Lain kali lagi anda marah dan suruh dia nyapu saat dia main game. Lalu kesal anda lalu nyapu sendiri. Apa yang terjadi? Tentu saja, lain kali kalau dia “MARAH BESAR” dan menyuruh anda untuk NYAPU, dia akan TUNGGU anda nyapu sendiri karena itulah yang SELAMA ini anda lakukan dan DIA sudah anda LATIH untuk CUEK setiap kali anda MARAH.

Latihan Dan Pengulangan

Berapa kali anak anda berlatih menulis huruf SATU, barulah dia mampu menulisnya dengan sempurna? Ketahuilah. Tanpa MELATIH-nya dengan BENAR mustahil dia mampu menulis huruf SATU dengan benar. Tidak ada mujizat, nak. Tanpa melatihnya, anakmu mustahil jadi anak yang SOLEH.

Satu hal istimewa yang dilakukan di Amerika menurut televisi “ER” Emergency Room, adalah dokter dan perawat langsung mengucapkan SOP (Standard Operation Procedure) penanganan yang sedang dilakukannya kepada pasien. Dengan cara demikian maka bila ada kesalahan penanganan maka semua yang terlibat langsung melakukan koreksi. Dengan cara demikian, maka dalam kondisi apa pun, semua prosedur DARURAT itu secara otomatis dilaksanakan secara konsisten dan saling mengawasinya.

Kalau semua anak dilatih untuk ikut bekerja sejak kecil maka, mereka pun TERLATIH untuk bekerja seiring pertumbahannya. Bila sejak kecil anak anda diperlukan sebagai BONEKA atau binatang peliharaan, masa mustahil tiba-tiba dia turun DEWASA dan menjadi PEKERJA yang handal.

Apabila tukang semen dilatih dengan benar dan saling mengucapkan SOP ketika melaksanakan proyek, maka, pekerjaan itu pun menjadi PERMAINAN dan penyemangati semua pihak, maka pekerjaan itu bukan mustahil jadi BEBAN dan tidak memunculkan perasaan ewuh pakewuh untuk menegor orang yang melakukan kesalahan dalam bekerja.

Bekerja sesuai SOP? Cara demikian sudah dilakukan sejak purbakala oleh orang-orang Nusantara. Mau bangun rumah? Selamatan dulu. SOP direview (didoakan). Sesajen digantung di atas dan dipojok-pojok agar setiap orang bekerja dengan teliti dan hati-hati serta jangan ceroboh dan jangan anggap enteng karena Sang Agung turut bertanggung jawab dan mengawasi kalau ada yang bertindak tidak patut dan malas-malasan.

Ketika lesung ditalu, lagu pun dinyanyikan dan irama kerja pun tidak sembarangan. Ketika semua orang diperlukan untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya bersama-sama maka masing-masing mulai menyeiramakan diri, “Holopis kuntul baris.”

Kenapa kearifan kuno itu hilang? Karena tidak diajarkan lagi sebab divonis “itu cara setan,” oleh para penganut agama import.

Dahulu kala, di Nusantara purbakala, bekerja adalah permainan yang mengasyikkan. Para penganut agama import itulah yang merusaknya dengan mengajarkan bahwa Bekerja adalah dosa dan orang-orang yang rajin bekerja adalah orang-orang terkutuk.

Hari-hari ini, banyak penganut agama import di Indonesia yang mengajarkan bahwa ANAK-ANAK tidak boleh BEKERJA karena itu MELANGGAR hak asasi. Anak-anak HANYA boleh DIPAKSA untuk MAIN. BELAJAR juga tidak BOLEH karena dia masih TERLALU KECIL.

Orang Tiongkok, sejak purbakala sudah diajarkan untuk berbakti kepada orang tua dan BERBAKTI kepada anak cucu. Sejak kecil, anak-anak Tionghoa Indonesia sudah diajak untuk turut bekerja namun TIDAK penah dijadikan KARYAWAN apalagi BUDAK. Itu sebabnya orang-orang Tionghoa Indonesia jauh lebih produktif karena sejak kecil mereka sudah terlatih untuk bekerja.

Itu sebabnya aku suka dan rajin bekerja karena bekerja itu asyik.

8 thoughts on “Holopis Kuntul Baris

  1. Super skli pak hai.

    “Bahkan tanpa ilmu dan seni manajemen, aku dan diriku sendiri pun mustahil harmonis”.📝📝

    Oya, yg bgian agama import itu, emang bgtu ya pak? Sy kok br entar sri anda.

    Trus, mohon ijin untuk dibagikan di fb ya, walaupun panjang dan dg judul yg tdk familiar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.