Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


bordertelegraph

bordertelegraph

Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT bukan KEPUTUSAN namun pertimbangan dan ajakan untuk mendalami masalah lebih lanjut guna memberi pokok pikiran dan umpan balik bagi penyempurnaan sikap dan pandangan PGI.

PGI adalah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia yang sepakat bersatu menjadi Gereja Indonesia Yang Esa. PGI bukan gerakan untuk menyeragamkan atau menjadi satu organisasi apalagi mendominasi seluruh anggotanya namun bertumbuh dalam visi dan misi bersama.

Pertama-tama anda harus membaca Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT dengan teliti dan hati-hati sampai mengerti benar isinya. Bacalah ayat-ayat Alkitab yang alamatnya tertulis dengan teliti dan hati-hati sampai mengerti isinya. Setelah mengerti benar isinya barulah anda bisa ikut memikirkannya dengan logis dan ilmiah dengan Alkitab sebagai sumber pustaka dan standar kebenaran.

Setelah anda membacanya dan mengerti maka baiklah saya akan menulis blog-blog untuk membahasnya bagian demi bagian. Dengan cara demikianlah kita manggapi Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT tersebut.

Dengan warna anda akan mudah membacanya lebih mudah untuk mengerti alurnya dan bagian-bagian penting di dalamnya.

Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT

Menyikapi kontroversi yang muncul dan berkembang di kalangan gereja-gereja dan di tengah masyarakat menyangkut keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender), Majelis Pekerja Harian PGI menyampaikan beberapa pertimbangan sebagaimana tertera di bawah.

Disadari bahwa sikap dan ajaran gereja mengenai hal ini sangat beragam, dan pertimbangan-pertimbangan ini tidaklah dimaksudkan untuk menyeragamkannya.

Pertimbangan-pertimbangan ini justru sebuah ajakan kepada gereja-gereja untuk mendalami masalah ini lebih lanjut.

MPH-PGI akan sangat berterima kasih jika dari hasil pendalaman itu, gereja-gereja dapat memberikan pokok-pokok pikiran sebagai umpan balik kepada MPH-PGI untuk menyempurnakan Sikap dan Pandangan PGI mengenai masalah ini.

Pengantar

1. Manusia adalah gambar dan citra Allah yang sempurna. Sebagai citra Allah yang sempurna, manusia memiliki harkat dan martabat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.

2. Allah menciptakan manusia, makhluk dan segala ciptaan yang beranekaragam dan berbeda-beda satu sama lain. Kita hidup dalam keanekaragaman ras, etnik, gender, orientasi seksual dan agama. Keanekaragaman ini adalah sebuah realitas yang Allah berikan kepada kita, yang seharusnya bisa kita terima dengan sikap positif dan realistis.

3. Bersikap positif dan realistis dalam keanekaragaman berarti kita harus saling menerima, saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain.

Bersikap positif dan realistis terhadap keanekaragaman yang Allah berikan berarti kita berupaya memahami dan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada.

Bersikap positif dan realistis terhadap kenekaragaman berarti kita melawan segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah.

Sebaliknya kita berupaya mendialogkan segala perbedaan itu tanpa prasangka negatif. Bersikap positif dan realistis berarti kita menjaga dan memelihara persekutuan manusia yang beranekaragam ini agar mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, bagi segala makhluk dan bagi bumi ini.

Titik Tolak

4. Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan ciptaan Allah yang sangat dikasihi-Nya.

5. Keberadaan manusia dengan kecenderungan LGBT merupakan sebuah fenomena yang ada sejak masa lalu.

LGBT bukan produk kebudayan modern; bukan juga produk kebudayaan Barat. Fenomena LGBT ini ada dalam masyarakat kita dan secara sosio-antropologis LGBT ini sudah sejak dulu diakomodasikan dalam budaya beberapa suku di dalam masyarakat kita.

6. Ketika kita menghadapi persoalan moral, salah satu masalah terbesar muncul dari cara kita melakukan interpretasi terhadap teks Kitab Suci.

Penafsiran terhadap teks Kitab Suci yang tidak mempertimbangkan maksud dan tujuan dari teks yang ditulis oleh para penulis Kitab Suci berpotensi menghasilkan interpretasi yang sama sekali berbeda dari tujuan teks itu ditulis.

Berkenaan dengan LGBT, Alkitab memang menyinggung fenomena LGBT, tetapi Alkitab tidak memberikan penilaian moral-etik terhadap keberadaan atau eksistensi mereka. Alkitab tidak mengeritisi orientasi seksual seseorang.

Apa yang Alkitab kritisi adalah perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk yang dilakukan kaum heteroseksual, atau yang selama ini dianggap ‘normal’.

Pesan utama ceritera penciptaan Adam dan Hawa (Kejadian 1:26-28; 2:18, 21-24), misalnya, adalah tentang cikal bakal terjadinya institusi keluarga dan bahwa manusia diberi tanggungjawab untuk memenuhi dan memelihara bumi.

Ceritera ini sama sekali tidak ditujukan untuk menolak keberadaan kaum LGBT.

7. Ada beberapa teks lain dalam Alkitab yang diinterpretasikan secara kurang tepat sehingga ayat-ayat itu seolah menghakimi kaum LGBT. Padahal melalui interpretasi yang lebih akurat, kritikan Alkitab dalam ayat-ayat tersebut justru ditujukan pada obyek lain.

Contohnya: Alkitab mengeritisi dengan sangat keras ibadah agama kesuburan (menyembah Baal dan Asyera, Hakim-hakim 3:7; 2Raja-raja 23:4) oleh bangsa-bangsa tetangga Israel pada masa itu, yang mempraktekkan semburit bakti yaitu perilaku seksual sesama jenis sebagai bagian dari ibadah agama Baal itu (Ulangan 23:17-18); demikian juga terhadap penyembahan berhala Romawi di zaman Perjanjian Baru (Roma 1:23-32).

Alkitab juga mengeritisi sikap xenofobia masyarakat Sodom terhadap orang asing dengan cara mempraktekkan eksploitasi seksual terhadap mereka yang sesama jenis. Tujuannya adalah mempermalukan mereka (Kejadian 19: 5-11 dan Hakim-hakim 19:1-30). Oleh karena itu bagian-bagian Alkitab ini tidak ditujukan untuk menyerang, menolak atau mendiskriminasi keberadaan kaum LGBT.

Teks-teks Alkitab lainnya, yang sering dipakai menghakimi kaum LGBT adalah Imamat 18:22; 20:13; 1Kor 6:9-10; 1Tim 1:10). Apa yang ditolak dalam teks-teks Alkitab itu adalah segala jenis perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif, yang dilakukan oleh siapa pun, atas dasar apa pun, termasuk atas dasar agama, dan ditujukan terhadap siapa pun, termasuk terhadap perempuan, laki-laki dan anak-anak.

Rekomendasi

8. PGI mengingatkan agar kita semua mempertimbangkan hasil-hasil penelitian mutakhir dalam bidang kedokteran dan psikiatri yang tidak lagi memasukkan orientasi seksual LGBT sebagai penyakit, sebagai penyimpangan mental (mental disorder) atau sebagai sebuah bentuk kejahatan.

Pernyataan dari badan kesehatan dunia, WHO, Human Rights International yang berdasarkan kemajuan penelitian ilmu kedokteran mampu memahami keberadaan LGBT dan ikut berjuang dalam menegakkan hak-hak mereka sebagai sesama manusia.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengacu pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993) bahwa LGBT bukanlah penyakit kejiwaan. LGBT juga bukan sebuah penyakit spiritual.

Dalam banyak kasus, kecenderungan LGBT dialami sebagai sesuatu yang natural yang sudah diterima sejak seseorang dilahirkan; juga ada kasus-kasus kecenderungan LGBT terjadi sebagai akibat pengaruh sosial.

Sulit membedakan mana yang natural dan mana yang nurture oleh karena pengaruh sosial. Meskipun demikian, bagi banyak pelaku, kecenderungan LGBT bukanlah merupakan pilihan, tetapi sesuatu yang terterima (given).

Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat.

Kita juga tidak boleh memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.

9. Gereja, sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai “Tubuh Kristus”.

Kita harus memberikan kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.

10. PGI menghimbau gereja-gereja agar mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral kepada keluarga agar mereka mampu menerima dan merangkul serta mencintai keluarga mereka yang berkecenderungan LGBT.

Penolakan keluarga terhadap anggota keluarga mereka yang LGBT berpotensi menciptakan gangguan kejiwaan, menciptakan penolakan terhadap diri sendiri (self-rejection) yang berakibat pada makin meningkatnya potensi bunuh diri di kalangan LGBT.

11. Selama ini kaum LGBT mengalami penderitaan fisik, mental-psikologis, sosial, dan spiritual karena stigamatisasi agama dan perilaku kekerasan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Mereka menjadi kelompok yang direndahkan, dikucilkan dan didiskiriminasi bahkan juga oleh negara.

Gereja harus mengambil sikap berbeda. Gereja bukan saja harus menerima mereka, tetapi bahkan harus berjuang agar kaum LGBT bisa diterima dan diakui hak-haknya oleh masyarakat dan negara, terutama hak-hak untuk tidak didiskriminasi atau dikucilkan, perlindungan terhadap kekerasan, hak-hak untuk memperoleh pekerjaan, dan sebagainya.

Para pemangku negara ini harus menjamin agar hak-hak asasi dan martabat kaum LGBT dihormati! Kaum LGBT harus diberikan kesempatan hidup dalam keadilan dan perdamaian.

12. PGI menghimbau agar gereja-gereja, masyarakat dan negara menerima dan bahkan memperjuangkan hak-hak dan martabat kaum LGBT.

Kebesaran kita sebagai sebuah bangsa yang beradab terlihat dari kemampuan kita menerima dan menolong mereka yang justru sedang mengalami diskriminasi dan ketidakadilan.

Meskipun demikian, PGI sadar bahwa gereja dan masyarakat Indonesia belum bisa menerima pernikahan sesama jenis.

PGI bersama dengan warga gereja dan segenap warga masyarakat masih memerlukan dialog dan percakapan teologis yang mendalam menyangkut soal ini.

Penutup

13. LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kitalah yang mempersoalkannya. Kitalah yang memberinya stigma negatif.

Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang matang, rendah hati, rasional serta kemampuan bersikap adil dalam menyikapi kasus ini.

Kita harus menjauhkan diri dari kecenderungan menghakimi atau menyesatkan siapa pun.

Sebaliknya, kita harus belajar membangun persekutuan bangsa dan persekutuan umat manusia yang didasarkan pada kesetaraan dan keadilan.

14. Demikianlah pernyataan pastoral ini kami sampaikan pertama-tama kepada gereja-gereja di Indonesia, dan juga kepada masyarakat Indonesia seluruhnya.

Kiranya gereja-gereja terus mengarahkan diri pada tuntunan Roh Kudus untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat komitmen iman menyangkut penerimaan kaum LGBT.

Jakarta, 28 Mei 2016
a.n Majelis Pekerja Harian PGI

56 thoughts on “Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT Di Mata Seorang Tionghoa Kristen

  1. anda kalau mau mengajarkan sebuah kekristenan yang baik jangan ambil comot ayat-ayat dan dipilih berdasarkan yang anda suka saja.. disitu dikatakan juga penculik, pendusta, bagi yang makan sumpah dan sebagainya…. baca juga ayat-ayat sebelumnya agar paham apa sih yang diinginkan alkitab.. bukan semata-mata doktrinasi terapan….. hanyakarena anda ga stuju lgbt lalu yang tidak sepaham anda dijamin sesat buka begitu?

    timotius 1:5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.
    1:6 Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.
    1:7 Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.

    kalau anda mau kekeh jumekeh menolak orang yang LGBT di gereja anda.. mulai saat ini pilih juga orang-orang pendusta di gereja anda, jangan hanya LGBT saja…. anak muda-muda army of god yang dugem2 itu singkirkan juga! orang-orang yang berpikir cabul jangan terima juga….

    jadi maksudnya dalam meneladani kristen jangan tebang pilih dan standar ganda…. hanya karena anda ga suka dengan kaum itu lalu anda vokal hanya pada kelompok tertentu… pendeta selingkuh, anggota gereja menipu anda diam saja… kalau berdasar ayat tidak lebih baik dari LGBT itu!!

    baiklah nampaknya anda gak ngerti menjadi seorang yang humanis deh… memang dosa bro.. tapi kalau memang ada yang berlaku dosa emangnya lo mau apakan? mau lo bunuh? mau lo kucilkan? apakah seperti itu hahahahaha
    lalu setiap pendosa di gereja anda mau anda apakan? mau anda usir? yang diusir itu hanya kaum gay saja? atau pendosa lain juga seperti penipu, pencela, pemfitnah? hahahaha jgn suka berstandar ganda deh…

  2. mau seribu ayat anda bawa… walaupun faktanya dosa.. masih banyak anggota gereja yang berlaku dosa juga… lalu mau diapakan? lalu gunakan standar yang sama dalam menghadapi pendosa itu baik ia membunuh, menipu, mencela, sombong kurang ajar dll jgn hanya pada kaum lgbt saja hahahaha

  3. Hmmm…. lagi-lagi ente kebablasan. Gue sudah bilang, gue punya teman LGB, ya gak masalah. Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah bahwa perilaku itu adalah dosa. Sampai kapan pun dosa. Apakah gereja bisa memaksa orang bertobat? TIDAK. Gereja memang harus menerima orang seperti itu, tetapi MERESTUI dosa? Mengatakan bahwa tindakan seks sesama jenis adalah baik-baik saja dan harus diterima sebagai kewajaran? Itu sesat, karena Tuhan sudah berfirman bahwa tindakan demikian adalah dosa. Mau diapain orangnya? Ya dibilangin, didoakan. Kalau tetap berzinah, ya masukkan penggembalaan, sama seperti suami yang ketahuan berzinah dengan perempuan lain. Perlakuannya sama seperti terhadap pendosa lain.
    TETAPI. Tidak ada kaum pendosa lain yang berani mengampanyekan tindakan mereka sebagai baik-baik saja dan tidak berdosa. Apakah ada kelompok pembunuh atau pencuri atau pendusta yang berani berserikat dan meminta gereja menerima mereka sebagai orang yang normal meskipun mereka terus melakukan semua kegiatan dosa itu? Izinkan kami menjadi bagian Anda terus, tetapi biarkan kami terus melakukan dosa kami, karena tindakan kami ini sebenarnya sudah bukan dosa, lagi. Toh banyak pendosa yang lain. Begitu?

    Bedakan Bro. So, jadi intinya, ente sudah mengakui kalau perbuatan itu adalah dosa? Bagus. Kalau tahu itu dosa, jangan lakukan lagi. Selesai. Kalau masih melakukan terus, ya Tuhan yang kasih pengajaran nantinya.

  4. kan sudah di bilang tidak ada yang mengatakan itu boleh dilakukan dan tidak dosa… intinya adalah perilaku kita terhadap mereka yang sudah terlanjur seperti itu.. himbauan kan agar jangan mengucilkan mereka begitu intinya bro…
    jadilah seperti Yesus… ingat ketika Ia menyelamatkan pelacur yang hendak dirajam itu? apakah anda jadi seperti Yesus yang membela pelacur itu? ataukah anda secara vokal hendak menjadi para perajam dengan membawa bawa agama secara teoritis anda?
    terserah anda mau jaid seperti apa… yang jelas jadikan agama anda patokan agar menjadi manusia yang lebih baik, lebih kasih, lebih penyayang. lebih humanis…. bukan dengan kedok agama lantas ingin menunjukkan superioritas pada kaum tertentu…. amin ya saudara… jangan jadikan agama anda menjadikan manusia monster terhadap manusia lainnya…

    Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku 1 yang di sorga.

    cari tahu apa saja kehendak Bapa itu…. paling gampang tinggal mencontoh hidup Yesus saja.. gitu aja kok repot

  5. ya kalau anda melihat himbauan di atas adalahuntuk berkampanye gay.. mungkin coba dibaca lagi barangkalai ada yang salah dari pemahaman itu… kalau saya baca himbauan itu hanya untuk menghormati hak mereka sebagai manusia… persepsi orang bisa berbeda bro dalam hal itu… jadi jangan memaksakan pendapat bahwa opini tentang himbauan itu adalah untuk mengajak ber LGBT… saya tidak melihatnya seperti itu…

  6. Bro, ini salah satu bagian yang menurut gue kurang tepat dalam imbauan di atas:
    ======================================
    Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat.

    Kita juga tidak boleh memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.
    ======================================

    Dikatakan bahwa “menjadi LGBT…. bukanlah suatu dosa”, dengan asumsi yang hampir pasti benar bahwa “menjadi LGBT” berarti mempraktikkan perilaku hubungan seksual sejenis (untuk kasus LGB, kalau T, gue nggak tahu, karena setelah seorang lelaki menjadi perempuan karena operasi, bukankah dia menjadi perempuan?), maka menjadi LGB menurut Alkitab adalah melakukan dosa yang terus-menerus; kenapa bisa diartikan “bukanlah suatu dosa?”

    Makanya gue bilang, ini seperti mengampanyekan supaya orang menerima LGBT DAN PERILAKU dosa mereka sebagai sesuatu yang BUKAN DOSA. Itu sama saja seperti misalnya ada sekelompok pencuri atau pembohong di dalam gereja, dan mereka berserikat dan menuntut agar hak mereka diakui gereja, bahwa tindakan mereka itu baik-baik saja, dan bukan dosa, karena memang mereka terlahir dengan pembawaan selalu ingin mencuri dan berbohong… atau lebih parah lagi, misalnya membunuh. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan mengompromikan kebenaran Alkitab karena ada yang menuntut begitu?

    Gue sudah mengira bahwa ente akan mengutip sikap Tuhan Yesus yang mengampuni perempuan yang ketahuan berzinah, tetapi ente hanya mengambil bagian yang “kelihatannya menguntungkan pezinah”, yaitu Yesus mengampuni dia, tanpa memperhatikan apa kata Yesus:

    Yohanes 8:10-11
    10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
    11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

    Perhatikan ayat 11 “…DAN JANGAN BERBUAT DOSA LAGI MULAI SEKARANG”.

    Hmm… terus kalau menjadi LGBT, yang artinya terus-menerus berbuat dosa… apakah menurut ente itu namanya menuruti Yesus? Tentu tidak. Sekali ente berhubungan seks sejenis, dan datang kepada Yesus, Dia akan mengampuni tetapi memberi ente pesan yang sama “jangan berbuat dosa lagi”… lalu ente berbuat lagi, datang lagi, berbuat lagi, datang lagi…. mau sampai kapan? Apakah ente pikir Tuhan tidak punya batas kesabaran untuk umat-Nya yang terus berkanjang dalam dosa, dan bahkan menuntut agar Dia mengubah standar-Nya tentang dosa, supaya mereka itu bisa terus berbuat dosa itu dan diterima di surga? Ingat Bro, bangsa Kanaan (orang Amori) dibantai habis oleh Tuhan melalui tangan Israel karena kedurjanaan mereka sudah melewati batas. Ada saatnya kemurahan Tuhan akan diambil dari mereka yang menolak untuk bertobat dan bahkan menuntut Tuhan agar bertobat, yaitu mengubah standar dosa-Nya?
    Bukan urusan gue menghakimi kaum LGBT. Urusan gue adalah mengingatkan mereka bahwa SABDA TUHAN sudah jelas, bahwa perilaku seperti itu dosa, dan yang menghukum dosa bukan gue, tetapi Tuhan. Karena gue kasihan sama kaum LGBT, makanya gue ingatkan. Bukan gue mau mengucilkan, cuma mengingatkan. Tapi gue tidak akan pernah setuju kalau gereja mengatakan bahwa “hubungan seks sesama jenis bukan dosa”.

  7. 9. Gereja, sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai “Tubuh Kristus”.

    Kita harus memberikan kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.

    10. PGI menghimbau gereja-gereja agar mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral kepada keluarga agar mereka mampu menerima dan merangkul serta mencintai keluarga mereka yang berkecenderungan LGBT.

    Penolakan keluarga terhadap anggota keluarga mereka yang LGBT berpotensi menciptakan gangguan kejiwaan, menciptakan penolakan terhadap diri sendiri (self-rejection) yang berakibat pada makin meningkatnya potensi bunuh diri di kalangan LGBT.

    11. Selama ini kaum LGBT mengalami penderitaan fisik, mental-psikologis, sosial, dan spiritual karena stigamatisasi agama dan perilaku kekerasan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Mereka menjadi kelompok yang direndahkan, dikucilkan dan didiskiriminasi bahkan juga oleh negara.

    himbauan juga perlu dilihat tujuannya…. baiklah jika memang anda tidak setuju dengan himbauan tersebut gapapa… tidak sependapat juga gapapa… tapi memaksa benar mohon maaf ga bisa… orang punya pendapat berbeda..

    jika anda ga setuju berarti statemen himbauan itu begini bunyinya

    “Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir,adalah dosa, karena itu kita harus memaksa mereka bertobat.” caranya memaksa bertobat?????
    “Kita juga harus memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita tidak harus menolong agar mereka bisa tidak menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.”

    inilah yang saya sebut penerapan buta akan doktrin tanpa mempertimbangkan sisi aspek lain seperti aspek sosial, aspek mental dan spiritual… tapi hey itu pun terserah anda juga sih hahahaha… pendapat boleh berbeda… siapa yang benar belum tentu juga… jadi silakan lakukan apa yang anda anggap benar dan saya tetap melakukan apa yang saya anggap benar.. hahahaha

  8. “Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir,adalah dosa, karena itu kita harus memaksa mereka bertobat.”
    ===================
    Gereja, sebagai tubuh Kristus, harus menjalankan Firman Tuhan, maka titik tolak dari himbauan itu sudah salah, karena menomorduakan firman Tuhan, dan menomorsatukan PANDANGAN MANUSIA yang adalah makhluk berdosa.

    Seharusnya himbauan PGI itu semacam ini:

    “Karena Firman Tuhan sudah jelas, bahwa tindakan hubungan seksual sesama jenis adalah dosa, maka memilih menjadi LGBT artinya memilih menjadi pendosa seumur hidup, dan ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena itu, gereja seharusnya mendoakan dan mengingatkan, serta menggembalakan warganya yang punya kecenderungan menjadi LGBT, agar menyadari bahwa perilaku tersebut ditentang oleh Tuhan.”

    “Karena manusia tidak bisa memaksa manusia lain bertobat sampai ke dalam hatinya, gereja hendaknya terus mendoakan supaya kuasa Roh Kudus bekerja mengubahkan hati mereka, dan mengingatkan mereka bahwa untuk mengikut Yesus, orang harus memikul salibnya sendiri.”

    Nah, kira-kira begitulah yang seharusnya menurut gue.
    Ya, buat kaum LGBT yang inginnya terus berkanjang dalam dosa PERCABULAN tetapi tetap dianggap sebagai orang-orang yang suci dan layak masuk surga, himbauan di atas tentu tidak sesuai, karena menurut mereka, menjadi LGBT dan melakukan hubungan seksual sesama jenis SEHARUSNYA TIDAK DIANGGAP SEBAGAI DOSA, APA PUN KATA FIRMAN TUHAN. Haha.. menggelikan memang.

    Jadi, kalau ente adalah LGBT, ya silakan lanjutkan nikmati saja ke-lgbt-an ente itu hehehe… bukan urusan gue sih… gue sudah mengingatkan… selanjutnya terserah Tuhan.

    Tetapi kalau menurut gue pribadi sih, kaum LGBT itu termasuk orang-orang yang kurang ajar. Kenapa? Karena, sudah berbuat dosa, tidak mau diingatkan, malah mencari pembelaan seolah-olah perbuatan dosa mereka itu bukan dosa, lalu menuntut orang lain mengakui mereka sebagai bukan pendosa, dan diperlakukan sama seperti orang lain yang tidak punya kebiasaan dosa yang jelas dikutuk Tuhan, bahkan lalu membajak gereja supaya merestui tindakan mereka, dan bahkan lalu malahan menuntut Tuhan mengubah standar-Nya agar hubungan seks sesama jenis itu tidak lagi dianggap dosa, karena bukankah Tuhan yang membuat mereka demikian? Haha… sungguh pendosa yang kurang ajar…. hehehe… tapi ini pandangan pribadi gue sih. Selanjutnya terserah Anda…

  9. Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan (eleos ) dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9:12-13

    Apa itu DOSA? Menurut Alkitab, DOSA adalah KEKURANGAN kemuliaan Allah. Apa yang harus dilakukan oleh umat Kristen kepada LGBT alias orang-orang BERDOSA itu dan KEKEH jumekeh berdosa itu? MENGHAJAR mereka siang dan malam sampai KUDA gigit jari? Bagaimana cara orang Kristen BEBELAS kasiHAN kepada mereka? Dengan MENCACI MATI dan mendzolimi mereka sampai kuda gigit jari?

  10. Untuk Suhu Hai Hai dan Bro baik-baik saja,

    Bukan begitu Su maksud gue. Gini, biar lebih gampang dimengerti ya? Misal ente itu seorang homoseksual dan merupakan temen gue. Apa yang akan gue lakukan? Gue akan mengasihi ente seperti mengasihi temen-temen gue yang lain.

    Ente butuh teman buat ngobrol, ya gue datang, gue dengerin. Ente butuh duit buat masukin anak sekolah, ya gue kasih. Ente butuh modal puluhan juta buat buka usaha, ya gue pinjemin, kalau ternyata gagal, dan cuma bisa ngembaliin separuh, ya gak papa, gue maafin. Ente gak punya duit buat makan, ya gue traktir. Ibu ente sakit, masuk rumah sakit, ya gue tengok, ente gak punya duit buat nebus obat, ya gue kasih. Ente butuh duit mau jual tanah, kalau memang gue ada duit, ya gue beli dengan harga teman. Ente sakit, ya gue jenguk, gue bawain makanan kesukaan ente. Apa aja deh, asal jangan ente ajak gue berhubungan badan sesama lelaki.

    Gue ngomong berdasarkan fakta, apa yang sudah gue lakuin buat temen-temen gue, termasuk yang LGBT. TETAPI… ada TETAPINYA nih… gue nggak bakal jemu-jemu ngingetin ente: “Bro, usahakan berhenti dari yang ente lakuin itu.. karena setahu gue, perbuatan ente itu ditentang oleh Tuhan” (apalagi kalau ente ternyata sudah punya istri dan anak, yang berarti perbuatan LGBT ente itu adalah perselingkuhan yang sama dengan perzinahan; sama perempuan saja dosa dan dilarang, apalagi sama lelaki). Gue juga bakal nggak jemu ndoain biar ente berhenti dari perbuatan itu, dan mengaku dosa, sehingga tidak melakukannya lagi, DEMI ENTE SENDIRI.

    Nah, sekarang kurang apa gue coba? Gue udah mengasihi ente seperti diri gue sendiri… gue juga mengasihi jiwa ente dengan selalu mengingatkan ente akan firman Tuhan dan mendoakan ente. Apakah gue salah? Apakah gue seperti orang yang mau merajam? mengucilkan? Enggak kan?

    Ada yang perlu dibedakan di sini: sikap terhadap manusia, dan sikap terhadap perbuatannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.