Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


bordertelegraph

bordertelegraph

Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT bukan KEPUTUSAN namun pertimbangan dan ajakan untuk mendalami masalah lebih lanjut guna memberi pokok pikiran dan umpan balik bagi penyempurnaan sikap dan pandangan PGI.

PGI adalah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia yang sepakat bersatu menjadi Gereja Indonesia Yang Esa. PGI bukan gerakan untuk menyeragamkan atau menjadi satu organisasi apalagi mendominasi seluruh anggotanya namun bertumbuh dalam visi dan misi bersama.

Pertama-tama anda harus membaca Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT dengan teliti dan hati-hati sampai mengerti benar isinya. Bacalah ayat-ayat Alkitab yang alamatnya tertulis dengan teliti dan hati-hati sampai mengerti isinya. Setelah mengerti benar isinya barulah anda bisa ikut memikirkannya dengan logis dan ilmiah dengan Alkitab sebagai sumber pustaka dan standar kebenaran.

Setelah anda membacanya dan mengerti maka baiklah saya akan menulis blog-blog untuk membahasnya bagian demi bagian. Dengan cara demikianlah kita manggapi Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT tersebut.

Dengan warna anda akan mudah membacanya lebih mudah untuk mengerti alurnya dan bagian-bagian penting di dalamnya.

Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT

Menyikapi kontroversi yang muncul dan berkembang di kalangan gereja-gereja dan di tengah masyarakat menyangkut keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender), Majelis Pekerja Harian PGI menyampaikan beberapa pertimbangan sebagaimana tertera di bawah.

Disadari bahwa sikap dan ajaran gereja mengenai hal ini sangat beragam, dan pertimbangan-pertimbangan ini tidaklah dimaksudkan untuk menyeragamkannya.

Pertimbangan-pertimbangan ini justru sebuah ajakan kepada gereja-gereja untuk mendalami masalah ini lebih lanjut.

MPH-PGI akan sangat berterima kasih jika dari hasil pendalaman itu, gereja-gereja dapat memberikan pokok-pokok pikiran sebagai umpan balik kepada MPH-PGI untuk menyempurnakan Sikap dan Pandangan PGI mengenai masalah ini.

Pengantar

1. Manusia adalah gambar dan citra Allah yang sempurna. Sebagai citra Allah yang sempurna, manusia memiliki harkat dan martabat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.

2. Allah menciptakan manusia, makhluk dan segala ciptaan yang beranekaragam dan berbeda-beda satu sama lain. Kita hidup dalam keanekaragaman ras, etnik, gender, orientasi seksual dan agama. Keanekaragaman ini adalah sebuah realitas yang Allah berikan kepada kita, yang seharusnya bisa kita terima dengan sikap positif dan realistis.

3. Bersikap positif dan realistis dalam keanekaragaman berarti kita harus saling menerima, saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain.

Bersikap positif dan realistis terhadap keanekaragaman yang Allah berikan berarti kita berupaya memahami dan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada.

Bersikap positif dan realistis terhadap kenekaragaman berarti kita melawan segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah.

Sebaliknya kita berupaya mendialogkan segala perbedaan itu tanpa prasangka negatif. Bersikap positif dan realistis berarti kita menjaga dan memelihara persekutuan manusia yang beranekaragam ini agar mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, bagi segala makhluk dan bagi bumi ini.

Titik Tolak

4. Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan ciptaan Allah yang sangat dikasihi-Nya.

5. Keberadaan manusia dengan kecenderungan LGBT merupakan sebuah fenomena yang ada sejak masa lalu.

LGBT bukan produk kebudayan modern; bukan juga produk kebudayaan Barat. Fenomena LGBT ini ada dalam masyarakat kita dan secara sosio-antropologis LGBT ini sudah sejak dulu diakomodasikan dalam budaya beberapa suku di dalam masyarakat kita.

6. Ketika kita menghadapi persoalan moral, salah satu masalah terbesar muncul dari cara kita melakukan interpretasi terhadap teks Kitab Suci.

Penafsiran terhadap teks Kitab Suci yang tidak mempertimbangkan maksud dan tujuan dari teks yang ditulis oleh para penulis Kitab Suci berpotensi menghasilkan interpretasi yang sama sekali berbeda dari tujuan teks itu ditulis.

Berkenaan dengan LGBT, Alkitab memang menyinggung fenomena LGBT, tetapi Alkitab tidak memberikan penilaian moral-etik terhadap keberadaan atau eksistensi mereka. Alkitab tidak mengeritisi orientasi seksual seseorang.

Apa yang Alkitab kritisi adalah perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk yang dilakukan kaum heteroseksual, atau yang selama ini dianggap ‘normal’.

Pesan utama ceritera penciptaan Adam dan Hawa (Kejadian 1:26-28; 2:18, 21-24), misalnya, adalah tentang cikal bakal terjadinya institusi keluarga dan bahwa manusia diberi tanggungjawab untuk memenuhi dan memelihara bumi.

Ceritera ini sama sekali tidak ditujukan untuk menolak keberadaan kaum LGBT.

7. Ada beberapa teks lain dalam Alkitab yang diinterpretasikan secara kurang tepat sehingga ayat-ayat itu seolah menghakimi kaum LGBT. Padahal melalui interpretasi yang lebih akurat, kritikan Alkitab dalam ayat-ayat tersebut justru ditujukan pada obyek lain.

Contohnya: Alkitab mengeritisi dengan sangat keras ibadah agama kesuburan (menyembah Baal dan Asyera, Hakim-hakim 3:7; 2Raja-raja 23:4) oleh bangsa-bangsa tetangga Israel pada masa itu, yang mempraktekkan semburit bakti yaitu perilaku seksual sesama jenis sebagai bagian dari ibadah agama Baal itu (Ulangan 23:17-18); demikian juga terhadap penyembahan berhala Romawi di zaman Perjanjian Baru (Roma 1:23-32).

Alkitab juga mengeritisi sikap xenofobia masyarakat Sodom terhadap orang asing dengan cara mempraktekkan eksploitasi seksual terhadap mereka yang sesama jenis. Tujuannya adalah mempermalukan mereka (Kejadian 19: 5-11 dan Hakim-hakim 19:1-30). Oleh karena itu bagian-bagian Alkitab ini tidak ditujukan untuk menyerang, menolak atau mendiskriminasi keberadaan kaum LGBT.

Teks-teks Alkitab lainnya, yang sering dipakai menghakimi kaum LGBT adalah Imamat 18:22; 20:13; 1Kor 6:9-10; 1Tim 1:10). Apa yang ditolak dalam teks-teks Alkitab itu adalah segala jenis perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif, yang dilakukan oleh siapa pun, atas dasar apa pun, termasuk atas dasar agama, dan ditujukan terhadap siapa pun, termasuk terhadap perempuan, laki-laki dan anak-anak.

Rekomendasi

8. PGI mengingatkan agar kita semua mempertimbangkan hasil-hasil penelitian mutakhir dalam bidang kedokteran dan psikiatri yang tidak lagi memasukkan orientasi seksual LGBT sebagai penyakit, sebagai penyimpangan mental (mental disorder) atau sebagai sebuah bentuk kejahatan.

Pernyataan dari badan kesehatan dunia, WHO, Human Rights International yang berdasarkan kemajuan penelitian ilmu kedokteran mampu memahami keberadaan LGBT dan ikut berjuang dalam menegakkan hak-hak mereka sebagai sesama manusia.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengacu pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993) bahwa LGBT bukanlah penyakit kejiwaan. LGBT juga bukan sebuah penyakit spiritual.

Dalam banyak kasus, kecenderungan LGBT dialami sebagai sesuatu yang natural yang sudah diterima sejak seseorang dilahirkan; juga ada kasus-kasus kecenderungan LGBT terjadi sebagai akibat pengaruh sosial.

Sulit membedakan mana yang natural dan mana yang nurture oleh karena pengaruh sosial. Meskipun demikian, bagi banyak pelaku, kecenderungan LGBT bukanlah merupakan pilihan, tetapi sesuatu yang terterima (given).

Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat.

Kita juga tidak boleh memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.

9. Gereja, sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai “Tubuh Kristus”.

Kita harus memberikan kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.

10. PGI menghimbau gereja-gereja agar mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral kepada keluarga agar mereka mampu menerima dan merangkul serta mencintai keluarga mereka yang berkecenderungan LGBT.

Penolakan keluarga terhadap anggota keluarga mereka yang LGBT berpotensi menciptakan gangguan kejiwaan, menciptakan penolakan terhadap diri sendiri (self-rejection) yang berakibat pada makin meningkatnya potensi bunuh diri di kalangan LGBT.

11. Selama ini kaum LGBT mengalami penderitaan fisik, mental-psikologis, sosial, dan spiritual karena stigamatisasi agama dan perilaku kekerasan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Mereka menjadi kelompok yang direndahkan, dikucilkan dan didiskiriminasi bahkan juga oleh negara.

Gereja harus mengambil sikap berbeda. Gereja bukan saja harus menerima mereka, tetapi bahkan harus berjuang agar kaum LGBT bisa diterima dan diakui hak-haknya oleh masyarakat dan negara, terutama hak-hak untuk tidak didiskriminasi atau dikucilkan, perlindungan terhadap kekerasan, hak-hak untuk memperoleh pekerjaan, dan sebagainya.

Para pemangku negara ini harus menjamin agar hak-hak asasi dan martabat kaum LGBT dihormati! Kaum LGBT harus diberikan kesempatan hidup dalam keadilan dan perdamaian.

12. PGI menghimbau agar gereja-gereja, masyarakat dan negara menerima dan bahkan memperjuangkan hak-hak dan martabat kaum LGBT.

Kebesaran kita sebagai sebuah bangsa yang beradab terlihat dari kemampuan kita menerima dan menolong mereka yang justru sedang mengalami diskriminasi dan ketidakadilan.

Meskipun demikian, PGI sadar bahwa gereja dan masyarakat Indonesia belum bisa menerima pernikahan sesama jenis.

PGI bersama dengan warga gereja dan segenap warga masyarakat masih memerlukan dialog dan percakapan teologis yang mendalam menyangkut soal ini.

Penutup

13. LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kitalah yang mempersoalkannya. Kitalah yang memberinya stigma negatif.

Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang matang, rendah hati, rasional serta kemampuan bersikap adil dalam menyikapi kasus ini.

Kita harus menjauhkan diri dari kecenderungan menghakimi atau menyesatkan siapa pun.

Sebaliknya, kita harus belajar membangun persekutuan bangsa dan persekutuan umat manusia yang didasarkan pada kesetaraan dan keadilan.

14. Demikianlah pernyataan pastoral ini kami sampaikan pertama-tama kepada gereja-gereja di Indonesia, dan juga kepada masyarakat Indonesia seluruhnya.

Kiranya gereja-gereja terus mengarahkan diri pada tuntunan Roh Kudus untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat komitmen iman menyangkut penerimaan kaum LGBT.

Jakarta, 28 Mei 2016
a.n Majelis Pekerja Harian PGI

56 thoughts on “Pernyataan Pastoral PGI Tentang LGBT Di Mata Seorang Tionghoa Kristen

  1. kalau orang minum kopi umumnya pakai gula biar manis… namun jika orang minum kopi pakai garam apakah ia salah karena preferensi minum kopi tidak sama dengan anda…. memang nyeleneh dan tidak umum secara sosial sehingga seringkali tidka bisa diterima dan bahkan dijauhi… berdasar berbagai sumber terbaru homoseksualitas bukanlah penyakit baik fisik maupun kejiwaan, itu hanya preferensi pilihan seksual sama seperti kita minum kopi, teh atau susu alias suka-sukaan…. LGBT tidak bisa disembuhkan karena itu dari keinginan pribadi… jadi jika ada artis yang katanya ngaku tobat itu sama seperti anda minum teh walau tidak suka namun di dalam pikiran masih pingin minum kopi.. ia tidak benar tobat karena preferensi seksual tidak bisa diobati… sekali anda doyan (suka atau senang) minum kopi akan doyan terus… anda berhenti minum kopi bukan karena tidak doyan namun karena mag anda sakit contohnya… begitu pula dengan rokok anda berhenti merokok bukan karena tidak doyan namun karena takut kesehatan anda memburuk, takut terkena penyakit paru-paru… begitu analoginya

  2. Terima kasih lagi Su atas link-nya untuk pendapat dr. Andri, tapi itu adalah pendapat dokter, dan pendapat dokter bertentangan seperti yang ditulis dr. Andik mengenai hasil penelitian ACA… dan yang pasti, pendapat dokter bukan pegangan gue. Pegangan gue Alkitab. Orang boleh ngomong apa saja… mirip seperti zaman Nuh dulu… orang kawin dan dikawinkan, dan barangkali juga LGB-an… pesta pora… sampai akhirnya murka Tuhan datang.

  3. Bro… orang suka nyopet, suka nyuri, suka ngutil, suka bohong itu juga preferensi perilaku ya? Bukan gangguan jiwa… dan boleh-boleh saja terus dilakukan? Ya suka-suka entelah. Mau ngapain juga itu hidup ente…. kalau memang ente termasuk kaum LGBT, ya semoga Tuhan memberkati ente…. kalau bukan termasuk LGBT, kenapa ente mbelain?

  4. bro… tidak ada yang mengatakan kalau lgbt boleh dilakukan… yang jelas definisi lgbt bukan gangguan jiwa.. kalau anda ngeyel itu gangguan jiwa itu yang mekso namanya… saya cuman kasih tau aja… lgbt itu ga bisa sembuh… daripada lo koar-koar aja… segera kasih tau aja caranya sembuhin gimana dong? hahahaha … kan saya bilang kalau lo doyan kopi mustahil kapan kapan ga doyan… jadi dibilang lgbt itu tobat bohong bro… yang ada mereka ga menunjukkan lagi kalau mereka lgbt karena takut dikucilkan dari sosial… namun di dalam hatinya mereka tetep suka sesama jenis makanya mungkin ga kawin atau punya anak…
    jadi bro daripada mengkritik lgbt itu sesat lah, buruk lah… lebih baik beri solusi emangnya orang-orang yang sudah terlanjur begitu mau diapain??

  5. Oh maksudnya gitu? Hehehe.. maaf maaf. Ya, gue nggak tahu sih soal itu. Soalnya gue bukan lgbt. Tapi Bro, dulu gue doyan rokok, selama beberapa tahun, terus sekarang gue berhenti dan nggak doyan rokok. Ternyata bisa tuh? Terus mertua gue juga dulu perokok berat, selama PULUHAN tahun, jauh lebih lama dari gue, tapi terus karena sesuatu hal, yaitu istrinya sembuh dari penyakit berat, blionya bisa berhenti sama sekali, dan sama sekali nggak doyan rokok lagi.. tuh gimana dong?
    Jadi, menurut gue, perubahan itu bisa dilakukan. Kalau cuma rokok maksudnya. Haha… kalau lgb mah gue nggak tahu, tapi kalau punya iman sih, bisa aja kali ya…

    Nah yang susah itu Bro, kalau dia nggak kawin dan nggak lgb-an lagi, mungkin itu bener. Kenyataannya, di sini banyak yang sudah punya istri dan anak, terus lgb-an.. gue malahan tahu ada seorang hamba Tuhan yang begitu… dibilangin ngeyel, ngomongnya wah paling itu dosanya sama kayak merokok kan? Nah tu, dia saja sebenarnya tahu kan kalau itu dosa? Orang dia sudah punya anak dan istri juga. Jadi setatusnya kalau berhubungan dengan sesama itu namanya ZINAH. Alias selingkuh. Kalau orang hetero selingkuh, dosa nggak? Dosa, terus kalau ini? Dosa nggak? Ya dosa juga mustinya kan? Malah dobel.

    Yang dilakukan terus apa? Ya bertobat lah… hentikan tindakannya. Meskipun kepengin, terus kalau nggak usah diladenin, ya mungkin lama-lama ilang kali. Itu namanya MEMIKUL SALIB, kalau Tuhan Yesus bilang (kalau ente Kristen, mustinya tahu ini). Nama lainnya barangkali MENYALIBKAN KEINGINAN DAGING, kalau Paulus yang bilang.

  6. anda boleh bilang seperti yang anda katakan… intinya pun sama saja sebenarnya.. mertua anda berhenti karena alasan tertentu ( kesehatan, istri, alasan sosial lainnya, dll) namun tidak serta merta menghilangkan bukti ia masih bisa merokok dan tetap suka kapanpun ia mau… ia hanya memilih tidak mau merokok tapi tidak menghilangkan suka merokoknya… banyak saya ketahui orang yang telah lama berhenti merokok ketika bau rokok ia akan menutup matanya dan menghirup bau asapnya dengan seolah menikmati… tapi kalau ditawari ia juga tidak mau… itu artinya hati ingin tapi ia tidak melakukannya..
    sama seperti LGBT… kita contohkan gay misalnya.. adalah orang yang preferensi seksualnya adalah terhadap sesama jenis… jika yang anda maksud bertobat itu adalah tidak menunjukkan perilaku gaynya itu ( tidak gandengan dengan sesama jenis, tidak seksual dengan sesama jenis dll) mungkin bisa saja seperti itu.. apakah ia tobat jadi gay? tidak!!! ia tetap menyukai sesama jenis namun tidak ditunjukkannya… menyuruhnya untuk menyukai lawan jenis adalah mustahil ( wong ga suka jeruk kok dipaksa makan jeruk)… yang terjadi apa kemudian? karena ia memilih untuk bisa berkumpul dengan sosial dan tidak dikucilkan dari masyarakat karena perilaku gaynya itu ia memilih untuk tidak menunjukkan ketertarikannya dengan lawan jenis… orang tuanya ga tau kalau dia gay maka disuruh cari pacar selalu menolak dan bahkan sampai tuapun tidak menikah… nah tobat jadi gay yang anda maksud itu yang bagaimana? yang tidak berhubungan dengan sesama jenis atau menjadi berhubungan dengan lawan jenis? bisakah merubah ketertarikannya dengan lawan jenis?
    nah kalau yang sudah punya anak atau menikah kemudian LGB… hanya ada 2 kemungkinannya.. antara dia itu kamuflase sejak awal ( sebenarnya suka sesama jenis namun karena takut oleh sosial ia pura pura suka dengan lawna jenis).. tau kasusnya bruce jenner kan? ayah dari kardhasian itu yang akhirnya jadi transeksual setelah sekian tahun pernikahannya…
    makanya yang ingin saya tanyakan tobat yang dimaksud bagaimana… apa seperti puluhan tahun bruce jenner ( tidak menunjukkan bahwa ia ingin jadi transeksual? atau berubah 180 derajat dari tidka suka lawan jenis jadi suka… kalau yang anda maksud dengan tidak menunjukkan perilakunya disebut tobat… maka banyak juga kok yang gay gak ngaku ( intinya iceberg teori) di dalam masyarakat khususnya gereja keliatannya ga ada yang lgbt padahal banyak…
    dan yang paling susah nemuinnya ya seperti yang anda katakan dengan hamba Tuhan itu…. mungkin saja ia memiliki preferensi bisexual artinya suka pria juga wanita… berperilaku seksual dengan lawan jenis (kawin, punya anak, keluarga harmonis) tidak menghilangkan ketertarikan dengan sesama jenis ( bisexualnya tidka hilang) yang ada hanya tidak menunjukkan perilaku bisexualnya itu…. di mulut bisa saja bilang tobat buktinya sudah tidak bersama sesama jenis namun apakah begitu? tidak!!! ia tetap tertarik jika melihat sesama jenis… lalu tobatnya bagaiamana?

  7. Pernah dengar orang yang bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus kemudian berubah total kesukaannya pada alkohol, misalnya? Apakah ente Kristen? Tuhan MAMPU dan BISA mengubah hati orang, juga kesukaan orang, dan hidup orang sepenuhnya:
    2Kor 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

    Nah, teori yang ente berikan itu Bro, itu adalah secara manusia. Tetapi kalau ente tonton video kesaksian misalnya Igor Askhenazi yang dipanggil Tuhan, yang tadinya seorang pengguna obat-obatan dan peminum berat, menjadi seorang hamba Tuhan yang luar biasa, maka ente akan lihat bahwa Tuhan berkuasa mengubah orang, asalkan orang itu mau dan memang benar-benar mencari Tuhan dan mengasihi Tuhan:

    Kalau pun ternyata Tuhan tidak mengubah kesukaannya akan sesama jenis, maka menurut gue, bertobatnya itu ya tidak melakukan lagi. Kalau misalnya seorang lgb tidak sanggup menikah, ya tidak usah menikah, hiduplah membujang seumur hidup, dan tidak usah bermain lgb-an, MENGAPA? Karena Tuhan tidak mengizinkan perbuatan demikian. Kalau pun misalnya dia masih suka dengan sesama jenis dan itu tidak bisa dihilangkan, ya barangkali itu yang bisa dikatakan sebagai SALIB yang harus dia pikul. Dalam hidup di dunia ini, SETIAP pengikut Kristus punya salib sendiri-sendiri yang harus dia pikul. Sesuatu yang harus dia korbankan karena mau mengikut Yesus. Apakah kalau orang heteroseksual harus memikul salibnya sendiri, entah apa pun itu, misalnya tidak bisa menduduki jabatan tertentu karena dia Kristen, atau tidak bisa kaya karena tidak mau korupsi seperti teman-temannya, atau apalah, tetapi mereka yang punya keinginan homoseksual boleh bebas saja melenggang mengumbar hawa nafsunya? Tentu tidak. Seperti gue bilang, setiap manusia punya salib yang harus dia pikul, dan bagi orang-orang yang punya nafsu lgb, itulah salib yang harus mereka pikul. Itulah keinginan daging yang harus mereka salibkan. Jangan dikira cuma mereka yang harus memikul salib ketika mengikut Kristus. Semua juga harus begitu, tetapi kalau mereka menolak dan tetap merasa berhak menjadi anak-anak Allah, itu namanya egois, seolah-olah mengatakan hanya mereka yang harus memikul salib, sedangkan orang Kristen lain tidak, tetapi sebenarnya justru merekalah yang tidak mau memikul salibnya sendiri, dan silakan saja, bermimpi sajalah menjadi anak Allah. Kebinasaan sudah menunggu. Yang perlu mereka tahu, bahkan Paulus pun, salah satu rasul yang terbesar, dan barangkali bapa dari kita semua (orang non-Yahudi, karena dialah rasul untuk orang non-Yahudi), harus menanggung salib, berupa utusan iblis yang tidak bisa dia usir. Tuhan pun tidak mau mengusir utusan iblis yang menggocoh dia itu. Itulah salib yang harus dipikul Paulus, di samping salib-salib lain, sampai akhirnya dia harus mati dianiaya. Itulah harga yang harus dibayar untuk mengikut Kristus.

    Matius 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

    Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.

    1 Korintus 6: 9-10 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit,
    10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

  8. ya anda boleh saja kekeh jumekeh begitu… uji dulu kesaksian-kesaksian yang diberikan oleh orang-orang tersbut.. yang katanya tidak suka alkohol… tanyakan berhenti minum karena apa? karena alasan tertentu atau karena tidak suka alkohol???
    tidak ada seorang pun yang berhenti merokok atau minum karena “tidak suka”.. yang ada mereka berhenti karena alasan lain ( medis, religius, takut istri, sosial, norma lingkungan dll) apakah mereka tidak suka? bohong besar kalau tidak suka!!! kalau tidak suka ketika mencoba langsung berhenti itu namanya tidak suka bro…
    pemahaman agama anda terlalu teoritis dan rhetoris… nyata-nyatanya tidak mencerminkan apa yang diinginkan oleh ALkitab…
    pertanyaannya jika ada seorang di gereja anda yang terbukti begitu contohnya… lalu anda apain? buang dari gereja? kucilkan dia? andaikata dia tidak menunjukkan perilaku gaynya lalu akankah anda menerimanya? dia tetap gay lo? tobat kan hanya di mulut… dalamnya hati siapa yang tahu?
    lalu untuk kesaksian-kesaksian…. ga ada yang tahu bro kalau manusia itu tobat beneran.. yang tahu hanya Tuhan… hanya berdasarkan video lalu menyimpulkan bahwa orang tertentu pasti bertobat 100 % dan yang tidak di video pasti tidak tobat…. kok picik sekali cara menilai seseorang ya?
    saya sering melihat ketika ada yang kesusahan, orang mengatakan itu dihukum Tuhan lah, ia orang berdosa lah? kok cepat menilai sekali padahal tidak tahu standar dan kriteria Tuhan dalam menilai manusia…. amin ya saudara?

  9. bro yang pesta pora itu gak cuma lgbt aja… gua sering liat sore pergi ke army of god malamnya pergi dugem ngewek ngentot…. dwp…. diskotik… kalau ga percaya coba saja cari tahu hahahaha….
    intinya menilai orang jangan hanya dari statusnya… lihat dalam dalam juga orang per orang bukan dari penilaian anda semata…
    itulah yang terjadi jika pengajaran agama tidak dipahamkan atas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai perintah Allah.. namun mengumbar mistis, kesaksian keajaiban, uang dan semacam doktrin sesat..

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.