Apakah mengucapkan Kionghi Huatcai kepada orang Tionghoa HARAM hukumnya? Apakah sincia (tahun baru) NAJIS bagi orang Kristen? Kenapa banyak pendeta Kristen yang mengeluarkan fatwa HARAM merayakan sincia?
Sincia (xīnzǎi 新 載) alias xinnian (sinnian) alias 新年 artinya tahun baru. Kionghi huatcai alias Gongxi facai (Koungsi facai) alias 恭喜發財! Gong 恭 artinya hormat. Xi 喜 artinya bahagia. Fa 發 artinya mekar; tumbuh. Cai 財 artinya kelimpahan; sejahtera.
Kionghi huatcai artinya, selamat berbahagia dan selalu sejahtera. Itulah ucapan selamat yang dikatakan sebagai salam sincia (tahun baru) orang Tionghoa.
Sejarah Sincia
Di Tiongkok kuno, tahun ke satu adalah tahun di mana seorang pangeran naik tahta menjadi raja (Tianzi 天子). Itu sebabnya setiap kali raja mati dan digantikan raja baru, tahun pun kembali ke satu. Hari tahun baru adalah hari di mana raja baru dinobatkan menjadi raja. Itu sebabnya setiap kali raja baru bertahta maka hari tahun baru pun berganti.
Pada tahun 206 SM, Liu Bang 劉邦 (lafal: Liupang), seorang petani, naik tahta menjadi kaisar dengan gelar Han Gao Zu 漢高祖. Dinastinya dikenal dengan nama Hanzhao 漢朝 (dinasti Han). Kaisar menyatakan penguasa silih berganti namun tahun tidak pernah berhenti. Itu sebabnya ketika seorang penguasa mati, waktu sama sekali tidak berhenti apalagi ikut mati. Dia lalu menetapkan tahun pertama Tiongkok adalah tahun 551 SM, tahun kelahiran Kongzi 孔子 (khonghucu). Tahun tersebut ditetapkan menjadi tahun kesatu untuk menghormati dan mengingat ajaran Kongzi. Tanggal satu permulaan musim semi pun ditetapkan menjadi tanggal tahun baru. Sejak itulah bangsa Tionghoa merayakan sincia (tahun baru) hari pertama musim semi dan tahun terus berjalan meskipun penguasa silih berganti.
Sembahyang Musim Semi Tiongkok Kuno
Pada bulan ini, tegaklah musim semi (lichun 立春). Tiga hari sebelum lichun, dashi 大史 (sejarahwan agung) menghadap Tianzi 天子 (raja) dan berkata, “Hari Lichun telah tiba, kuasa kebajikannya (chengde 盛德) mewujud dalam kayu.” Tianzi pun mempersiapkan diri. Hari Lichun. Tianzi memimpin sangong 三公 (tiga pangeran), jiuqing 九卿 (sembilan menteri), zhuhou 諸侯 (rajamuda) dan dafu 大夫 (pembesar) menyambut musim semi di perbatasan kota timur (dongjiao 東郊). Setelah kembali dibagikan penghargaan kepada tiga pangeran, Sembilan menteri, raja muda dan pembesar di balairung. Liji IVA:I:10 – Yueling
Pada bulan ini, Tianzi 天子 (raja), pada hari pertama berdoa (qigu 祈穀) kepada Shangdi 上帝 (raja segala raja). Pada pagi pertama (yuanchen 元辰 ), Tianzi sendiri membawa garu dan cangkul, ditempatkan di antara kusir dan penumpang lalu memimpin sangong 三公 (tiga pangeran), jiuqing 九卿 (sembilan menteri), zhuhou (rajamuda) dan dafu 大夫 (pembesar) secara pribadi menggarap sawah untuk Di 帝. Tianzi melakukannya tiga kali, Sangong lima kali, menteri dan rajamuda sembilan kali. Pulangnya, ia mengangkat piala di pendapa agung di hadapan sangong, jiuqing, zhuhou dan para dafu lalu memberi amanat, “Minumlah anggur penawar lelah!” Liji IVA:I:13 – Yueling
Pada bulan ini, diamanatkan kepada jawatan music (yue 樂) untuk mulai sekolah dan latihan dansa. Liji IVA:I:16 – Yueling
Kitab-kitab agama diperiksa dan dirawat. Diamanatkan untuk melakukan sembahyang di gunung (shan 山), hutan (lin 林), sungai (chuan 川 ) dan rawa (澤). Hewan korbannya tidak boleh binatang hamil. Liji IVA:I:17 – Yueling
Tidak boleh menebang pohon. Liji IVA:I:18 – Yueling
Jangan menjatuhkan sarang burung. Jangan membunuh anak serangga. Jangan membunuh janin dan bayi serta burung-burung binatang. Jangan membunuh anak kijang dan merusak telur-telur burung. Liji IVA:I:19 – Yueling
Jangan menghimpun bala tentara, jangan membangun benteng dan tembok kota. Liji IVA:I:20 – Yueling
Pada bulan ini, tidak boleh mengerakkan tentara. Yang menggerakkan tentara pasti dihukum Tian 天. Jangan menggerakkan tentara duluan. Tidak boleh menyerang duluan. Liji IVA:I:22 – Yueling
Jangan mengubah jalan Tian (Tiandao 天道), jangan mengabaikan hukum Di (Dili 地理), jangan mengacaukan aturan manusia (renji 人紀). Liji IVA:I:23 – Yueling
Selain sembahyang harian yang dilakukan pagi dan petang, bangsa Tionghoa kuno juga melakukan sembahyang bulanan dan sembahyang datangnya musim. Tanggal satu bulan satu yang saat ini dirayakan sebagai hari tahun baru, dahulu kala adalah hari sembahyang menyambut musim semi. Sembahyang menyambut musim semi dilakukan di altar Jiao (altar perbatasan) Timur. Shangdi artinya raja yang mahatinggi alias raja segala raja. Pada saat sembahyang di altar Jiao, raja mengorbankan seekor lembu jantan muda yang tanduknya baru seujung kuku panjangnya. Seekor lembu tanpa cacat sampai ke bulu-bulunya yang dipelihara di bawah pengawasan raja lngsung. Sawah untuk Di (Shangdi) adalah sawah yang hasil panennya akan digunakan untuk sembahyang She 社. Siapakah Shangdi yang disembah oleh raja Tiongkok kuno? Apa pula sembahyang She?
Bulan pertama musim semi adalah bulan SABAT (berhenti). Bulan di mana bangs Tiongkok BERHENTI bekerja guna membiarkan alam BERKARYA! Bulan pertama musim semi adalah bulan untuk bersenang-senang (musik dan tari) serta sembahyang dan belajar.
Sembahyang Tiongkok Kuno
Pada hakekatnya manusia adalah hati Tian Di 天地. Yang paling mulia di antara wuxing 五行 (lima tubuh – air, tanah, tanaman, binatang, manusia). Mencicipi berbagai makanan, menikmati berbagai nada dan berpakaian berbagai warna seumur hidupnya. Liji VII:III:7 – Liyun
Tian Di 天地 berpadu, maka sulung dari berlaksa ada (wanwu 萬物) pun jadi. Laki-laki dan wanita bersetubuh sesuai Li 禮 maka berlaksa generasi pun dimulai. Liji IX:III:7 – Jiao tesheng
Altar She 社 adalah jalan suci Shendi 神地. Di 地 menopang (zai 載) berlaksa ada (wanwu 萬物) . Tian 天 menjinnnjing (chui 垂) segala wujud (xiang 象 ). Menerima berkah (cai 財) dari Di. Mendapatkan hukum (fa 法) dari Tian. Maka memuliakan (zun 尊) Tian dan mengasihi (qin 親 ) Di. Karena itulah diajarkan kepada masyarakat untuk mengucap syukur (meibao 美報 ). Kepala keluarga melakukannya di teras rumah. kepala negeri melakukannya di altar She. Pokoknya: Ketika sembahyang She, setiap orang keluar dari rumahnya. Ketika membangun altar She, semua warga negeri ikut bekerja. Demi She, dari gunung maupun lembah semuanya pun sembahyang syukur. Itulah cara bersyukur kepada yang pokok dan membayar budi kepada yang maha mula. Liji IX:I:21 – Jiao tesheng
Ajaran agama Tiongkok kuno sangat sederhana dan gamblang. Sang Pencipta ada dua. Yang satu BERFIRMAN yang lainnya MENGGENAPI atau MENANGGAPI Firman. Sang pencipta yang berfirman nama-Nya Tian 天 sedangkan yang menanggapi firman nama-Nya Di 地. Dari Tian Di 天地, segala ADA berasal itu sebabnya Tian Di disembahyangi sebagai raja segala raja (shangdi上帝). Tian Di berpadu manusia pun ada. Itu sebabnya Tian Di disembahyangi sebagai LELUHUR yang mahamulia (Wenzu 文祖). Untuk memudahkan baiklah kita terjemahkan Tian sebagai Allah dan Di sebagai Tuhan sehingga kita menyebut kedua-Nya Tuhan Allah.
Para raja yang telah mendahului kuatir li 禮 tidak dipahami sampai ke bawah. Maka dilakukan sembahyang korban (ji 祭) kepada Di 帝 di altar jiao 郊 sehingga kedudukan Tian 天 ditetapkan. Dilakukan sembahyang (shi 祀) di altar she 社 di seluruh negeri untuk menerima berkat dari Di 地. Di kuil leluhur (zumiao 祖廟) sehingga didapat akar cinta kasih. Di shanchuan 山 川 (altar gunung dan sungai) untuk menyapa Gui Shen 鬼神 (roh). Di wushi 五祀 (lima pelayanan) untuk menetapkan akar pengabdian manusia. Ada zongzhu 宗祝 (pendoa) di kuil leluhur, ada sangong 三公 (tiga menteri agung) di istana, ada sanlao 三老 (tiga tetua) di sekolah. Di hadapan raja ada wu 巫 (shaman), di belakangnya ada pencatat sejarah (shi 史). Buwu 卜巫 (peramal batok kura-kura dan rumput shi), gu 瞽 (pemusik buta) dan you 侑 (pencicip makanan) ada di sebelah kiri dan kanannya. Raja ada di tengah-tengah sebagai hati yang tidak melakukan apa pun (xin wuwei 心 無為) untuk mengawal semuanya berjalan dengan benar. Liji VII:IV:2 – Liyun
Di dalam ajaran agama Tiongkok kuno, ji 祭 (sembahyang) artinya melayani. Bersembahyang artinya MELAYANI. Di altar Jiao (altar perbatasan), Tuhan Allah disembah sebagai raja segala raja (Shangdi). Di altar She, Tuhan Allah disembah sebagai Tian Di (Yang berfirman dan Yang menanggapi firman).
Di kuil leluhur (zumiao) Tuhan Allah disembah sebagai Wenzu (leluhur mahamulia). Di altar gunung dan sungai (shanchuan) Tuhan Allah disembah sebagai Gui Shen (Roh. Gui memberi tubuh dan Shen memberi jiwa). Di lima departemen pemerintah (wushi) Tuhan Allah disembah (dilayani) sebagai rakyat. Itu sebabnya dikatakan, melayani rakyat sama dengan menyembah (melayani) Tuhan Allah.
Ada yang ratusan generasi telah berlalu namun tidak disingkirkan sebagai penerus (zong 宗). Ada yang setelah lima generasi harus disingkirkan sebagai penerus. Ratusan generasi tidak disingkirkan, dia bukan anak dari generasi sebelumnya. Yang mematuhinya sebagai penerus (zong 宗) juga bukan anaknya. Itu sebabnya, ratusan generasi berlalu namun dia tidak disingkirkan. Penerus (zong 宗) yang dipatuhi sebagai nenek moyang (gaozu 高祖), setelah lima generasi harus disingkirkan. Memuliakan leluhur (zunzu 尊祖) dilakukan dengan menghormati penerus (jingzong 敬宗). Menghormati penerus (jingzong 敬宗) untuk memuliakan leluhur (zunzu 尊祖) harus dilakukan dalam yi 義 (kebenaran). Liji XIV:15 – Dazhuan
Bangsa Tiongkok percaya, ketika seseorang mati, tubuhnya membusuk menjadi tanah dan jiwanya pergi menghadap Tian (Allah). Namun, ketika seseorang mati, perasaan HORMAT dan CINTA kepadanya tidak berkurang apalagi hilang. Keinginan untuk menyatakan hormat dan cinta kepada almarhum pun tidak musnah. Itu sebabnya para nabi Tiongkok kuno pun lalu menyusun kesusilaan (Li 禮) sembahyang orang mati.
Barang-barang kebutuhan orang hidup tidak boleh digunakan untuk orang mati, itu sebabnya barang-barang yang digunakan untuk sembahyang arwah hanya barang tiruan belaka (rumah-rumahan, uang-uangan, dsb). Makanan yang disajikan bagi arwah tidak boleh disia-siakan namun harus dimakan. Itu sebabnya diajarkan agar sajian sembahyang adalah makanan yang disukai oleh yang sembahyang.
Yang boleh melakukan sembahyang arwah hanya anak sulung atau ahli waris. Misal: Yang boleh menyembahyangi Paijo hanya anak sulungnya, si Bejo. Ketika si Bejo mati, yang boleh menyembahyangi Paijo adalah si Paimin anak sulung si Paijo. Dan ketika si Paimin mati maka yang boleh menyembahyangi si Paijo adalah si Untung anak sulung si Paimin. Ketika si Untung meninggal yang boleh sembahyang adalah si Slamet anak sulungnya.
Apa yang terjadi bila si Bejo mati tanpa keturunan? Sembahyang arwah Paijo pun berakhir. Bagaimana dengan adik-adik si Bejo? Mereka tidak boleh melakukan sembahyang arwah si Paijo karena bukan anak sulung juga bukan ahli waris. Ketika si Bejo meninggal, mereka tetap bukan anak sulung juga bukan ahli waris. Apa yang disebut ahli waris? Yang disebut ahli waris adalah bila si Paijo, sebelum mati mengangkat si Tole adik si Bejo menjadi ahli warisnya. Dengan demikian maka si Bejo pun nggak berhak melakukan sembahyang arwah si Paijo sebab yang berhak adalah si Tole.
Raja boleh menyembahyangi lima generasi almarhum di atasnya. Menteri tiga generasi. Pejabat tinggi dua generasi. Pejabat rendah dan rakyat jelata hanya boleh menyembahyangi ayahnya.
Ajaran nenek moyang yang telah mati menjadi sakti mandraguna makanya berkuasa menjawab doa-doa bukan ajaran Tiongkok kuno namun ajaran sesat karena bertentangan dengan ajaran Tiongkok kuno. Kenapa raja hanya boleh menyembahyangi lima generasi? Karena tidak kenal dengan generasi ke enam, maka tidak ada ikatan cinta kasih dan ikatan kekeluargaan.
Sembahyang (jizu 祭祖) berbeda dengan sembahyang (jingzong 敬宗). Jizu untuk MEMULIAKAN sedangkan jingzong untuk menyatakan hormat. Yang dimuliakan adalah leluhur mahamulia (Wenzu 文祖) sedangkan yang kepadanya dinyatakan hormat adalah nenek moyang (zong 宗). Setelah lima generasi nenek moyang (zong) tidak dikenal lagi namun meskipun ratusan generasi telah berlalu namun leluhur mahamulia (wenzu) tetap dikenal dan dihormati. Kenapa demikian? Karena Wenzu adalah Tuhan Allah yang dari-Nya manusia ada.
Agama Dao
Agama Dao didirikan oleh Zhang Dao Ling pada tahun 142 masehi. Ajaran agama Dao adalah sinkretisme (campuran) ajaran agama Buddha Mahayana dan agama Tiongkok kuno serta ajaran dukun-dukun Tiongkok.
Agama Buddha Mahayana mengajarkan tentang Bodhisattva (lafal: bodisatwa) yaitu makluk-makluk yang mencapai STANDAR masuk Nirvana (lafal: Nirwana) namun menunda ke Nirvana sampai semua makluk masuk Nirvana. Mereka gentayangan di luar Nirvana untuk menolong sebanyak mungkin makluk menjalani hidupnya.
Agama Buddha Mahayana memicu dan memacu lahirnya ajaran reinkarnasi dan penyembahan dewa-dewi agama Dao. Di dalam agama Dao, manusia hanya reinkarnasi menjadi dewa-dewi atau manusia lagi. Manusia tidak reinkarnasi menjadi binatang. Binatang juga tidak reinkarnasi menjadi manusia.
Dewa-dewi yang disembah umat Dao adalah reinkarnasi tokoh-tokoh sejarah dan dongeng tentang masa lalu. Dewa Daode Tianzun (道德天尊) alias Taishang Laojun (太上老君) adalah reinkarnasi 老子 Laozi. Sun Go Kong adalah dewa dari dongeng “Perjalanan ke Barat” karya Wu Cheng En yang hidup zaman dinasti Ming (1368 – 1644) yang mendapat inspirasi dari buku catatan perjanan rahib Xuanzang (602-664) untuk mengambil kitab suci agama Buddha ke India pada zaman dinasti Tang ( 618-907). Dewi Kwan Im adalah Bodhisattva Avalokiteśvara (lafal: awalokiteswara).
Merayakan Sincia
Agama Khonghucu adalah agama Tiongkok kuno. Kitab suci agama Khonghucu (Shisu & Wujing) adalah kitab suci agama Tiongkok kuno. Orang Tionghoa pemeluk agama Khonghucu merayakan Sincia dengan melakukan sembahyang She 社 di teras rumah mereka sehari sebelum Sincia. Anak-anak sulung atau ahli waris selain sembahyang She juga menyembahyangi almarhum nenek moyangnya.
Orang Tionghoa Pemeluk agama Dao selain melakukan sembahyang She di teras rumahnya juga menyembahyangi dewa-dewi yang dipujanya di klenteng sehari sebelum sincia.
Orang-orang Tionghoa Hokian tidak melakukan sembahyang She sehari sebelum Sincia namun merayakannya pada hari ke sembilan sincia.
Bagaimana dengan orang-orang Tionghoa yang memeluk Agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen dan lain-lainnya? Tentu saja tidak ada keharusan bagi mereka untuk merayakan Sincia dengan melakukan sembahyang agama Khonghucu maupun agama Dao.
Tentu saja mereka bebas melakukan sembahyang menurut ajaran agama mereka. Setahu saya, Gereja Reformed Injili (GRII) dan Gereja Kalam Kudus (GKK) menyelenggarakan kebaktian Sincia. Menurud saya, tidak ada masalah bila umat Buddha melakukan ibadah Sincia di vihara mereka dan umat Islam melakukan Solat Sincia baik di rumah maupun di Mesjid mereka.
Sincia adalah TAHUN BARU kalender Tionghoa. Sincia adalah permulaan musim semi di Tiongkok. Sincia adalah sebuah HARI di mana orang-orang Tionghoa bersukaria dan saling menyatakan CINTA KASIH dengan saling MENGUNJUNGI dan saling MENDOAKAN serta saling MEMBERI.
KIONGHI HUAT CAI!
NB.
Di Tiongkok kuno ada tiga dinasti yang diakui sebagai dinasti SUCI yaitu dinasti XIA, Shang dan Zhou. Dinasti Xia memuliakan warna HITAM. Dinasti Shang memuliakan warna PUTIH. Dan dinasti Zhou memuliakan warna MERAH. Setelah ketiga dinasti tersebut tidak ada lagi DINASTI yang dimuliakan lagi, itu sebabnya sampai hari ini orang-orang TIONGHOA tetap memuliakan warna MERAH yang dimuliakan oleh dinasti Zhou.
Xiahoushi 夏後氏 (marga dinasti Xia) memuliakan warna hitam. Perayaan agung dilakukan pada waktu senja. Bala tentara mereka menunggang kuda hitam. Hewan korban mereka berwarna hitam. Yinren 殷人 (orang-orang Yin alias shang) memuliakan warna putih. Perayaan agung dilakukan pada tengah hari. Bala tentaranya menunggang kuda putih. Hewan korban mereka berwarna putih. Zhouren 周人 (orang-orang Zhou) memuliakan warna merah. Perayaan agung dilakukan pada waktu fajar. Bala tentara mereka menunggang kuda merah. Hewan korbannya juga berwarna merah. Liji IIA: 13 – Tangong Shang

oei jg sependapat…
iblis pun diciptakan untuk jadi kambing hitam buat pendosa yg ingin cuci tangan atas perbuatannya
salut om, gw sendiri sering ikut natalan ke gereja pas kerabat lagi hari natal
emang sepatunnya kita bebas memeluk agama, kayak orang jepang mau natal ke gereja monggo, mau sembahyang ke vihara OK. akan lebih baik klo negara kita tidak mencantumkan agama di KTP dan membebaskan orang ibadah ke mana aja selama membawa kententraman umat manusia…
Saya melihat ada orang tionghoa yang tidak menjalankan tradisi tionghoa lagi malah mencaci maki tradisi tionghoa. sebagai orang tionghoa yang masih mengalir darah tionghoa wajib merayakan, menjalankan dan melindungi serta meneruskan tradisi tionghoa.. dimana tradisi tionghoa sudah ada sejak zaman dahulu dimana kita saja belum lahir .Bagaimana bisa sekarang menggunakan kebudayaan barat membanding-bandingkan dengan tradisi tionghoa sendiri..itu sama dengan mengkhianati suku dan tradisi tionghoa sendiri. bagaimana anak dan cucu bisa menegakkan kepala kembali padahal ortu sendiri sudah menjelekkan tradisi tionghoa sendiri padahal wajah tetap orang tionghoa tapi kebudayaan barat.apalagi sampai ada yang tidak bisa berbahasa tionghoa,,tidak tahu marga keluarga sendiri, , tidak tahu sisilah keluarga. ini sama dengan orang tionghoa yang kehilangan jati diri dan peradaban tionghoa.
Menjalankan tradisi tionghoa bukan kewajiban. Bagi yang mau menjalankan, silahkan. Bagi yang tidak mau silahkan. Namun baiklah semuanya itu dilakukan dengan ALASAN yang TEPAT berdasarkan pengetahuan yang BENAR. Tentang tradisi, Mozi dan Laozi serta kongzi sama-sama mengajarkan untuk MENGuJi-nya. Yang berguna dilakukan dan diwariskan kepda generasi selanjutnya. Yang tidak berguna tinggalkan. kita tidak memaksa generasi muda tionghoa melakukan ini tidak melakukan itu. Kita hanya bisa mengajari.
Lahir dalam keluarga tionghoa dan berdarah tionghoa , adat keluarga dan tradisi tionghoa harus bisa mempertahankan dan meneruskan ke generasi penerus. nanti baru bisa mengharumkan dan menjaga nama baik keluarga , Anak dan cucu bisa hidup dengan menegakkan kepala.
Topik ini, jadi relevan, karena 1 minggu lagi Tahun Baru Cina akan tiba (maaf jika istilah saya salah).
Saya Org Kristen Protestan, saya merayakan Natal (sebenarnya tdk disuruh dlm kitab suci saya), saya juga merayakan tahun baru Masehi (ini juga tdk ada disuruh dalam kitab suci saya). Jika hal ini boleh kita rayakan (khususnya Tahun baru masehi), kenapa Tahun baru Cina Tidak Bisa? ini namanya standar ganda.
Menurut pendapat saya, bagi yg Kristen, rayakanlah secara Kristiani, bagi yg lainnya rayakanlah sebagaimana keyakinan anda
tks
GBU
Sebagai orang tionghoa wajib merayakan dan melindungi tradisi tionghoa seperti imlek 春节, sembahyang makam 清明节 , dragon boat festival 端午节, festival musim gugur 中秋节 , festival musim dingin 冬至, Jangan sampai tradisi tionghoa punah di tangan kita. ,Yang masih berdarah tionghoa wajib meneruskan tradisi tionghoa kepada anak dan cucu.
saya baca komentar sdr/i Edelwise di Meja Sembahyang ( https://bengcumenggugat.wordpress.com/2013/09/12/bengcu-menggugat-meja-sembahyang-leluhur-di-mata-seorang-tionghoa-kristen/ ) … dan saya sangat setuju sekali bahwa seseorang ketika menjadi Kristen ( Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat ) maka hal itu merubah dirinya dari dalam dirinya bukan dari luarnya. Yesus mencontohkan ketika Dia lahir di tradisi Yahudi maka Yesus pun melaksanakan tradisi Yahudi ( bukan tradisi agama tapi tradisi kebudayaan )
orang tionghoa lahir dalam tradisi rumahnya ( tionghoa ) maka ikutlah tradisi tionghoa selama dia tidak mengarahkan hatinya pada ilah lain
begitupun orang etnis lain, saya punya teman orang india, ketika jadi kristen toh dia tetap menyediakan sesembahan, menurutnya sesembahan itu dulu ia arahkan pada dewa wisnu sekarang pada Yesus, ( tolong … ada ayat yang menyebut ini sesat atau apa?)
ada satu lagi teman saya orang dayak, dia bercerita di kampungnya cara mereka kebaktian sama dengan cara mereka beribadah pada dewa2, tetapi pujian nya sekarang di ganti pada Yesus, tari2annya pun sama… (sy yakin kalau ada penginjil yang berani obrak abrik tradisi itu maka penginjil ini pasti langsung masuk Sorga alias di bantai … )
pendeta2 komersil yang ada di kota, yang gerejanya berisi ribu ribu orang, tidak mungkin mengerti ini, dalam pikiran mereka pasti isinya adalah, bagaimana bayar sewa gedung tahun depan, atau bagaimana bayar listrik yang besar karena tiap ibadah pakai ac ratusan pk ) dan pasti mereka akan men doktrin para jemaat agar fokus mereka pada gereja bukan arah yang lain. Kristen banget kan …?
masa ampe segituanya sih ucapin kiong hi haram??
Reblogged this on Marga Po, Poo, Foo, Fu (傅).