Suatu Sore


Foto: Felix S Wanto

Maret merah, 83
Untuk kamu
Alfa november golf staff

Ia datang begitu saja, tanpa kuundang. Ia duduk tanpa kupersilahkan, lalu diam. Tanpa menggubris pertanyaanku. “Ada perlu apa datang ke sini?”

Lima belas menit ia duduk, diam. Air jeruk yang kusuguhkan sudah setengahnya yang berpindah ke dalam perutnya. Sudah beberapa kali aku mengulangi pertanyaanku, menanyakan keperluannya datang ke rumahku. Tak satupun dijawabnya. Aku memandanginya dengan gelisah. Entah karena kedatangannya yang tidak biasanya, entah karena tingkahnya yang aneh, menyebalkan.

Aku batal untuk mengulangi pertanyaanku. Entah pertanyaan yang keberapa? Aku tahu, pertanyaan itu akan mengalami nasib seperti pertanyaan terdahulu, tanpa jawab. Lima menit berlalu dengan cepat. Beberapa kali kulihat mulutnya bergerak tanda ingin bicara, tetapi selalu dibatalkannya, membuatku semakin gelisah dan jengkel. Aku menggoyang-goyangkan kakiku di bawah meja, untuk menghilangkan gelisah dan jengkel. Belum cukup dengan hal itu, aku meremas-remas bantal berbentuk panda yang ada di pangkuanku. Ia tetap seperti tadi, duduk tenang dengan mata menerawang jauh. Ahirnya aku mengalah, kubiarkan ia dalam keadaan yang disukainya, diam!

“Kamu pasti menganggapku gila atau sebangsanya.” Akhirnya ia membuka mulut. “Mungkin benar, aku sudah gila!” sambungnya tersenyum pahit. “Datang-datang terus duduk, ditanya tidak menjawab, itu memang bisa menimbulkan anggapan bahwa aku sudah gila.” Ditatapnya aku tajam-tajam, kubalas sama tajamnya. Aku tidak memberi komentar atas apa  yang dikatakannya.

“Kamu percaya aku sudah gila?” ia bertanya putus asa. Aku menggeleng. Ia tersenyum. “Kamu percaya aku tidak gila?” Kejarnya. Aku mengangguk. Senyumnya semakin lebar. Mungkin sebentar lagi kamu akan gila benaran!” Kataku tajam. Ia meringis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Aku memang hampir gila!” Katanya kemudian. Aku diam. Kamu tidak bertanya untuk apa aku datang ke rumahmu?” Tanyanya setelah hampir dua menit kami saling berdiam diri. “Aku sudah bertanya tadi!” Kataku pendek. Ia tersenyum.

“Aku sedang gelisah!” katanya membuka masalah. Aku tak memberi reaksi. “Soal cewek!” tambahnya. Aku tetap diam, walaupun sempat merasakan sebuah ledakan kecil dalam rongga dadaku.

“Sudah lama aku menyimpan masalah ini. Selama ini aku berusaha seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tetapi nampaknya aku gagal. Dia memang hebat.” Ia mengakhiri kata-katanya dengan tertawa, tertawa yang dipaksakan. Aku tak memberi reaksi selain memandangnya tajam.

“Jangan pandang aku begitu!” Katanya sambil membuang muka. “Kamu pasti menyangka gadisku kecelakaan. Bukan itu masalahnya.” Katanya membela diri. Aku tersenyum tawar.

“Ada seorang gadis, manis. Bayangannya selalu mengejar kemana pun aku pergi dan apa pun yang sedang kulakukan.” Ia berhenti, menunggu reaksiku. Aku mengangkat bahu.

“Hal itu memang nikmat, tetapi terkadang sangat menjengkelkan. Apalagi kalau ia hadir padahal kebesokannya ada ulangan. Menjengkelkan.” Sambungnya gregetan.

“Kenapa kamu mengadu kepadaku?” Tanyaku tajam. Kulihat ia sedikit gugup. “Kamu akan tahu jawabnya nanti.” Jawabnya kemudian diplomatis. “Baiklah! Teruskan!” kataku.

“Apa benar aku sedang jatuh cinta? Tanyanya tolol. “Menurut kamus kamu memang sedang jatuh cinta.” Jawabku dengan jawaban konyol. “Benar! Mama juga bilang aku sedang jatuh cinta. Teman-teman yang lain juga bilang begitu.” Katanya.

“Menurutmu apa yang paling baik kulakukan?” tanyanya serius. “Bunuh diri!” jawabku pendek, mematikan. Ia memandangku heran, kaget dan entah apa lagi.  “Sekarang lagi mode, patah hati langsung bunuh diri.” Kataku menerangkan. Ia tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku tidak sedang patah hati.” Katanya kemudian. “Aku tidak tahu masalahmu!” kataku terus terang. “Apakah aku harus datangi gadis itu lalu mengaku cinta?” tanyanya. “Menurut undang-undang percintaan itul harus.” Jawabku sekenanya. “Itu yang menjadi masalah!” katanya sambil meringis.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya berterus terang.” Ia menyodorkan masalah. “Katakan lewat surat” Aku memberi usul. Ia menggeleng.  “Cara lain?” tanyanya. Aku berpikir.

“Katanya kamu penah belajar ilmu telepati, nah katakanlah lewat itu. Bisa, kan?” kembali ia menggeleng. “Tidak mungkin!” katanya pasti. “Pasang iklan di koran!” kataku jengkel. Ia tertawa konyol.

“Ngakulah bahwa kamu sesungguhnya takut gagal! Tuduhku. Ia jadi salah tingkah. Aku tertawa. “Saingannya terlalu berat?” Tanyaku mengejek. “Berat sich tidak, tapi cukup membuatku minder!”

“Pengecut! Masa kamu merasa tidak punya kelebihan dari mereka? Apa sich kelebihan mereka darimu?” tanyaku penasaran. “Aku yakin aku punya kelebihan dari mereka.” Katanya pasti. “Nah, kenapa minder? Apalagi yang kamu takutkan?”

“Kalau keyakinanku salah ….?” Tanyanya konyol. “Bunuh diri minum baygon!” kataku jengkel. Ia tertawa, nampaknya senang melihatku jengkel.

“Bagimana sich tanda-tanda cewek jatuh cinta?” tanyanya mengalihkan pokok pembicaraan. “Seperti yang sering kamu tulis dalam cerpen-cerpenmu!” jawabku. “Kamu pernah jatuh cinta?” tanyanya mengejutkan.

“Aku adalah manusia biasa!” jawabku, mengiyakan secara tak langsung. Kulihat seberkas sinar aneh memancar dari bola matanya, menghunjam tajam bola mataku, membuatku gelisah. Suatu kebisuan yang aneh menguasai kami.

“Siapa sich gadis yang membuat kamu tergila-gila” tanyaku, untuk menghancurkan kebisuan yang aneh itu. Ia tak menjawab, melainkan memandangku dengan sinar mata yang aneh. Aku menunduk, tak tahan dengan pandangannya.

“Aku mau pulang!” katanya tiba-tiba mengejutkan. “Aku mau pulang!” katanya mengulangi. Aku memandangnya, tajam, tak mengerti.

“Ini untukmu, kalau kurang aku akan menambahnya lain kali!” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop kepadaku. Seperti tangan yang mengulurkan amplop itu, begitu pula tanganku yang menerima amplop itu, gemetar dan ragu-ragu.

“Apa ini …?” tanyaku dengan suara sedikit bergetar. “Surat!” jawabnya, juga dengan suara sedikit bergetar. Ia berusaha tersebyum.

“Aku pulang!” Katanya, tanpa menunggu jawabku ia melangkah keluar. Aku tak jadi mengikutinya keluar ketika mataku membentur sebaris kalimat pada sampul surat yang diberikannya barusan. Tubuhku gemetar, setiap poriku mengembang, badanku terasa ringan, sebentar panas, sebentar dingin.

“Christiana, kamulah gadis yang membuatku hampir gila itu!” Kalimat itu ditulis dengan tinta merah, MENANTANG! Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya kuat-kuat untuk mengusir hawa panas yang hampir membuat dadaku meledak.

“Akukah gadis itu …??” tanyaku, entah kepada siapa?!

NB.
Ini adalah cerpen kedua dalam Majalah Bosa – Media komunikasi SMA 1 bopkri – No. 7 tahun II – 1984 yang aku temukan secara tidak sengaja tadi malam. Aku menyalinnya. Ternyata ada banyak kisah-kisah yang terlupakan olehku. Kisah-kisah yang terjadi saat aku SMP dan SMA. Aku baru tahu hal itu karena hari-hari belakangan ini sebagian kisah-kisah itu kembali lagi ke ingatanku dibawa oleh orang-orang dari masa SMA-ku. Liburan Natal 1983. Pulang kampung. Bogor. Aku mengunjungi seorang gadis. Aku  yakin, kunjungan itulah yang menjadi inspirasi cerpen ini. Cantik, manis, lucu, lugu namun sok ketus. Satu hal lagi aku ingat. Sejak mudaku, manis selalu hitam manis atau agak hitam namun manis. Nggak pernah putih manis.

Ha ha ha ha …. Christiana, aku ingat sekarang. Dia teman SMP-ku. Sama-sama kelas satu lalu dia menghilang ketika kami naik kelas dua. Cerpen ini membangkitkan ingatanku pada Christiana. Aku ingat sekarang. Setelah lulus SMA beberapa bulan kemudian, dalam perjalanan pulang kampung, aku mampir ke rumah Christiana di Cirebon. Christiana tetap hitam manis dan lesung pipitnya menjadikannya manis sekali. Kesibukan mencari Universitas dan tes masuk. Aku lalu retreat ke Pangumbahan. Pulang dari Pangumbahan lalu sakit. Tipus, kuning dan malaria. Setelah itu, banyak kisah yang hilang dari ingatanku termasuk  Christiana dan gadis yang memicu inspirasi aku menulis cerpen ini. Christiana, kulit hitam, rambut lurus sebahu, poni, lesung pipit, gigi  gingsul di kiri. Aku ingat ciri-cirinya namun nggak mampu mengingat wajahnya.

8 thoughts on “Suatu Sore

  1. kok bsa? g mampu mengingat wajahnya? pdhd ciri-ciri gadis itu ko hapal banget ha ha ha mgkn skrg kalau keteme pun sprti angin lalu kecuali lesung pipitnya y

    • @David, memang aneh bin ajaib. Bila tidak mengalaminya sendiri, saya tidak akan mempercayainya. Kalau ketemu saya tidak akan mengenalinya. beberapa kali terjadi. Aku cerita pada seseorang tentang seseorang yang aku lupa Lalu bertanya apakah dia mengingatnya? Begitu saja aku dikeplak dan dia bilang, yang aku ceritakan adalah dirinya. Ha ha ha ha ha …..

  2. Sialan! Bagus banget sih!, kalo gue copas ide-nya tulisan di atas buat nembak si doi…takutnya doi dah baca blog ini duluan! Sial!

  3. impian jadul doang,kayak kampret aja bunyinya
    ngaku2 punya istri, kelihatan kesepian
    makanya nulis blog
    kaciann deh lu
    ngebayangin temen smp,siapa tahu udah jadi istri orang
    emang istrilu kemana?
    minggat yah?he he he
    makanya kalau punya istri jangan diajak debat mau menang sendiri
    cuma pepesan kosong doang isi blog kampret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.