Corpus delicti atinya barang bukti. Alkitab adalah corpus delicti alias barang bukti. Itu sebabnya semua ajaran Erastus Sabdono yang bertentangan dengan ajaran Alkitab adalah corpus delicti kesesatannya dan penipuannya.
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan (asah השָׂעָ) manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Kejadian 1:26
Maka Allah menciptakan (bara ארָ֣בָּ) manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya (bara ארָ֣בָּ) dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya (bara ארָ֣בָּ) mereka. Kejadian 1:27
ketika itulah TUHAN Allah membentuk (yatsar רצַיָ) manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:7
Ketiga ayat di atas mencatat kisah Allah menciptakan manusia dalam tiga langkah yaitu:
1. Mengungkapkan kehendak-Nya menjadikan (asah) manusia.
2. Menciptakan alias merancang (bara) manusia menurut gambar-Nya.
3. Membentuk (yatsar) manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup.
Tidak ada perbedaan antara cara Allah menciptakan (bara ארָ֣בָּ) manusia dengan Wage Rudolf Soepratman menciptakan lagu Indonesia Raya. Juga tidak ada perbedaan makna antara kata bahasa Indonesia “menciptakan” dan kata “bara ארָ֣בָּ” dalam bahasa Ibrani.
Pertama-tama Wage mengungkapkan kehendaknya untuk menjadikan (asah השָׂעָ) lagu. Kemudian dia menciptakan (bara ארָ֣בָּ) alias merancang lagu menurut gambar-Nya. Selanjutnya dia membentuk (yatsar רצַיָ) lagu Indonesia Raya dari not-not dan menulis syairnya.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), CIPTA adalah kata benda yang berarti angan-angan yang kreatif alias kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru. Mencipta adalah kata kerja yang berarti memusatkan pikiran (angan-angan) untuk mengadakan sesuatu.
Menciptakan adalah kata kerja yang berarti: 1. Menjadikan sesuatu yang baru tidak dengan bahan; 2. membuat atau mengadakan sesuatu dengan kekuatan batin; 3. membuat (mengadakan) sesuatu yang baru (belum pernah ada); 4. membuat suatu hasil kesenian (seperti mengarang lagu, memahat patung).
Namun sejak Santo Agustinus (354–430) menegakkan doktrin Creatio Ex Nihilo, orang-orang Kristen tidak memahami arti kata “bara ארָ֣בָּ” alias “menciptakan” dengan benar lagi karena mereka sudah disesatkan dan tertipu.
Melalui doktrin Creatio Ex Nihilo Agustinus mengajarkan bahwa Allah menciptakan dari ketiadaan (nihil) alias menciptakan tanpa bahan baku alias menciptakan dari firman (ucapan). Gara-gara doktrin Creatio Ex Nihilo maka umat Kristen percaya bahwa Allah menciptakan manusia dengan mengucapkan keinginan-Nya dan ujug-ujug yang diucapkan-Nya pun jadi.
Erastus Sabdono adalah pendiri Rehobot Ministry. Dia lalu memimpin para penganutnya untuk melepaskan diri dari Sinode GBI (Gereja Bethel Indonesia) dengan alasan pengertiannya tentang kebenaran Firman Tuhannya sudah sedemikian berkembangnya sehingga tidak sanggup diwadahi GBI lagi. Gereja barunya itu pun dinamai GSKI (Gereja Suara Kebenaran Injil).
Tentang Creatio Ex Nihilo, Erastus Sabdono bersabda, “Bara sering dipahami sebagai menciptakan tanpa bahan … Creatio ex nihilo artinya diciptakan dari keadaan ketiadaan; dari tidak ada menjadi ada. Hanya Allah yang Mahacerdas yang dapat melakukan penciptaan dengan kualitas demikian.
Kerabatku sekalian, selain dijuluki, “agama slogan,” agama Kristen juga dipoyoki, “agama penjilat”. Kenapa demikian? Karena para sarjana teologi Kristen gemar sekali menghalalkan segala cara untuk mengarang SLOGAN guna MENJILAT agama Kristen setinggi-tingginya. Menjilat agama Kristen bukan meninggikan Allah.
Kalimat Erastus Sabdono, “Hanya Allah yang Maha Cerdas yang dapat melakukan penciptaan dengan kualitas demikian,” adalah slogan guna menjilat agama kristen setinggi-tingginya. Disebut menjilat karena kalimat tersebut bukan fakta yang tercatat di dalam Alkitab namun pepesan kosong untuk memicu orang Kristen gemar beribadah.
Masalahnya bukan Allah maha cerdas menciptakan dari NIHIL atau tidak namun sebagai orang Kristen kita harus mengamini apa yang tercatat di dalam Alkitab bukan menentangnya. Walaupun nampak hebat namun kalimat Erastus di atas bertentangan dengan ajaran Alkitab.
Kitab Kejadian mencatatnya dengan gamblang bahwa Allah menciptakan manusia dengan bahan baku yaitu debu tanah. Itu sebabnya creatio ex nihilo bukan ajaran Alkitab.
Tidak ada perbedaan antara cara Allah menciptakan (bara ארָ֣בָּ) manusia dengan Wage Rudolf Soepratman menciptakan lagu Indonesia Raya. Juga tidak ada perbedaan makna antara kata bahasa Indonesia “menciptakan” dan kata “bara ארָ֣בָּ” dalam bahasa Ibrani. Kalimat pertama bisa bermakna sedang merendahkan cara kerja Tuhan dan merendahkan pribadiNya sendiri yang penciptaan manusia hanya sebatas dan sebantaran dengan mencipta lagu, Wage pun berarti bisa mencipta manusia kalau begitu. Makna yang kedua, cara kerja Allah dan Wage sama, anda sedang menghina Tuhan dengan hasil kerjanya yang sebatas membuat lagu yang bisa dicopy paste dan dibuat aransemen sesuka hati pencipta lagunya, tergantung kebutuhan pasar.