GKI Yasmin Tidak Mungkin Dibubarkan


Gambar: GKI Yasmin

Gambar: GKI Yasmin

Jemaat GKI Yasmin tidak bisa dibubarkan oleh Sinode GKI maupun Sinode Wilayah GKI juga Klasis GKI apalagi oleh gereja induknya GKI Pengadilan Bogor. GKI Yasmin hanya bisa bubar kalau anggotanya membubarkan diri.

Hubungan Gereja Induk Dan Gereja Anak di GKI

GKI Pengadilan Bogor adalah induk dari GKI Yasmin. Karena tidak mengerti struktur organisasi GKI yang unik maka banyak yang salah sangka. Banyak yang menyangka di GKI, gereja induk ibarat kantor pusat dan gereja anak ibarat kantor cabang. Gereja induk ibarat perusahaan induk dan gereja anak adalah perusahaan anak yang sahamnya dikuasai perusahaan induk sepenuhnya. Gereja induk adalah Dewan Pimpinan pusat dan GKI anak adalah  Dewan Pimpinan Daerah. Itu sebabnya mereka percaya bahwa sebagai gereja induk GKI Pengadilan Bogor berhak mengatur bahkan membubarkan GKI Yasmin. Padahal mustahil demikian.

Struktur organisasi GKI bisa dijelaskan sebagai berikut: Sekelompok orang Kristen yang sepakat membangun sebuah gereja dan mengikatkan dirinya dalam sebuah lembaga namanya Jemaat GKI. Di Indonesia ada 225 Jemaat GKI.

Seluruh anggota dari dua atau lebih Jemaat GKI yang sepakat untuk mengikatkan diri dalam sebuah lembaga namanya Klasis GKI. Di Indonesia ada 19 Klasis GKI.

Seluruh anggota dari dua atau lebih Klasis GKI yang sepakat untuk mengikatkan diri dalam sebuah lembaga namanya Sinode Wilayah GKI. Di Indonesia ada 3 Sinode Wilayah GKI.

Seluruh anggota dari dua atau lebih Sinode Wilayah GKI yang sepakat untuk mengikatkan diri dalam sebuah lembaga namanya Sinode GKI.

Di GKI ada empat lembaga yaitu: Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah dan Sinode. Keempat lembaga itu otonomi dan sama kastanya. Artinya tidak ada yang lebih tinggi kastanya dan tidak ada yang lebih berkuasa dari yang lainnya.

Di GKI hanya ada lembaga yang lebih luas karena lebih banyak anggotanya. Dengan asumsi setiap Jemaat beranggotakan 100 orang, maka GKI Pengadilan Bogor adalah lembaga yang paling sempit karena jumlah anggotanya hanya 100 orang.

Klasis Jakarta Selatan lebih luas dari Jemaat GKI Pengadilan karena selain beranggotakan anggota GKI Pengadilan juga beranggotakan 8 Jemaat lainnya sehingga total angotanya adalah 9 X 100 = 900 orang.

Sinode Wilayah GKI Jabar lebih luas dari Klasis GKI Jaksel karena jumlah anggotanya  lebih banyak karena selain beranggotakan anggota GKI Klasis Jaksel yang 900 orang juga beranggotakan anggota 6 Klasis lainnya yang terdiri dari 84 Jemaat sehingga total anggota Sinode GKI Jabar adalah 900 + 8.400 = 9.300 orang.

Sinode GKI lebih luas dari Sinode Wilayah GKI Jabar karena selain beranggotakan 9.300 anggota Sinode Wilayah GKI Jabar juga beranggotakan anggota Sinode Wilayah GKI Jateng dan Jatim yang terdiri dari 133 Jemaat. Sehingga anggota Sinode GKI adalah 9.300 + 13.300  = 22.600 orang.

Di GKI satu Jemaat hanya boleh memiliki satu gedung gereja. Apabila anggota-anggota dari satu atau lebih Jemaat GKI sepakat untuk mendirikan gedung gereja baru mereka harus membentuk Jemaat baru. Jemaat yang sebagian anggotanya membentuk Jemaat baru disebut Gereja Induk dan Jemaat baru yang dibentuk namanya Gereja Anak.

Gereja Anak mengalami proses pendewasaan. Ketika anggotanya antara 15-49 orang statusnya Pos Jemaat. Ketika anggotanya antara 50-99 orang statusnya Bakal Jemaat. Setelah anggotanya mencapai 100 orang dan memiliki gedung gereja sendiri serta mandiri secara keuangan dan manajeman barulah menjadi Jemaat GKI Dewasa.

GKI Pengadilan Bogor menjadi Gereja Induk dan GKI Yasmin disebut Gereja Anak karena sebagian besar anggota GKI Yasmin berasal dari anggota Jemaat GKI Pengadilan Bogor. Sebagai Gereja Induk GKI Pengadilan Bogor wajib merekomendasikan pembentukan GKI Yasmin ke Sinode Wilayah GKI. BPMSW (Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah) bertanggungjawab untuk mengevaluasi kesiapan Jemaat Baru dan bila disetujui maka akan dilaporkan ke Sinode Wilayah GKI dalam Persidangan Majelis Sinode Wilayah GKI. GKI induk wajib membantu proses pendewasaan GKI anak khususnya dalam bidang keuangan dan pelatihan manajemen.

Untuk mencegah terjadinya penjualan maupun tukar guling tanah gereja oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab maka semua tanah GKI dimiliki oleh Sinode Wilayah GKI. Itu sebabnya tanah gereja Yasmin adalah milik Sinode Wilayah GKI Jabar. Bukan milik GKI Yasmin apalagi milik GKI Pengadilan Bogor. Itu sebabnya tindakan oknum-oknum GKI Pengadilan Bogor membuat kesepakatan relokasi adalah penipuan publik karena mereka tidak berhak melakukannya.

Jemaat GKI Tidak Bisa Dibubarkan

Jemaat GKI dewasa maupun yang masih dalam proses pendewasaan tidak bisa dibubarkan baik oleh Sinode GKI maupun Sinode Wilayah GKI juga Klasis GKI apalagi oleh gereja induknya. Jemaat GKI hanya bisa bubar kalau anggotanya membubarkan diri dengan cara pindah ke Jemaat lain. Apabila jumlah anggota Jemaat GKI dewasa menurun hingga di bawah 100 orang maka Jemaat GKI turun statusnya menjadi Bakal Jemaat. Apabila anggota Bakal Jemaat turun hingga di bawah 50 orang maka statusnya turun menjadi Pos Jemaat. Bila anggota Pos Jemaat turun hingga di bawah 15 orang maka Pos Jemaat pun otomatis bubar.

Karena jumlah anggotanya lebih dari 100 orang dan memiliki gedung gereja sendiri serta mandiri secara keuangan dan manajemen maka Bakal Jemaat GKI Bogor Baru pun ditahbiskan sebagai Jemaat GKI dewasa. Sayangnya gedung gereja mereka tidak punya IMB rumah ibadah. Itu sebabnya ketika dipermasalahkan oleh beberapa ormas Islam mereka pun ketakutan lalu mengosongkan gerejanya.

Karena tidak punya gedung gereja lagi maka Jemaat GKI Bogor Baru pun tidak memenuhi syarat sebagai Jemaat GKI dewasa lagi. Menurut Tager & Talak GKI statusnya turun menjadi Pos Jemaat. Kenapa GKI Pengadilan Bogor yang adalah gereja induk tidak membubarkan GKI Bogor Baru padahal anggota-anggotanya saat ini beribadah di GKI Pengadilan Bogor? Karena sebagai gereja induk GKI Pengadilan tidak boleh membubarkan namun wajib membantu gereja anaknya untuk mengatasi kesulitannya.

GKI Yasmin didirikan tahun 2001 berdasarkan Tager & Talak GKI Jabar dengan status Bakal Jemaat. Untuk memenuhi syarat Tager & Talak GKI tahun 2003 yang mengharuskan pendewasaan Jemaat melewati dua tahap yaitu Pos Jemaat dan Bakal Jemaat maka sejak tahun 2004, selain menyandang status Bakal Jemaat GKI Yasmin pun menyandang status Pos Jemaat. Disingkat Bapos Jemaat (Bakal Jemaat Pos Jemaat GKI Yasmin).

Apabila tidak dicabut IMB-nya pada tahun 2008 maka GKI Yasmin pasti ditahbiskan menjadi Jemaat GKI Yasmin pada tahun 2009 begitu gedung gereja mereka jadi karena pada tahun 2008 anggotanya lebih dari 300 kepala keluarga dan mandiri secara keuangan dan manajemen.

GKI Yasmin dan GKI Bogor Baru sama-sama menghadapi kesulitan gedung gereja. GKI Bogor Baru tidak bisa beribadah di gerejanya karena tidak punya IMB rumah ibadah sedangkan GKI Yasmin meskipun gerejanya memiliki IMB rumah ibadah yang berkekuatan hukum tetap namun disegel oleh Walikota Bogor.

Pendeta GKI Bogor Baru Darwin Darmawan dan para penatua GKI Bogor Baru adalah para pengecut yang tidak bertanggungjawab itu sebabnya sampai hari ini alih-alih berusaha untuk mengurus IMB rumah ibadah gerejanya mereka justru menyebar fitnah bahwa mereka dilarang beribadah di gerejanya yang tidak punya IMB rumah ibadah gara-gara GKI Yasmin sehingga Walikota Bogor balas dendam.

GKI Yasmin dan GKI Bogor Baru sama-sama berinduk pada GKI Pengadilan Bogor. Kenapa oknum-oknum GKI Pengadilan Bogor mendukung GKI Bogor Baru namun kongkalikong dengan Walikota Bogor untuk menipu Mendagri bahkan Presiden jokowi dan membubarkan GKI Yasmin? Karena DUIT?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.