Mengaku Pengecut Jaya Suprana Menyebar Racun


Gambar: merdeka.com

Merasa takut karena kalah jago. Merasa takut karena kalah banyak. Merasa takut karena bersalah. Merasa takutlah karena KALAH atau karena SALAH namun jangan takut apalagi pengecut karena kamu cina.

Orang Tionghoa Bukan Minoritas

Warga negara Indonesia terdiri dari berbagai suku dan Tionghoa adalah salah satunya. Orang Jawa paling banyak jumlahnya. Orang Sunda kedua paling banyak dan orang Tionghoa ketiga paling banyak jumlahnya di Indonesia. Selanjutnya Melayu, Madura, Batak, Minangkabau, Betawi, Bugis, Arab dan lain-lainnya. OrangTionghoa bukan minoritas di Indonesia.

Meskipun orangTionghoa bukan suku minoritas di Indonesia, namun, aneh bin ajaib. Sejak kecil, baik Tionghoa mau pun bukan selalu dijejali doktrin “Orang Tionghoa adalah minoritas di Indonesia.”

Orang Tionghoa bukan minoritas di negeri ini. Dalam hal jumlah orang Tionghoa bukan minoritas. Dalam hal kekayaan orang Tionghoa bukan minoritas di Indonesia. Dalam hal menyumbang pendapatan negara orang Tionghoa bukan minoritas. Dalam hal perjuangan untuk merdeka orang Tionghoa bukan minoritas. Dalam perjuangan mengharumkan nama bangsa pun orang Tionghoa bukan minoritas.

Tanah milik orang Tionghoa bukan hadiah dari mereka yang menyebut dirinya pribumi. Tanah-tanah itu dibeli. Kekayaan orang Tionghoa bukan hadiah dari mereka yang menyebut dirinya pribumi namun buah kerja kerasnya sendiri. Alih-alih mendapat kemudahan orang Tionghoa justru banyak mendapat kesulitan dari pemerintah dan para pejabat.

Orang Batak yang merantau ke Jawa tidak berhutang kepada orang Jawa. Orang Jawa yang merantau ke Sumatera Utara tidak berhutang kepada orang Batak dan Melayu. Itu sebabnya sama seperti suku-suku lainnya di Indonesia, orang Tionghoa pun tidak berhutang kepada suku lainnya karena tinggal di Indonesia.

Di mata NKRI tidak ada mayoritas dan minoritas karena WNI (Warga Negara Indonesia) adalah INDIVIDU. Meskipun anda orang Jawa yang jumlahnya paling banyak di Indonesia namun jumlah orang Jawa tidak membuat anda lebih istimewa di mata NKRI dibandingkan WNI orang Yahudi yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Demokrasi adalah mengutamakan KEPENTINGAN mayoritas bukan memuaskan KEINGINAN mayoritas!

Geger Pecinan 1740

Pada tanggal 9-10 Oktober 1740, Gubernur Jendral VOC Adriaan Vaclckenier bukan saja mengerahkan bala tentaranya namun juga membayar siapa saja untuk membantai orang-orang Tionghoa di Batavia. Sepuluh ribu Tionghoa, lelaki dan perempuan, dewasa dan anak-anak,  jiwanya melayang sia-sia gara-gara Belanda kalah dagang. Bukan karena BENCI namun karena DENGKI dan UANG.  Itulah Geger Pecinan.

Karena takut pembalasan maka Belanda pun mengirim utusan khusus ke Tiongkok untuk minta maaf kepada Kaisar atas yang terjadi di Batavia. Qianlong kaisar kelima dinasti Qing berkata kira-kira begini, “Aku tidak peduli dengan yang dialami oleh orang-orang tidak berharga itu. Demi memburu harta mereka meninggalkan negeri dan mengabaikan makam-makam leluhurnya. Mereka pantas mati!”

Ucapan kaisar Qianlong tersebut membuka wawasan orang-orang Tionghoa perantauan di seluruh dunia bahwa Tiongkok bukan negerinya lagi karena kaisar Tiongkok bukan hanya tidak mengakui mereka sebagai rakyatnya lagi bahkan mengharapkan kematian mereka. Sejak itulah orang-orang Tionghoa perantauan hidup dengan prinsip, “Tanah yang memberiku makan adalah negeriku. Negeri tempatku tinggal adalah tumpah darahku.”

Sampai hari ini saya masih menunggu Pemerintah Belanda untuk minta maaf kepada orang-orang Tionghoa Indonesia akan kebiadaban nenek moyang mereka. Sampai hari ini saya terus bercerita tentang Geger Pecinan 1740 untuk melawan lupa.

Di antara orang Tionghoa yang hidup di zaman Geger Pecinan 1740, ada yang tidak peduli karena dirinya tidak mengalami kemalangan. Ada Tiongho penakut yang melanjutkan hidupnya dengan mencoba melupakan Geger Pecinan. Namun, sejarah mencatat awalnya ada seribu Tionghoa yang lalu jumlah terus bertambah, memikul rasa malu kepada sepuluh ribu Tionghoa yang mati dibantai. Setelah menyematkan kain kabung di bajunya mereka pun memanggul senjatanya mengikuti panglima Sie Pan Djiang untuk berjuang menegakkan harga diri orang Tionghoa agar Geger Pecinan tidak terjadi lagi. Itulah Perang Kuning.

Letnan Tionghoa Que Yonko adalah orang Tionghoa PENGECUT tanpa harga diri (seperti Jaya Suprana?) yang menghalalkan segala cara demi kedudukan dan hartanya. Itu sebabnya selain menjadi mata-mata Belanda Que Yonko juga menghalalkan segala cara untuk mencelakai para pejuang Tionghoa.

Andai kata Jaya Suprana hidup di tahun 1740, saya yakin, setelah mengaku dirinya PENGECUT dia pasti menulis surat terbuka ke Sie Pan Djiang dan pasukannya agar tidak menyinggung perasaan bangsa Belanda dan bangsa-bangsa lainnya agar Geger Pecinan 17490 tidak terjadi lagi.

Tragedi G 30 S 1965

Tragedi GK 30 S 1965 bukan huru-hara Anti Cina namun Anti Komunis. Itu sebabnya, meskipun banyak orang Tionghoa yang dibunuh, namun mereka dibunuh karena dituduh komunis bukan karena dirinya Tionghoa.

Kenapa Jaya Suprana menyatakan G 30 S 1965 adalah huru-hara Anti Cina? Saya tidak tahu. Dia mengaku dirinya PENGECUT. Menyatakan G 30 S 1965 adalah huru-hara Anti Cina adalah pembohongan publik.

Huru-Hara Anti Cina

1.    10 Mei 1963. Bandung. Kerusuhan anti Tionghoa terbesar di Jawa Barat. Awalnya, terjadi keributan di kampus Institut Teknologi Bandung antara mahasiswa Tionghoa dan non Tionghoa. Keributan berubah menjadi kerusuhan yang menjalar ke mana-mana, bahkan ke kota lain seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan.

2.    31 Desember 1972. Pekalongan. Keributan terjadi saat acara pemakaman antara pemuda Arab dan Tionghoa yang menyebabkan terbunuhnya pemuda Tionghoa memicu keributan antara orang Arab dan Tionghoa.

3.    27 Juni 1973. Palu. Pemilik toko, seorang Tionghoa menggunakan kertas bertulisan Arab sebagai pembungkus dagangannya. Sekelompok pemuda lalu menghancurkan toko Tionghoa.

4.    5 Agustus 1973. Bandung. Mobil berpenumpang Tionghoa menyerempet gerobak lalu terjadi perkelahian yang menyebabkan kerusuhan mana-mana.

5.    April 1980. Ujungpandang. Suharti adalah seorang pembantu rumah-tangga. Dia meninggal mendadak. Karena beredar isyu Suharti mati dianiaya majikannya seorang Tionghoa maka ratusan rumah dan toko milik Tionghoa pun dirusak untuk balas dendam.

6.    12 April 1980. Medan. Terjadi perkelahian antara mahasiswa Tionghoa dan non Tionghoa di Universitas Sumatera Utara. Kelompok mahasiswa non Tionghoa lalu naik  motor keliling kota, sambil meneriakan yel yel anti Tionghoa. Preman-premandan masyarakat pun terprovokasi untuk melakukan penjarahan.

7.    20 November 1980. Solo. Terjadi perkelahian antar pelajar Sekolah Guru Olahraga, Pipit Supriyadi VS Kicak orang Tionghoa. Perkelahian itu berubah menjadi perusakan dan pembakaran toko-toko milik orang Tionghoa yang melanda Solo lalu meluas ke kota-kota lain di Jawa Tengah termasuk Semarang.

8.    September 1986, Surabaya. Pembantu rumah tangga dianiaya oleh majikan Tionghoanya. Kejadian itu memancing kemarahan masyarakat Surabaya yang lalu melempari mobil dan toko-toko milik orang-orang Tionghoa.

9.    24 November 1995. Pekalongan. Yoe Sing Yung adalah penderita sakit jiwa. Dia menyobek Alquran. Orang-orang Islam marah lalu menghancurkan toko-toko milik orang-orang Tionghoa.

10.    14 Januari 1996. Bandung. Karena kecewa tidak punya karcis dan dilarang masuk stadion untuk menonton pertunjukan Iwan Fals, penonton pun  melempari toko-toko milik orang-orang Tiong Hoa.

11.    30 Januari 1997, Rengasdengklok. Seorang Tionghoa yang merasa terganggu suara beduk Subuh melakukan protes sehingga muncul percekcokan. Masyarakat lalu mengamuk menghancurkan rumah dan toko orang-orang Tionghoa.

12.    15 September 1997. Ujungpandang. Benny Karre, seorang Tionghoa sakit jiwa membacok seorang anak non Tionghoa. Kerusuhan pun meledak di mana toko-toko Tionghoa dibakar dan dihancurkan serta dijarah.

13.    5-8 Mei 1998. Medan, Belawan, Pulo Brayan, Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Tanjung Morawa, Pantai Labu, Galang, Pagar Merbau, Beringin, Batang Kuis, Percut Sei Tuan. Sekelompok orang memprovokasi para demontran anti Soeharto dan masyarakat untuk melakukan huru-hara anti Tionghoa.

14.    14 Mei 1998. Jakarta dan Solo. Sekelompok orang-orang terlatih mengumpulkan masa lalu melakukan pembakaran dan mereriakan slogan anti Cina untuk memprovokasi masa melakukan penjarahan dan penyerangan atas orang Tionghoa. Di beberapa tempat juga terjadi pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa.

Kerabatku sekalian, apa yang  terjadi ketika sebuah toko terbakar? Aneh bin ajaib! Kebanyakan orang Indonesia termasuk di dalamnya orang Tionghoa menganggap toko yang terbakar adalah harta tak bertuan itu sebabnya siapa saja berhak menjarahnya.

Apa yang terjadi ketika copet tertangkap? Dia digebukin beramai-ramai. Kebanyakan orang Indonesia suka main hakim sendiri bahkan bangga main hakim sendiri.

Bonek adalah nama suporter kesebelasan Persebaya Surabaya. Bonek bukan satu-satunya suporter yang suka melakukan perusakan dan penjarahan. Bahkan para penonton musik pun senang merusak dan menjarah. Bagi mereka, merusak dan menjarah tidak jahat namun asyik. Kebanyakan orang Indonesia suka merusak dan menjarah.

Berapa banyak unjuk rasa mahasiswa yang berakhir bentrok dengan polisi karena mereka merusak dan mambakar? Banyak! Bagi kebanyakan mahasiswa merusak dan membakar bukan anarkis namun berapi-api. Kebanyakan orang Indonesia suka merusak dan membakar.

Kerabatku sekalian, modus operandi ke 14 kasus yang disebut kerusuhan anti cina di atas selalu sama. Di antara kumpulan masa ada yang memprovokasi dengan melempari sambil meneriakan slogan-slogan kebencian. Setelah terjadi kerusakan pasti ada yang berteriak, “BAKAR!” Maka terjadilah pembakaran. Ketika melihat toko-toko terbakar masyarakat yang semula menonton pun merasa berhak untuk MENJARAH. Tarjadilah perusakan dan pembakaran serta penjarahan toko-toko dan rumah orang Tionghoa.

Kenapa hanya rumah dan toko-toko orang Tionghoa yang dirusak dan dibakar serta dijarah? Karena orang-orang non Tionghoa keluar sambil mengacung-acungkan parang sementara orang Tionghoa bersembunyi atau lari menyelamatkan diri.

Jaya Suprana Menyebar Racun

Di Indonesia tidak ada PENINDASAN Cina. Pernyataan Jaya Suprana, “kini memang tidak ada lagi PENINDASAN terhadap kaum keturunan Tionghoa” adalah pembohongan publik.

Pernyataan Jaya Suprana, “suasana indah ini (tidak ada lagi PENINDASAN Cina)  hanya bisa terjadi berkat perjuangan almarhum Gus Dur, yang dilanjutkan Megawati, SBY, dan kini Jokowi” adalah pembohongan publik karena di Indonesia tidak ada PENINDASAN Cina. Yang pernah terjadi adalah pemberangusan kebudayaan Tionghoa dan agama Khonghucu serta diskriminasi orang Tionghoa oleh pemerintah. Itu bukan PENINDASAN Cina oleh masyarakat.

Pernyataan Jaya Suprana, “Akibat beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka seluruh warga keturunan Tionghoa di Indonesia dipukul-rata untuk dianggap layak dibenci” adalah pembohongan publik karena di Indonesia tidak ada kebencian terhadap kaum Tionghoa. Tidak ada BENCI Cina. Tidak ada gerakan Anti Cina. Tidak ada gerakan Pemusnahan Cina. Tidak ada gerakan tunggu kesempatan melampiaskan KEBENCIAN kepada Cina.

Pernyataan Jaya suprana, “kebencian terhadap kaum Tionghoa di Indonesia belum lenyap. Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak menjadi huru-hara apabila ada alasan” adalah pembohongan publik karena di Indonesia tidak ada kebencian terhadap kaum Tionghoa. Tidak ada BENCI Cina. Tidak ada gerakan Anti Cina. Tidak ada gerakan Pemusnahan Cina. Tidak ada gerakan tunggu kesempatan melampiaskan KEBENCIAN kepada Cina.

Korban ke 14 kerusuhan di atas memang Tionghoa namun semua kerusuhan itu bukan GERAKAN masyarakat melampiaskan KEBENCIAN kepada orang Tionghoa apalagi memusnahkan orang Tionghoa.

Kecuali kerusuhan 5-8 Mey di Medan dan kerusuhan 14 Mey di Jakarta dan Solo yang bertujuan untuk menciptakan kondisi negara dalam keadaan darurat agar presiden berhak bertindak sewenang-wenang dan sekelompok TNI boleh menembaki mahasiswa seenak jidatnya, maka kasus-kasus lainnya adalah fenomena biasa saja:

Masyarakat main hakim sendiri mengeroyok orang jahat. Masyarakat yang semula menonton keramaian terprovokasi  untuk ikut merusak dan membakar lalu menjarah. Bukan kebencian atas orang Tionghoa dalam sekam yang membara. Bukan Gerakan MENINDAS apalagi MEMUSNAHKAN orang Tionghoa. Kalau saja POLISI bertindak TEGAS sejak awal maka kerusuhan-kerusuhan tersebut di atas tidak mungkin terjadi.

Bagaimana cara membuktikan secara ilmiah dengan mudah bahwa di Indonesia tidak ada kebencian terhadap kaum Tionghoa? Cara mudah dan ilmiahnya adalah: Hendaklah setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri, “Berapa banyak pembenci Tionghoa yang anda kenal? Berapa banyak pembenci Tionghoa yang sedang menunggu kesempatan untuk melampiaskan kebenciannya yang anda kenal?”

Permintaan Jaya Suprana kepada Ahok, “saya memberanikan diri untuk memohon Anda berkenan lebih menahan diri dalam mengucapkan kata-kata yang mungkin apalagi pasti menyinggung perasaan bangsa Indonesia,” meskipun santun namun FITNAH. Dia MEMFITNAH Ahok telah MENYINGGUNG perasaan bangsa Indonesia lewat kata-katanya. Sejak kapan Jaya Suprana menjadi juru bicara bangsa Indonesia? Dia pikir dirinya siapa sehingga UCAPANNYA adalah ucapan bangsa Indonesia?

Pernyataan Jaya Suprana, “Saya tahu, Anda seorang pemberani, apalagi sudah disemangati oleh mereka yang muak korupsi, tetapi tidak mau atau tidak mampu turun tangan sendiri, pasti sama sekali tidak takut menghadapi dampak ucapan kata-kata Anda.” meskipun santun namun FITNAH. Dia MEMFITNAH Ahok telah DIPERALAT oleh orang-orang PENGECUT. Dia memfitnah Ahok anti korupsi bukan karena dirinya orang BAIK namun karena DISEMANGATI!

Mungkinkah pernyataan Jaya Suprana, “Bukan sesuatu yang mustahil bahwa kata-kata tidak sopan anda menyulut sumbu kebencian sehingga meledak menjadi tragedi huru-hara yang tentu saja tidak ada yang mengharapkannya,” menjadi kenyataan? Mustahil! Kenapa demikian? Karena di Indonesia tidak ada sumbu kebencian pada orang Tionghoa yang menunggu kesempatan untuk meledak.

Jaya Suprana yang mulia (mulia dari hongkong?), kalau anda MEMBENCI Ahok, tolong jangan menghasut orang-orang Tionghoa untuk ikut membenci Ahok pula. Kalau mau melakukan pembohongan publik, selain melakukannya dengan santun, mbok lakukan sedikit lebih cerdas? Kalau mau memfitnah Ahok, langsung fitnah saja kisanak! Nggak perlu mengagul-agulkan diri PENGECUT dan PENAKUT serta SANTUN.

Handai taulanku sekalian, kita sama-sama tahu kebenarannya: Bukan UCAPAN namun tindakan Ahok MENCEGAH korupsi dan menjalankan pemerintahan yang BERSIH-lah yang membuat banyak orang membencinya. Ahok memang harus lebih bijaksana lagi dalam memilih kata-kata untuk mengungkapkan pikirannya, namun tindakan para serigala berbulu domba BERLAGAK suci menghujat Ahok tidak santun benar-benar menyebalkan!

Kerabat Tionghoa sekalian, Jaya Suprana bukan satu-satunya Tionghoa PENGECUT yang menyebar racun bahwa UCAPAN Ahok akan MEMICU kerusuhan anti Tionghoa karena menyinggung perasaan bangsa Indonesia. Izinkan saya memohon, “Tolong jangan menjadi Tionghoa PENGECUT seperti Jaya Suprana dan menyebarkan racun yang sama!”

Kisanak, Tiong artinya tidak menyebelah. Hoa artinya bangsa. Tionghoa artinya bangsa yang tidak menyebelah. tidak menyebelah dari keadilan dan kebenaran serta kesusilaan dan kebajikan juga cinta kasih. Kalau tindakan Ahok MENCEGAH korupsi dan menjalankan pemerintahan yang BERSIH menyebabkan orang-orang jahat menyerang orang-orang Tionghoa, “Tolong jangan lari!” LAWAN! Kalau anda takut, jangan lari! Lari membuat anda panik. Panik membuat anda mudah diserang. Kalau anda takut, berteriaklah minta tolong! Berteriaklah sekeras mungkin agar seluruh dunia mendengarnya, “TOLONG!” Berteriaklah sekeras mungkin agar rasa takut anda ikut dimuntahkan, “TOLONG!” Berteriaklah maka anda akan ditolong! Berteriaklah, “TOLONG!” Maka, tetangga anda akan datang menolong!

Jaya Suprana yang terhormat (terhormat dari hongkong?), izinkan saya menasehati anda, “LENGSERLAH! Anda mulai KHILAF!”

42 thoughts on “Mengaku Pengecut Jaya Suprana Menyebar Racun

  1. mantap ko hai2….setuju banget. Minta ijin boleh di share link nya ke twitter gak?

  2. Saya baru tahu kisah Geger Pecinan. Tetapi, gk seburuk itulah Belanda, buktinya Ma Oco saya yang Belanda merit sana Kong Co saya yang cina. Jadi kisah rasis seperti itu sudah berlalu…

  3. Ngomong2, artikel ini sangat berwawasan. Masih banyak WNI Keturunan Cina yang merasa dirinya minoritas. Dan artikel seperti ini akan membuka wawasan mereka.

    Padahal, Hayam Wuruk, raja2 Majapahit, sampai Sunan Gunung Jati pun, semuanya keturunan Cina. Jadi sebenarnya, WNI Keturunan Cina pun sudah mengukir sejarah pembentukan NKRI

  4. Geger PEcinan adalah FAKTA. Sampai hari Ini Belanda belum minta Maaf kepada orang tionghoa Indonesia juga FAKTA. Inilah kesaksian dua roang belanda atas kisah tersebut. Sebetulnya juga ada Laporan VOC sendiri tentang kisah tersebut. Juga kessaksian-kesksian di pengadilan tentang kisah tersebut.

    G.B Scharzen dalam bukunya Reise in Oos-Indien, Heilbronn, 1751, hal 118: Para kelasi kapal-kapal yang sedang berlabuh mulai membongkar pintu rumah-rumah lalu membunuh semua orang Tionghoa penghuni rumah yang ditemukan dan merampas seluruh milik mereka. Wanita dan anak kecil mula-mula tidak dibunuh. Pada pukul 09.00 Gubernur Jendral menyuruh semua tukang untuk masuk ke kota dan memukul mati semua orang Tionghoa. Perintan ini diterima dengan patuh agar dapat menjarah harta benda orang-orang Tionghoa. Dengan cepat semuanya meninggalkan tempat kerja dan memulai pembantaian. Tukang kayu membawa kapak untuk merusak pintu dan jendela. Orang yang memiliki senjata api masuk ke dalam rumah dan menembaki orang-orang Tionghoa penghuni rumah.

    Saya juga ikut karena saya mengetahui bahwa tetangga saya memiliki seekor babi yang gemuk. saya ingin mengambil dan menggiringnya ke rumah. Ketika kepala tukang kayu melihat hal itu, ia memukul saya dan menyuruh saya membunuh pemiliknya dahulu, baru merampas babinya. Walaupun sebenarnya saya tidak suka tetapi saya terpaksa menurut dan membunuh tetangga saya. orang Tionghoa penghuni rumah tersebut karena kepala tukang kayu berdiri di pintu dan mengawasi saya. Setelah membunuh orang tersebut saya masuk ke kamarnya dan menemukan sebuah pistol dengan banyak peluru. saya mengambilnya lalu keluar dan membmunuh setiap orang tionghoa yang saya temui.

    Setelah membunuh dua, tiga orang saya sudah biasa menyembelih orang sehingga tidak merasakan perbedaan antara membunuh seorang Tionghoa dan sekor anjing. Siang hari pukul 13.00 kota mulai terbakar karena ulah orang Tionghoa sendiri. Karena mereka memilih membakar diri sendiri dari pada jatuh ke tangan kami. Sering kali sampai lima orang menggantun diri di balok-balok rumah mereka. Orang-orang Tionghoa di batavia mempunyai sebuah rumah sakit, kami disuruh membunuh semua pasien, kecuali dua orang buta. Di balai kota terdapat dua ratus orang tahanan, untuk menghemat peluru mereia semuanya disutusk sampai mat. Pada tangal tiga belas semua pembakaran berhenti dan tidak tampak seorang tionghoa pun di kota. Semua jalan dan lorong penuh mayat, kali-kali ditimbuni mayat sehingga orang dapat menyeberang di atas mayat-mayat tanpa kakinya menjadi basah.

    Tersebut ini juga tulisan orang Belanda, saksi mata kejadian tersebut:

    Tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya, terdengar jeritan ketakutan di seluruh kota dan terjadilah sebuah pemandangan yang sagat memilukan. perampokan terhadap orang Tionghoa terjadi di seluruh pelosok kota. Semua orong Tionghoa tidak peduli laki-laki perempuan dan anak anak habis dibantai. Bahkan perempuan yang sedang hamil dan menyusui anaknya juga tidak luput menjadi korban pembantaian yang tidak mengenal peri kemanusiaan.

    Ratusan tahanan yang diikat tangannya, disembelih seperti menyembelih domba. Beberapa orang tTionghoa kaya lari mencari perlindungan ke rumah orang-orang Belanda dan Eropa lain yang dikenalnya. Namun tanpa mengenal belas kasihan dan tanpa menjunjung moral serta peri kemanusiaan, mereka menyerahkan orang-orang Tionghoa tersebut kepad para pemburunya yang haus darah. Barang-barang berharga yang dititipkan kepadanya langsung diambil menjadi miliknya sendiri. Pokoknya semua orang Tionghoa, baik yang bersalah maupun tidak harus dibasmi.

  5. Kebencian thdp ket China (gw sih asyik2 aja dipanggil China, malah agak aneh kalo ada yg menyebut tionghoa…terasa krg tulus gitu) mmg msh ada dlm masy Indonesia, dr bbrpa pengalaman jk anda terlibat perselisihan dgn seorg pribumi , misal mobil anda diserempet, meskipun posisi anda benar…hampir bs dipastikan umpatan “china jgn macam2” seakan jd lagu wajib di akhir pertikaian, cb anda simak2 comment2 di youtube or FB ttg ahok, 100% pasti banyak comment rasisnya, ada betulnya kt om Jaya suprana, seperti api dlm sekam, pengalaman ms kecil sy yg sering dibully krn sy China, anak kecil yg tdk tau knp dilahirkan jd China, pulang sekolah sering babak belur dikeroyok, membuat sy sempat jd rasis juga, dilain waktu ada seorg2 bpk2 pribumi yg menolong sy tanpa pamrih waktu kecelakaan spd motor, membuat perubahan pand sy, bagi sy lbh ke kecemburuan sosial, ket China mayoritas lbh kaya, sdg pribumi yg merasa penddk asli cm bisa melihat enaknya hidup mewah, belum lg media2 rasis yg selalu menebar kebencian gara2 ulah segelintir pengusaha China yg menghalalkan segala cara utk jd kaya, pengalaman saya yg sering bergaul dgn teman pribumi kalangan terpelajar dgn ekonomi mapan, mereka lbh bs menerima perbedaan & relatif tdk rasis, mayoritas pribumi yg berpenddkan rendah +miskin inilah yg gampang terprovokasi membuat kerusuhan. Pandai2 jaga diri, tebar kebaikan yg bisa kita lakukan kpd siapapun, termsk kaum pribumi merupakan hal yg terbaik yg bs memadamkan api permusuhan, lbh baik menciptakan suasana damai drpd jd provokator, Tuhan memberkati semua…

  6. @Rudy Harijanto, Umur 7 tahun, Keluarga kami miskin itu sebabnya hanya mampu tinggal di KAMPUNG. Bahkan sejak tahun 1974 – 1990, kami adalah satu-satunya keluarga Tionghoa sekecamatan. Semua SUKU sama saja. Ada yang baik ada yang JAHAT. ada yang RASIS ada yang toleran. MENJADI TOLERAN bukan SIFAT bawaan LAHIR namun PERASAAN yang HARUS DIBINA dan DIMULAI dengan PENGETAHUAN. Andalah salah BUKTI-nya. Anda RASIS lalu BERUbaH jadi TOLERAN karena mengalami perlakukan TOLERAN dari seseorang.

    Atas kemalangan hidupnya semua manusia CENDERuNG untuk mencari kamBiNG HITAM. Menjadikan SUKU tertentu sebagai KAMBING HITAM atas KEGAGALAN ekonomi sendiri bukan CARA yang benar. BERLAGAK TIDAK ada PERBEDAAN juga bukan cara yang BAIK untuk mengatasi RASIS. Bhineta tunggal IKA artinya berbeda-beda namun ESA. Itulah yang orang Kristen sebut SATU TUBUH BANYAK anggota.

  7. Sudahlah STOP mempolemikan baik Jaya Suprana atau lainnya…Mari kita turut memikirkan situasi dan kondisi ekonomi rakyat kita…agar semakin membaik dan rakyat sejahtera..Keamanan juga stabil..TNI Polri kita solid…Ekonomi baik…Enak kan hidup di negara kita tercinta Indonesia ini..Salam Satu Nusa Satu Bangsa Satu Tanah Air INDONESIA Tercinta….

  8. OH MY GOD…. lemes aku bacanya… Lebih serem dari cerita hantu… Hihihi… Edan parah. Leluhur aku lom ke mari tahun segitu, dan di pelajaran sejarah sekolah juga gk ada. Jadi aku baru tahu. Makasih banyak ya informasinya… Ngomong2 karena aku ada darah keturunan Belandanya juga, haruskah aku minta maaf, om? Hehe…
    Sekitar 1960an atau kapan tepatnya saya gk tau, papanya opa saya dari pihak mama dibunuh karena ia cina. Wkt itu yg cina2 ditangkap semua yg lelaki, papanya opa saya gk krn hitam. Lalu tetangganya yg ikut ketangkap ngelapor kl papanya opa saya juga Cina. Jd ya kena d. Nasib merana jd WNI Keturunan Cina…

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.