Adi W Gunawan Membual Tentang Waking Hypnosis


Adi W GunawanAdi W Gunawan adalah pemilik Adi W Gunawan Institute Of Mind Technology. Waking Hypnosis Di salah satu weekend di bulan Mei 2008, dalam rangkaian pelatihan hipnoterapi 100 jam, saya sempat bertemu dengan beberapa kawan yang juga menyelenggarakan pelatihan di ruang berbeda di lantai 6 Hotel Ciputra Jakarta. Saya menggunakan kesempatan ini untuk berbincang sejenak sambil berfoto bersama. Di sela-sela obrolan kami tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Pak, main hipnosis dong”. Sambil tersenyum saya menoleh ke seorang staff kawan saya, sebut saja Lani, dan berkata, “Coba satukan kedua jari anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 cm dan sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas”. Apa yang terjadi kemudian?

Benar, jari Lani lengket. Tidak bisa dilepas. Semakin ia berusaha melepas kedua jarinya semakin lengket jadinya. Lani tampak mulai panik. Sambil terus berusaha melepas kedua jarinya, tapi tetap nggak berhasil, ia berkata, “Pak… pak.. ini kok bisa jadi begini? Kenapa nggak bisa dilepas?”

Sudah kepalang tanggung… saya teruskan main-main ini dengan membuat Lani nggak bisa jalan, kakinya lengket di lantai dan saya membuat punggung tangan kanannya mati rasa sehingga tidak terasa apapun saat dicubit dengan keras.

Setelah itu saya membuat semuanya kembali seperti sedia kala. Lani sudah bisa melepas jarinya, bisa jalan, dan kalo dicubit sudah bisa merasa sakit. Saya lalu minta ijin untuk ke toilet.

Saat balik dari toilet saya melihat rekan-rekan Lani bertanya-tanya mengenai hal yang baru dialami Lani. Banyak yang tidak percaya. Mereka pikir Lani hanya main-main saja. Padahal saya baru pertama kali bertemu Lani.

Sebenarnya saya sudah mau kembali ke kelas pelatihan saya tapi tiba-tiba ada dorongan untuk main-main sekali lagi. Saya lalu mendekati Lani dan berkata, “Lan, boleh nggak saya pinjam namamu?” “Boleh Pak” jawabnya. “Sungguh lho ya” tanya saya sekali lagi. “Ya pak.. boleh” jawabnya mantap.

Apa yang terjadi setelah itu?

Saya lalu bertanya, “Siapa nama anda?”

Lani tiba-tiba tidak ingat namanya. Semakin keras ia berusaha mengingat namanya semakin lupa jadinya. Dari sini saya melanjutkannya dengan, “Coba anda lihat siapa ini?”

“Oh, ini Pak Rudy” jawabnya sambil memandang rekan saya, yang berada di depannya.

“Kalau ini siapa?” tanya saya sambil menunjuk ke diri saya sendiri.

“Pak Adi” jawabnya.

“Ok, sekarang di sini hanya ada anda, Lani, dan dua orang Pak Rudy. Anda lihat di sini ada dua orang Pak Rudy. Tidak ada Pak Adi” perintah saya.

Apa yang terjadi setelah itu?

Benar, Lani tidak melihat siapapun kecuali dirinya sendiri, dan dua orang “Pak Rudy”. Lani melihat diri saya sebagai Pak Rudy.

Karena telah ditunggu di kelas saya segera mengakhiri main-main ini walaupun sebenarnya penonton masih menginginkan lebih. Sambil bercanda saya berkata, “Kalo mau lebih, ya harus pake bayar dong. Nggak bisa gratis seperti ini.”

Nah, pembaca, anda mungkin bertanya berapa lama waktu yang saya gunakan untuk main-main ini? Tidak lama. Hanya sekitar 2-3 menit saja.

“Ah yang benar… masa hanya 2-3 menit saja?” Lho, ini serius.

Bagi anda yang familier dengan hipnosis dan hipnoterapi anda tahu bahwa yang saya lakukan sebenarnya adalah hal yang biasa saja. Jari lengket, nggak bisa jalan, punggung tangan mati rasa, lupa nama, nggak bisa melihat orang, melihat seseorang sebagai orang lain, ini adalah fenomena yang dapat diciptakan by design dengan memahami cara kerja pikiran, level kedalaman hipnosis, dan sugesti pascahipnosis dengan menggunakan semantik yang tepat. Dalam hipnosis/hipnoterapi istilah teknisnya adalah limb catalepsy, anesthesia, amnesia, positive dan negative visual hallucination.

Yang mungkin menjadi pertanyaan anda adalah bagaimana saya bisa melakukannya dengan sangat cepat dan mudah? Negative visual hallucination adalah fenomena yang hanya bisa muncul atau diciptakan saat seseorang berada dalam kondisi profound somnambulism.

Bagi anda pembaca yang kurang familier dengan jargon-jargon hipnosis, kondisi profound somnambulism adalah keadaan trance atau hipnosis yang sangat dalam. Jika menggunakan skala kedalaman trance Davis Husband Susceptibility Scale (DHSS) maka negative visual hallucination baru bisa tercipta saat klien berada di level 29, dari 30 level kedalaman.

Dalam kondisi normal, untuk membawa seseorang masuk ke kondisi profound somnambulism, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Pengalaman saya pribadi, dalam konteks terapi, menunjukkan bahwa subjek hipnosis atau klien harus diedukasi terlebih dahulu. Ini bisa 30 menit, bisa 1 jam, atau bahkan 2 jam. Intinya, perasaan takut dan berbagai miskonsepsi klien harus diatasi terlebih dahulu. Setelah itu baru dilakukan induksi untuk membawa klien masuk ke kondisi deep trance. Induksi formal yang biasa saya gunakan membutuhkan sekitar 4 detik hingga maksimal 4 menit saja.

Nah, pertanyaannya lagi, bagaimana saya bisa membawa Lani masuk kondisi profound somnambulism dengan begitu cepat dan mudah, tanpa perlu melakukan edukasi dan mengatasi rasa takutnya? Hanya dengan memberikan “perintah”, langsung jadi. Nggak perlu pake teknik yang aneh-aneh.

Pembaca, ini yang ingin saya bagikan pada anda melalui artikel ini yaitu Waking Hypnosis.

Memahami waking hypnosis diawali dengan memahami semantiknya. Waking artinya bangun, tidak tidur. Hypnosis, menurut definisi US Dept. of Education, Human Services Division, adalah bypass of the critical factor of conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking atau penembusan faktor kritis pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran.

Jadi, waking hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran dalam kondisi bangun atau mata terbuka.

Istilah waking hypnosis pertama kali digunakan oleh Wesley Wells di tahun 1924 dan untuk pertama kalinya muncul di buku yang berjudul An Outline of Abnormal Psychology, terbitan tahun 1929.

Sedangkan menurut Elman, di bukunya Hypnotherapy, 1964, waking hypnosis adalah “when hypnotic effects are achieved without the trance state” atau saat efek hipnosis dicapai tanpa kondisi trance.

Saya pribadi mendefinisikan waking hypnosis  sebagai “segala sesuatu yang dilakukan seseorang yang mampu membuat pendengarnya bereaksi karena gambaran mental yang ditanamkan di pikiran mereka tanpa perlu dilakukan induksi hipnosis secara formal”.

Nah, sekarang bagaimana cara melakukan waking hypnosis?

Sabar dulu dong. Saya akan jelaskan dulu contoh waking hypnosis biar artikel ini lebih punya taste. Nggak ada contoh… nggak rame. Yang penting anda ingat ya definisi waking hypnosis di atas.

Apa saja contoh waking hypnosis?

Ini saya beri beberapa contoh: apa yang dikatakan oleh orangtua pada anak, apa yang dikatakan guru kepada anak/murid, saat ke dokter, kampanye pemilu, iklan tv, agama, pendidikan ala militer, orangtua yang mengusap atau meniup bagian tubuh anak yang sakit sambil berkata “Nggak apa kok, sakitnya sudah mama ambil. Jadi sekarang sudah nggak sakit”.

Masih banyak contoh lain. Namun dari semua contoh waking hypnosis, yang paling kuat dan dahsyat adalah (jatuh) cinta. Kalau sudah jatuh cinta… berjuta rasanya, seperti katanya Eddy Silitonga.

Nah, sekarang bagaimana cara melakukan waking hypnosis?

Mudah kok. Yang penting anda harus tahu mekanisme pikiran. Sesuai dengan definisi waking hypnosis di atas maka yang perlu dilakukan adalah kita harus bisa menembus critical factor dari pikiran sadar dan selanjutnya memasukkan suatu perintah atau sugesti ke pikiran bawah sadar. Bagi anda yang awam dengan hipnosis, critical factor adalah filter yang menyaring informasi yang akan masuk ke pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar baru dapat kita “otak-atik” dengan mudah bila si penjaga ini berhasil ditembus.

Ada tiga cara yang biasanya digunakan untuk menembus critical factor. Pertama, kita membuat critical factor bosan. Kedua dengan membuatnya lengah. Dan ketiga dengan membuat critical factor kaget. Ini adalah tiga teknik dasar yang umumnya digunakan secara terpisah atau digabungkan saat melakukan induksi secara formal terhadap seorang klien atau subjek hipnosis.

Ada cara lain yang juga sangat efektif selain tiga cara di atas yaitu dengan menggunakan otoritas (authority),  emosi (emotion), dan informasi berlebih (message overload). Tiga cara ini yang paling sering saya gunakan saat melakukan waking hypnosis.

Sekarang mari kita analisis apa yang saya lakukan terhadap Lani. Pertama, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan saya. Ia mengenal saya dari buku-buku saya yang ia baca, plus komentar dari beberapa orang rekannya. So… ia memandang saya sebagai figur dengan otoritas penuh. Apalagi saat itu ia tahu saya sedang memberikan pelatihan hipnoterapi 100 jam.

Saking senangnya bertemu saya Lani langsung minta foto bersama. Di sini faktor kedua yaitu emosinya bermain sangat intens. Saya dengan sangat mudah membangun rapport dengan Lani. Begitu dua faktor penting di atas berhasil saya dapat maka saya dengan mudah dapat melakukan waking hypnosis terhadap siapapun hanya dengan menambahkan faktor ketiga yaitu message overload.

Jadi, saat saya meminta Lani menyatukan kedua jarinya, saya sudah mendapatkan message overload. Yang ada di pikiran Lani pasti macam-macam, “Kenapa ya kok saya diminta menyatukan kedua jari saya? Mengapa jari-jari di tangan kiri, bukan yang kanan? Kenapa di letakkan di depan mata? Kenapa 20 cm, bukan 30 cm?”. Semua ini ditambah lagi Lani saat itu menjadi pusat perhatian temannya. Walau pikiran sadarnya hanya menatap jari dan mendengar suara saya namun melalui peripheral vision ia mendapat sangat banyak informasi mengenai keadaan sekitarnya. Semua ini mengakibatkan Lani mengalami message overload.

Anda jelas sekarang? Mudah kan?

Dengan menggunakan teknik deepening tertentu, tanpa sepengetahuan penonton, saya langsung membawa Lani ke level profound somnambulism. Saat mencapai level ini maka berbagai fenomena hipnosis dapat dimunculkan dengan sangat mudah.

Bengcu Menggugat:

Adi W Gunawan: Sebenarnya saya sudah mau kembali ke kelas pelatihan saya tapi tiba-tiba ada dorongan untuk main-main sekali lagi. Saya lalu mendekati Lani dan berkata, “Lan, boleh nggak saya pinjam namamu?” “Boleh Pak” jawabnya. “Sungguh lho ya” tanya saya sekali lagi. “Ya pak, boleh” jawabnya mantap. Apa yang terjadi setelah itu? Saya lalu bertanya, “Siapa nama anda?” Lani tiba-tiba tidak ingat namanya. Semakin keras ia berusaha mengingat namanya semakin lupa jadinya.

Handai taulanku sekalian, ketika mobil atau motor anda dipinjam oleh seseorang, apakah anda melupakannya? Tidak! Apakah anda lupa warnanya? Tidak! Apakah anda lupa mereknya? Tidak! Apakah anda lupa plat nomornya? Tidak! Apakah anda lupa itu motor anda? Tidak! Apakah anda lupa punya motor? Tidak! Itu sebabnya mustahil Lani lupa namanya yang dipinjam oleh Adi W Gunawan. Namun, kenapa Lani ujug-ujug lupa namanya, karena Adi W Gunawan meminjamnya? Karena itu bukan kisah nyata. Itu hanya dongeng karangan Adi W Gunawan.

Adi W Gunawan: Sambil tersenyum saya menoleh ke seorang staff kawan saya, sebut saja Lani, dan berkata, “Coba satukan kedua jari anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 cm dan sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas.” Apa yang terjadi kemudian?

Kerabatku sekalian, ketika saya berkata, “Ada butir nasi di dagu kanan anda.” Apakah anda memberi perintah kepada dagu kanan untuk MERASA ada nasi? Tidak! Apa yang anda lakukan? Anda menggerakkan tangan untuk meraba dagu kanan.

Ketika hai hai berkata, “Coba rapatkan jari tengah dan jari telunjuk anda.” Apakah anda memberi perintah kepada jari telunjuk dan jari tengah untuk MERASA rapat? Tidak! Apa yang anda lakukan? Anda menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah untuk merapat.

Ketika hai hai berkata, “Letakkan jari telunjuk dan jari tengah anda yang sudah dirapatkan itu kira-kira 20 cm dari hidung anda.” Apakah anda memberi perintah kepada jari telunjuk dan jari tengah serta mata anda untuk MERASA 20 cm jaraknya? Tidak! Apa yang anda lakukan? Anda menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah ke posisi sejajar dengan hidung dengan jarak sekitar 20 cm.

Ketika hai hai berkata, “Sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas.” Apakah anda memberi perintah kepada kedua jari anda untuk LENGKET dan tidak bisa dilepas? Tidak! Kenapa demikian? Karena kalimat “Sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas.” Bukan PERINTAH untuk melakukan sesuatu namun PEMBERITAHUAN tentang kondisi kedua jari anda.

Ketika diberitahu, “Sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas,” apa yang anda lakukan? Anda pun menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah untuk membuktikan apakah keduanya lengket seperti yang dikatakan oleh hai hai. Kenapa anda melakukan hal demikian? Karena faktor KRITIS pikiran anda. Apa yang akan anda lakukan ketika ternyata kedua jari anda memang lengket dan tidak bisa dilepas? Anda akan menggerakkan tangan yang lain untuk melepaskannya. Anda melakukan hal demikian karena FAKTOR kritis pikiran anda.

Dari penjelasan Adi W Gunawan kita menyimpulkan bahwa menghipnotis seseorang adalah membuat dia tidak KRITIS lalu menyuruh alam bawah sadarnya melakukan perintah kita. Itu berarti ketika Adi W Gunawan melakukan waking hypnosis kepada Lani, dia membuat Lani tidak KRITIS lalu menyuruh alam bawah sadar Lani melakukan perintahnya.

Ketika Adi W Gunawan berkata, “Coba satukan kedua jari anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 Cm!” Alam bawah sadar Lani pun meneruskan perintah itu ke tangan dan jemarinya.

Ketika Adi W Gunawan berkata, “Sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas,” itu bukan PERINTAH untuk melakukan sesuatu namun PEMBERITAHUAN kepada alam bawah sadar Lani tentang status kedua jarinya.

Apakah dalam kondisi demikian Lani akan menggerakkan kedua jarinya untuk membuktikan ucapan Adi W Gunawan? Mustahil! Kenapa demikian? Karena pada saat itu faktor KRITIS pikiran Lani tidak bekerja. Itu sebabnya, dalam kondisi demikian Lani tidak akan bertindak KRITIS.

Apa yang terjadi bila Adi W Gunawan menyuruh Lani untuk menggerakkan kedua jarinya? Tentu saja Lani akan menggerakkan kedua jarinya dengan mudah. Bukankah Adi W Gunawan sudah memberitahu Lani kondisi kedua jarinya yaitu lengket dan tidak bisa dilepas? Benar! Namun Perintahnya adalah menggerakkan kedua jarinya, itu sebabnya Lani menaati PERINTAH Adi W Gunawan apa adanya.

Adi W Gunawan: Benar, jari Lani lengket. Tidak bisa dilepas. Semakin ia berusaha melepas kedua jarinya semakin lengket jadinya. Lani tampak mulai panik. Sambil terus berusaha melepas kedua jarinya, tapi tetap nggak berhasil, ia berkata, “Pak… pak.. ini kok bisa jadi begini? Kenapa nggak bisa dilepas?”

Berdasarkan cerita Adi W Gunawan di atas, Lani sama sekali tidak dalam kondisi TIDAK kritis. Itu sebabnya dia bertindak KRITIS dengan berusaha membuktikan ucapan Adi W Gunawan, “Sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas,” dengan menggerakkan kedua jarinya dan ketika mendapati kedua jarinya lengket, dia pun berusaha melepaskannya bahkan minta tolong.

Kerabatku sekalian, nampak gamblang seperti menggantang di bawah matahari bukan? Adi W Gunawan mengarang dongeng untuk membual tentang waking hypnosis.

Jurus Jemari Lengket

Kerabatku sekalian, tumpangkan jari tengah anda ke atas jari telunjuk lalu tariklah jari tengah menuju pangkal jari telunjuk sehingga jari tengah dan jari telunjuk lengket dengan kuat. Posisikan kedua jari anda sejajar dengan mata dengan jarak 30-35 cm.

Dalam kondisi demikian cara yang benar untuk melepaskan jari tengah dari jari telunjuk adalah meluruskan jari tengah anda. Alih-alih melakukan hal demikian, ketika diberitahu jari tengahnya lengket dengan jari telunjuk sehingga tidak bisa dilepaskan, kebanyakan orang pun berusaha melepaskannya dengan mengangkat jari tengahnya dari punggung jari telunjuknya. Karena anatomi jari tangan maka tindakan demikian sulit sekali bahkan mustahil bagi beberapa orang.

Jurus Kaki Lengket Ke Bumi

Ketika seseorang yang sedang berdiri dengan telapak kaki terpentang selebar baru diberi tahu bahwa kedua telapak kakinya lengket ke bumi lalu disuruh untuk merasakannya, maka secara reflek dia akan mengeraskan otot-otot pahanya dan lutut serta betisnya dan merasakan telapak kakinya sehingga merasa telapak kakinya benar-benar lengket ke lantai.

Dalam kondisi demikian, bila disuruh untuk melepaskan telapak kaki kanannya dari lantai, maka cara yang benar adalah mengangkat lutut kanannya ke atas. Alih-alih melakukan hal demikian, kebanyakan orang justru memindahkan berat badannya ke kaki kiri lalu menekan kaki kirinya ke lantai (mengeraskan paha dan lutut serta betis) sambil berusaha mengangkat telapak kaki kanannya dari lantai. Bagi kebanyakan orang, mengangkat telapak kaki kanannya dari lantai benar-benar sulit bahkan mustahil. Kenapa demikian? Karena ketika berjalan, kita mengangkat lutut, bukan mengangkat telapak kaki. Itu sebabnya ketika fokus untuk mengangkat telapak kaki, kita justru tidak mengangkat lutut.

Sukarela Tidak Kritis

Di dalam seminar hipnoterapi, para peserta dikondisikan untuk tidak mempertanyakan dengan slogan, “Anda hanya bisa dihipnotis bila sukarela membiarkan diri dihipnotis. Anda hanya bisa hipnosis bila faktor kritismu tidak aktif.” Sukarela artinya hanya mematuhi dan tidak mempertanyakan. Faktor kritis tidak aktif artinya jangan berpikir logis.

Hipnotis Adalah Fiksi Ilmiah

Hipnotis adalah sulap tanpa trik yang dibungkus dengan fiksi ilmiah alias dongeng yang diberi label ilmiah. Singkirkan dongengnya maka anda pun melihat sulap tanpa triknya. Meskipun menggunakan istilah-istilah ilmiah namun hipnotis hanya FIKSI Ilmiah belaka.

Tiga tahun yang lalu saya mencari rekaman Adi W Gunawan mempraktekkan jurus-jurus hipnotisnya di Youtube untuk dikuliti helai demi helai seperti menguliti bawang bombai. Meskipun menunggunya dengan sabar namun sampai hari ini dia sama sekali tidak mengunggahnya. Nampaknya, dia tidak mengunggahnya karena takut orang lain meniru jurusnya atau takut triknya dibongkar?

92 thoughts on “Adi W Gunawan Membual Tentang Waking Hypnosis

  1. @mich, Aninditta B menulis dengan tidak adil karena dia pendukung hipnotis. Dia berusaha menunjukkan keburukan hai hai untuk mengarahkan pembacanya memiliki asumsi negatif dahulu terhadap hai hai. Komentar anda mendukung dia, karena anda percaya dengan hipnotis.

  2. @mich, saya bukan pendukung hai hai, jadi tidak bisa menjadi aset HAHAHAHA…. Tidak ada yang mempengaruhi saya. Apa yang dibahas hai hai di blognya tentang penipuan hipnotis, bisa saya anggap benar secara logika. Aninditta B mempersalahkan logika hai hai, karena dia melihat secara tidak netral. Saya hanya mengatakan tulisan Aninditta lumayan bagus, bukan berarti saya membenarkan dan melihat sisi positifnya, justru dia menyisipkan sisi negatifnya secara terselubung. Orang yang tidak menyukai hai hai, ketika membaca tulisan Aninditta B akan langsung membenarkannya. Orang yang mendukung hai hai cenderung lebih hati-hati membacanya. Orang yang netral, diarahkan untuk berpikir negatif tentang hai hai, sehingga bisa mendukung Aninditta, tapi kalau orang tersebut waspada, dia akan bisa melihat cara licik dari tulisan Aninditta. jadi apanya yang positif dari tulisan Aninditta???

  3. Pertanyaannya sekarang adalah :
    1. Siapakah Bengcu…???
    2. Apa latar belakang pendidikan akademisnya…???
    3. Apakah Bengcu memiliki kapasitas sebagai seorang narasumber yang ahli dibidangnya…???
    4. Apakah informasi yg diuraikan Bengcu telah terbukti secara ilmiah…???
    5. Apakah informasi yg diuraikan Bengcu merupakan informasi yg dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya atau hanya pendapat Subjektif Bengcu sendiri…???
    6. Apakah informasi yg diuraikan Bengcu bersumber dari data yg valid atau hanya pendapat Subjektif Bengcu…???
    7. Menurut Anda apakah tujuan Bengcu mengkritik orang lain untuk mengungkap kebenaran atau hanya iri terhadap prestasi yg dicapai orang lain…???
    8. Menurut Anda jika Bengcu mengkritik orang lain untuk mengungkap kebenaran, Apakah informasi yg diuraikan Bengcu merupakan informasi yg dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya atau hanya pendapat Subjektif Bengcu sendiri…???
    9. Apakah informasi yg diuraikan Bengcu telah terbukti secara ilmiah…???

  4. Saya mempelajari hipnosis secara otodidak, melalui berbagai literatur online dan offline. Saya tidak pernah mendapatkan pelatihan hipnosis, sehingga jangan harap ada ‘gelar’ Ch. atau CHt. di belakang nama saya. Saya bukanlah seorang hipnotist profesional, dan tidak tertarik untuk mencari nafkah dari hal ini. Saya mempelajari hipnosis murni karena rasa ketertarikan yang besar akan cara kerja pikiran manusia.

    Saya akan meluruskan sedikit mengenai kondisi ‘partial/total amnesia’ yang mampu dicapai dalam proses hipnosis. Komentar saya ini murni dari pemahaman pribadi berdasarkan berbagai literatur yang pernah saya baca serta pengalaman langsung.

    Sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit tentang proses ‘mengingat’ atau bagaimana otak mampu mengakses memori.

    Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar otak mampu mengakses suatu memori.
    1. Sel otak yang menyimpan memori tersebut masih ada dan bekerja dengan baik. Dengan kata lain, otak mampu meng-akses ingatan tersebut tanpa hambatan yang berarti. Ini adalah syarat pertama dan paling utama.
    2. Memori yang tersimpan memiliki kesan/muatan emosi yang kuat. Hal ini seperti mencari sebuah buku di antara tumpukan buku yang lain. Kita cenderung lebih mudah menemukan buku yang memiliki perbedaan mencolok atau memiliki karakteristik khusus yang membedakan buku itu dari yang lain.
    3. Atau, memori tersebut sering sekali kita akses dan atau baru saja kita akses. Ini seperti menghapal. Semakin banyak kita menghapal, kecenderungan memori tersebut lebih mudah kita akses akan semakin besar.
    Selama minimal 2 hal terpenuhi, terutama nomor 1, bisa dibilang MUSTAHIL untuk membuat seseorang menjadi lupa.
    Sekarang, bagaimana hipnosis mampu menciptakan fenomena ‘amnesia’?

    Melihat dari ketiga persyaratan di atas, hipnosis memanipulasi persyaratan nomor 1. Dengan teknik tertentu, hipnotist ‘menghalangi’ proses otak ketika akan meng-akses suatu memori. Ini menciptakan efek ‘lupa’ untuk SEMENTARA.
    Mengapa sementara? Karena pada dasarnya, memori tersebut tetap ada disana. Hanya kerja otak lah yang dimanipulasi sehingga otak ‘kesulitan’ untuk meng-akses hal tersebut. Seiring berjalannya waktu, kerja otak akan kembali normal.

    Tidak percaya? Hal ini sejatinya mungkin pernah kita alami. Misalkan, kita diminta seseorang untuk mengingat suatu hal yang pernah terjadi beberapa waktu yang lampau. Ketika kita sedang sibuk berusaha mengingat hal tersebut, kita disibukkan dengan hal lain. Contoh, ketika kita sedang asyik main Mobile Legend, teman kita menanyakan baju apa yang kita gunakan 2 atau 3 hari yang lalu. Mayoritas orang akan merasa kesulitan mengingat hal tersebut, kecuali jika dia berhenti bermain dan berkonsentrasi untuk mengingat.

    Lain cerita jika hal tersebut merupakan sebuah kebiasaan yang tiap hari kita lakukan (repetisi) atau memiliki kesan/muatan emosi mendalam. Misalkan Anda tiap hari PASTI memakai kemeja putih atau pada waktu itu Anda dipaksa memakai bikini dan menjadi bahan pembicaraan orang sekampung sehingga Anda berharap agar tidak pernah dilahirkan (muatan emosi yang dalam). Jika hal tersebut yang terjadi, makin mudah kita untuk menjawab pertanyaan di atas, dengan kata lain, butuh ‘gangguan’ yang lebih ‘dahsyat’ untuk menghalangi otak kita meng-akses memori tersebut.

    Mungkin ada yang mengatakan ‘Itu sih bukan hipnosis. Itu kan hal yang alamiah kita alami.’

    BETUL. Tapi prinsip kerjanya hampir sama. Hanya teknik yang digunakannya saja yang berbeda. Hipnotist berusaha menciptakan kondisi dimana otak suyet ‘kehilangan’ kemampuan untuk mengakses suatu memori untuk sementara.

  5. Soal halusinasi positif atau negatif.

    Sebelumnya kita bahas dahulu proses yang terjadi pada tubuh kita ketika ‘melihat’ suatu benda.
    1. Cahaya jatuh pada permukaan benda
    2. Cahaya lalu dipantulkan oleh benda ke mata.
    3. Cahaya diterima oleh saraf optik dan diubah menjadi pulsa listrik.
    4. Rangsangan yang konon berwujud pulsa listrik diteruskan oleh syaraf ke otak.
    5. Rangsangan diterima otak lalu diterjemahkan menjadi sesuatu yang kita anggap sebagai wujud visual.

    Dari proses tersebut, paling tidak ada 5 cara agar kita ‘tidak dapat’ melihat benda yang ada di hadapan kita.
    1. Halangi cahaya yang jatuh pada permukaan benda
    2. Halangi cahaya yang dipantulkan benda ke mata kita.
    3. Halangi kerja syaraf optik.
    4. Halangi kerja syaraf yang meneruskan rangsangan ke otak.
    5. Ganggu proses kerja otak sehingga tidak dapat mengolah informasi yang diterima dari syaraf.

    Hipnosis bermain pada proses yang ke lima. Dengan teknik tertentu, hipnotist berusaha mengacaukan kerja otak sehingga salah menterjemahkan informasi yang dikirim oleh syaraf atau mengabaikan rangsangan yang diterima. Ini secara sementara menciptakan fenomena halusinasi positif dan negatif.

    Fenomena ini juga bukan hal yang aneh. Seringkali ketika kita terlalu fokus melihat ke satu obyek, kita tidak sadar akan keberadaan obyek lain. Contoh, ketika kita sedang fokus mengobrol dengan seseorang, kita cenderung tidak menyadari kehadiran obyek/orang lain. Ngga ada yang aneh kan?

  6. KIsanak, anda MENGAKU diri anda “mempelajari hipnosis secara otodidak, melalui berbagai literatur online dan offline,” yang BENAR adalah anda MEMBACA dan MENGERTI anda BACA namun tidak PERNAH berlatih alias tidak PERNAH melakukan hipnotis sama SEKALI. ha ha ha ha ….

    Apa itu Hipnotis? Hipnotis adalah PERMAINAN di mana suhu hai hai dan ROBERT Yuliawan dengan KESEPAKATAN dimana RELAWAN (Robert) MELAKUKAN semua yang DIPERINTAHKAN oleh (DUKUN hipnotis) suhu hai hai tanpa KECUALI.

    Karena ROBET secara SUKA RELA melakukan apa yang DIPERINTIKAHKAN maka dia pun MELAKUKAN apa yang diperintahkan ketika:

    hai hai berkata kepada Robet, “Coba satukan kedua jari anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 cm dan sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas”. Apa yang terjadi kemudian?

    ROBERT pun MELAKUKAN yang DIPERINTAHKAN:

    Benar, jari ROBET lengket. Tidak bisa dilepas. Semakin ia berusaha melepas kedua jarinya semakin lengket jadinya.

    KENAPA bisa DEMIKIAN? Karena ROBERT (RELAWAN) dengan RELA melakukan yang DIPERINTAHKAN.

    ketika suhu haihai MENULIS kisah ini:

    TOBERT tampak mulai panik. Sambil terus berusaha melepas kedua jarinya, tapi tetap nggak berhasil, ia berkata, “Pak… pak.. ini kok bisa jadi begini? Kenapa nggak bisa dilepas?”

    Itulah PENIPUANNYA. Tidak ada yang PANIK sama sekali. TIDAK ada yang BERUSAHA melepaskan kedua jarinya sama sekali karena yang TERJADI adalah ROBERT melakukan PERINTAH suhu ha hai dengan RELA yaitu:

    hai hai berkata kepada Robet, “Coba satukan kedua jari anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 cm dan sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas”.

    Apakah ROBERT HILANG kesadaran? Tidak. ROBERT hanya secara RELA menjalankan PERAN-nya sebagai RELAWAN dengan baik MELAKUKAN perintah BERPERAN “kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas.”

    Bolehkan suhu hai hai bengcu MENGKLAIM bahwa dirinya SUDAH berhasil menghipnotis ROBET? ya. BUKTINYA ROBET melakukan PERANNYTA tanpa mempertanyakan. Apakah ROBERT boleh MENGKLAIM bahwa dirinya sudah BERHASIL dihipnotis oleh suhu hai hai? BENAR. Buktinya KEDUA jarinya lengket tidak bisa dilepas. Tapi apa yang sebenarnya TERJADI?

    Yang terjadi adalah “ROBERT BERPERAN KEDUA jarinya lengket tidak bisa dilepas” menurut SKENARIO. Itu hanya SKENARIO karena KEDUANYA dengan SUKARELA.

    Jadi, kisanak, itulah HIPNOTIS. Anda hanya KORBAN PENIPUAN tanpa TRIK. Anda pikir anda HEBAT karena MENGERTI yang anda BACA tentang HIPNOTIS padahal TIDAK karena anda sama sekali TIDAK tahu apa itu hipnotis. Penjelasan di atas adalah PERMAINAN hipnotis. TIDAK ada trik sama sekali. yang ada adalah RELAWAN alias orang yang SECARA RELA BERPERAN menurut SKENARIO.

  7. Kisanak, ketika hai hai berkata kepada Robet, “Coba satukan kedua jari anda. Letakkan di depan mata sekitar 20 cm dan sekarang kedua jari anda lengket tidak bisa dilepas”. Apa yang terjadi kemudian?

    ROBERT pun MELAKUKAN yang DIPERINTAHKAN:

    Benar, jari ROBET lengket. Tidak bisa dilepas. Semakin ia berusaha melepas kedua jarinya semakin lengket jadinya.

    Itulah yang TERJADI bro. Ha ha ha …. Jangan MENGARANG yang aneh-aneh bro. Ha ha ha …

  8. Entahlah jika Mr. Adi membual soal itu… Mengenai suyet mengalami perasaan panik ketika kedua jarinya ‘melekat’ satu sama lain, berdasarkan pengalaman saya, memang tidak selalu terjadi. Mengapa? Entahlah bagaimana kenyataannya… Tapi saya memiliki teori sendiri soal itu…

    Beberapa kali saya melakukan test seperti yang dilakukan Mr. Adi. Sebagian besar suyet tidak mengalami panik seperti yang diceritakan oleh Mr. Adi. Hanya segelintir yang mengalami rasa panik. Kemungkinan hal ini terjadi salah satunya akibat respon otak yang menterjemahkan sugesti yang saya berikan secara berbeda.
    Ketika saya mengatakan ‘Semakin Anda berusaha memisahkan kedua jari Anda, jari Anda akan melekat semakin kuat!’, mayoritas suyet hanya merasakan sensasi ‘melekat’ yang semakin kuat. Namun segelintir suyet ‘tanpa sadar’ justru menekan kedua jarinya semakin keras hingga mulai menimbulkan rasa pegal dan sakit. Dalam kasus ini, rasa panik muncul karena timbulnya sensasi tidak nyaman secara tiba-tiba.
    Sekali lagi, mungkin saja Mr. Adi berbohong soal ini, atau bisa juga memang seperti itu kenyataannya. Who knows?
    Tapi menurut pengalaman saya, kepanikan seperti itu memang pernah terjadi dan merupakan hal yang lumrah.
    Apa benar jika yang saya praktekkan setelah belajar secara otodidak adalah BENAR-BENAR ‘hipnosis’ yang sesungguhnya atau hanya bualan dan imajinasi saya belaka? Who knows? Saya tertarik, saya belajar, saya praktekkan. Dan ketika menurut saya berhasil, itu sudah cukup. Soal pengakuan dari orang lain apakah ilmu yang saya pelajari itu berguna atau sampah belaka, realita atau hanya tipuan belaka, so what? Sampah pun kadang berguna di tangan orang yang tepat.. Yang jelas, saya ngga membiarkan orang lain terganggu dengan bau sampahnya… 🤣

  9. Soal suyet mengikuti perintah hipnotist dengan sukarela, itu 100% betul… Memang seperti itulah kejadiannya. Jika itu membuat hipnosis dilabeli menipu, entahlah… No comment soal itu. Tapi memang pada dasarnya menurut hipnosis modern, semua proses hipnosis adalah self-hipnosis. Hipnotist hanya berperan sebagai guide atau operator saja. Setidaknya itu yang saya tahu..
    😁

    Oya, soal saya tidak pernah mempraktekkan ilmu hipnosis itu, mungkin tidak tepat. Ngga terhitung puluhan kali saya gagal. Kalau tidak salah, induksi pertama saya yang berhasil itu saya lakukan setelah kurang lebih 4-5 tahun belajar… Sedikit memalukan ya? Tapi apa sih yang diharapkan dari belajar otodidak di waktu senggang? 🤔

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.