KB Kalender


Kami membuka Pondok Sehat, klinik pengobatan dengan biaya murah bagi masyarakat desa. Dua orang adik saya yang dokter praktek di sana bergantian. Walaupun bukan dokter namun saya hoby mempelajari ilmu kedokteran, itu sebabnya saya suka membantu di klinik tersebut dan sering disangka dokter beneran.
Suatu hari, saya sedang duduk menunggu adik saya di dalam ruang praktek, ada hal yang ingin saya diskusikan dengannya sebelum dia memulai prakteknya sore itu. Saat itu saya duduk di kursi yang biasa diduduki oleh dokter yang praktek. Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang wanita masuk. Setelah menutup pintu, dia berdiri canggung di dekat pintu dan menatap saya ragu-ragu.

Saya mengamatinya, umurnya sekitar 25 tahun, wajahnya cantik dan tubuhnya sexi, rambutnya hitam sebahu, matanya belo dengan bulu mata lentik, hidungnya tidak terlalu bangir namun bibirnya benar-benar berisi.

Dia mengenakan kemeja berwarna kuning dipadu dengan rok berwarna biru tua selutut kurang sedikit. Warna kemeja itu membuat kulit kuning langsat dan halusnya nampak eksotis. Dengan kancing dibuka satu, maka buah dadanya nampak seolah gadis desa yang mengintip malu-malu dari belakang tirai jendela. Tingginya sekitar 160 Cm. Bentuk tubuhnya tegak, bahunya bulat, padat berisi.

Bentuk pinggulnya menunjukkan bahwa dia sudah pernah hamil dan melahirkan. Bentuk telapak kakinya menunjukkan bahwa dia lahir dari keluarga miskin yang tinggal di pegunungan. Jari-jari kakinya yang agak mencengkram menunjukkan bahwa ketika kecil dia terbiasa berjalan dengan kaki telanjang naik turun bukit. Dia pasti anak kesayangan, itu sebabnya jemari tangannya tetap lentik, bukan jemari tangan orang yang terbiasa bekerja kasar sejak kecilnya.

Saya mengangguk sambil tersenyum kepada wanita itu dan mempersilahkannya duduk. Saya suka gerakannya yang gesit namun anggun ketika berjalan mendekati kursi di seberang mejaku dan duduk. Saya juga suka dengan perawan desanya yang mengintip malu-malu dari balik tirai kemeja yang kancingnya terbuka satu. Belum sempat saya membuka mulut untuk bertanya apa keperluannya, wanita itu sudah berkata dengan logat bahasa sundanya yang kental.

“Dokter, saya teh sakit, mau berobat atuh.” Ada keinginan untuk memberitahu dia bahwa saya bukan dokter. Namun, bila itu dilakukan berarti saya tidak bisa mengagumi kecantikannya lagi.

Walaupun nampak sehat dan cantik, kenapa dia bilang sedang sakit? Saya diam sambil mengagumi kecantikannya yang sangat alamiah. Bila diberi kesempatan, dia seharusnya bisa menjadi artis atau model dengan modal kecantikkannya. Dia membalas tatapan saya dengan wajah memerah tersipu-sipu namun tidak mengatakan sakit apa yang dideritanya.

Saya menatapnya lalu bertanya dengan logat sunda yang dikental-kentalkan, “Sakit apa atuh neng?” Wanita cantik itu menatap saya, dia diam namun wajahnya semakin memerah tersipu-sipu. Dia benar-benar cantik dalam kondisi seperti itu.

“Sudah pernah berobat ke sini sebelumnya?” Dia tersenyum lega lalu berkata, “Ari (kalau) berobat ma belom pernah dok, tapi waktu itu pernah konsultasi KB dengan dokter di sini, tapi dokternya bukan bapa da.” Saya menggumamkan “Oooooo” yang panjang. Karena belum pernah berobat, itu berarti tidak ada catatan medis dirinya di dalam arsip Pondok Sehat.

Kembali saya menatap wanita itu, menunggunya mengeluh tentang penyakitnya. Dia menunduk, sekali-sekali membalas tatapan saya, mukanya terus bertambah merah tersipu-sipu. Dia memiliki telinga yang indah. Sungguh suatu kondisi yang tidak biasa. Saya sudah sering menemani adik-adik saya praktek juga cukup sering disalahpahami sebagai dokter namun belum pernah melihat apalagi bertemu yang seperti ini.

Kenapa wanita ini yang awalnya masuk dengan rasa percaya diri yang mantap tiba-tiba merasa malu dan kehilngan nyali untuk menceritakan keluhan penyakitnya? “Kunaon atuh neng? ” tanyaku dalam bahasa sunda, artinya “kenapa, nona?”

Setelah berkali-kali menarik nafas dan membulatkan tekat akhirnya wanita itu berkata, “Itu saya sakit dok!” Dia menghela nafas panjang, seolah-olah beban berat yang menghimpitnya sejak tadi telah diangkat. Saya tersenyum, ikut senang karena wanita itu merasa senang sebab bebannya telah hilang, namun saya tidak tahu apa yang dia maksudkan dengan “itu saya sakit, dok!” yang dikatakannya.

Saya memegang lengan atas tangan kanan dengan tangan kiri lalu dengan telunjuk dan jempol saya mengelus dagu. Itulah kebiasaan saya ketika berpikir. Saya menatap wanita itu sambil tersenyum dan menggerakkan kening sebagai isyarat bertanya kepadanya.

Dia tersenyum, masih tersipu-sipu namun sudah mendapatkan rasa percaya dirinya. “Iya dok, itu saya sakit!” Kali ini dia berkata sambil menatap bagian tubuhnya yang sakit. Dia menatap ke pangkal pahanya. Saya langsung menarik kesimpulan lalu bertanya balik untuk mendapat kepastian. “Hmmmm….. Jadi peralatan kencingnya yang sakit?”

Peralatan kencing. Itulah istilah yang saya buat ketika adik saya bercerita tentang kesulitannya menghadapi pasien ketika harus mendiskusikan penyakit atau hal-hal lain sehubungan dengan organ tubuh yang katanya tabu untuk diobrolkan orang-orang beradab dan tidak boleh digunakan di depan umum.

“Iya dok, peralatan kencing saya sakit!” Jawab wanita itu penuh percaya diri. Saya mulai menduga-duga dia mungkin kena penyakit kelamin, itu sebabnya saya bertanya, “Sejak kapan sakitnya?”

Nampaknya istilah “peralatan kencing” membuat wanita itu percaya diri, itu sebabnya dia menjawab pertanyaan saya dengan lancar dan gembira “Sakitnya ma sudah lama dok, tapi nggak terus-terusan.” Saya merasa heran dengan jawabannya. Walaupun sudah mengumpulkan seluruh database tentang berbagai jenis penyakit kelamin namun saya sama sekali tidak menemukan jenis penyakit yang  gejalanya seperti yang dikeluhkan wanita itu?

“Sakit tapi nggak terus-terusan?” saya bertanya. “Iya dok, sakit.” Jawabnya.

“Sakitnya nyut-nyutan? Atau sakit bagaimana?” saya bertanya, “Iya dok, sakitnya nyut-nyutan. Sakit sama perih.” Saya memegang lengan atas tangan kanan dengan tangan kiri lalu mengelus dagu dengan jari telunjuk dan jempol. Benar-benar bikin penasaran.

“Sejak kapan mulai merasa sakit?” tanyaku, “Sejak kapan ya?” wanita itu balik bertanya, lalu dia berusaha mengingat-ngingat. Wanita ini benar-benar cantik, seharusnya, wanita-wanita seperti inilah yang dikirim untuk mengikuti kontes ratu sejagad, kecantikan alamiah khas Indonesia. Mustahil memenangkan kontes ratu kecantikan sedunia bila yang dikirim adalah wanita-wanita Indonesia berwajah Indo.

“Lupa dok, waktu itu teh abis lebaran tapi sebelum lebaran haji. Tahun kemarin. Waktu itu teh abis ke sini konsultasi masalah KB. Iya bener. Sakitnya teh sejak konsultasi Kb da dok.” Wanita itu berkata-kata sambil berusaha mengingat-ingat.

Sambil mengelus-elus dagu saya berpikir tanpa hasil. “Hmmmm, Jadi sakitnya muncul sejak ikut KB?” Wanita itu nampak gembira, “Iya dok, sejak ikut KB peralatan kencing saya teh jadi sering sakit. Nyut-nyutan sama perih.”

Setelah menimbang-nimbang saya bertanya, “Sekarang masih sakit?” Dia menjawab, “Iya dok, masih sakit. Waktu kencing teh perih.” Saya menarik nafas panjang dan berharap adik saya yang dokter segera muncul.

“Ikut KB apa atuh neng?” Saya bertanya. Saya tahu pasti. Masalah wanita itu ada di luar kemampuan saya. Yang mampu menolong dia hanya adik saya yang dokter tulen, bukan dokter-dokteran seperti saya. Itu sebabnya yang saya lakukan hanya mengajaknya ngobrol sambil berharap adik saya segera muncul.

“Ikut KB kalender dok!” Jawab wanita itu bersemangat. “Wah, hebat atuh ikut KB kalender.” Saya memuji dan itu bukan pujian kosong. Di antara semua jenis KB yang saya ketahui, KB kalenderlah yang paling rumit dan sulit untuk dijalankan dengan konsisten apalagi bagi pasangan-pasangan muda, terutama bila si istri cantik seperti wanita itu.

Dia mengatakan: bahwa dia mulai menjalaninya setelah Lebaran namun sebelum Lebaran Haji, itu berarti sepuluh bulan yang lalu. Wanita GERSANG (seger merangsang) seperti dia pasti nggak pernah menghadapi kesulitan di dalam memicu dan memacu birahi suaminya.

Menurut penelitian para ahli, wanita lebih genit dan mudah tergoda dibanding biasanya ketika mereka memasuki masa subur. Itu adalah naluri untuk beranakcucu. Bagaimana wanita desa yang lugu ini dan suaminya mengatasi godaan birahi selama menjalani KB kalender? Itulah yang ingin kuketahui darinya.

Wanita itu tersenyum menanggapi pujian saya, mukanya kembali memerah tersipu-sipu. “Punten atuh neng (maaf nona), bukannya nggak percaya, saya teh mau memastikan kalau si eneng teh benar-benar menjalankan KB kalender dengan benar.” Wanita itu membalas tatapan saya dan menjawab. “Mangga atuh dok (silahkan dok)!”

Saya menatapnya, dia membalas tatapan saya. “Apa yang eneng tahu tentang KB kalender?” tanya saya. “KB kalender. Kalau lagi masa subur nggak boleh, kalau lagi masa nggak subur boleh.” Jawabnya lugu namun benar.

Setelah berpikir saya kembali bertanya, “Kalau lagi masa subur suami eneng mau, bagaimana?” Wanita itu menatap saya, matanya yang indah menyiratkan sedikit rasa heran dan menganggap enteng pertanyaan saya. “Pan KB kelender dok.” Jawabnya singkat.

Saya menatapnya dan kembali bertanya, “Kalau lagi masa subur suami mau, boleh nggak?” Dia menjawab cepat, “Kalau lagi masa subur nggak boleh atuh dok, pan bisa hamil?”

Saya berusaha mencerna jawabannya lalu bertanya lagi. “Kalau lagi masa subur suami mau, nggak boleh?” Dia mengangguk pasti. “Kalau lagi masa subur suami mau tapi nggak boleh jadi bagaimana?” Tanya saya sambil tersenyum karena ingat sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang teman tentang, “Jadi bagaimana?” Wanita itu, kali ini benar-benar tidak berusaha menyembunyikan bahwa dia memandang enteng saya dari sorot matanya. “Pan KB kalender dok?” Dia menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan.

Karena tidak mendapatkan jawaban seperti yang saya inginkan, maka saya berusaha menyusun pertanyaan baru . “Puntennya neng (maaf nona), Kalau lagi masa subur, si enengnya mau, bagaimana?” Dia menjawab cepat tanpa berpikir, “Pan KB kalender dok?”

Sambil mengelus-elus dagu saya berusaha memahami jawabannya, namun nggak ngerti sama sekali.

“Kalau lagi masa subur, si enengnya tiba-tiba mau, boleh?” Sorot matanya benar-benar mengejek ketika menjawab pertanyaan saya tersebut, “Kumaha atuh si dokter teh (bagaimana si dokter ini)? Nggak boleh atuh dok, pan bisa hamil?”

Saya bukan hanya mengelus-elus dagu namun menggosok-gosok kumis dengan telunjuk. Itulah kebiasaan saya ketika kehabisan akal.

“Kalau lagi masa subur, suami mau, nggak boleh. Bisa hamil.” Kataku. Dia mengangguk.

“Kalau lagi masa subur, si eneng mau, nggak boleh. Bisa hamil.” Kembali dia mengangguk menanggapi pernyataanku.

“Kalau lagi masa subur, suami mau tapi nggak boleh terus gimana?” Dia menjawab cepat, “Pan KB Kalender?” Kembali saya tidak memahaminya.

“Kalau lagi masa subur, si eneng mau tapi nggak boleh terus gimana?” Wanita itu menatapku sambil terkekeh. Nampaknya ada yang nggak nyambung di antara kami. Saya tidak memahaminya dan dia merasa heran kenapa saya tidak paham?

Saya mengulangi pertanyaan saya, “Kalau lagi masa subur, si eneng mau tapi nggak boleh terus gimana?” Dia langsung menjawab dengan cepat, “Si dokter ma lieur (ah si dokter lagi pusing), Pan KB kalender?”

Ketika saya ingin bertanya lagi, ada ketukan tiga kali di pintu yang ada di belakang saya. Itu tanda bahwa adik saya yang dokter sudah datang. Hati saya melonjak, gembira bukan kepalang. Saya segera berkata kepada wanita itu, “Puntennya neng, sakedap (permisi ya nona, sebentar.” Saya lalu bangkit berdiri, berjalan ke pintu, membukanya lalu menghilang.

Di balik pintu saya melihat adik saya memandang sambil tersenyum. “Tuh cewe alat kencingnya sakit sejak ikut KB kalender.” Saya melapor. Adik saya tersenyum lalu berkata, “Gua udah denger dari tadi.”

Saya memaki, “Oncom!” lalu melanjutkan, “Gimana nanganinnya?” dia menjawab enteng, “Bilang sama dia, lain kali lepas dulu besinya.” Ucapannya benar-benar mengejutkan. Saya menatapnya tajam untuk menemukan tanda-tanda bahwa dia sedang bergurau. Namun, tidak ada nada gurauan sama sekali dalam sorot matanya.

Ketika melihat saya mulai mengelus dagu, adik saya berkata, “Kalender meja nggak ada besinya tapi banyak sudutnya.” Dia segera meninggalkan saya dan memasuki ruang prakteknya, menghadapi wanita cantik itu.

4 thoughts on “KB Kalender

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.