
Ketika Tionghoa Membunuh CinaKetika Tionghoa membunuh Cina, kita harus bergembira atau berkabung? Kenapa Tionghoa begitu membenci Cina? Itu sebabnya, Tionghoa bukan hanya berusaha membunuh Cina namun mati-matian memusnahkannya.
Memangnya salahnya apa? Sehingga Tionghoa berusaha membunuh Cina dan mati-matian memusnahkannya?
Handai taulan Tionghoa-ku sekalian, Kerabat Cina-ku yang terhormat, pernahkah anda merenungkan perasaanmu tentang Tionghoa dan Cina? Pernakah anda memikirkannya? Apa yang harus kita rasakan dan pikirkan tentang Tionghoa dan Cina ke depannya? Ha ha ha …..
Kisanak. ketahuilah! Istilah Cina tidak lahir di Tiongkok. Anda juga. Pasti belum tahu. Bahwa istilah Tionghoa juga tidak lahir di Tiongkok.
Ketahuilah. Kemungkian besar, isilah Cina lahir di Nusantara. Kita tidak tahu siapa yang membuatnya? Juga, kita tidak tahu, sejak kapan istilah Cina digunakan di Nusantara? Kita hanya tahu, inilah temuan arkeologinya.
Buku The Legacy of Majapahit, hal. 92, karya John N. Miskie dan Endang Sri Hardiati Soekatno, penerbit National Museum of Singapore tahun 1995 mencatat bahwa dokumen tertua di Nusantara yang mencatat kata “CINA” adalah lempeng tembaga Bungur A yang berangka tahun 860. Isinya tentang, “Juru Cina” yang bertugas mengurusi para pedagang dari Tiongkok.
Kata China pertama kali muncul di Eropa dalam buku catatan harian petualang Portugis Duarte Barbosa (1516) yang diterjemahkan oleh Richard Eden’s pada tahun 1555 ke dalam bahasa Inggris dengan judul: Description of the Coasts of East Africa and Malabar.
Aku hanya mengingat-ingat, waktu kecil di kampung, banyak sekali orang-orang tua yang naik sepeda ontel dan ketika saling berpapasan mereka saling menyapa. Dari sapaannya, aku langsung tahu hubungan keluarga mereka. “Cin ke,” artinya besan. Saya langsung tahu ikatan keluarga keduanya. “Bo ku,” artinya paman istri. Saya langsung tahu, dia menyapa adik istrinya. “Piau ci,: artinya kakak perempuan sepupu. Saya langsung tahu, dia menyapa seorang perempuan dengan ikatan saudara sepupu yang lebih tua tingkatannya.
Mereka yang tidak memiliki hubungan persaudaraan saling menyapa, “CIN A.” “CIN A,” dalam bahasa Hokkien adalah “Qīn zī 親仔,” dalam bahasa mandarin. Artinya SAUDARA tanpa ikatan persaudaraan. Itulah cara orang Hokkien menyatakan persaudaraan tanpa ikatan kekeluargaan.
Mungkin, istilah “CIN A,” itulah yang dipakai oleh orang-orang Nusantara untuk menyapa atau menyebut orang-orang Tionghoa. Siapakah mereka? Mereka adalah orang Cina alias saudara. Nah, kisanak, anda akan kekeh jumekeh membenci CINA sampai kiamat? Ha ha ha ha ……