
Sejak kecil, sampai umur 8 tahun, setiap berantem, beberapa anak yang lebih besar, bahkan orang dewasa meneriaki, “Tiyu. tiyu.” Karena nggak tahu mereka sedang menyemangati, alih-alih semangat aku malah berhenti bertarung.
Karena sejak lahir berbahasa Hokkien, itu sebabnya aku tahu, dalam bahasa Hokkien, “Tiyu” artinya tambah minyak. Namun, karena tidak pernah diajari, makanya aku tak tahu bahwa “Tiyu” adalah yel-yel untuk menyemangati.
Saat kuliah, barulah aku tahu dari mamaku bahwa “Tiyu” dalam bahasa Hokkien, “Jiāyóu 加油” dalam bahasa mandarin adalah yel-yel untuk menyemangati.
“Maju terus”, “Pantang mundur”, “Semangat” adalah yel-yel menyemangati orang Indonesia. Kenapa orang Tionghoa memakai kata “Tiyu – Jiayou” artinya “Tambah minyak” untuk yel-yel menyemangati? Saya tidak tahu. Saya sudah bertanya kepada mamaku, nenekku dan banyak orang lain tanpa jawaban.
Karena tidak menemukan sumber pustakasnya, itu sebabnya, selama bertahun-tahun aku menyimpan sendiri pertanyaan itu. Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian, mungkin ayat di dalam kitab Jiao tesheng (jiāo tè shēng 郊 特牲 – Binatang Korban Khusus Altar Perbatasan) dalam kitab Kesusilaan (Lǐjì 禮記) di bawah ini menunjukkan jejaknya.
Pada hari sembahyang, raja (wáng 王) mengenakan topi kulit (píbiàn 皮弁), mendengarkan petunjuk sembahyang (jìbào 祭報), untuk menunjukan kepada rakyat. betapa dimuliakannya yang di atas (Shàng 上). Bahkan yang sedang berkabung pun tidak menangis, tidak ada yang berani mengenakan pakaian kabung (xiōngfú 凶服). Jalan-jalan diperciki dengan air, disapu bersih dan tanahnya dibalik. Di kampung-kampung, obor-obor (zhú 燭) dinyalakan di pematang-pematang sawah. Tanpa diperintah masyarakat patuh kepada (tīng 聽) yang di atas (shàng上). Liji IX:II:5 – Jiao tesheng
Altar sembahyang Tiongkok yang paling agung hanya lapangan di perbatasan kota yang dibersihkan. Itu sebabnya disebut altar perbatasan (jiāo 郊) dan sembahyangnya perbatasan (jiāo 郊).
Di altar itu, sendirian, kaisar menghadap maha kaisar di atas (Shàngdì 上禘) dengan menyajikan seekor lembu jantan muda yang tanduknya baru sekuku panjangnya, yang dirawat kaisar sendiri. Setelah di pilih yang tanpa catat sampai ke bulu-bulunya. Kaisar melakukkan ramalan (membuang undi), bertanya kepada maha kaisar di atas (Shàngdì 上禘) , “Mana yang berkenan?”
Karena tidak memerintah dengan baik, Kaisar Li (zhōu lìwáng 周 厲王 877 SM – 841 SM) dari dinasti Zhou (zhōudào 周道) di tangkap lalu diusir masyarakat. You (zhōu yōuwáng 周 幽王 781 SM – 771 SM raja terakhir kerajaan Zhou barat) yang menggantikannya menolak sembahyang perbatasan dengan alasan tidak menerima mandat dari Shàngdì 上禘.
Sejak itu, tidak ada yang berani melakukan sembahyang perbatasan.Diyakini, dia yang sembahyang perbatasan tanpa mandat, pastu hangus digeledek.
Saat kaisar Yu dari dinasti Xia menyelenggarakan sembahyang perbatasan kala bulan purnama, rakyat mendukungnya dan menyemangatinya dengan menyalakan obor dan menambahkan minyak agar obor tetap menyala. “Jiāyóu 加油 – “Jiāyóu 加油”.