
Orang Tionghoa Tangerang disebut Cina Benteng karena tinggal di sekitar Benteng VOC? Itu penyesatan para sejarahwan dan budayawan Tionghoa Indonesia yang harus dibenahi. Inilah rahasia Cina benteng Indonesia.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Benteng adalah bangunan tempat berlindung atau bertahan. Sinonim benteng adalah kubu. Dari bahasa apakah kata benteng berasal? Dari bahasa Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, Mandarin, Hokkien, Hakka, Melayu, Jawa, Sunda, Madura, Bali, dll?”
Menurut KBBI, kata benteng tidak berasal dari bahasa apa pun. Siapa dan sejak kapan kata benteng digunakan? Saya tidak tahu. Namun inilah yang tercatat.
Perjanjian Giyanti 1755 membagi Kesultanan Mataram menjadi dua: Kesunanan Surakarta di bawah Sunan Pakubuwana III dan Kesultanan Yogyakarta dipimpin Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I.
Hamengkubuwana II, saat masih Putera mahkota, tahun 1785, memprakarsai pembangunan kubu pertahanan yang dinamai Beteng Baluwerti. Sejak itulah kubu pertahanan disebut benteng? Mungkin.
Menurut catatan sejarah, tahun 1692 VOC mendirikan benteng dari bambu. Tahun 1705 bangunan bambu itu dirobohkan lalu dibangun dengan tembok. Tahun 1801 benteng itu diperluas dan diperkuat. Tahun 1816 tercatat bahwa benteng tersebut bukan hanya tidak terawat namun puing-puingnya pun tidak kelihatan lagi.
Karena orang Tionghoa di Tangerang menyebut dirinya atau disebut orang Benteng, sejarahwan dan budayawan Tionghoa pun langsung mengarang dongeng, “Disebut Cina Benteng karena tinggal di sekitar benteng VOC.” Kerabatku sekalian, Itu namanya pembohongan publik karena benteng VOC disebut Benteng Makasar karena bagian luarnya dijaga dan dihuni orang Makasar, bukan orang Cina.
Kenapa hari ini, banyak tempat di Indonesia dan Malaysia yang memakai nama BENTENG meskipun bukan KUBU pertahanan? Buktinya: Kampung Benteng, Kuala Lumpur, Malaysia; Kampung Benteng, Sungai Rambai, Malaysia; Kampung Benteng, Ciampea, Jawa Barat; Desa Benteng, Tanjung Sakti Pumi, Lahat; Desa Benteng Huraba, Batang Angkola, Tapanuli Selatan; Desa Gampong Benteng, Aceh Timur. Desa Benteng, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur; Dusun Benteng di Desa Kerumut, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Tempat-tempat itu disebut benteng meskipun tidak ada benteng pertahanan alias kubu pertahanan di sana?
Sebelum Tionghoa Hwe Kwan (1900) mendirikan sekolah Tionghoa (1903), bahasa Hokkien adalah lingua franca (bahasa yg dipakai sebagai alat komunikasi di antara kelompok masyarakat Tionghoa yang mempunyai bahasa yang berlainan).
Itu sebabnya, sejak purbakala, orang Hokkien perantauan dan Tiongkok menyebut dirinya “Banli Tengsia Lang – wànlǐ chángchéng rén 萬里 長城 人 – orang selaksa li panjang kubu pertahanannya.” Mereka menyingkat “Banli Tengsia Lang” menjadi “Banteng” alias benteng atau “Balong” atau “Sialang – Sialan” .
Itu sebabnya, mereka menyebut dirinya orang Benteng alias orang Balong alias orang Sialan karena mereka adalah Banli Tengsia Lang – orang dari benteng yang panjangnya selaksa Li.