
Banyak Tionghoa Indonesia generasi ini yang menyangka leluhurnya datang dari Tengsua (chángshān 長山 – gunung Panjang). Banyak pula yang tahu pasti leluhurnya datang dari Tengsia (chángchéng 長城 – tembok panjang).
Faktanya, sejak purbakala sampai hari ini, tidak ada satu orang Tiongkok (zhōngguó rén 中國 人) pun yang memakai istilah Tengsua (chángshān 長山 – gunung panjang) untuk menyebut tanah airnya dan menamai dirinya Tengsua Lang (chángshān rén 長山 人 – orang gunung panjang).
Di Tiongkok, sejak dahulu kala sampai hari ini, tidak ada gunung yang namanya gunung panjang, tidak ada tempat yang disebut gunung panjang, tidak ada kota yang dinamai gunung panjang, tidak ada orang Tiongkok (zhōngguó rén 中國 人) yang disebut orang gunung panjang.
Sebenarnya, yang terjadi adalah, para leluhur dari Tiongkok mengaku dirinya datang dari Tengsia (chángchéng 長城 – tembok panjang). Namun, anak cucunya kurang fasih bahasa Hokkien, makanya tidak tahu bahwa “Sia – tembok” bukan “Sua – gunung” di tambah lagi, lebih mudah melafalkan “Sua – gunung” dari pada “Sia – tembok” itu sebabnya mereka menyangka leluhurnya datang dari Tengsua – gunung panjang.
Tengsia (chángchéng 長城 – tembok panjang) adalah singkatan dari Banli Tengsia (wànlǐ chángchéng 萬里 長城 – tembok selaksa li panjangnya), kedua istilah di atas sudah dipakai oleh orang Tiongkok sejak purbakala.
Meskipun hari ini, banyak orang Tionghoa Indonesia yang menyebut dirinya Tenglang dan tahu bahwa Tenglang (chángrén 長人) artinya orang panjang, namun mereka tidak tahu lagi kenapa disebut Tenglang?
Tenglang (chángrén 長人) adalah singkatan dari Banli tengsia lang (wànlǐ chángchéng rén 萬里 長城 人 – orang tembok selaksa li panjangnya). Sejak dahulu kala sampai hari ini, istilah Tenglang – orang panjang dan Banli tengsia lang – orang tembok selaksa li panjangnya masih dipakai oleh orang Tiongkok (zhōngguó rén 中國 人) untuk menyebut dirinya.