Penguburan dan Sembahyang Arwah Tionghoa Kuno


Ketika ditinggal mati orang yang disayangi, muncul perasaan tidak berdaya karena tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat mencegahnya. Ada perasaan putus asa karena tahu takkan bisa bertemu dan berinteraksi lagi dengannya.

Ada perasaan haru yang trenyuh. Bagi sebagian orang, muncul samar-samar pertanyaan dalam hati, “Apa yang akan terjadi dengannya setelah ini? Bagaimana almarhum akan melewati waktu-waktu selanjutnya?” Muncul rasa takut yang suci, kesadaran yang pasrah bahwa suatu saat kita juga akan mati.

Ada perasaan bersalah karena merasa belum memberikan yang terbaik bagi almarhum, belum berbuat maksimal untuk mencegah kematian yang menjemputnya, belum berbuat maksimal untuk menyatakan rasa sayang kita baik secara perbuatan maupun perkataan dan tidak ada kesempatan lagi.

Ada perasaan bersalah dan jengkel, karena merasa almarhum pantas mendapatkan cinta yang lebih besar dari kita dan dunia sebelum dia meninggal. Perasaan sedih ditinggal mati orang yang disayangi, sulit dijelaskan apalagi untuk dimengerti, hanya orang-orang yang pernah mengalaminya dapat benar-benar mengerti perasaan ini.

Ketika berhadapan dengan jenasah almarhum yang kita sayangi, muncul perasaan hambar yang mistik. Perasaan ini membuat bingung, bagaimana harus memperlakukan almarhum. Ada perasaan gentar yang asing. Walau mengenali wajah dan sosoknya dengan baik, namun dia telah menjadi seseorang yang asing, bahkan sesuatu yang asing.

Kita tak dapat lagi merasakan dirinya apalagi cintanya. Kita merasa gentar dan tidak nyaman untuk memperlakukannya seolah-olah dia masih hidup. Kita merasa tidak tega dan tidak pantas bila memperlakukan dia seolah-olah benda mati atau bangkai binatang.

Perasaan ketika ditinggal mati orang yang disayangi sangat dasyat. Begitu dasyatnya perasaan ini sehingga banyak orang yang tidak mampu untuk menyalurkannya dengan wajar. Orang-orang demikian mungkin nampak tenang dan tak terpengaruh namun dengan berlalunya waktu, perasaan itu akan muncul kepermukaan, bahkan meledak. Contohnya aku, ketika ditinggal mati salah satu adikku, empat hari kemudian baru perasaanku meledak nggak karu-karuan, sulit dikendalikan.

Para kaisar Tiongkok kuno memahami perasaan dasyat tersebut dengan baik, makanya melembagakan kesusilaan (lǐ 禮) memperlakukan jasad almarhum dan bagaimana mengungkapkan perasaan kepada almarhum setelah dimakamkan. Itulah yang disebut tradisi penguburan dan sembahyang arwah Tionghoa kuno.

Ketika seseorang meninggal mereka naik ke atap rumah lalu berteriak-teriak memanggil namanya, “siapa tahu dia menyahut?” Mereka mencarinya ke perbukitan, “siapa tahu menemukannya untuk diajak pulang?” Yang lainnya segera memasak nasi dan lauk-pauknya serta menyediakan pakaian baginya. Berharap dia naik ke Maha Tinggi (tiān wàng 天望) dan menguburkannya ke Yang Maha Rendah (dì zàng 地藏). Jasad dan jiwanya  (tǐpò 體魄) musnah di bawah (té jiàng 則 降) sementara kesadaran dan nafas hidupnya (zhīqì 知氣) pergi ke tempat asalnya (zài shàng 在上). Orang yang mati (sǐ 死) di utara (běi 北) kepalanya (shǒu 首), sementara yang hidup (shēng  生) di selatan (nán 南) desa (xiāng 鄉). Selalu seperti itu sejak awalnya. Liji VII:I:7 – Liyun Zhī Qì

4 thoughts on “Penguburan dan Sembahyang Arwah Tionghoa Kuno

  1. Di zaman modern juga orang jepang masih percaya arwah orang mati.. Indonesia berlagak modern tapi cuma pemakai barang elektronik. Koar koar digital tapi gak becus bikin perangkatnya. Bisanya cuma import lalu dirakit. So soan mau evakuasi warga Gaza ke Indonesia biar bantuan internasional untuk Gaza dialihkan ke Indonesia tapi gak apa apa dikorupsi juga yg penting jangan merugikan APBN.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.