Kerasukan dewa-dewi adalah PENIPUAN


Kerasukan dewa-dewi adalah PENIPUAN. Tidak ada dewa-dewi yang merasuki sama sekali. Yang ada hanya orang-orang yang berlagak dirasuki dewa-dewi. Terkutuklah mereka yang cari makan dengan PENIPUAN demikian.

Kesusilaan (lǐ 禮): Dikatakan, “Orang bijaksana (jūnzǐ 君子) menggendong cucunya namun tidak menggendong anaknya,” maksud pepatah itu adalah, cucu boleh menjadi pemeran arwah kakek (wáng fùshī 王父 尸), namun anak tidak boleh menjadi pemeran arwah ayah (fùshī 父尸).” Liji IA:IV:4:29 Quli shang

Ketika almarhum wafat, keinginan untuk melayaninya tetap ada di antara orang-orang hidup. RITUAL adalah cara untuk memuaskan PERASAAN orang HIDUP kepada orang mati dengan tidak melanggar kesusilaan.

Ritual adalah rangkaian kegiatan berupa gerakan, nyanyian, doa, dan bacaan, menggunakan perlengkapan, baik dilakukan secara sendirian maupun bersama-sama, dipimpin oleh seseorang.

Cucunya berperan sebagai almarhum sementara anak almarhum melayaninya solah-seolah dia sedang melayani almarhum yang sedang makan.

Tradisi kuno 3000 tahun sebelum masehi itulah cikal-bakal munculnya PENIPUAN kerasukan dewa-dewi di antara orang Tionghoa saat ini.

Adakah bukti bahwa para PERASUK dewa-dewi adalah PENIPU? Tentu saja. Sungokong adalah TOKOH novel. Sungokong adalah tokoh karangan penulis novel. Karena Sungokong hanya tokoh karangan, itu sebabnya mustahil jadi DEWA. Makanya PERASUK Sungokong adalah PENIPU yang BERLAGAK kerasukan dewa. Tidak ada DEWA yang merasukinya.

22 thoughts on “Kerasukan dewa-dewi adalah PENIPUAN

  1. standart ganda semua

    waktu menulis penipuan kkr pada muji2 bengcu

    saat menulis seperti ini mencaci maki bengcu

    Kelihatan sekali otaknya pendek

  2. Makanya semakin sedikit pengikutnya beda sama server minggu semakin subur

    ternyata penipuan

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.