Bengcu Menggugat Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stelamaris


Image result for pelayan ekaristi

Blog “Pelayan Ekaristi TOLOL Di Gereja Stelamaris” menimbulkan salah paham hai hai menghina Sakramen ekaristi serta tubuh Kristus. Saya menulis blog ini untuk  menghentikan kesalahpaham lebih lanjut.

Siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kejadian tersebut? Mereka yang komentar di blog tersebut menyalahkan hai hai dan membenarkan misdinar dan suster. Awalnya saya merasa tidak sedang membela diri namun mengajak para pembaca untuk memahami kejadian tersebut apa adanya saja. Namun setelah membaca komentar-komentar saya di blog tersebut, memang hai hai membela diri. Meskipun bela dirinya bukan untuk membenarkan diri.

Kalau siapa yang benar dan siapa yang salah memang harus nampak gamblang, maka inilah penilaian hai hai atas kejadian tersebut.

Perbuatan hai hai:

1.    hai hai bergeser ke kanan untuk makan hosti = TIDAK SALAH.
2.    Karena takut mengganggu hai hai bergeser lagi ke kanan untuk makan hosti = TIDAK SALAH.
3.    minta izin berdoa dulu sebelum makan hosti karena merasa sakramen ekaristinya sudah tercemar = TIDAK SALAH.
4.    Hai hai menawarkan untuk mengembalikan hosti = TIDAK SALAH
5.    Hai hai mengembalikan hosti = TIDAK SALAH

Misdinar:

1.    Misdinar mencegat hai hai yang bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti = SALAH
2.    Misdinar mencegat lalu mencomot hosti haihai yang bergeser satu langkah lagi ke kanan untuk makan hosti = SALAH
3.    Misdinar suruh hai hai makan hosti di tempat = TIDAK SALAH
4.    Misdinar MECEGAH hai hai mencemari hosti = TIDAK SALAH

Suster:

1.    Suster tidak mengizinkan hai hai berdoa sebelum makan hosti = TIDAK SALAH
2.    Suster minta hai hai makan hosti tanpa berdoa = TIDAK SALAH
3.    Suster minta hai hai makan hosti di tempat = TIDAK SALAH
4.    Suster menerima tawaran hai hai untuk mengembalikan hosti = TIDAK SALAH
5.    Suster menerima kembali hosti dari hai hai = TIDAK SALAH
6.    Suster mencegah hai hai mencemari hosti = TIDAK SALAH
7.    Suster MENUDUH hai hai bukan KATOLIK dengan suara keras = SALAH

Perasaan hai hai:

  1. MARAH karena merasa sakramen ekaristi kudusnya dicemari misdinar = SALAH – LEBAY
  2. Pikiran meluapkan kemarahan dengan meremas hosti, menginjaknya kemudian mengebaskan debu =  SALAH – KALAP.

Orang GKI Ikut Sakramen Ekaristi:

  1. Tindakan hai hai bukan orang Katolik ikut sakramen ekaristi TIDAK SALAH di MATA hai hai dan sebagian orang Katolik karena didukung oleh Pasal 844 ayat 3 Kitab Hukum Kanonik Katolik.
  2. Tindakan hai hai bukan orang Katolik ikut sakramen ekaristi SALAH di mata orang Katolik yang MEYAKINI orang non Katolik tidak boleh ikut makan hosti.

Bodoh Tolol dan Goblok:

Mungkin banyak orang yang memilik pemahamannya sendiri atas kata bodos, tolol dan goblok. Selama ini hai hai punya pemahaman sebagai berikut:

BODOH = daya pikirnya lambat
TOLOL = bertindak atau melakukan tindakan bodoh
GOBLOK = Berbuat atau melakukan perbuatan bodoh yang jauh di bawah kualifikasinya

Catatan:

Saya ikut misa dan sakramen ekaristi BUKAN untuk senang-senang apalagi menghina umat Katolik namun untuk BERIBADAH. Itu sebabnya saya marah ketika merasa kekudusan ibadah saya dicemari.

Selama ini, bagi saya gereja Katolik dan GKI sama saja, sama-sama gereja Kristus tempat saya beribadah. Itu sebabnya selama ini tidak ada masalah bagi saya untuk beribadah di gereja Katolik maupun GKI. Itu sebabnya selama ini saya mencintai gereja Katolik sama besarnya dengan cinta saya kepada GKI. Selama ini bagi saya, semua anggota jemaat GKI dan semua umat Katolik bahkan semua orang Kristen apa pun alirannya adalah sesama murid Kristus.

Selama ini belum pernah ada teman katolik saya yang tahu saya anggota jemaat GKI menyatakan keberatannya atas keikutsertaaan saya dalam misa dan sakramen ekaristi bersamanya.

Itu sebabnya, baru sekaranglah saya tahu, ternyata ada begitu banyak orang Katolik yang bukan saja tidak suka orang Kristen ikut misa dan sakramen ekaristi namun merasa tindakan orang Kristen demikian adalah penghinaan gereja Katolik dan penistaan tubuh Kristus (hosti).

Seperti yang saya katakan, saya ikut misa dan sakramen ekaristi bukan untuk senang-senang apalagi menghina umat Katolik namun untuk BERIBABAH. Itu sebabnya setelah tahu banyak orang Katolik yang bukan saja tidak suka namun menganggapnya penghinaan gereja Katolik dan penistaan tubuh Kristus (hosti), maka saya tidak akan mengikuti misa dan sakramen ekaristi lagi. Beribadah di gereja Katolik namun membuat banyak orang Katolik susah hati? Tak U U ya!

NB:
Kitab Hukum Kanonik Katolik Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

123 thoughts on “Bengcu Menggugat Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stelamaris

  1. Pak Bengcu,

    Terimakasih atas reply pada artikel sebelumnya, Karena saya jarang online, Kalau boleh saya reply disini saja ya, sekalian merespon artikel ini. Saya kutip dari artikel diatas untuk memberikan reply.

    quote :
    hai hai bergeser ke kanan untuk makan hosti = TIDAK SALAH.
    Karena takut mengganggu hai hai bergeser lagi ke kanan untuk makan hosti = TIDAK SALAH.
    Misdinar mencegat hai hai yang bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti = SALAH
    Misdinar mencegat lalu mencomot hosti haihai yang bergeser satu langkah lagi ke kanan untuk makan hosti = SALAH
    Suster MENUDUH hai hai bukan KATOLIK dengan suara keras = SALAH

    Tanggapan :
    Seperti sudah saya ungkapkan sebelumnya, ini hanya salah paham saja sepertinya. Kalau boleh saya mengkomentari, Suster dan Misdinar itu tidak tahu pak Bengcu orang Katholik atau bukan. Mereka memberikan hosti ke tangan pak Bengcu pasti karena pak Bengcu sudah menggunakan formasi tangan yang benar (telapak kiri ditumpangkan diatas telapak kanan). Kesalahan dalam formasi tangan ini saja akan mentrigger Suster untuk urung memberikan Hosti Kudus kepada Pak Bengcu. Ini sudah lazim pada kegiatan Komuni. Sebenarnya sikap yang lebih baik lagi adalah dengan menerima Hosti Kudus di mulut, namun model seperti ini agak merepotkan terutama bila umatnya banyak.

    Sepertinya yang mentrigger Misdinar dan Suster untuk berbuat yang agak keras seperti diungkapkan pak Bengcu, lebih dititikberatkan pada saat pak Bengcu bergeser ke kanan kemudian bergeser lagi. Mungkin disini masalahnya Pak Bengcu. Bapak hanya hendak bergeser ke kanan sekali lagi, namun diartikan sebagai Bapak hendak meninggalkan tempat. Ini hanya masalah gesture gerakan tubuh yang memicu reaksi. Gerakan itu ternyata menimbulkan kepanikan bagi Suster dan Misdinar sehingga merespon agak keras seperti yg telah diungkapkan pak Bengcu. Respon keras memang bisa timbul karena ; marah, panik, atau sebab lainnya. Dan karena merasa direspon dengan tidak semestinya, menimbulkan perasaan marah dan terganggu pada Pak Bengcu. Sekali lagi ini hanya masalah komunikasi non verbal saja.

    Quote :
    MARAH karena merasa sakramen ekaristi kudusnya dicemari misdinar = SALAH – LEBAY
    Pikiran meluapkan kemarahan dengan meremas hosti, menginjaknya kemudian mengebaskan debu = SALAH – KALAP

    Tangapan :
    Disini saya atau pembaca lain tidak bisa menyalahkan pak Bengcu karena ini masih di perasaan dan tahap pikiran awal, yang datang tanpa bisa dikontrol. Yang bisa dikontrol oleh pak Bengcu adalah keputusan untuk mengulang-ulang pikiran itu dikepala (yang akhirnya menimbulkan perasaan yang lebih kuat) atau tidak.

    Quote :
    Tindakan hai hai bukan orang Katolik ikut sakramen ekaristi TIDAK SALAH di MATA hai hai dan sebagian orang Katolik karena didukung oleh Pasal 844 ayat 3 Kitab Hukum Kanonik Katolik.
    Tindakan hai hai bukan orang Katolik ikut sakramen ekaristi SALAH di mata orang Katolik yang MEYAKINI orang non Katolik tidak boleh ikut makan hosti.

    Tanggapan :
    Terimakasih atas kemauan dari Pak Bengcu untuk ikut menerima Komuni Suci, hal tersebut mengisyaratkan kerinduan dari Pak Bengcu untuk bersatu dengan Kristus Sendiri dalam rupa Roti dan Anggur.
    Mengenai hal ini mohon juga pak Bengcu meninjau Pasal 844 ayat 1 KHK. Disitu dijelaskan bahwa sakramen (dalam hal ini adalah sakramen Ekaristi) diterimakan hanya kepada orang Katholik dan itupun hanya kepada orang Katholik yang licit saja. Jadi jelas bahwa himpunan irisan yang terbentuk memang kecil sekali (hanya orang Katholik, yang licit, bukan semua orang Katholik).

    Gereja lain sejauh menyangkut penilaian Tahta Apostolik ….dst, seperti pada pasal 844 ayat 3 KHK merujuk kepada gereja-gereja yang memiliki suksesi apostolik (memiliki akar yang sama) yang sama dengan Katholik dan memiliki kedudukan yang sama dengan gereja-gereja Timur. Disini pak Bengcu harus aktif untuk mencari tahu apakah GKI termasuk dalam daftar tersebut. Menurut pemahaman saya gereja yang dimasukkan ke dalam list ini adalah gereja yang memiliki suksesi apostolik dan mengimani transubtansiasi. Saya masih cari info juga mengenai hal ini.

    Quote :
    Mungkin banyak orang yang memilik pemahamannya sendiri atas kata bodos, tolol dan goblok. Selama ini hai hai punya pemahaman sebagai berikut:
    BODOH = daya pikirnya lambat
    TOLOL = bertindak atau melakukan tindakan bodoh
    GOBLOK = Berbuat atau melakukan perbuatan bodoh yang jauh di bawah kualifikasinya

    Tanggapan :
    Pemahaman yang Pak Bengcu anut sudah benar. Sedikit saya tambahkan, bahwa bahasa selain mengandung arti juga mengandung konotasi. Konotasi negatif melekat erat pada kata-kata bodoh, tolol dan goblok. TIdak akan merugikan siapapun bila kata-kata tersebut diganti menjadi “kurang pintar” misalnya, untuk merubah konotasi yang melekat.

    Quote :
    Selama ini, bagi saya gereja Katolik dan GKI sama saja, sama-sama gereja Kristus tempat saya beribadah. Itu sebabnya selama ini tidak ada masalah bagi saya untuk beribadah di gereja Katolik maupun GKI. Itu sebabnya selama ini saya mencintai gereja Katolik sama besarnya dengan cinta saya kepada GKI. Selama ini bagi saya, semua anggota jemaat GKI dan semua umat Katolik bahkan semua orang Kristen apa pun alirannya adalah sesama murid Kristus.

    Selama ini belum pernah ada teman katolik saya yang tahu saya anggota jemaat GKI menyatakan keberatannya atas keikutsertaaan saya dalam misa dan sakramen ekaristi bersamanya.

    Itu sebabnya, baru sekaranglah saya tahu, ternyata ada begitu banyak orang Katolik yang bukan saja tidak suka orang Kristen ikut misa dan sakramen ekaristi namun merasa tindakan orang Kristen demikian adalah penghinaan gereja Katolik dan penistaan tubuh Kristus (hosti).

    Tanggapan :
    Pak Bengcu, sejauh yang saya tahu. orang Katholik sangat-sangat suka sekali bila ada orang dari gereja lain ikut Misa. Namun memang mereka tidak memperbolehkan umat Gereja Lain untuk menerima Komuni Suci. Untuk bagian yang satu ini (Komuni Suci) memang agak sensitif. Mereka bahkan, bila tidak sedang dalam keadaan pantas, akan urung, untuk menerima Komuni Suci.

    Bagi orang Katholik, hosti yang sudah dikonsekrasi, adalah Tubuh Kristus sendiri. Dasarnya adalah Yohanes 6 dimana Yesus memberitahukan orang-orang bahwa daging-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya adalah benar-benar minuman.
    Orang-orang tersebut sampai bertengkar karena perkataan Yesus ini demikian keras. Melihat keributan seperti itu, alih-alih mengkoreksi atau menjelaskan kepada orang banyak bahwa itu adalah ungkapan, Yesus malah bertanya kepada murid-murid-Nya, “Adakah perkataan itu mengguncangkan ImanMu?”, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”. Kalau saya bahasakan dalam bahasa saya pribadi, demikian : “Hai murid-muridku, sudah ketahuan kan.. aku ini orang gila, suruh orang makan dagingku sendiri, apa kamu masih mau ikut aku?” demikian kira-kira dalam pikiran saya.

    Sekeras itulah orang Katholik memandang Transubstansiasi. Dan nilai itu demikian berbeda dengan gereja non Katholik yang memandang Roti dan Anggur hanya sebagai simbol/sarana untuk mengenangkan Yesus seperti diceritakan dalam perjamuan terakhir.
    Itulah sebabnya seorang suster/prodiakon tidak akan bisa memberikan Hosti Kudus yang adalah Tubuh Kristus sendiri, kepada orang yang hanya menganggap hosti yang dia terima sebagai simbol/sarana. Itu tugas yang mereka (suster/prodiakon) emban. Jadi bisa pak Bengcu bayangkan betapa paniknya mereka saat mereka melihat seolah-olah pak Bengcu hendak meninggalkan tempat padahal pak Bengcu hanya hendak berdoa sebentar.

    Dari artikel sebelumnya saya membaca reply pak Bengcu. Dari reply tersebut bisa dikatakan pak Bengcu bukan orang yang jauh sekali dari gereja Katholik, Pak Bengcu pun mengatakan dulu waktu SMA sering ikut misa tapi tidak menerima Komuni Suci. Dari situ saya melihat bahwa pak Bengcu sebenarnya sudah tahu ajaran-ajaran katholik terkait komuni ini.

    Saya berharap pak Bengcu bersedia untuk mengerti sikap Katholik terhadap hal komuni ini. Bila ada teman-teman Katholik Bapak yang sebelumnya melihat Bapak ikut terima Komuni namun tidak memberikan arahan yang benar, mohon pak Bengcu yang sudah lebih dulu tahu, membantu mereka untuk mendapatkan akses ke ajaran-ajaran Katholik,
    Dan bila pak Bengcu mendapatkan manfaat dari mengikuti Misa, maka janganlah karena peristiwa tempo hari tersebut mengurungkan niat pak Bengcu untuk mengikutinya lagi. Misanya boleh pak, hanya komuninya saja yang belum boleh.

    Salam Kasih Tuhan.

  2. @nis, sejak gua SMA Lumen Gentium gencar sekali diajarkan di mana-mana. Itu sebabnya nggak ada teman gua yang ngoceh ketika misa barang gua dan ambil hosti bareng gua. Ketika blog gua dibombardirlah mereka mengaku baru tahu ternyata orang Kristen nggak boleh ikut komuni. Ha ha ha ha ….. Bahkan kalau lu mau tahu, pengumuman hanya orang yang sudah dibaptis secara katolik saja yang boleh ikut sakramen ekaristi mereka PAHAMI sebagai “KHUSUS berlaku untuk orang Katolik namun tidak berlaku bagi orang Kristen.” Dulu pengumuman demikian tidak ada di dalam misa. Sekarang tidak semua gereja KAtolik mengumumkannya.

    Kalau lu search di internet, maka lu akan temukan bahwa 5 tahun terakhir ini ada sebuah gerakan yang gua sebut GERAKAN KEMBALI KE GEREJA KITA. Gerakan itu mencari kembali orang-orang Katolik yang HENGKANG ke gereja lain untuk kembali ke gereja katolik. Mereka mengajarkan Gereja yang didirikan oleh Yesus adalah gereja Katolik. Itu sebabnya gereja di luar gereja Katolik bukan gereja Kristus. Mereka juga membandingakan Gereja Katolik dengan gereja lain untuk menunjukkan BETAPA HEBATNYA dan BENARNYA dan ALKITABIAHNYA gereja Katolik dan SESAT-nya gereja lain. Gerakan itu juga melakukan AKSI agar orang-orang Kristen tidak TERLIBAT dalam kehidupan orang-orang Katolik.

    Jadi, nis, hipotesa lu benar.

  3. @nis, lu tahu nggak “Surat Terbuka Untuk Mgr. Petrus Turang” yang ditulis atas nama “Gerakan kita adalah Gereja“ yang diteken oleh 59 orang imam dan biarawati Indonesia dari seluruh dunia? Coba lu klik di SINI untuk nonton videonya. Mgr Petrus Turang adalah USKUP AGUNG KUPANG.

    Di dalam surat itu, Uskup Agung Kupang diHUJAT:

    1. feodal
    2. tak berperikemanusiaan
    3. tercela
    4. tak bermoral
    5. memalukan
    6. tidak etis
    7. tidak terpuji
    8. arogan
    9. kriminal
    10. tidak terpuji
    11. picik
    12. militer
    13. mafia
    14. mafia
    15. melecehkan
    16. preman
    17. pelaku kekerasan
    18. anarkis
    19. otoriter

    Pertanyaanya adalah Kemana para Front Pembela Katolik ketika salah satu Uskupnya itu DIHUJAT membabibuta ya? Kemana orang-orang Katolik yang katanya BERANI mati untuk membela HOSTI itu ya? Kenapa HOSTI dibela namun USKUP AGUNG dicuekin?

    cincin uskup adalah tanda IKATAN dari Kristus bagi mempelainya (seluruh umat Kristen keuskupan). Mencium cincin Uskup bukan MENGHORMATI Uskup namun MENYATAKAN cinta kepada Kristus. CINCIN Uskup adalah SIMBOL kehadiran Kristus bahkan Kehadiran Kristus itu sendiri. MEMBERI HORMAT kepada Uskup tanpa MNCIUM cincin Uskup artinya MENGABAIKAN bahkan MELECEHKAN Kristus.

    Aneh bin ajaib bukan? Ha ha ha ha ha …

  4. soal cincin uskup itu tanda ikatan blablabla, gue belom pernah denger… tapi kalo soal hosti adalah tubuh Yesus, bukan sekedar simbol, kayaknya semua orang Katolik harusnya tau deh… itulah mungkin kenapa si uskup ga dibelain sementara hosti dibela mati2an… lagian, dari kalimat lo pun udah gamblang kan hai? cincin uskup hanya simbol kehadiran Kristus, sementara hosti adalah bener2 tubuh Yesus, bukan sekedar simbol (at least begitulah yang dipercaya Katolik)… mungkin itulah sebabnya

  5. nah, ini juga aneh, kalo “gerakan kembali ke gereja kita” bener2 resmi dari Vatikan, maka adalah aneh kalau mereka berkata bahwa gereja Katolik itu alkitabiah. Di mata Katolik, alkitab bukanlah segalanya. Mereka tidak seperti protestan yang mendasarkan semuanya kepada alkitab. Mereka mempunyai Tradisi Suci dan setau gue, posisi Tradisi Suci ini lebih tinggi dari alkitab. Bahkan di mata mereka, alkitab adalah hanya sekedar produk saja, alias tidak berkuasa apapun untuk menjelaskan dirinya, dan ketika diajarkan harus tetap mengacu pada Tradisi Suci. jadi Gereja Katolik tidak membutuhkan alkitab, sementara alkitab membutuhkan Gereja Katolik. dengan begitu, buat apa berkoar bahwa Gereja Katolik itu alkitabiah ? that’s why gue ga yakin gerakan tadi bener2 dari Vatikan.

  6. @Garfield, ada dua cara makan hosti yaitu: Buka mulut lalu disuapin. Cara kedua adalah hosti diletakan di telapak tangan.

    Hosti harus diletakan di telapak tangan yang mana? Seingat ssaya, saat saya kuliah debat demikian seru sekali. Ada yang menganut hosti harus diletakkan di telapak tangan kiri yang di topang telapak tangan kanan. Kemudian hosti diambil dengan tangan kanan dan disuap ke mulut.

    Menurut sebagian orang, hosti adalah Tubuh Kristus, itu sebabnya TIDAK SOPAN dan TIDAK KUSUD bila diletakkan di tangan KIRI. Itu sebabnya hosti harus diletakkan di telapak tangan kanan yang ditopang telapak tangan kiri, kemudian langsung dimasukkan ke mulut.

    Hosti yang diletakkan di tangan harus dimakan di mana? Yang tertulis adalah di makan DALAM KEHADIRAN (PRESENCE) pelayan ekaristi. Apabila anda baca komentar-komentar maka kebanyakan bilang harus dimakan saat diterima. artinya tidak boleh bergeser sebelum hosti yang diterima dimakan. Namun bila anda ke gereja Katolik maka anda menemukan banyak sekali umat yang setelah menerima hosti bergeser ke kanan satu langkah baru makan, sementara yang duduk di bangku barissan kiri bergeser satu langkah ke kiri baru makan.

  7. Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

    @krisfornet, tersebut di atas adalah penutup blog saya. Siapa yang telah bertindak TOLOL dan berlaku GOBLOK di dalam misa tersebut? Misdinar yang merebut hosti hai hai, suster yang menuduh hai hai bukan katolik dengan suara keras dan hai hai yang TERLALU serius menguduskan sakramen ekaristinya.

    Jadi, kalau yang MEMBACA menganggap misdinar itu TOLOL dan GOBLOK, jangan lakukan. Menganggap suster itu tolol dan goblok, jangan lakukan. menganggap hai hai TOLOL dan GOBLOK, jangan lakukan. KEJADIAN tersebut MENYIMPAN POTENSI KEKACAUAN yang luar BIASA. Itu sebabnya saya menulisnya agar menjadi PERINGATAN bagi siapa saja yang membacanya.

    Itu sebabnya ketika menerima tangapan yang ajubilah dari umat Katolik, pada mulanya saya merasa air susu saya dibalas dengan air tuba. Gua bukan MAKSA minta jatah ikut misa dan sakramen ekaristi di gereja lu namun MEMPERINGATI kalian akan POTENSI keributan di MISA karena ada yang bertindak tolol dan goblok. Kok malah lu bully dan hujat? buju buneng dech. ha ha ha …

  8. @supernis, gua pake kata SIMBOL tapi kan ada tambahannya. KEBERADAAN cincin itu adalah KEHADIRAN Kristus itu sendiri. Ajaran CINCIN USKUP dan tradisi mencium cincin uskup memang setau gua, TIDAK diajarkan di KATEKISASI Katolik kepada KATEKUMEN, Itu sebabnya kebanyakan orang menyangka itu FEODAL alias MENJILAT.

    Meskipun sikapnya tegas dan KERAS namun menurut banyak orang yang mengenalnya, Uskup Agung itu orang yang baik. gua merasa nggak FAIR aja dia dihujat membabi buta, yang menurut gua, ada UDANG di balik batunya.

  9. Gerakan kembali ke gereja kita ini tidak bersifat internasional. bukan gerakan dari vatican namun gerakan yang MARAK di Indosia saja. Di luar negeri sendiri khususnya dari Vatican, justru yang lagi naik daun sejak 1965 adalah Gerakan Keluar dari gereja Kita kembali ke gereja Kristus. Coba lu baca berita sepak terjang Paus.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.