
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
kisanak, saya tidak pernah keberatan seseorang mau BERIMAN apa. Itu urusannya. Namun saya KEBERATAN kalau ibadah saya di gereja Katolik diganggu. Soal tidak mau MENGAKUI orang Reformed, itu urusan anda namun tindakan anda MenYATAKAN gereja katolik menolak REFORMED? Ha ha ha ha …. Itu hanya MEMBUKTIKAN bahwa anda dalah FRONT PEMBELA KATOLIK yang hidup dengan PRINSIP buta KATOLIK pasti benar dan non Katolik PASTI SALAH. MENGAJARI anda tentang Kitab Hukum Kanonik Katolik dan Oikomuni Katolik juga PERCUMA. Jadi, terserah lu mau bunyi apa pun. ha ha ha …
Fakta :
1. GKI bukan Gereja Katolik, dibaptis di GKI bukan berarti serta merta menjadi Katolik (seorang Protestan bukan seorang Katolik bagian mana yang ini yang tidak jelas ?)
2. GKI alias 1 dari sekian banyak denominasi Gereja Protestan bukan Gereja Ritus Timur yang dimaksud dalam KHK yang dikutip. GKI tidak memiliki perayaan Ekaristi yang valid, tidak memiliki iman Ekaristi yang sejati, sakramen pengampunan yang valid (silahkan belajar lagi)
3. Diijinkan mengikuti perayaan Ekaristi bukan berarti boleh menerima Komuni. (anda tidak memiliki iman Katolik)
4. Tindakan anda menerima Komuni dan membawanya ke bangku justru adalah penghinaan kepada Tubuh Kristus. Ini bukti nyata anda tidak memiliki iman Katolik. Tindakan Suster dan Misdinar adalah benar. Saya berterima kasih kepada anda karena menuliskan blog ini. Dengan demikian memberitahukan kepada semua pelayan yang membantu Imam dalam perayaan Ekaristi untuk berani mengambil tindakan tegas membela iman Katolik dari orang-orang seperti anda.
Semoga Allah dengan cara-Nya yang misterius membawa anda kepada pertobatan sejati.
Si bengculun menggugat tanpa dasar, kuliah ambil teologi? Terlihat kok dari bahasanya anda ngambil jurusan tolologi
saya tidak sama sekali mencoba untuk rendah diri pak, coba di putar kembali otak bapak dan cerna baik2 komentar saya
@Katolik, mohon maaf, tanpa menurangi rasa hormat, saya tidak mau MENDEBAT anda, jadi anggap saja anda BENAR. Bamngun GEREJA KATOLIK sendiri dan JADILAH PAUS agar bisa MENJALANKAN semua KETETAPAN anda di atas. Ha ha ha ha …
Orang KATOLIK pasti BENAR dan non Katolik HARUS SALAH ya bang? ha ha ha ha … itulah FRONT PEMBELA KATOLIK! ha ha ha …
Kisanak, kalau nggak mampu MEMAHAMI yang hai hai tulis sebaiknya anda BELAJAR dulu dech bangsa 20 tahun. baru kembali lagi untuk komentar. ha ha ha ha …
bengcu jadi protes mulu, hehe …. emang udah dasar nye,jadi susah sendiri …
Selamat buat bengcu! Silahkan anda makan taikmu yg sudah anda keluarkan selama ini… !! Hahahhahahaha… Jgn lupa sekalian minumnya pake air kencingmu ya, kan kalau berak biasanya sekalian kencing… 👍 Salam jg buat kawan2 pendukung anda.
FROnt PEMBELA KATOLIK ya anda? ha ha ha ha …..
Damai sertamu,
maaf.. bukan mau membela apapun,
tiap orang pasti ingin mencari kebenaran atas diri masing,
namun, terimakasih atas masukan hai hai, saya akan menanggapi, dari sisi mantan anak misdinar, anak yang juga sering kebaktian GKI saat masih duduk di bangku SMA, anak yang bingung melihat kondisi orang-orang yang(entah lebih tua atautidak) bertindak seperti fanatik pada agama masing-masing dan menganggap yang lain salah.. 😦 Tuhan Allah satu, agama ajarkan yang baik terkadang manusia dan oknum yang kurang tepat menanggapinya…
pertama-tama saya sedih, baik dari sisi katolik, dari sisi bapak, dan juga bingung.
saya tak mengambil teology seperti bapak, tapi karena bapak telah mengambil kuliah teology, tolong tanggapi ini dengan sama-sama bijaksana ya pak.. 🙂
saat bapak di batis sidhi–yang sejujurnya saya kurang mengerti, namun baptisan yang di akui gereja katolik adalah baptisan yang juga membaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. bapak haihai juga telah di baptis, namun secara katolik(mohon saling memahami karena proses dan tata cara penerimaan, meskipun sama-sama ada pemberian Tubuh Kristus(katolik) ataupun Hosti Kudus(GKI) ada perbedaan) adalah berbeda urutannya..
1. masalah baptis GKI sidhi dan katolik serta sakramen ekaristi, seperti yang telah d katakan, baptisan bapak hai hai di akui namun masih ada yang kurang, yaitu sakramen (mungkin aku bukan anak teologi, tapi ini menurut iman katolik harus dipersiapkan untuk tiap sakramen dan ada urutannya: baptis–>komuni pertama) komuni(penerimaan Tubuh Kristus) haya dapat diterima setelah menempuh pendidikan, ujian, dan menerima sakramen komuni pertama yang nantinya saat perjamuan kudus/ekaristi, barulah dapat menerima Tubuh Kristus/Hosti Kudus. sehingga dari sisi bapak hai hai, bapak baptis diakui, namun belum pernah mengikuti komuni pertama.
2. persiapan menjelang penerimaan Tubuh Kristus/Hosti Kudus,
persiapan dari iman katolik, sakramen ekaristi untuk menerima Tubuh Kristus/Hosti Kudus, memang tak ada pengumuman 20 hari sebelumnya, dan tetap diadakan setiap minggunya. persiapan dilakukan jauh sebelumnya saat pendidikan komuni pertama, saat dididik itu lah anak-anak Diajarkan Untuk Bagaimana Mempersiapkan Diri Sendiri dan Kondisi Serta Syarat untuk Dapat Menerima Tubuh Kristus/Hosti Kudus… di sinilah menurut saya tak ada persiapan 20 hari namun seperti ada tertulis di kitab suci, kita tak pernah tahu kapan Tuhan datang, maka Berjaga-jagalah.. kita harus siap setiap saat, harus menjaga hati tiap saat, dan juga harus mawas dan sadar diri, bila kita memang tak layak, kita(aku) juga tidak akan mengambil Tubuh Kristus/Hosti Kudus meskipun sudah datang misa dan ikut ekaristi, saya tak ambil, demikian jugalah saya rasa umat katolik yang lain juga bertindak.
jadi pak hai hai, maaf, karena bapak hai hai mengikuti misa dan kebaktian(ibadah) secara katolik, mohon pengertiannya untuk mengikuti prosedur dan tahap yang ada.. saya juga kalau kebaktian ya ikut tahap yang ada di kebaktian, karena saya sadar di mana saya berada, dan bagaimana seharusnya kebaktian dari GKI dilangsungkan.
beda tempat beda cara meskipun tujuannya sama,
saya kalau mau ikut menerima Tubuh Kristus/Hosti Kudus dgn cara di gereja bapak ya berarti saya harus ikut dengan cara yang disana.
3. doa sebelum menerima, menyantap TUBUH Kristus / Komuni, dan berdoa setelah Komuni
sebelum umat katolik maju ke depan altar/hadapan pelayan misa/ekaristi, kita ada jeda yang diberikan untuk berdoa pak hai hai, jeda inilah yang di maksudkan (menurut saya ya pak, karena selama ini saya gunakan jeda itu untuk mempersiapkan hati dan pikran, akal dan budi sebelum bertemu Kristus dalam rupa Tubuh Kristus/Hosti Kudus di depan) untuk berdoa,
barulah setelah itu, kita maju dengan tangan terkatup dan menerima–seperti yang telah pak hai hai tulis tentang posisi tangan, lalu disantaplah di depan saat itu juga. *penjelasan mengapa sampai dicegat ada di bawah pak.. lalu setelah d santap di hadapan altar, kembali ke tempat masing-masing dan berdoa syukur, dan lainnya di tempat berlutut masing-masing.
jadi, kalau urutannya seperti ini pak hai hai tentang bila ingin berdoa sebelum menerima Tubuh Kristus/Hosti Kudus di kebaktian/misa katolik. mohon d mengerti 🙂
4. dicegat, ditahan, diminta untuk menyantap di tempat, dan ditanyakan apakah seorang katolik atau bukan..
pertama, Santapan Kudus ini begitu ajaib, dan hanya beberapa iman Kristen yang mengakuinya, merayakannya, dan menyantap Tubuh Kristus/Hosti Kudus.
kalau bapak hai hai juga mengakuinya, dan juga sudah belajar teology dengan baik dan benar, berarti bapak seharusnya tahu, iman Katolik sangat yakin dan meng-Amin-i kalau Hosti itu sendiri adalah benar-benar TUBUH KRISTUS dan Anggur Perjamuan adalah benar-benar DARAH KRISTUS.
dari putra altar sendiri, ataupun diri sendiri, saya mengasihi Kristus dengan segenap hati saya. saya tak mau Tubuh Nya yang suci diperlakukan dengan kotor, najis, tak terhormat dan jatuh ke tangan yang salah.. dulu ada beberapa kasus–mungkin tapi puji Tuhan belum pernah menemuinya secara langsung–yaitu Tubuh Kristus/Hosti Kudus yang suci itu dibawa pulang dan entah di perlakukan seperti apa oleh yang membawa-Nya pulang. Tubuh Kristus/Hosti Kudus di bawa dan d berikan pada orang yang belum pantas. Tubuh Kristus/Hosti Kudus di buang…
kalau bapak orang kristen sejati, apa tega melihat Tubuh Kristus yang kudus itu di nodai? apalagi sampai melakukan, yang untungnya bapak tak lakukan, yang bapak tulis tersebut? bapak hai hai bilang itu Hosti, bagiku itu adalah Tubuh Kristus sendiri… seandainya aku anak kecil aku hanya akan nangis, tapi karena aku juga sudah tumbuh dewasa, saya hanya bisa berdoa, berdoa aja semoga amarah dan murka Tuhan tak sampai pada siapapun..
makanya, sejak ada beberapa kasus, Tubuh Kristus/Hosti Kudus harus di santap di depan altar dan di dekat pelayan Ekaristi, bukan karena seperti metadon tadi, tapi demi rasa nyaman bersama, demi menjaga Tubuh Kristus/Hosti Kudus tetap berada di tangan yang tepat,
maaf mengganggu kekhusukan ibadah, mengganggu ketenangan batin saat berdoa pak hai hai. namun dari sisi tata cara ibadah katolik memang sudah seperti itu..
5. Bagi Pelayan Ekaristi dan Umat katolik sendiri,
saya juga pernah menjadi misdinar, saya belum pernah menghadapi situasi seperti itu, namun kurasa harus diatur sebuah cara menegur yang halus, sebuah cara menegur yang dapat mengetuk hati dan menyadarkan. takut juga sih dulu kalau harus menegur dan harus adu bicara, atau entah mau pukul-pukulan, d gereja, saat ibadah pula.. kan bukan seperti itu iman Kritisani yang baik..
Sekian tanggapan saya, Kita semua masih harus saling memahami, saling menghargai perbedaan pendapat, dan saling mengerti tempat masing-masing..
toh yang kita sembah sama, ajaran kasih sama, apakah harus menggunakan kata-kata kasar seperti ini? entah kalian ngaku Katolik atau Kristen, tolonglah saling mengerti, jangan juga seperti Fanatik yang anggap diri dan kepercayaan paling benar dan tak terbuka pada yang lain.. yakin yang kita percayai benar dengan yakin yang lain salah adalah hal yang berbeda pada koin yang sama,
silahkan tiap kita memilih, bijaksanalah dalam kasih.
tiap kita pasti pernah kecewa, tapi baiklah kita renungkan dan bawa tiap masalah ke hadapan Tuhan.
aku tak mengambil teology dan pintar,
hanya ingin damai antara kita, dan keterbukaan diantara kita..
Tuhan tak melihat agama kita, tapi melihat setiap niat hati kita, Dia menerbitkan matahari untuk orang yang jahat dan juga yang baik. apakah kita ini kok kita saling menghakimi.
Tuhan sertamu dan berkat serta kasih-Nya selalu menaungi kita semua..
Amin.
Nicolaus Alan C.