
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
makanya kalau anda perhatikan, kadang sebelum komuni ada pengumuman ‘yg boleh komuni hanya yg sudah dibaptis secara katholik’ … yg dimaksud baptis secara katholik itu bukan sekedar baptis saja, ada proses belajar dulu sebelumnya, kalau anda mengaku kuliah di atmajaya apalagi juga telah belajar teologi, harusnya anda sudah tahu.
nampaknya “Hai Hai Bengcu” hanyalah seorang P r o v o k a t o r – b e l a k a , yang mengaku-aku *hanya seorang Tionghoa Kristen* ……. tulisannya di atas justru mengungkapkan “Ke Tidak Kristen” annya sendiri ( setiap orang Kristen Menghormati hosti / roti yang telah diberkati sebagai “Tubuh KRISTUS” ) ……………… ALLAH Maha Memberi Petunjuk
semoga ROHULLAH menerangi hati & fikiran “Hai Hai Bengcu” , serta Menyalakan di dalamnya *Api Cinta Kasih YESUS KRISTUS* … Be Blessed , GOD Loves you
@eddy, Pada mulanya adalah gereja KRISTEN. Karena perbedaan doktrin “Maria Bunda Allah” dalam Konsili Efesus 431, pecah menjadi dua yaitu:
1. Gereja Kristen
2. Bidat Nestorius
Pada tahun 451, karena perbedaan doktrin Monofisit (Yesus memiliki satu hakekat yaitu: Ilahi) dan diofisit (yesus memiliki hakekat Allah dan manusia) melalui Konsili Khalsedon Gereja Kristen pecah menjadi dua yaitu:
1. Gereja Kristen = diofisit = Yesus memilik hakekat manusia dan Allah
2. Gereja monofisis
Pada tahun 1054, Gereja Kristen Karena masalah OTORITAS alias KeKUASAAN maka gereja pecah menjadi dua yaitu:
1. Gereja Katolik (Roma – bahasa latin)
2. Gereja Orthodox (Konstantinopel – bahasa Yunani)
Dalam perjalanan waktu ada sebagian gereja Orthodox yang keluar dari gereja Orthodox dan mengakui Kepausan Roma namun bertahan pada tata ibadah dan doktrinya sendiri. Gereja-gereja inilah yang kemudian di sebut Gereja Katolik TIMUR. Sehingga Gereja Katolik pun terdiri dari:
1. Gereja Katolik Barat – Bahasa Latin
2. gereja Katolik timur – bahasa Yunani dan tata ibadah OTONOM
pada tahun 1517 terjadi perpecahan Gereja Katolik Barat menjadi:
1. Gereja katolik
2. Gereja Protestan
Gereja Protestan itu terdiri dari:
1. Protestanisme
2. Anabaptis
3. Anglikanisme
Dalam perjalan waktu, Protestanisme pecah menjadi:
1. Protestanisme
2. Restorasionisme
Perlu anda ketahui bahwa pada mulanya. Perpecahan gereja itu disebut PENYESATAN. Meraka yang SESAT disebut BIDAT dan dianggap MUSUH yang akan DIBAKAR di Neraka serta harus DIBUNUH bila tidak mau BERTOBAT. Namun dalam perjalanan WAKTU, GEREJA-GEREJA yang BERMUSUHAN itu mulai BERDAMAI dan menyebut PERPECAHAN gereja sebagai SKISMA = PEMISAHAN. Gereja-gereja TIDAK menyebut gereja lainnya SESAT dan menganggap mereka BIDAT yang harus DIbINASAKAN.
Ada dua jenis gereja Timur yaitu:
1. Gereja Orthodox Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik
2. Gereja Katolik timur yang memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik
Gereja-gereja lain yang dimaksudkan dalam Kitab Hukum Kanonik Katolik 844 ayat 3 yang berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur adalah:
1. Protestanisme
2. Anglikanisme
Gereja ALIRAN Anabaptis dan Restorasionisme, awalnya tidak diakui berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur. Namun dalam pekembangannya kemudian diakui. Saya tidak mengikuti perkembanganya dan mpelajari dokumen-dokumennya. Namun ada yagn memberi tahu saya, gereja Katolik sudah mengadakan PERDAMAIAN alias mengakui gereja ALIRAN INJILI (evangelical) yang awalnya masuk dalam ALIRAN gereja Restorasionisme yang tadinya tidak diakui.
Karena PERPECAHAN gereja dianggap sebagai SKISMA alias PERPISAHAN, bukan PENYESATAN lagi maka gereja LAIN tidak disebut BIDAT dan dianggap MUSUH yang harus dimasukan ke Neraka lagi namun TUBUH Kristus lain. SATU TUBUH banyak ANGGOTA. Itu sebabnya anggota gereja lain yang mengikuti RITUAL gereja kita tidak DIANGGAP sebagai MUSUH yang MENCEMARKAN apalagi MENGHINA namuan SAUDARA yang KEMBALI.
Jadi, kisanak, terserah anda mau mengganggap orang Kisten yang ikut misa dan sakramen ekaristi sebagai BIDAT alias MUSUH yang NAJIS dan MENAJISKAN alias KAFIR atau saudara yang KEMBALI?
Cincin Uskup dan ajaran mencium Cincin uskup adalah ajaran Gereja Katolik yang jarang diajarkan itu sebabnya JARANG dipahami oleh orang AWAM meskipun dilakukan alias dijalankan.
Kisanak, dulu di jaman kegelapan, Gereja Katolik menganggap mereka yang TIDAK mengakui otoritas tahta apostolik dan menganut doktrin Katolik adalah orng MURTAD yang bila TIDAK mau kembali menjadi Katolik HARUS dipaksa dan bila tidak mempan DIPAKSA, harus DIBUnUH, digantung atau dIbAKAR atau DIPENGGAL. Pada zaman itu, MURTADIN yang ikut misa dan sakramen ekaristi dianggap MENAJISKAN dan MeNGHINA itu sebabnya dia harus DIBAKAR sampai mati.
Namun gereja Katolik suda LAMA mengubah pandangannya. Itu sebabnya perpecahan tidak disebut PENYESATAN lagi namun SKISME = PERPISAHAN. Dan orang-orang yang MEMISAHKAN diri tidak disebut BIDAT lagi namun diakui sebagai sesama tubuh Kristus. Itu sebabnya orang-orang Kristen yang ikut MISA dan sakramen ekaristi dianggap saudara yang KEMBALI, bukan orang KAFIR yang MENAJISKAN hosti.
Baptis dan sakramen penguatan adalah FILTER untuk MENYARING bahwa seseorang MENGERTI sakramen Ekaristi dan Memeiliki PENGETAHUAN akan ajaran Katolik yang dianutnya.
Jadi, kisanak, silahkan memilih untuk kembali ke jaman kegelapan yang menganggap semua non katolik adalah KAFIR yang harus BERTOBAT atau DIMUSNAHKAN atau hidup dengan pengertian bahwa meskipun tradisi dan RITUALNYA berbeda dan pemahamannya berbeda namun mereka adalah SESAMA TUBUH KRISTUS? Aku ra popo.
Wah panjangnya penjelasannya, makasih loh.
To cut is short right into the answer, maka kata pak Bengcu : “Cincin Uskup dan ajaran mencium Cincin uskup adalah ajaran Gereja Katolik yang jarang diajarkan itu sebabnya JARANG dipahami oleh orang AWAM meskipun dilakukan alias dijalankan.”
Kenapa jawabannya tidak meyakinkan sama sekali, saya kan bertanya ajaran Gereja atau Tradisi Suci atau ditambah Magisterium deh yang mengharuskan (baca lagi : MENGHARUSKAN) mencium cincin uskup. Jadi yang mana ajarannya, kalau Hukum Kanonik, yang nomor berapa ayat berapa?
Memang jarang diajarkan, tidak termasuk dalam materi katekumenat, tapi bukan berarti katekis tidak bisa sharing mengenai hal ini, jangan lupa katekis itu biasanya orang tua yang omongannya melindur keluar dari topik. Bisa jadi tema dan yang disampaikan tidak berhubungan. Kita sudah sama-sama lihat contohnya disini, hal yang biasa dilakukan orang tua 😀
Bagaimana dengan anda?? apakah sudah diterangi hatinya dengan Roh Allah dengan api cinta kasih yesus kristus (lebay-nya…)??
Lihatlah Om Bengcu, Dia mengolok orang, tapi sebelumnya ia menjelaskan dahulu KENAPA orang itu pantas diolok…
Jadi sebelum Anda memberi komentar / nasehat / harapan kepada PRIBADI Om Bengcu, sebaiknya Anda komentari dulu isi tulisannya… Nyatakan mana yang salah, lalu koreksi…
Jangan langsung menghakimi orangnya… God Loves people…
Cincin KAWIN istri adalah tanda ikatan dari suaminya. Cincin kawin suami adalah tanda ikatan dari istrinya. Cincin Uskup adalah tanda ikatan dari Kristus untuk mempelai-Nya yaitu seluruh umat Katolik keuskupan.
Cincin Uskup adalah tanda kehadiran Kristus. Mencium CINCIN Uskup, bukan menghormati Uskup namun menyatakan CINTA kepada Kristus yang MEMBERIKAN cincin itu. Itu sebabnya, yang harus DICIUM adalah CINCIN Uskup. Tidak boleh mencium jemari Uskup. Tidak boleh mencium lengan Uskup.
Apa yang dilakukan oleh romo dalam video tersebut? Dia memberi hormat kepada Uskup namun sama sekali tidak menaruh perhatian kepada CINCIN Uskup. Memberi hormat kepada Uskup namun tidak menaruh perhatian kepada cincin uskup berarti menghormati manusia namun mengabaikan Kristus. Menghormati manusia namun melecehkan Kristus.
Itu sebabnya dari bahasa tubuh uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang yang menunjukkan cincinnya dan mencium cincinnya lalu menunjuk dirinya, kita tahu bahwa dia sedang mengajari romo itu bahwa, yang harus dia lakukan adalah MENCIUM Cincin Uskup alias mencium Kristus bukan memberi hormat kepada Uskup (dirinya). Itu sebabnya tidak boleh memvonis Uskup gila hormat.
Tepukan uskup di bahu romo bukan pukulan. Tamparan Uskup kepada romo tidak cukup keras untuk menyakiti, itu sebabnya tidak boleh memvonis Uskup melakukan kekerasan. Uskup tidak sedang melampiaskan kemarahannya dengan MENGHAJAR namun menampar RINGAN untuk MENGAJARI anaknya yaitu romo.
Walaupun TIDAK bagi masyarakat belahan bumi yang lain, namun bagi masyarakat Kupang dan sekitarnya, tindakan Uskup itu bukan mempermalukan romo di depan umum namun MENDIDIK anaknya (romo) di hadapan anak-anaknya yang lain (romo-romo dan umat) dan bagi yang menonton VIDEO tersebut adegan di dalam video tersebut bukan PENGANIAYAAN namun adegan seorang bapak (uskup) mendidik anaknya (romo) di depan anak-anaknya yang lain (romo-romo dan umat). Itu sebabnya tidak boleh menuduh uskup bertindak tidak berperikemanusian juga tidak boleh memvonisnya tidak bermoral.
Kisanak, yang katolik itu anda bukan saya. Saya orang. Saya menunjukkan PINTU, anda sebagai ornag Katoliklah yang HARUS membuka pintunya dan mencari isinya kemudian mengajarkan kembali.
Hosti itu adalah TUBUH KRISTUS bukan sekedar roti biasa. Jadi anda bukan termasuk dalam persekutuan Gereja Katolik tidak layak untuk menerima itu karena anda tidak meyakini bahwa roti itu sudah berubah menjadi TUBUH KRISTUS.
@Erik, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa HOSTI adalah tubuh Kristus. Alkitab juga tidak pernah mengajarkan bahwa HOSTI berubah menjadi tubuh Yesus stelah dikuduskan oleh pastro. itu sebabnya saya tidak percaya DOKTRIN hosti berubah menjadi tubuh kristus setelah dikuduskan karena Alkitab tidak mengajarkannya juga karena FAKTA di lapangan.
SEmua orang yang MAKAN hosti tahu bahwa yang dimakannya TETAP hosti, tidak pernah BERUBAH menjadi DAGING. Kalaupun ada kesaksian hosti berubah menjadi DAGING dan anggur berubah menjadi darah, silahkan saja bawa ke LAB untuk diperiksa, itu JARINGAN manusia atau HEWAN? Kalau memang jarinan manusia, juga tidak sulit untuk menemukan FAKTA, itu jaringan dari TUBUH bagian mana? Juga tidak sulit untuk memeriksa DNA guna menemukan itu DAGING siapa?
Tentang IMAN hosti adalah tubuh Kristus? Ajarannya adalah ROTI BERUBAH menjadi DAGING setelah DIBERKATI. Bila dan TIDAK MELIHAT HOSTI berubah menjadi DAGING setelah diberkati namun MENGIMANINYA? mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, itu bukan IMAN namun PEMBOHONGAN PUBLIK dan pembohongan diri sendiri.
kisanak, sebaiknya anda MENGADAKAN SURVEY bertanya, dimulai dengan diri anda sendiri. Anda PERCAYA hosti berubah menjadi TUBUH Kristus setelah DIBERKATI? bila PERCAYA maka perlu DIUJI lagi apakah KEPERCAYAAN anda itu MENJADI KENYATAAN? bila TIDAK itu artinya IMAN ANDA tidak CUKUP BESAR untuk mengubah hosti menjadi DAGING.