Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. kisanak, yang pasang patung di tengah jalan Thamrin aja nggak gua marahin, masak yang pasang patung digerejanya dimarahin? imamnya bukan sodara gua. kenapa ikut campur? gua menghormati bunda Maria itu sebabnya tidak berani MEREPOTKAN dia dengan doa Maria. MENGANGGAP berarti bukan SEJATI, cuman DIANGGAP doang. Jadi kalau elu MENGGANGGAP diri lu Petrus pun gua gak keberatan. wong cuman MENGANGGAP kok? ha ha ha ha …

  2. @Guba, lu bloon ya? kenapa TANYA gua? kenapa lu nggak gogling aja sendiri? ha ha ha ha ha ….. Kenapa lu tanya gua, Apa yang dimaksud dengan kalimat “jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik”? Jangan tanya gua, bloon, Tanya Gereja Katolik. ha ha ha …

  3. Eddy, Permintaanmu DITOLAK mentah-mentah! Jagi gimana pandangan lu tentgang VIDEO tersebut? KATOLIK VS Katolik lho? ha ha ha ha …

  4. Hai Bengu, lha Elu yang bawa-bawa KHK, ya gw tanya apa maksudnya …
    Ternyata Bengcu hanya asal JEBLAK, bawa-bawa KHK tapi nggak tahu maksudnya ha ha ha ha … oon …

    OK selamat menggugat-gugat Bengcu … puas-pusasin dech ego kamu …

    Salam, Guba

  5. Wah jadi ngga ada nih video yang baik mengenai pendeta GKI, aneh juga ya selera koleksi video bapak. Atau memang sulit mencari hal baik tersebut?
    Komentar saya mengenai video uskup katolik tersebut : tidak ada aturan ataupun Tradisi suci untuk sungkem cium tangan uskup, jadi kalau sang uskup memaksa agar tangannya di cium berarti itu ajaran PRIBADI sang uskup, tidak ada kaitannya dengan iman Gereja, tidak ada katolik vs katolik dalam hal ini. Mari kita sama-sama menegur dan mengingatkan dia.

  6. Memang mungkin saudara beng cu secara pribadi menghormati hosti. Tapi dengan mengatakan ingin menginjak2 hosti tentu pemikiran logisnya adalah: seberapapun orang marah, seharusnya tidak pernah terlintas di dalam pikiran untuk menginjak2 Tuhan Yesus. Kalau sampai terlintas pikiran tersebut, tentu berarti hosti tersebut tidak mendapat tempat yang paling terhormat di dalam batin orang tersebut.

    Sdr Beng cu, sama seperti saudara yang ingin mengedukasi orang di dalam blog (ruang publik) ini, saya pun ingin mengedukasi orang-orang yang membaca blog ini bahwa demikianlah iman katolik. Kalau saudara membaca beberapa comment terhadap tulisan sdr ini, maka sdr pasti melihat ada beberapa comment yang tulisannya adalah: “itu kan hanya roti”. Nah, saya pun ingin mengedukasi pembaca blog ini agar memiliki penghormatan yang sama.

    Oleh karena itu di salah satu comment saya pada beberapa tulisan lainnya saya pun mengatakan: saya menghargai pemikiran sdr Beng Cu yang kritis dan selalu ingin belajar. Namun pilihan kata-kata sdr di dalam ruang publik ini bisa sangat merusak, baik persepsi orang Katolik terhadap agama sdr. Beng Cu, maupun orang non Katolik kepada iman Katolik. Apakah itu yang sdr Beng Cu kehendaki? Tidak usah dijawab di ruang ini. Cukup pribadi sdr sendiri yang mengetahui kebenarannya.

  7. @ eddy, tidak ada keharusn bagi GKI untuk merekam kejadian baik tersebut. Kenapa anda tidak ke GKI saja untuk membuktikannya? Datangkah ke ke GKI dan bila pendeta bertanya, “apakah anda percaya Yesus adalah Juru Selamat?” dan anda menjawab, “tunggu saya mau berdoa dahulu ya di bangku selama 5 menit” maka pendeta GKI itu bukan hanya akan mengizinkan namun mendampingi anda berdoa dan anggota jemaat yang lain tidak akan keberatan.

    Kisanak, tindakan MAKSA.com anda minta VIDEO itu meskipun mengada-ada itu namun LUCU sekali. ha ha ha ha …

    Eddy: Komentar saya mengenai video uskup katolik tersebut: tidak ada aturan ataupun Tradisi suci untuk sungkem cium tangan uskup, jadi kalau sang uskup memaksa agar tangannya di cium berarti itu ajaran PRIBADI sang uskup, tidak ada kaitannya dengan iman Gereja,

    Kisanak, BELAJAR tanpa BERPIKIR itu SIA-SIA namun BERPIKIR tanpa BELAJAR itu BERBAHAYA. Anda bukan hanya tidak BELAJAR namun juga TIDAK BERPIKIR. Itu sbabnya selain SIA-SIA juga BERBAHAYA. Ha ha ha ha ….. Masak anda orang KATOLIK nggak NGERTI tradisi MENCIUM CINCIN USKUP? Masak anda bilang yang di video itu TRADISI mencium TANGAN Uskup ajaran pribadi Uskup? Ha ha ha ha …. BELAJAR dulu nak. SEtelah PAHAM baru NGEJEBLAK. Ha ha ha ha ha …. Anda mau diajari tentang Tradisi mencium CINCIN Uskup oleh hai hai yang GKI? ha ha ha ha ….

    Kisanak, jangan jadi FRONT PEMBELA KATOLIK dong. main CUCI TANGAN itu hanya OKNUM, bukan TRADISI KAtolik. Ha ha ha ha ha …. Cara demikian namanya cara LICIK cuci tangan dengan PENGECUT. Ha ha ha ha ha …

  8. @Rowena, buktinya saya MARAH dan pikiran itu MUNCUL. Seperti umat KAtolik, anggota GKI pun bebas untuk MEYAKINI imannya masing-masing. Ada yang meyakini ajaran HOSTI yang telah dikuduskan BERUBAH menjadi Tubuh Kristus ada yang percaya Hosti hanya SIMBOL dari tubuh Yesus.

    Saya tidak meyakini kedua ajaran demikian. Saya percaya anggur dan HOSTI hanya MAKANAN untuk Perjamuan Kristus dan mempelainya. Yang paling penting di dalam PERJAMUAN bukan makanan dan minumannya namun SIKAP HATI orang-orang yang terlibat di dalamnya.

    Anda mau bilang, IMAN Katolik adalah meyakini hosti BERUBAH menjadi TUBUH Kristus setelah DIKUDUSKAN? Izinkan saya memberitahu anda bahwa hal itu MEMANG DIAJARKAN namun TIDAK diyakini oleh SEMUA umat Katolik dan Kristen.

    Bahasa Indonesia RUSAK karena orang-orang SOK PINTAR yang mengajarkan ini KATA kasar yang tIDAK sesuai IMAN KATOLIK, tidak boleh diucapkan. Orang baik-baik harus mengucapkan kata-kata sopan yang mencermintan iman Katolik. Itu sebabnya kata KONTOL dihujat karena kata sopan untuk KONTOL adalah PENIS. kata MEMEK itu tidak mencerminkan iman Katolik makanya harus gunakan kata VAGINA.

    Kisanak, sebagai salah satu orang yang mencintai bahasa Indonesia. Saya turut b Anerjuang dengan para pecinta lainnya agar MEMPERTAHANKAN bahasa Indonesia sebagai BAHASA alias ALAT KOMUNIKASI bukan STANDAR ETIKA apalagi STANDAR IMAN KATOLIK. Saat ini di kamus tercatat: KOnTOL = Kemaluan lelaki; zakar. Anda mau agar Kamus mencatat: KONTOL = kemaluan lelali; zakar – kata ini tidak mencerminkan iman Katolik, jangan diucapkan gunakan saja kata PENIS?

    Saya tidak minta anda SEPAKAT dngan saya. Jadi mari kita TEPA SELIRA = Satu tubuh banyak anggota. Jadi, jangan mencoba MEMAKSA lobang pantat bertindak seperti lobang mulut. biarkan saja lobang pantat kentut dan berak. biarkan lobang pantat mengeluarkan yang baunya BUSUK sedangkan mulut memasukkan bau yang harum.

    Jangan buang WAKTU percuma dngan MENGHARUSKAN orang lain tidak BOLEH pakai KATA ini dan HARUS pakai KATA itu.

    Bodoh = daya pikirnya lambat dan tidak berpengetahuan
    TOLOL = perbuatan bodoh = perbuatan tanpa pengetahuan
    GOBLOK = perbuatan bodoh JAUh di bawah KUALIFIKASINYA

    MENUDUH seseorang BODOH berarti MEmvonis PRIBADINYA. MENUDUH seseorang TOLOL dan GOBLOK berarti menghakimi PERBUATANNYA bukan PRIBADINYA.

    nah, jadi kisanak, Yang hai hai lakukan adalah MENGHAKIMI perbuatan Suster dan misdinar itu, BUKAN menghakimi PRIBADINYA. Pengertian anda bahwa TOLOL dan GOBLOK menghakimi PRIBADI ngaco-belo. anda tidak paham bahasa Indonesia dengan baik meskipun berbicara bahasa Indonesia.

    Anda mau menilai kata-kata KASAR? Cobalah anda nonton Video ini.

    Atas kejadian dala video tersebut, 59 orang IMAM dan BIARAWATI membentuk GERAKAN Kita adalah gereja MENGIRIM surat TERBUKA ke Yang Mulia Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Ignatius Suharyo Yang Mulia Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipaz Di – Jakarta, dan menghujat Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang TIDAK BERMORAL dan TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN dan sebutan lainnya di bawah ini. Apa pendapat anda? Kenapat tidak ada orang Katolik yang bangkit MEMBELA Uskup Agung-nya?

    1. tak berperikemanusiaan
    2. tak bermoral
    3. anarkis
    4. kriminal
    5. kekerasan
    6. melecehkan
    7. picik
    8. arogan
    9. otoriter
    10. feodal
    11. tercela
    12. preman
    13. militer
    14. mafia
    15. memalukan
    16. tidak etis
    17. tidak terpuji

  9. Tolong saya jangan ditertawakan pak, ini saya masih berminat belajar loh.
    Kalau topik awalnya sudah bergeser dari keinginan diijinkan (permisif) menjadi video uskup kupang ya apa mau dikata. Boleh tolong diajarkan pak Bengcu dari GKI mengenai ajaran Gereja Katolik ataupun Tradisi Suci mengenai keharusan mencium tangan ataupun cincin keuskupan.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.