Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. Tidak ada yg salah dengan tulisan blog ini, namanya juga org curhat. kenapa pada ribut?
    @bongcu: katolik mmg saklek, jadi yaa harap maklum 🙂

  2. om bales blognya ke siapa yah? saya bukan shiane_yoe, atau memang om salah balas? tlg dijawab om pertanyaan saya, apa om memang beragama katolik?

  3. @kimie, anggap saja anda benar. Tidak ada yang KALAP. cuman khilaf ya? Kisanak, anda tahu apa itu CINCIN Uskup? Anda pasti tidak tahu, jadi, baiklah saya share sedikit pengetahuan yang saya terima beberapa orang romo guru saya dulu. Semoga ini berguna bagi anda dan semoga setelah anda memahaminya lalu menceritakannya kepada umat Katolik yang lain agar bisa menghakimi Mrg Turang dengan ADIL.

    Cincin Uskup adalah TANDA IKATAN antara KEUSKUPAN (seluruh umat Katolik dalam keuskupan) dengan Kristus. Semua Umat Katolik dalam suatu keuskupan adalah MEMPELAI Kristus dan CINCIN Uskup adalah TANDA IKATAN dari Kristus bagi mempelainya.

    Mencium CINCIN uskup, yang harus dicium adalah CINCIN-nya. TIDAK boleh mencium TANGAN atau jari si USKUP.

    Mencium CINCIN uskup bukan untuk MENGHORMATI Uskup namun MENYATAKAN cinta kepada Kristus yang EMPUNYA cincin. Yang MEMBERIKAN cincin itu sebagai ikatan kepada MEMPELAINYA (seluruh umat Katolik dalam keuskupan) .

    Ketika mencium CINCIN uskup umat Katolik melakukannya dengan menekuk satu lutut atau sambil berdiri membungkuk. Tindakan demikian BUKAN untuk menghormati USKUP namun menghormati Kristus. CINCIN USKUP yaitu Tanda IKATAN dari Kristus adalah TANDA kehadiran Kristus itu sendiri adalah KRISTUS itu sendiri.

    Coba anda nonton video tersebut dengan teliti dan hati-hati. Apa yang dilakukan oleh Romo Yohanes Subani, imam projo dari Keuskupan Atambua yang bertugas sebagai pengajar dan pendidik di Seminari Tinggi Santu Mikhael di Kupang? Yang dia lakukan adalah MENYALAMI uskup dan MEMBERI hormat kepada Uskup.

    Kenapa Uskup Marah? Uskup marah karena Romo MENGHORMATI Uskup namun MENGABAIKAN CINCIN uskup. Menghormati Uskup namun mengabaikan cincin uskup sama dengan MENGABAIKAN Kristus itu sendiri. Menghormati Uskup namun mengabaikan MENGABAIKAN Kristus melecehkan Kristus.

    Coba anda nonton kembali video tersebut dengan teliti dan hati-hati. Sayang kita tidak tahu apa yang dikatakan oleh Uskup kepara Romo. Namun dari gerakan tangan dan mimik Uskup kita bisa menyimpulkan KEMUNGKINAN BESAR, Uskup memarahi romo karena nggak ngerti tradisi mencium cincin uskup. Romo itu dimarahi karena alih-alih MENCIUM Kristus dia justru MEMBERI hormat kepada Uskup. Menegor romo itu bahwa yang HARUS dilakukannya adalah MENCIUM Kristus bukan memberi hormat kepada Uskup.

    Kalau Uskup itu memang AROGAN dan GILA hormat, kenapa setelah menegor dia MENYInGKIR. Kalau arogan dan gila hormat, dia pasti MEMAKSA romo itu MENGHORMATINYA dengan BENAR, bukan?

    Nah, kisanak, bukankah Yesus mengajarkan agar “JANGAN MENGADILI berdasarkan yang KELIHATAN namun ADILILAH dengan ADIL”?

    silahkan nonton video tersebut lagi dan ADILILAH dengan ADIL!

  4. kembali lagi ko, anda yg memberikan blog mengenai belajar dari alkitab, maka saya berusaha mencari jawabannya pada anda ko, bahkan saya sdh mencoba bertanya pada seluruh teman, keluarga dan kakak saya yg kebetulan baru lulus sidi gereja HKBP, kalau blh utk meyakinkan dr statement anda, lbih enak kalau ko mencantumkan juga buktinya, krn itu saya bertanya ko.

    mksud saya membahas mengenai kata-kata sopan krn statement ko yg bilang “Kisanak, BAHASA indonesia tidak ada KASTA. Itu sebabnya hanya orang-orang SOK SALEH dan SOK TAHU serta nggak CERDAS yang bilang TOLOL adalah kata yang tidak SOPAN dan KONTOL adalah prnografi. anda pasti orang yang menggap KONTOL porno itu sebabnya menggantinya dengan PENIS, bukan? Ha ha ha ha …. Sejak kapan PENIS sopan dan KONTOL tidak sopan? SEJAK otak KOSONG anda DIISI ajaran TOLOL demikian, bukan?”

    Bukan dengan tujuan untuk mengatak ko itu adalah anjing, Kalau kata ko “Orang tolol mencela yang tidak menghormatinya tidak bijaksana agar dihormati.” bgmn bisa? org tolol berarti tidak mungkin bisa berpikir, bagaimana org itu dapat mencela jika mrka bahkan tdk bisa berpikir?

    Ko, kita sama-sama mencoba utk belajar alkitab, kalau memang ko merasa benar, cb kok tanyakan lagi pada Tuhan, ko adalah org kristen, apa ko sdh lahir baru? coba tanyakan kepada Tuhan ttg kejadian saat itu? Lalu apa ko sudah tenang?

    Terima Kasih. Gbu and fam.

  5. @Beatrix Adinda, anda benar. masalahnya memang SEDERHANA. Saya tidak tahu apa alasannya, mungkin karena menilai penampilan hai hai tidak KATOLIK maka misdinar BEREAKSI lebai. MOTIVASINYA benar mencegah pencemaran hosti namun TInDAKANnYA SALAH. makanya hai hai memvonis TINDAKAN-nya TOLOL namun tidak menyalahkan MOTIVASINYA.

    Suster MENOLAK permintaan hai hai untuk berdoa dulu sebelum makan hosti dengan menuduh hai hai NON KATOLIK. Motivasinya benar untuk mencegah pencemaran hosti namun PERBUATANNYA MENUDUH hai hai SALAH. Itu sebabnya hai hai memvonis PERBUATANNYA goblok namun tidak menyalahkan motivasinya.

    hai hai NGAMuK dalam PERASAAN dan PEMIKIRAN karena merasa perjamuan EKARISTI-nya DICEMARKAN. hai hai KALAP dalam PIKIRAN karena merasa IBADAHNYA dicemarkan. Dengan MENCERITAKANNYA apa adanya saya memberi tahu PEMBACA bahwa hai hai bukan DEWA. Dia manusia BIASA.

    Tidak ada KERIBUTAN karena hai hai menawarkan untuk mengembalikan hosti dan suster menerima tawaran tersebut. TIDAK ada keributan sama sekali. anda boleh bertanya kepada kedua mempalai, kepada romo yang memimpin misa. Kepada yang hadir saat itu.

    Kita beruntung. TIDAK terjadi KERIBUTAN. Namun bacalah dengan TELITI dan HATI-HATI. Sebetulnya Kejadian tersebut menyimpan POTENSI KERIBUTAN yang MENGERIKAN sekali. Apa jadinya kalau hai hai melakukan yagn terlintas dalam pikirannya? apa jadinya kalau hai hai kekeh jumekeh BERJALAN ke bangku untuk BERDOA dan misdinar dan suster MENERIAKI hai hai “BUKAN KATOLIK?” Apa jadinya kalau suster dan misdinar BERUSAH merebut HOSTI sementara hai hai MELAWAN?

    Itu sebabnya sudah saya katakan, tujuan saya menulis bukan untuk melampiaskan kemarahan namun memperingatakn AGAR Kejadian demikian TIDAK terjadi lagi di masa yang akan datang.

    Kalau tujuan hai hai membesar-besarkan masalah ini, untuk apa dia MENCERITAKAN isi pikiran jahatnya? Untuk apa dia mengaku bukan Katolik? bukankah dengan menyembunyikan kedua fakta itu hai hai akan dianggap KORBAN misdinar AROGAN dan SUSTER AROGAN? Bukankah itu yang terjadi pada Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang? Dia DIHUJAT arogan, FEODAL, GILA HORMAT, tidak berperikemanusiaan, tidak etis, mempermalukan gereja dan umat Katolik? Oh ya, anda salah satu yang menghujat beliau? Ketahuilah, Mgr Turang orang yang TEGAS dan KERAS namun tidak jahat apalagi gila hormat. Dia adalah KORBAN. Korban Front Pembela Katolik. Semoga Allah senantiasa besertanya dan membalas kebaikannya kepada orang-orang yang mengorbankannya dan menghujatnya.

  6. eh? piye iki jadinya kok malahan bahas video sih? doh om bengcu mau bahas apaan sih sebenernya? kok bahasnya dilebar-lebarin kemana-mana sih? fokus dong om. jadinya om berani ga ke romo buat nanyain isi blog ini bener apa ga?

    gue sih ga mau bahas tuh video ya, karena gue ga mau mengira-ngira ato menerka-nerka kenapa mgr turang begitu. lah wong videonya bisu deh. kagak ada suaranya. mana gue tau dia ngomong apaan. gue sih ga mau karena cuma liat mimik muka lalu langsung gue simpulkan gitu. lagian di atas juga lu ngomongnya kan masih kemungkinan besar (pake di-caps lock pula). nah kalo gitu kan jadi masih kemungkinan toh? belom tentu bener toh? jadi masih cuma penilaian dari lu aj kan?

    om bengcu, kok komen saya yang di bawah ga dibales? om beneran belajar teologi di atma ga? lalu angkatan berapa? lulus jadi sarjana teologi ga? gue juga penasaran nih, siapa sih romo yang selalu lu bilang kalo dia jadi pengajar lu? kasi tau nama lengkap sama ordonya juga dong.

  7. Iya juga ya? kalau begitu sya ralat dech. Front pembela Katolik tidak buta.

    @kimie, saya kuliah di Atma Jaya tahun 1984, Fakultas Ekonomi. Di sana ada romo Broto dan romo Tarigan. Awalnya saya banyak belajar dari romo Broto. Lewat romo Broto kemudian saya mengenal Mgr Leo Sukoto. suatu hari ketika mengunjungi Mgr Leo, saya bertemu dengan Uskup Bello. Sistem belajar saya adalah saya bertanya, kemudian di suruh baca buku. Setelah baca buku diajak diskusi. Juga saya disuruh baca buku anu, anu dan anu kemudian diajak diskusi. Jadi, saya tidak menyatakan pernah kuliah teologi namun menyaakan belajar AJARAN KATOLIK.

  8. Intinya, Hosti hanya boleh makan ditempat pak Bengcu, maka nya situ ketahuan kalau bukan Katolik, karena Hosti itu adalah “Tubuh Kristus” tidak boleh sembarang2 memperlakukan hosti, sekaligus “dibawa2” apalagi dikantongi, meskipun scara fisik sampai hancur, kotor, keinjak2, itu masih tetap “Tubuh Kristus”

  9. Front Pembela Katolik. Itu sebabnya saya mengajak mereka ketemuan di Kebaktian Bagimu Negeri bersama GKI Yasmin dan HAKBP Filadelfia di depan istana tangal 7 Desember 2014 jam 13.00-15.00 WIB dengan harapan mereka bisa IKUT BERJUANG mendukung pembangunan Gereja Katolik St. Stanislaus Kostka Kalamiring Kranggan Jatisampurna dan gereja Damai Kristus di Tambora juga Paroki St Bernadette yang DITEROR melulu.

    Asyik kan kalau mereka yang GAGAH PERKASA itu ikut menggugat Presiden untuk MENEGAKKAN Hukum dan HAM seta TOLERANSI beragama di Indonesia dan MENJAGA keamanan ketiga gereja Katolik itu dari TEROR dan SERANGAN yang membabibuta?

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.