Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. @Beatrix Adinda

    Terima Kasih anda sudah berhati besar untuk minta maaf. tapi saya lihat diatas masih ada sedikit kekecewaan anda dan ke egoan anda mengenai sikap bengcu. Namun saya pribadi sebagai manusia biasa merasa tindakan anda sudah cukup baik dengan mengklarifikasi masalah ini disini dan mau minta maaf(walaupun mungkin menurut saya tidak sepenuh hati, ayo usaha terus untuk sampai sepenuh hati).

    Saudara BENGCU, anda jg JELAS2 tidak tepat dalam menulis blog ini, jika anda memang ingin belajar Ke Illahian, bisa dimulai dgn memaafkan dan menyudahi jg masalah ini. Tidak ada gunanya panjang2 atau menang kalah, semuanya hanya di dunia ini yg sifatnya sementara.

    Dan bagi yg lain2 menurut saya ga usah lagi ikut campur. Kita semua jg masih harus belajar jauh, karena kita semua masih sangat sangat sangat jauh dan tidak layak dibilang mengerti apa itu ke Illahian. Kita belum apa2, kita bukan siapa2, kita jg bukan apa2. Maka itu kita tidak layak menghina org lain, memaki org lain, menghakimi atau bahkan menuduh org lain karena kita belum tentu lebih baik dan lebih mengerti dari orang2 yg kita hina dan hakimi.
    Dan TOLONG jangan memberhalakan AGAMA dan MEKANISME2NYA.

    Agama dan ajaran untuk dimengerti BUKAN untuk dijadikan kebiasaan atau kecanduan atau dipuja2 disembah2 layaknya berhala.

  2. @Budi, Saya menceritakan pengalaman saya dan perasaan saya ketika mengalami kejadian tersebut, apa adanya. Tanpa menutup-nutupinya. apa yang anda lihat? Misdinar yang LEBAI dan suster yang TIDAK BIJAKSANA serta hai hai yang MARAH. Kalau saya menutupi FAKTA bahwa hai hai non Katolik, maka Kejadiannya akan sama seperti kisah Uskup Mgr Petrus Turang menampar Romo Yohanes Subani. misdinar dan suster itu akan DIHUJAT arogan dan sebagainya dan sebagainya.

    Itulah yang saya lakukan bila saya mau balas dendam. Namun saya tidak melakukan hal demikian. Karena yang saya inginkan adalah semua orang yang MEMBACA kisah tersebut MENYADARI bahwa hal yang LEBIH BURUK bisa terjadi. Itu sebabnya mari kita ramai-ramai MENCARI cara agar hal buruk itu tidak terjadi.

    Apakah saya hanya MEnYALAHAN misdinar dan suster itu saja dan membenarkan diri? TIDAK! Itu sebabnya saya ungkapkan perasaan saya dan pikiran saya ketika mengalaminya sehingga saya kemudian tersadar.

    Benarkah tuduhan hai hai datang untuk mengacau? Anda boleh bertanya kepada orang-orang yang HADIR dalam ibadah tersebut. Apakah terjadi KERIBUTAN ketika peristiwa berlangsung? TIDAK ADA. apakah hai hai BERTERIAK MARAH? tidak ada yang saling teriak kecuali suster yang berkata cukup KERAS menuduh hai hai bukan Katolik.

    Kisanak, sebetulnya saya merasa AIR SUSU dibalas dengan AIR TUBA. Saya menulis dengan TUJUAN baik untuk KEBAIKAN gereja Katolik agar TIDAK ada MISA yang menjadi KACAU karena Misdinar bertindak LEBAY dan pelayan ekaristi tidak bijaksana di masa yang akan datang. Agar umat Katolik mulai memikirkan cara yang lebih baik lagi bila tujuannya hanya MENCEGAH pencemaran hosti. Karena cara yang ada sekarang bisa mengacukan misa.

    Kejadian ini menyadarkan saya akan keberadaan FRONT PEMBELA KATOLIK yang selama ini menjadi API di dalam SEKAM. Ada KEBENCIAN yang

  3. Komen orang2 Katolik koq memalukan,saya justru merasa dihargai ..om bengcu yg GKI mau merayakan Ekaristi di Gereja Katolik.Om Bengcu emang agak nyeleneh. Cuma masalah salah paham semata.Suster dan misdinar cuma menjalankan tugas,mereka tidak bisa melihat kerinduan om Bengcu untuk menerima Tubuh Kristus.

  4. @lala, Saya senang sekali bila ternyata selama ini saya salah sangka dan salah informasi. Romo Broto yang saya maksudkan adalah romo Broto yang tahun 1984 menjadi Romo Unika Atma Jaya Jakarta. Saya menyangka dia sudah meninggal karena ketika mencari informasi tentangnya beberapa tahun yang lalu diberi tahu bahwa dia telah meninggal. Saya minta maaf karena salah sangka romo Broto sudah meninggal. Romo Broto, mohon maaf. Rahayu. Semoga Allah senantia besertamu.

    Kitab Hukum Kanonik Katolik Kan. 844 § 3:
    Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

    Nona, Dalam kejadian tersebut. saya ikut misa dan mengambil Sakramen ekaristi dengan KESADARAN untuk mendukung pernikahan sahabat saya. Bukan karena celamitan. Saya ikut sakramen ekaristi dengan PENGETAHUAN bahwa Gereja Katolik mengizinkan orang Kristen ikut sakramen ekaristi. Tersebut di atas adalah Pasal 844 ayat 3 Kitab HUKUM KANONIK KATOLIK yang selama ini menjadi dasar pengetahuan saya.

    Perlu anda ketahui, bahwa SELAMA ini saya bukan orang Kristen yang ikut misa dan ambil hosti karena CELAMITAN apalagi untuk menghina orang Katolik. Saya ikut misa dan sakramen ekaristi untuk BERIBADAH. Itu sebabnya saya TERLENA dan LEBAI ketika MERASA KEKUDUSAN ibadah saya DIGANGGU dengan semena-mena oleh misdinar itu.

    Sekali lagi saya katakan, saya tidak ikut Misa dan sakramen ekaristi untuk MENGHINA namun untuk BERIBADAH. Itu sebabnya apabila ikut misa dan sakramen ekaristi membuat orang Katolik tidak HAPPY, maka saya telah MEMUTUSKAN untuk tidak akan ikut misa lagi lagi sampai masalah ini menjadi GAMBLANG bagi umat Katolik bahwa orang GKI boleh ikut misa dan sakramen ekaristi.

    Secara pribadi, saya minta maaf, bila kejadian ini membuat anda SEBAL. Saya minta maaf bila cara saya menceritakan pengalaman saya dan pikiran serta perasaan saya ketika mengalaminya, membuat anda kesal.

  5. Eh bengcu dan rekan yg mau alamat kami,kami di NIOBEWA desa LENANDARETA,SIKKA Flores NTT,dan alamat perantauan kami dijkt di Muara Baru dan Luar Batang penjaringan jak ut,kalian berdua dmn n bs ketemu dimana? Asal kalian tahu PENISTAAN thd Hosti yg SAKRAl,KUDUS,dan AGUNG dgn cara hendak diinjak2 adalah NYAWA TARUHANNYA,kalian tahu itu?kalian dari golongan dan agama manapun,jangan kata hanya kalian berdua,kami tdk bs tolerir klo memang demikian tindakannya?eh beng cu alamat dan identitas kamu sdh sy ketahui,sangat mudah koq,kamu pasti teman dr mempelai,hayo tunjukkan jati dirimu ,gentlemen,jgn hny berani omong diblog

  6. Kitab Hukum Kanonik Katolik Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

    @Yohanes, saya ikut misa dan sakramen ekaristi untuk MENDUKUNG pernikahan sahabat saya. Saya ikut sakramen ekaristi dengan KESADARAN dan PENGETAHUAN bahwa orang GKI boleh ikut misa dan sakramen ekaristi. Selama ini saya belum pernah ketemu orang Katolik yang menyatakan keberatan saya ikut misa dan sakramen ekaristi. Kalau saya TAHU ada bagitu banyak orang KATOLIK yang tidak SUKA saya ikut misa dan sakramen ekaristi. MUSTAHIL saya MAKSA ikut misa dan sakramen ekaristi.

    Itu sebabnya setelah tahu banyak orang Katolik yang TIDAK suka saya ikut Misa dan sakaramen ekaristi maka saya TIDAK akan ikut Misa dan sakramen ekaristi lagi. Saya ikut misa dan sakramen ekaristi untuk BERIBADAH bukan untuk bikin orang KESAL apalagi membuat orang merasa TERHINA.

    Dalam kejadian tersebut saya merayakan sakramen ekaristi biasa saja. Menerima hosti bergeser ke kanan satu langkah. saat teduh lalu makan. Kembali ke bangku. mengucapkan doa syukur dan melanjutkan misa. Namun, tidak berjalan seperti biasanya karena misdinar itu bertindak lebay. tindakan misdinar yang lebay itulah yang menyebabkan saya MERASA perlu berdoa dulu sebelum makan hosti. Kenapa saya perlu berdoa? Karena saya BENAR-BENAR MARAH itu sebabnya menganggap tindakan misdinar itu TOLOL. Saya perlu berdoa karena makan hosti dengan hati penuh amarah adalah pencemaran.

    Ketika suster menolak permintaan izin saya untuk berdoa dulu sebelum makan hosti dan berteriak menuduh saya bon Katolik. Hati saya dipenuhi kemarahan dan muncul pikiran jahat untuk meremas hosti dan menginjaknya kemudian mengebaskan debu di kaki saya. Itu sebabnya saya menyebut perbuatan suster itu GOBLOK. Namun semua itu hanya ada di pikiran saya. Tidak saya ucapkan sama sekali apa lagi saya lakukan. Itu sebabnya Ketika suster menolak permintaan saya untuk berdoa dulu sebelum makan hosti dan minta saya LANGSUNG makan hosti, saya menawarkan untuk mengembalikan hosti. Tawaran saya diterima, hosti saya kembalikan.

    Jadi, kisanak, itulah kejadiannya. Anda boleh menyalahkan hai hai. semua umat Katolik boleh menyalahkan hai hai. namun faktanya itulah KEJADIANNYA. misdinar itu sudah melakukan yang dia lakukan. suster sudah melakukan yang dia lakukan. hai hai sudah merasa MARAH bahkan hampir KALAP. Menyalahkan hai hai tidak bisa MENGUBAH apa yang sudah terjaadi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah MEMIKIRKAN cara agar kejadian demikain dan yang lebih buruk lagi TIDAK terjadi lagi di masa yang akan datang.

  7. untuk yang katanya pengikut tuhan yang dengan mudah nyabmenghakimi orang yg melayani dengan kata tolol dan goblok.
    kalau sudah pernah belajar ttg katolik, you should know: hosti di perjamuan itu sangat orang katolik hormati. itu adalah lambang kristus.
    katolik cuma ada satu dan apostolik.
    sejak kapan hosti boleh dibawa2 se enak jidat? apalagi sampai dibawa ke kursi.

    kalau mau menikmati atau enjoy seperti pakai metadon, di gereja sendiri aja. atau bikin gereja sendiri. kan gampang sekarang bikin gereja diluar katolik.

    kalau mau protes, sebaiknya pelajari dulu. yang ada mempermalukan diri sendiri.

    kristiani baik katolik atau protestan adalah kristus, dan mencerminkan prilaku cinta nya.

    saya curiga penulis ini bukan orang kristiani.

    mungkin penulis ingin menceraikan dan mengadu domba umat kristinani.

    patut di ingat, Gereja katolik berdiri seperti batu karang.
    apabila penulis hendak bertukar pikiran, mohon comment ini dengan menyertakan contact anda untuk berdiskusi.

  8. @Yohanes, apa yang ingin anda lakukan bila ketemu hai hai? Kisanak, ketahuilah bahwa hai hai adalah orang Kristen. Saya ikut misa dan sakremen ekaristi bukan untuk senang-senang apalagi untuk menghina umat Katolik namun untuk BERIBADAH. Saya ikut misa dan sakramen ekaristi karena menganggap umat Kristen dan Katolik adalah sama-sama murid Kristus dan gereja GKI dan Katolik adalah sama-sama gereja Kristus.

    Kitab Hukum Kanonik Katolik Kan. 844 § 3:
    Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

    Selama ini saya ikut misa dan sakramen ekaristi karena KESADARAN dan PENGETAHUAN bahwa orang GKI boleh ikut misa dan sakramen ekaristi. Dan selama ini belum ada satu pun teman katolik saya dan romo kenalan saya yang MENYATAKAN melarang saya ikut MISA dan sakramen ekaristi.

    Kalau TAHU begitu banyak orang Katolik yang tidak suka saya ikut misa dan ekaristi, MUSTAHIL selama ini saya ikut misa dan sakramen ekaristi. setelah tahu ada orang Katolik yang TIDAK suka saya ikut misa dan sakramen ekaristi, saya TIDAK ikut misa dan sakramen ekaristi lagi sampai Geereja Katolik menyatakn secara gamblang bahwa orang Kristen boleh ikut misa dan sakramen ekaristi dan umat Katolik memahaminya.

    Jadi apa mau anda? Anda mau melarang saya BERPIKIR dan MENILAI tindakan misdinar mengganggu saya itu TOLOL? sudah kejadian nak. Nggak bisa dicegah lagi. Anda mau melarang saya BERPIKIR dan MENILAI perbuatan suster menolak keingan saya berdoa dulu sebelum makan hosti dengan meneriaki saya bukan Katolik itu GOBLOK? sudah kejadian nak. Nggak bisa dicegah lagi. anda mau melarang saya berpikir untuk meremas hosti dan menginjaknya kemudian mengebaskan debu untuk melampiaskan kemarahan saya? Maaf, bang. Sudah kejadian. nggak bisa dicegah lagi.

    Itu sebabnya, kisanak, saya menceritakan PENGALAMAN saya dan PERASAAN seta PIKIRAN saya ketika mengalaminya apa adanya. Agar kita BERSAMA-SAMA menjadikannya PERINGATAN agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Kalau anda mau bertemu saya UNTUK mencari CARA agar hal demikian atau yang lebih buruk lagi tidak terjadi. Saya akan senang sekali menemui anda di mall, di kantor polisi di gereja katolik di ujung gang. di pos kamling. mari.

    Ketahuilah bahwa saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan atau menghina gereja Katolik namun karena kecintaan kepada gereja Katolik sebagai gereja Kristus. Saya menulis blog ini bukan menghina umat Katolik namun karena kecintaan saya kepada umat Katolik sebagai sesama murid Kristus

    Kisanak, ketahuilah di dalam kejadin tersebut. Saya tidak mencemarkan misa juga tidak mencemarkan sakramen ekaristi juga tidak mencemarkan hosti. misdinar dan suster itu adalah SAKSTI saya tidak melakukan PENCEMARAN hosti. Jadi jangan perlakukan saya sebagi MUSUH nak. Anda SALAH kalau menganggap saya MUSUH katolik.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.