
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
Semoga Tuhan mengampuni Anda. TOLONG urusi saja urusan gereja anda dan agama anda sendiri. BELAJAR MENGHARGAI dan jangan sama samakan sesuatu yang tidak bisa disamakan. Jangan kepinteran dan tinggi hati. Anda sedang menghina Tuhan dengan bilang mau memecahkan hosti menginjak dan mengibas sepatu. Selain itu Anda sudah melecehkan dan mencemarkan nama baik misdinar dan suster dengan mengata-ngatainya tolol dan goblok karena dia menjalankan tugas dan kepercayaannya.
Gunakan teori anda di ruang lingkup anda, bukan di ruang lingkup kami.
Lebih baik opini nya belajar disaring lagi, dan untuk masalah iman katolik mungkin anda harus berkonsultasi dengan guru bahasa jika mengerti maksud perkataan saja sulit
Sebaiknya anda mendoakan diri anda sendiri karena anda membenci dan tidak mengampuni orang tersebut
Anda yang belepotan nulisnya karena menggunakan hai hai di kata kata anda sepertu bahasa planet. Belajarlah menggunakan bahasa Indonesia EYD. Sekolah lagi sana hahhahhha
Udah dikasi tau yang bener dia malah ngeles dan cari pembenaran diri sendiri. Ckckckckkc anda ibarat pak haji muhidin di Tukang Bubur Naik Haji
Waktu SMP kelas satu saya memutuskan untuk memeluk agama Buddha. Meskipun kemudian memutuskan untuk memeluk agama Kristen namun saya belum pernah melepaskan agama Buddha saya. Itu sebabnya sampai hari ini saya masih rajin mempelari kitab-kitab agama Buddha dan ikut membaca parita. Di sebuah vihara saya dikenali oleh beberapa orang yang membaca blog-blog saya baik yang mengenai ajaran Alkitab maupun ajaran Buddha. Mereka kesal setengah mati. Namun mereka tidak MENYERET saya keluar tuh? Mereka menunggu setelah pembacaaan parita selesai barulah mengajak saya bicara. Bertanya kenapa saya yang orang Kristen masuk vihara mereka dan ikut baca parita?
misdinar dan suster itu tidak tahu kalau saya bukan orang Katolik. Sebagai pelayan ekaristi seharusnya mereka melayani mempelai Kristus tanpa pilih bulu dan tanpa prasangka. Tindakan saya setelah menerima hosti dan membawa hosti bergeser ke kanan adalah hal yang wajar. Di komunitas Katolik sendiri, setahu saya, ada perdebatan tentang CARA makan hosti yang benar. Langsung dimakan di hadapan pelayan ekaristi atau bergeser ke kanan lalu makan hosti di hadapan ALTAR tanpa penghalang? Saya adalah orang yang menganut cara makan hosti BERGESER ke kanan satu langkah lalu makan hosti di hadapan ALTAR tanpa penghalang. Itulah perjamuan KUDUS antara Kristus dan mempelainya (saya). Setelah bergeser, saya tidak langsung GLEK makan hosti namun diam menikmati persekutuan dengan Kristus beberapa detik baru makan hostinya.
Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran misdinar itu, kenapa dia mencegat saya? Dan ketika saya bergeser kenapa dia kembali mencegat saya dan mengambil hosti saya? Kejadiannya cepat sekali. Aksi reaksi. aksi reaksi. Namun saya tidak melanggar aturan sama sekali. Ketika suster keberatan saya berdoa dulu sebelum makan hosti, saya mengembalikan hosti dan kembali ke tempat duduk lalu berlutut dan berdoa. Kemudian melanjutkan misa.
Jadi di dalam hal ini, hai hai sama sekali tidak melakukan KESALAHAN. Orang-orang Katolik itu MENYALAHKAN hai hai. Apa kesalahan hai hai menurut mereka? Karena mau makan hosti setelah berdoa alias Membawa hosti PERGI. Apakah tindakan hai hai ingin membawa hosti kembali ke tempat duduknya untuk dimakan setelah berdoa adalah tindakan yang SALAH? Mari kita lihat.
Redemptionis Sacramentum 92: Although each of the faithful always has the right to receive Holy Communion on the tongue, at his choice, if any communicant should wish to receive the Sacrament in the hand, in areas where the Bishops’ Conference with the recognitio of the Apostolic See has given permission, the sacred host is to be administered to him or her. However, special care should be taken to ensure that the host is consumed by the communicant in the presence of the minister, so that no one goes away carrying the Eucharistic species in his hand. If there is a risk of profanation, then Holy Communion should not be given in the hand to the faithful.
Tersebut di atas adalah AJARAN tentang makan hosti. Cara pertama, hosti diletakkan di mulut umat oleh pelayan ekaristi. Cara kedua adalah Hosti diletakkan di tangan umat oleh pelayan ekaristi.
special care should be taken to ensure that the host is consumed by the communicant in the presence of the minister, so that no one goes away carrying the Eucharistic species in his hand.
Waktu saya masih kuliah di Atma Jaya, kalimat di atas khususnya frasa “in the PRESENCE of The minister” dan “goes away carrying the Eucharistic species in his hand.” Ada yang mengertinya sebagai: Dalam KEHADIRAN bukan DI HADAPAN. Boleh saja makan hosti di bangku, karena di gereja itu HADIR pelayan ekaristinya. Tidak boleh membawa hosti dengan digenggam namun harus di atas telapak tangan kiri yang ditopang telapak tangan kanan. Ada yang menyatakan: “hosti diterima langsung diglek di tempat. Gak boleh bergeser. Pelayan ekristi harus memastikan hosti itu diglek, gak boleh dikulum.”
Dalam hal ini saya tidak mengharapkan dilayani secara khusus. saya hanya MENYATAKAN misdinar dan suster itu MENYELESAIKAN apa yang mereka anggap MASALAH dengan cara yang TOLOL dan GOBLOK karena bisa menyebabkan KEKACAUAN alias MENGACAUKAN misa.
Dari Awal tulisan ini sudah keliru, mulai dari pengertian Ekaristi itu sendiri sudah keliru
dan kelihatan sekali penulis yang katanya “menerima Komuni Kudus” ratusan kali bahkan ribuan kali memliki pengetahuan yang dangkal akan Gereja Katolik. Dimana pun anda menyambut Komuni Kudus, mau di desa, dikota, di Gereja Stela Maris Pluit itu sama saja harus dimakan di hadapan petugas pembagi komuni dan tidak boleh dibawa ke tempat duduk. benar kata komentar diatas bahwa sebelum waktu konsekrasi lah anda berdoa mempersakan diri agar layak menerima Komuni Kudus.
Anda jangan salah tanggap perkataan Alm. Yang Mulia Leo Soekoto yang pada saat itu Uskup Agung Jakarta, bahwa walaupun baptisan anda di GKI diakui oleh Gereja Katolk bukan berarti anda dapat menerima Komuni Kudus di Gereja Katolik, karena untuk dapat menerima Komuni Kudus seseorang itu harus Anggota Gereja Katolik dalam arti Anda sudah dibaptis dalam gereja katolik dan sudah menerma Komuni Pertama.
Saya ingin mengatakan kepada anda bahwa anda lah yang TOLOL, BODOH, GOBLOK, dan sebagainya karena dalam tulisan anda, anda sebutkan sebelum Misa dimulai Romo, Suster, Atau petugas sudah mengumumkan ” ‘yang berhak menerima Komuni Kudus adalah yang sudah dbaptis dalam Gereja Katolik,’ berarti Anggota Sah Gereja Katolik”. Anda sudah mendengar pengumuman itu, tapi anda masih maju dan menerima Komuni Kudus dan ingin membawa ke tempat duduk (dan anda bukan Anggota gereja katolik, hanya istri anda yang katolik dalam tulisan anda di atas) , jelas Misdinar dan Suster itu tidak Mengijikan anda membawa karena mereka mematuhi Peraturan bahwa Komuni Kudus itu harus di makan setelah diterma di hadapan petugas.
Jadi, bukan Suster dan Misdinar yang TOLOL, BODOH, GOBLOK, melainkan ANDA SENDIRI.
Satu hal lagi yang ingin saya katakan kepada anda, bahwa Petugas pembagi Komuni sudah mendapat Amanah dari Pastor/ Romo Bahkan Uskup sendiri untuk Membagikan Komuni dan Menegor Umat yang Berkelakuan Seperti Anda dalam Ekaristi Kudus, membawa Komuni Kudus ke tempat Duduk dan Melawan pada saat di tegur, mereka sering disebut PRODIAKON.
Memang Benar apa yang anda katakan diatas “yang melayani Ekaristi adalah Hamba bukan Tuan, jadi Hamba tidak dapat menyeleksi siapa yang layak dan yang tidak layak, Namun sebelum Hamba Melakukan tugas Pasti sudah Mendapat Amanah yang jelas dari Tuan tentang Apa yang akan Dikerjakan oleh Hamba.
SILAKAN BACA INI : SYARAT UNTUK MENERIMA KOMUNIA SUCI : http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id273.htm
Hosti boleh diterima oleh siapapun, tp Tubuh Kristus baru boleh diterima setelah seseorang menerima SAKRAMEN EKARISTI. Hosti dijual dimana-mana, tetapi Tubuh Kristus hanya ada di Tabernakel di Gereja Katolik (saya kurang tahu apakah di Gereja Kristen juga ada konsekrasi yaitu pengubahan anggur menjadi Darah Kristus dan hosti menjadi Tubuh Kristus) yang dibagikan pada LITURGI EKARISTI yaitu pada saat Komuni dalam setiap Misa. Mau setua apapun kalau belum terima sakramen itu tidak boleh menerima Tubuh Kristus. Pengecualian ada untuk mereka yang mau Baptis Rindu.
Mungkin yang anda maksud adalah Perayaan Ekaristi? Itu tentu saja boleh dihadiri oleh siapapun tapi TUBUH DAN DARAH KRISTUS hanya boleh diterima oleh mereka yang sudah mendapat SAKRAMEN EKARISTI atau KOMUNI PERTAMA pada usia minimal 8 / 9 tahun (kelas 3 atau 4 SD) pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.
Dan tindakan Suster dan Misdinar itu terjadi bukan tanpa alasan. Saat ini sudah sering ditemukan gumpalan tisu di laci tempat duduk di dalam gedung gereja yang berisi HOSTI YANG SUDAH DIKUNYAH KEMUDIAN DIBUANG. Hal ini dipandang sebagai pelecehan terhadap Gereja Katolik dan Tubuh Kristus. Sejak penemuan barang tersebut, ada peraturan baru yang diterapkan di gereja-gereja Katolik bahwa Tubuh Kristus harus dimakan saat itu juga, didepan Pastur / Suster / Prodiakon yang bertugas saat itu. Tubuh Kristus tidak boleh dibawa ke tempat duduk lagi. Bapak beruntung itu hanya misa perkawinan saja, bukan misa biasa. Di misa biasa, biasanya ada petugas liturgi yang siaga di sebelah Pembagi Komuni yang pada umumnya adalah bapak-bapak. Bayangkan situasi seperti apa yang bisa Bapak munculkan dengan sikap Bapak yang demikian.
Kindly do your research before you embarrass yourself even more. Have a blessed Sunday!