
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
Hai hai bengcu alias ang ci yang alias arief chrisdiyanto. Sangat mudah sekali menemukan anda…alamat anda….pekerjaan anda…. tempat nongkkrong anda….kendaraan anda….HATI HATILAH anda…WASPADALAH anda…..
menurut pendapat saya, hosti memang hanya sebagai simbol, mau di makan di mana saja terserah tetapi jika anda orang beragama tidak perlu mengeluarkan kata2 tolol atau goblok terhadap suster, apa salah nya klo anda makan di tempat yang sudah di sarankan untuk menghindari konflik, please kita umat beragama cinta damai, jangan hanya karena ego anda yang besar merusak kedamaian tersebut. saya rasa tidak ada beda nya bagi tuhan jika anda makan dahulu baru doa dengan doa dahulu baru makan. bagi tuhan yang penting hati anda tulus dan baik terhadap sesama
jika anda mempunya sifat seperti ini, mau anda berdoa 1000x kepada tuhan saya rasa anda tidak akan di anggap mempunyai iman yang baik
setidak nya anda harus sadar untuk menurunkan ego anda dan mulai untuk bersikap toleran
percuma anda ke gereja setiap minggu tapi sifat anda masih seperti ini, seperti anak kecil
Bang haihai mengatakan Pencurahan Roh Kudus tdk pernah terjadi lg kecuali pada hari Pantekosta tsb?bagaimana org2 lain yg menjadi Kristen stlh hari Pantekosta tsb,apakah tdk di curahkan lg?sedangkan di catat bhw Paulus menumpangkan tangan pd org2 Kristen di negri jauh barulah stlh itu mereka menerima Roh Kudus sehingga mulailah mereka berbahasa roh dan bernubuat ??Pengetahuan org Kristen mengenai Roh Kudus amatlah sedikit,sehingga mudah sekali menjadi permasalahan dlm kekristenan,Yesus pun hanya menyebut Roh Kudus sbg Penghibur,tp apapun yg di lakukan Roh Kudus tetaplah sbg pembawa berita akan KEBENARAN YESUS,dgn demikian Yesus lah yg harus di pedomani.
Roti=firman,darah=hidup yg kekal, ya memang Firman telah di bagik2kanNya pd manusia pada waktu Yesus hidup di dunia,hidup jg telah di bagi2kanNya ,kita dpt memperoleh hidup yg kekal dgn cara mengimani dan menjalankan Firmannya. Itulah sebabnya sy katakan itu HANYALAH SEPOTONG ROTI,sedangkan roti yg di maksud Yesus adalah FirmanNya,itulah yg harus kita makan,dgn demikian peraturan menganggap roti/hosti sbg perwujudan tubuh Yesus secara harfiah amatlah tidak tepat.Sehingga tdk patutlah menganggap hosti tersebut kudus.Apa lg smpai membuat org lain sakit hati krn harus menggunakan tatacara yg ketat.
saya binggung dengan anda, anda berdoa meminta kedamaian sebelum memakan hosti tapi hal yang anda perbuat berbeda 180 derajat dengan doa yang anda panjatkan, apa salah nya untuk ikuti aturan yang berlaku untuk menghindari konflik?
Teman saya banyak yang Protestan. Saudara saya juga ada yang Protestan. Yang fanatik banyak, tapi yang toleransi juga banyak. Saya adalah seorang Katolik yang memegang teguh prinsip agama saya, tapi juga toleran dengan aliran Kristen lain. Saya adalah seorang Katolik yang berusaha untuk mendalami setiap ajaran Katolik (mulai dari dokumen2 KV II, ASG, dll). Tapi saya juga seorang Katolik yang berusah mencari tahu penyebab dasar terbentuk gereja Reformasi. Anda adalah seorang jemaat Reforman, pasti tahu penyebabnya. Oleh karena itu, saya sangat menghargai usaha2 Anda untuk mendalami ajaran Katolik. Namun, sangat patut disayangkan karena sikap Anda yang tidak mau terbuka dengan komentar yang disertai fakta dari teman2 saya sesama Katolik. Jadilah orang yang terbuka. Bahkan Anda sendiri tidak menjawab komentar2 yang sudah sangat jelas bahwa sikap Anda itu salah. Gereja Ritus Timur adalah Gereja eks Ortodoks yang kembali mempercayai ke Apostolikan Paus Roma. Jika Anda ingin menyantap hosti Katolik yang telah mengalami transubstansiasi, maka Anda harus mengakui ke Apostolikan Paus Roma. Mengapa? Karena dalam Doa Syukur Agung pun Pastor mengucapkan, “Bapa, perhatikanlah Gereja-Mu yang tersebar di seluruh Bumi. Sempurnakanlah umat-Mu dalam cinta kasih, dalam persatuan dengan Paus kami… dan Uskup kai…, serta para imam, diakon, dan semua pelayan sabda-Mu.” Lagian dokumen gereja yang Anda gunakan hanya satu… Ditambah caci maki Anda membuat orang semakin kasihan melihat Anda. Anda mirip seorang Farisi yang tiap hari ke Bait Suci tapi tindakannya tidak seperti orang beriman. Saya bukan menghakimi, menuduh, melabeli Anda, tapi fakta berkata demikian. Saya sadar dosa saya besar. Anda pun harus sadar dosa Anda banyak, jangan merasa paling benar. Oh iya, tindakan Anda tidak hanya bikin malu orang Kristiani, tapi juga orang Tionghua. Kebetulan saya seorang Kristiani dan seorang Tionghua juga. Salam dari anak 17 tahun yang masih kelas XII dan GBU!
ya, mungkin memang anda sudah mempelajari tentang teologi. tapi apakah belajar teologi sudah cukup untuk mendalami bagaimana ajaran katolik? bagaimana dengan filsafat dan ilmu lainnya yang harus dipelajari untuk mendalami misteri sakramen ekaristi? pastur saja butuh bertahun-tahun untuk mendalaminya dan tentunya mereka tidak hanya belajar teologi saja. jika saudara memang mendalami teologi, saya yakin saudara pasti tahu apa itu dosa sakrilegi dan bagaimana cara untuk mengampuni dosa sakrilegi tersebut.
ya, mungkin memang saya adalah orang merasa diri cerdas dan menyangka berpengetahuan dengan berpikir logis yang kemudian saudara sebut dengan tolol. tetapi seperti yang saudara katakan “hanya ada satu JALAN bloon yaitu BELAJAR Ketikismus dan KITAB HUKUM KANONIK KATOLIK”. kemudian yang menjadi pertanyaan saya adalah:
1. apakah anda yakin sudah belajar ketikismus dengan baik dan benar? jika sudah, saya rasa tidak akan ada hal seperti yang saudara tuliskan di blog. dan saya yakin, jika saudara sudah belajar hal tersebut, maka saudara tidak akan salah menuliskan ketikismus, dimana yang benar adalah katekismus (dari bahasa inggris, yaitu catechism).
2. saudara yakin sudah mempelajari kitab hukum kanonik katolik dengan baik dan benar? jika ya, saya rasa saudara tidak akan melewatkan kan. 777. kan. 777 dan kan. 842§2 merupakan hukum yang disusun terlebih dahulu sebelum kan. 844§3. sama halnya dengan undang-undang atau peraturan hukum lainnya dimana ayat pertama harus dipatuhi terlebih dahulu baru kemudian mematuhi ayat selanjutnya. dengan kata lain, kan. 777 harus dipatuhi terlebih dahulu, kemudian kan. 842§2 dan barulah kan. 844§3.
3. apakah saudara yakin sudah mempelajari kedua hal di atas? jika sudah, saya yakin saudara juga tidak akan melupakan pedoman umum misale romawi dan redemptionis sacramentum karena keempatnya saling berhubungan. bahkan masih ada dokumen gereja lainnya yang berhubungan dengan keempat dokumen tadi. jadi, bisa saya simpulkan bahwa jalan bloon yang saudara katakan tadi bukanlah jalan yang tepat untul berbicara tentang aturan gereja. bacalah secara keseluruhan, jangan hanya sepotong-sepotong kemudian mengartikannya sesuai dengan persepsi saudara.
ya, saudara adalah lulusan akuntansi, orang jujur, dan murah hati seperti yang saudara katakan. tapi apakah saudara sudah berkaca? saya juga seorang sarjana psikologi dan sebagai seorang sarjana yang jujur pula seperti saudara, saya tahu bagaimana saya harus bertutur kata. dan sebagai seorang yang menyandang gelar sarjana pula, jelas saya tidak ingin mempermalukan diri saya dengan kata-kata kasar sehingga terlihat seperti orang dengan pendidikan yang tidak tinggi. gunakanlah kata-kata yang bijak dan asertif sesuai dengan selayaknya saudara diberikan gelar sarjana.
“Ketika merasa KURANG dihormati, orang bijaksana MEMERIKSA diri sendiri sementara orang tolol menyalahkan orang lain.” –> kalimat ini rasanya kurang tepat jika ditujukan kepada saya. dalam hal ini, saya berkomentar bukan untuk menyalahkan atau meminta hormat. silakan baca dengan baik komentar saya sebelumnya, tidak ada kalimat saya yang menyalahkan atau membenarkan saudara bengcu kok. lalu yang menjadi pertanyaan saya adalah, saudara meminta saya untuk menjadi orang yang bijaksana dan memeriksa diri sendiri, apakah saudara sendiri sudah bijak dalam berkata-kata dan sudah bijak untuk menghargai aturan gereja katolik? apakah saudara bengcu atau hai hai ini sudah memeriksa diri sendiri dan tidak menyalahkan aturan gereja katolik?
mungkin sebaiknya saudara bengcu atau hai hai ini konsultasi ke pastur terlebih dahulu tentang aturan dalam agama katolik dan bagaimana cara untuk menerima komuni kudus. atau mungkin, saudara bisa konsultasi ke orang terdekat saudara, yaitu istri saudara yang beragama katolik. saya cukup tergelitik ketika mengetahui kalau istri anda adalah seorang katolik yang seharusnya tahu tata cara dalam gereja katolik.
jadilah garam dan terang dunia.
Si cerita anda, dengam tegas anda seorang pengikut Kristus, tetapi sangat disayangkan anda tidak lulus dalam hal kesabaran, etika hukum yg berlaku ditempat tersebut dan juga kl memang anda pengikut kristus tidak mungkin anda berbicara suster tolol bego dll ingat apa yg anda ukur untuk orang lain akan diukurkan juga ke anda sendiri begitulah saya. Next time lebih sabar aja bro karena ujian itu datamg pada saat kita tdk sadar
sedikit kutipan dari blog saudara:
“hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?”
saya menemukan ada yang tidak konsisten dalam blog ini……..
kalimat awalnya adalah “hai hai dicegat dan dipepet ketika dia BERGESER KE KANAN SATU LANGKAH UNTUK MAKAN HOSTI. tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia BERGESER KE KANAN SELANGKAH LAGI untuk makan hosti.” kemudian di paragraf terakhir, saudara bertanya “apa susahnya membiarkan hai hai BERDOA DULU DI BANGKU BARISAN DEPAN BARU MAKAN HOSTINYA?”
saya tidak tahu mana kejadian yang benar. apakah dua langkah yang saudara ambil atau memang saudara mau kembali ke tempat duduk sambil membawa hosti. saya pernah tanpa sengaja menjatuhkan hosti, dan hosti bergelinding sampai sekitar lima langkah dari tempat pastur membagikan hosti. namun saya langsung mengambil hosti dan langsung memakannya di tempat hosti tersebut berhenti. pastur langsung melihat ke arah saya, namun saat pastur melihat saya langsung memakannya, pastur tidak jadi menghampiri saya.
akan tetapi, dari hal yang tidak konsisten dan reaksi suster serta misdinar tersebut, rasanya saudara hai hai ini tidak mengambil langkah ke kanan, tapi langsung ingin balik ke tempat duduk dan barulah memakan hosti.
Itu namanya pelecehan terhadap komuni suci dlm gereja Katolik….
yg boleh menerima hosti jelas2 yg sudah dibaptis secara katolik (bukan baptis cidi di gereja diluar katolik), apalagi hosti dibawa ke bangku juga menyalahi aturan gereja. yg beberapa kejadian di katedral bandung ada hosti yg dibuang ditempelkan dikolong bangku umat. Itu bentuk penghinaan. Kalau merasa bukan baptisan katolik & blm pernah menerima komuni pertama kenapa musti menerima Tubuh Kristus yg dibagikan dalam gereja katolik.
Belajarnya jangan penggal2. Kalau pun pengertian nt begitu, sebagai ‘tamu’ anda harus ikut aturannya. Kalau disuruh ‘makansambil lari’ ya ikut. klo ga mau, ya jangan cari masalah. Jangan sok tau hukum kanonik.