
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
tidak perlu menggunakan kehebatan untuk tahu isi kepala kamu. cukup membaca tulisan (makian) kamu, maka saya sudah tahu siapa kamu. seorang munafik yang melakukan penyesatan. celakalah dunia ini bila orang seperti kamu dibiarkan berkoar-koar menyesatkan orang-orang yang masih lemah dalam iman.
hendrikus: yg boleh itu mereka yg katolik yg sudah menerima sakramen baotis dan sakramen ekaristi
Kisanak, terima kasih BELAS kasihannya. wow … Jadi yang boleh menerima Komuni kudus itu mereka yang sudah menerima SAKRAMEN BAPTIS dan SAKRAMEN EKARISTI ya? Ha ha ha ha ….. Kok saya KASIHAN kepada anda ya? Ha ha ha ha .. Bagaimana bila anda belajar Katekismus lagi atau langsung tanya kepada romo anda, benarkah untuk menerima hosti harus menerima SAKRAMEN EKARISTI dulu? Menurut pemahaman anda, SAKRAMEN EKARISTI itu apaan sich? ha ha ha ha ha ha …
Gak ngerti gw ginian mana yang salah mana yang bener. Gw bukan orang yang udah merasa “suci” atau “paham” benar dengan ajaran gereja Katholik. Mungkin anda benar mungkin juga salah, tidak ada jawaban yang pasti karna setiap orang punya pemikirannya sendiri sendiri. Tapi satu hal yang saya sayangkan, anda tidak bisa berpikir secara logis saat menulis postingan ini. Anda tenggelam dalam ego dan kemarahan yang menyebabkan seakan akan anda yang bersalah.
saya sudah bertahun-tahun menjadi pelatih misdinar dan belajar banyak dengan orang-orang demikian. memang operational prosedur adalah memeakan hosti di depan pemberi hosti bukan di belakang. dan sudah merupakan standar untuk menahan dan menindak orang yang melakukan demikian.
Terima kasih
Kisanak, ketika mengunjungi Flores tahun 1989, kami menginap di Biara Bruder St. Konradus Ende. Sejak awal saya bercerita bahwa saya dan satu teman saya adalah anggota jemaat SIDHI GKI. Romo lalu mengajak kami mengikuti misa-misa yang diadakan sepanjang hari di biara itu dan menerima pelayanan ekaristi. Nggak ada masalah tuh.
DAri biara kami lalu menginap sebagai tamu romo di desa Muni. Dan sekali lagi, meskipun Romo tahu sejak awal bahwa saya satu orang teman saya adalah anggota jemaat Sidhi GKI namun dia mengajak kami ikut misa dan terima hosti. Nggak ada masalah tuh.
Saya belum pernah ke Timor Leste. Meskipun menentang perjuangan merdeka namun saya mendukung perjuangan PENEGAKKAN hukum dan HAM di Timor Timur dan ikut dalam usaha mencari dana untuk membantu anak-anak terlantar karena orang tuanya menjadi korban ABRI. Kegiatan demikian menyababkan saya beberapakali bertemu dengan Uskup Bello. Beberapa kali saya menerimapelayanan ekaristi dari Uskup Bello. Beliau tahu saya anggota jemaat GKI.
Pengalaman-pengalaman saya di atas itukah yang anda maksudkan dengan keberuntungan? Ha ha ha ha … Saya mulai kuliah di Unika Atma Jaya tahun 1984. Kebanyakan orang kenal saya sebagai aktivis Pastoran. Meskipun sudah dibaptis sidhi di GKI pada tahun 1986, namun saya TIDAK pernah mengambil hosti meskipun ikut Misa. Suatu hari almarhum Mgr Leo sukoto bertanya kenapa saya tidak menikmati perayaan ekaristi dalam misa? Saya memberitahu dia bahwa saya anggota jemaat shidi GKI. Gereja Kristen Indonesia.
Dalam beberapa kali kunjungan saya kepadanya, kami diskusi banyak hal, salah satunya adalah tentang Sakramen ekaristi. Diskusi-diskusi dengannya dan pastor Unika Atma Jaya-lah membuat saya mengerti banyak ajaran Katolik dan HUBUNGANNYA dengan Kekristenan. Keduanyalah yang membuat saya MERASA nyaman ikut misa dan ekaristi seperti ikut kebaktian di GKI dan perjamuan Kudus.
kisanak, itukah yang anda maksudkan dengan KEBERUNTUNGAN? Ha ha ha ha …. “GEREJA KAMI” Ha ha ha ha ….. GEREJA KAMI? Ha ha ha ha … Romo Broto, Mgr Leo dan uskup Bello yang mengajari bahwa GEREJA KAMI itu JAHAT, Yang BAIK dan BENAR adalah GEREJA KRISTUS. Menurut ketiganya, PERPERCAHAN dan PERMUSUHAN terjadi karena GEREJA KAMI itu sebabnya satu-satunya jalan jika mau BERSATU adalah MENINGGALAN gereja KAMI dan kembali ke GEREJA KRISTUS. Ha ha ha ha … anda mau GEREJA KAMI? ha ha ha … AMBIL semuanya. Saya hanya ikut kebaktian dan misa di gereja KRISTUS. ha ha ha ha …
Ade, hati anda sakitnya di sini ya? Meskipun hati anda SAKIT namun kepala anda harus TETAP dingin lho. Jadi, dinginkan dulu kepala anda kemudian baca kembali blog saya dengan teliti dan hati-hati. Setelah anda MENGERTI baru kembali untuk komentar lagi ya. Ha a ha ha … SEtelah baca belum ngerti juga, jangan kuatir, baca lagi. Kalau sudah 10 kali baca dan belum ngerti nanti saya jelaskan dech. ha ha ha …
Iya, kemarahan sering membuat kita jatuh dalam kekeliruan. Dalam gereja Katolik, org yang dapat menerima komuni sekurang kurangnya telah menerima sakramen permandian, sakramen tobat dan sakramen Ekaristi. Anda mengatakan baptisan anda sah dalam Gereja katolik menurut uskup yg anda sebut dan seorang imam katolik. Tapi tetap saja anda tidak dapat menerima kamuni karena anda belum menerima sakramen Ekaristi atau lebih dikenal dengan nama komuni pertama. Ada banyak orang Katolik tidak dapat menerima kamuni pertama karena belum menerima sakramen Ekaristi meskipun mereka sudah dibaptis secara katolik.
Apa yang dilakukan oleh suster dan pelayan altar itu benar. Itulah sebabnya, Gereja Katolik sangat menganjurkan orang Katolik menerima komuni dengan lidah bukan dengan tangan, supaya segera setelah menerimanya anda langsung memakan dan menelannya. Namun Gereja tetap menghargai wilayah atau budaya tertentu yang menerima komuni dengan tangan seperti Indonesia.
Anda mengatakan kerap membawa tubuh Kristus itu ke tempat duduk, berdoa dan memakan tubuh Kristus itu. Saya katakan anda keliru. Misa memiliki tahap-tahapnya. puncaknya adalah konsekrasi. Pada tahap-tahapsebelum konsekrasi itu adalah kesempatan anda berdoa, mempersipakan diri untuk layak menerima komuni. Anda dapat berdoa setelah memakan hosti itu di tempat duduk anda. Itu tradisi Gereja Katolik. kekeliruan yang lain adalah anda membawa komuni ke tempat duduk, itu tidak diperkenankan karena anda bukan pelayan Ekaristi.
Pak Tua, anda mempermalukan diri sendiri apalagi ISTRI anda pasti ngomong : sakitnya tuhhhhh di sini
Agustina Maria Dominika Prisilia yang terhormat, Masalah yang saya bahas di dalam blog ini adalah PERILAKU pelayan Ekaristi. Pelayan EKARISTI harus melayani mempelai Kristus menikmati perjamuan Kudus tanpa pilih bulu.
Nona, bacalah kembali blog saya dengan teliti dan hati-hati tanpa prasangka. Izinkan saya bertanya, Untuk apa hai hai mau BERDOA dulu sebelum makan HOSTI? Karena misdinar itu MENCEMARI perayaan ekaristinya. tindakannya yang LEBAY kepada hai hai membuat hai hai KESAL. Itu sebabnya hai hai merasa perlu BERDOA dulu untuk membersihkan hatinya sebelum makan hosti. Makan hosti dengan hati KESAL adalah PENCEMARAN. Tindakan hai hai demikian bukan untuk MELANGGAR ATURAN makan hosti juga bukan untuk MENCEMARKAN hosti namun MENJAGA KEMURNIAN alias KEKUDUSAN sakramen ekaristi.
Agustina, yang saya ucapkan kepada suster itu sangat gamblang, menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Nona, izinkan saya bertanya, mungkinkah orang yang MAU BERDOA dulu sebelum makan HOSTI akan MENCEMARKAN hosti? kalau suster itu memang memiliki hati yang BERSIH dan TIDAK beprasangka, seharusnya dia bertanya, “KENAPA perlu berdoa dulu sebelum makan hosti? bukankah sebelum maju mengambil hosti sudah berdoa?” alih-alih melakukan hal demikian, suster itu justru memancing KERIBUTAN.
Saya kembalikan hostinya. Saya tuliskan ISI hati saya yang TIDAK saya lakukan. Anda bisa bayangkan kalau saya melamiaskan kekesalan saya saat itu?
Tindakan misdinar itu TOLOL sekali dan perilaku suster itu GOBLOK sekali.
Itulah FAKTANYA. Tindakan misdinar dan suster yang penuh prasangka itu bisa MENIMBULKAN KERIBUTAN alias MENGACAUKAN misa. Tindakan demikian tidak boleh dilakukan ANDAI KATA pun menghadapi orang yang MEMANG berniat mengambil HOSTI untuk MACAM-MACAM. Karena apa? Karena BISA menimbulkan KEKACAUAN. bisa MENGACAUKAN MISA. MOTIVASI misdinar dan suster itu mungkin BAIK menjaga KESUCIAN hosti namun CARANYA benar-benar TOLOL dan GOBLOK.
Jadi nona, ketika menyatakan TOLOL dan GOBLOK saya tidak MENCACI-MAKI namun MENILAI bahwa PERILAKU misdinar dan suster itu adalah perilaku yang TOLOL dan GOBLOK. Itu sebabnya TIDAK boleh dilakukan oleh SIAPA pun lagi karena SANGAT BERBAHAYA sebab bisa MENGACAUKAN misa.
Saya tidak menyebutkan nama dan tidak menggambarkan perawakan suster dan misdinar itu karena tidak MEMBENCI dan mendendam kepada keduanya di samping itu, perasaan kesal saya juga sudah hilang bgitu saya kembali ke bangku dan berdoa. Itu sebabnya tujuan saya menulis blog ini bukan BALAS DENDAMA atau PROTES namun mengajak para pembaca untuk MENJAMIN agar tindakan yang BISA MENGACAUKAN misa demikian tidak terulang lagi. Kenapa saya menyebutkan nama dan gereja? Untuk menjamin bahwa kesaksian saya adalah kisah nyata.
Jadi, nona, saya memagn memaafkan tindakan misdinar dan suster tersebut. Namun MAAF saya tidak mengubah FAKTA bahwa tindakan keduanya memang TOLOL dan GOBLOK.
Dulu almarhum romo Broto mengajari kami cara untuk menghadapi orang-orang yang karena tidak mengerti atau karena pemahaman yang salah melakukan tindakan yang bekonotasi MENCEMARKAN ekaristi. Beliau mengajarkan perumpamaan Yesus tentang LALANG di antara gandum. Jangan sampai gara gara hendak memotong LALANG akibatnya justru MERUSAK GANDUM. Itu sebabnya alih-alih MENGAGUL-AGULKAN peraturan dan MEMAKSA orang HARUS begini dan tidak boleh begitu, lebih baik mencari TAHU kenapa dia melakukan hal demikian?
Nona, menurut romo Broto, Mgr Leo sukoto dan Uskup Bello, Murid-murid Kristus terpecah-belah dan bemusuhan karena GEREJA KAMI. Itu sebabnya satu-satunya jalan untuk kembali bersatu adalah MENINGGALKAN gereja KAMI dan kembali ke GEREJA KRISTUS. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak MENGAKUI gereja KAMI bagi saya semua GEREJA adalah GEREJA Kristus.
Kisanak melakukan apa ya? Sebaiknya anda baca kembali tulisan saya dengan teliti dan hati-hati. bacalah kepala dingin meskipun hai anda panas. Setelah anda membaca dengan teliti, belum terlambat untuk memvonis, di bagian mana hai hai TIDAK sopan? Nasib baik tidak meremas hosti? Itu bukan nasib baik namun AKAL SEHAT. Saya bukan orang yang MEMUASKAN hati dan bertindak dengan pertimbangan akal budi.
kisanak, izinkan saya memberitahu anda bahwa, “ALLAH yang membela umat-Nya.” PErjanjian Lama mencatat bahwa “UMAT yang membela Allah-nya.” adalah PENYEMBAH berhala. Kenapa demikian? Karena BERHALA tidak bisa membela dirinya itu sebabnya HARUS dibela umatnya. Sedangkan Allah yang HIDUP, DIALAH yang mebela umat-nya. Dia tidak perlu dibela umat-Nya.