Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. anda sakit… ya..???? anda tau tata perayaan ekaristi di gereja katolik ga..?? kalau anda seorang katolik pasti… memangerti aturan pereyaan ekaristi..?? tapi kalu ngga dan bukan katolik apa yg anda koment ini mejelaskan identitas anda bukan seorang katolik..!!! pemahaman anda yg kerdil itu di tunjukan kepada kalayak..!! memalukan komentar sesuatu hal yg tdk di pahami ole anda sendiri,,,!!!

  2. Dear Beng Cu dan teman Katolikku, jangan saling mencela. Dengan emosi, persoalan ini tidak akan pernah selesai. Terus terang pertama kali membaca blog ini, emosi saya sangat terluka dan merasa bahwa Beng Cu tidak pantas disebut dengan orang Kristen. Tapi ketika saya merenungkan lebih lama dan ketika api emosi menjadi padam, saya menjadi sangat ingin bersaksi mengenai bagaimana orang Katolik melihat hosti dan anggur yang telah diberkati dan bagaimana mungkin hal ini sulit untuk diterima oleh orang Kristen non Katolik.

    Orang Katolik mengimani bahwa ada yang disebut dengan transubstansiasi, yaitu perubahan substansi, dari sepotong roti dan segelas anggur, menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Ada beberapa mukjizat Ekaristi – silakan dibaca di buku Mukjizat Ekaristi – bahwa pada beberapa kesempatan, sepotong roti dan setetes anggur menjadi daging dan darah yang setelah di-test adalah daging dan darah manusia.

    Oleh karena itu juga orang Katolik sangat hati-hati dalam menjaga roti (hosti) dan anggur yang telah diberkati oleh imam sehingga tidak tercecer, karena kami sungguh meyakini bahwa roti dan anggur itu sudah secara mukjizat menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri.

    Karena penghormatan yang tinggi ini pula seorang misdinar dan seorang biarawati mungkin merasa kuatir bahwa hosti dan anggur ini akan disalah gunakan. Kasus ini banyak terjadi di gereja-gereja, di mana ada orang yang kemudian membuang hosti, dan akhirnya kami memungutinya dan memasukkannya ke dalam mulut kami sendiri karena kami yakin itu adalah Tubuh dan Darah Kristus dan tidak boleh sekalipun kami buang.

    Mungkin perasaan Beng Cu terluka karena merasa orang Katolik memperlakukan Beng Cu yang non Katolik seperti itu. Tapi yakinlah, kami bukan membeda-bedakan orang, melainkan kami hanya ingin memberikan kesadaran bagi yang menerima komuni kudus bahwa hosti dan anggur itu harus segera dipersatukan dengan diri kita sendiri. Mungkin dengan blog ini pikiran Beng Cu menjadi lebih terbuka tentang iman Katolik dan semoga suatu saat nanti Beng Cu akan menjadi orang Katolik secara penuh. Terima kasih, Tuhan memberkati.

  3. Ya, kalau secara imani, hosti yg sdh melalui proses konsekrasi, kita percayakan dan imani sdh menjadi Tubuh dan Darah Kristus, kalau kemudian krn kemarahan anda anda berkeinginan menginjak-injaknya, maka memang anda blm memahami benar maknanya, jangankan menjinjak2. Jatuhpun kami tetap mengambilnya. Shg penghormatan tinggi thd hosti hrs dan mutlak. Begitu pemberi hosti bertanya. Tubuh dan Darah Kristus dan anda menjawab amin. Shg tdk perlu dibawa dulu dan didoakan lagi. Krn kesempatan berdoa sdh diberikan sblm anda maju menerima hosti, shg ketika anda sdh menerima langsung menyantapnya dan saat berikut ditempat duduk anda tinggal mendaraskan doa sesudah komuni. Jadi tdk perlu membuat ritual lagi untuk menyantapnya. Kan anda sdh amin dan setuju. Dan ada baiknya setiap ada hal yg tdk berkenan, anda mengkomunikasikan dgn pihak2 yg memang berkompeten untuk itu terlebih dahulu, Bukan langsung dibawa keranah publik. Apa lagi, kalau sy membaca isi blog anda ttg hal ini, bahkan masih ada hal2 yg menurut saya, pemahaman ttg Ekaristi Grj Katolik yg anda tulis kurang sekali apalagi ditambah dgn emosional. Mari kita mencontoh apa yg diajarka Tuhan Yesus , untuk selalu rendah hati.

  4. Kita jg tdk pernah melihat kejadian yg sbnrnya… Mungkin yg dilakukan misdinar dan suster diluar batas kesopanan yg wajar di mata pak bengcu.. Dan sy pun tdk akan membahas apakah anda berhak menerima Hosti atau tdk krn sy tdk pny kapasitas menentukan nya.. Jadi sy tdk akan mengatakan anda salah atau benar.. Coba direnungkan saja..

    Karena kejadian sprti ini sy jg pernah menyaksikan nya, ketika seorang anak muda menerima Hosti kemudian langsung kembali ke tmpat duduk nya.. Suster dan misdinar tdk keburu mencegat dan menyuruh anak muda tersebut utk balik ke antrian dan makan di tempat. Tp suster itu mendatangi ke tmpt duduk nya, tp sy tdk menyaksikan apakah suster itu meminta kembali Hostinya atau meminta anak muda tersebut makan Hostinya di tmpt duduk.

    Dan kalau makan Hosti itu setelah berdoa dan dikembali ke tmpt duduk menyalahi aturan atau tidak, coba anda bayangkan kalau setiap org berlaku seperti bapak, apakah dgn 2 org suster harus menunggu setiap org yg menerima hosti dan makan dibangku sndiri? Kalau perasaan bpk mengatakan kembali dahulu ke tmpt duduk dan berdoa baru menyantap Hosti bpk anggap benar, lalu apakah dengan berdoa saja di tmpt dan memakan nya di dpn suster, Salah? Mereka hanya pelayan yang sedang menjalankan tugas.

    Tetapi kalau suster dan misdinar itu salah, sy mohon dgn rendah hati utk memaafkan mereka dan menarik kata” yang merendahkan mereka. Alangkah lebih baik dlm masa Adven ini kita lbh merendahkan hati, slg memaafkan dan Let It Go hal” yg sudah terjadi.

  5. @vanisinaga, “UJILAH sgala seesuatu dan PEGANGLAH yang BAIK.” Yesus sendiri menyatakan, “TIDAK MUNGKIN tidak ada penyesatan. Itu sebabnya UJILAH.”

    hai hai tidak punya PELAYANAN itu sebabnya tidak MELAYANI siapa pun. Itu sebabnya mereka yang mengunjungi blog hai hai dan MINTA DILAYANI dengan kata-kata BEGINI dan tidak boleh berkata BEGITU akan DIEJEK. TAK U U ya.

    Mereka yang datang ke blog hai hai dan MINTA dilayani dengan blog-blog yang dianggapnya MEMBANGUN akan dIEJEK. LU BIKIN blog lu sendiri aja sana.

    Orang Kristen, termasuk orang Katolik memang sialan. KARENA nggak punya PRESTASI akhirnya mereka melakukan hal PICIK untuk MERASA diri LEBIH baik dari hai hai yaitu MENEGOR hai hai TIDAK BOLEH begini dan harus begitu. Ha ha ha ha ha …..

    Ketika merasa KURANG dihormati, orang bijaksana MEMERIKSA diri sendiri sementara orang tolol menyalahkan orang lain. Orang bijaksana mencari hormat dengan berperilaku lebih hormat. Orang tolol mencela yang tidak menghormatinya tidak bijaksana agar dihormati.

  6. @vanisinaga, marah marah di blog? Ketika menulis blog saya nggak marah lagi bloon. Hanya menuliskan pengalaman dan PERASAAN dan PEMIKIRAN gua apa adanya. dengan demikian maka orang orang bisa melihat KETOLOLAN si misdinar dan kegoblokan si suster sekaligus menyadari bahwa si hai hai juga bukan DEWA namun manusia biasa belaka.

  7. @Nao, Anda psikolok PARAH. Psikolog yang baik itu sebelum ngejeblak HARUS TAHU dan PAHAM masalahnya. dari jeblakan anda nampak bahwa anda nggak TAHU dan nggak PAHAM masalahnya. Ini lho kejadiannya, nak. baca baik baik dan pahamilah.

    Setelah menerima hosti, hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

    sejak pertama ambil hosti dalam misa tahun 1987 sampai hari itu, hai hai belum pernah MERASA PERLU berdoa dulu sebelum makan hosti karena TIDAK ada misdinar yang melakukan tindak TOLOL mencemarkan sakramen ekaristinya. Jadi, kisanak, pertanyaan anda kenapa hai hai selama ini LOLOS terus untuk BERDOA dulu sebelum makan hosti adalah pertanyaan TOLOL.

  8. Eh bengcu ,kami adalah umat katolik di flores,kami sudah menginstruksikan teman2 umat katolik dr flores yg merantau dijkt utk menemui dan menjelaskan anda mgn masalah ini,klo anda merasa benar atas tindakan anda,mhn dgn hormat beritahu alamat anda atau kami yang berusaha mencari anda,mhn kbr nya,salam damai kristus dari umat katolik flores

  9. @Thomas Bintoro, hai hai bukan orang TOLOL yang berbohong ke mana-mana untuk mencari nama. Anda tahu KITAB HUKUM KANONIK KATOLIK? Sebaiknya anda mulai BELAJAR supaya nggak jadi FRONT PEMBELA KATOLIK yang MENCEMARKAN Katolik dengan perilaku MEMBABIBUTA, POKOKNYA non Katolik HARUS SALAH. ha ha ha ha ha … Nich baca baik baik ya. Kalau kurang jelas pergi tanya romo anda. inilah salah satu hal yang diajarkan oleh Romo.

    Kitab Hukum Kanonik Katolik

    Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

  10. @shiane_yoe, jadi orang jangan ADIGUNG ADIGUNA. Nggak ada jalan pintas untuk BERPENGETAHUAN selain BELAJAR. BERLAGAK pintar hanya menjadikan anda orang MENYEBALKAN.

    Petimbangan saya betahun-tahun yang lalu ikut misa tidak ikut makan hosti adalah:

    1. selalu ada pengumuman itu hanya untuk orang Katolik.

    Kemudian saya diberitahu oleh dua ornag Romo ayat-ayat di Katekismus dan KITAB HUKUM KAnONIK KATOLIK.

    Kitab Hukum Kanonik Katolik

    Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.

    Setelah mengetahui hal tersebut di atas saya TETAP tidak ikut makan HOSTI karena AJARAN Katolik bahwa HOSTI dan anggur BERUBAH menjadi TUBUH Kristus. Bagi saya itu adalah TAHYUL.

    Kemudian saya menemukan FAKTA bahwa di GKI, tempat saya tercatat sebagai anggotanya, Ada yang percaya hosti dan anggur BERUBAH menjadi tubuh dan darah Yesus. Ada pula yang percaya HOSTI dan ANGGUR hanya SIMBOL dari tubuh dan darah Yesus.

    Kedua romo itu kemudian mengajari saya bahwa, bagi sebagian orang Indonesia, bendera merah putih hanya SIMBOL namun bagi sebagian yang lain, bendera merah putih adalah InDONESIA itu SENDIRI.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.