Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. salam damai sejahtera untuk saudara hai hai terkasih,
    saya memang pernah mendengar bahwa baptis di beberapa gereja kristen protestan diakui di gereja katolik. NAMUN hanya BAPTIS saja yang diakui. BUKAN berarti karena baptis saudara hai hai sudah diakui, maka saudara hai hai boleh menerima komuni. dalam tata cara perayaan ekaristi di gereja katolik, umat yang boleh menerima sakramen ekaristi atau komuni kudus adalah mereka yang sudah DIBAPTIS SECARA KATOLIK DAN SUDAH MENERIMA KOMUNI PERTAMA. dalam kasus ini, saudara hai hai BARU MEMENUHI SATU SYARAT, sedangkan syarat lainnya belum terpenuhi.

    yuk mari kita gambarkan dengan pembuatan ktp di kelurahan. pembuatan ktp pun juga ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti sudah berusia 17 tahun, membawa akte lahir, membawa kartu keluarga, membawa surat pengantar dari RT/RW setempat, dan lain sebagainya. ketika si pembuat ktp tidak memenuhi satu syarat (misalkan tidak membawa kartu keluarga), pasti pihak kelurahan meminta si pembuat ktp untuk melengkapi terlebih dahulu syarat yang sudah ditentukan sebelumnya.

    begitu pula dengan gereja katolik, ada syarat yang sudah ditentukan sebelumnya. ada hal yang harus dipenuhi oleh umat katolik SEBELUM AKHIRNYA DINYATAKAN LAYAK untuk menerima sakramen ekaristi. saudara hai hai harus belajar dahulu atau yang disebut sebagai komuni pertama. di sana saudara hai hai akan diajarkan bagaimana tata cara penerimaan komuni yang benar sesuai dengan aturan gereja katolik.

    saya rasa tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan tata cara penerimaan komuni kudus dalam gereja katolik karena sudah banyak penjelasan dari umat katolik di bawah comment saya. namun saya merasa tergelitik untuk berkomentar karena reply dari saudara hai hai kepada komentar dari Agus Rahman (silakan scroll ke bawah dan cari comment dari Agus Rahman). saudara agus sudah menjelaskan aturan dari RS dan PUMR terkait dengan tata cara penerimaan komuni, akan tetapi, saudara hai hai malah me-reply dengan “kisanak saya malas baca komentar anda. ORA MUTU.” justru menurut saya, komentar dari saudara agus adalah komentar yang BERMUTU dimana sebagai saudara seiman, saudara agus mencoba untuk menjelaskan dengan sebaik mungkin tata cara penerimaan komuni kepada saudara hai hai agar saudara hai hai tahu bagaimana cara yang BENAR dan yang SESUAI DENGAN TATA CARA GEREJA KATOLIK.

    saya tidak tahu latar belakang pendidikan saudara hai hai. akan tetapi, sebagai seseorang yang percaya akan Tuhan, alangkah lebih baik jika saudara hai hai tidak menggunakan kata-kata “TOLOL” dan “GOBLOK”. Tuhan sendiri saja tidak pernah mengatakan anak-anakNya sebagai manusia yang “TOLOL” dan “GOBLOK”. padahal anak-anakNya sering sekali jatuh ke dalam dosa yang sama. namun Tuhan tidak pernah berkata, “ah nih anak tolol amat sih, udah tau itu salah, masih juga dilakukan.” justru Tuhan merangkul anakNya yang jatuh, mengampuninya, dan mengajarkan hal-hal yang baik dan benar.

    kembali lagi, dosa memang ditanggung masing-masing orang. namun sebagai saudara seiman, saya hanya ingin mengingatkan saudara hai hai untuk tidak memperbanyak dosa dengan berbicara kata-kata kasar seperti “TOLOL” dan “GOBLOK”. silakan saudara hai hai renungkan kembali apakah saudara sudah melakukan HAL YANG SESUAI DENGAN TATA CARA GEREJA KATOLIK atau belum.

    jaman sudah maju, akses internet pun mudah dijangkau oleh lapisan masyarakat. jika saudara hai hai bisa menuliskan pemikiran saudara di blog ini, berarti saudara juga bisa browsing tentang tata cara penerimaan sakramen ekaristi di gereja katolik sebelum akhirnya menyimpulkan dengan kata-kata kasar.

    salam damai Kristus.

  2. Itu hanya sepotong roti,knapa harus di sakralkan?knp harus di ributkan? apa ada yg namanya perjamuan kudus?apa itu kudus ???yg ada hanya perjamuan ,yg ada hanya suatu tatacara perjamuan dan makan ROTI yg ga berbeda dgn roti2 yg lain(kecuali rasanya mungkin,hehe).perjamuan ga bs menyelamatkan siapapun,begitu jg rotinya…Yesus lah yg bs menyelamatkan kita,itu lah sebenarnya Roti yg harus kita makan

  3. Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk “anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas”.

    Baca yang lengkap!
    “anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas”.

    Protestan tidak memiliki kedudukan yang sama dengan Gereja Timur dalam penilaian Tahta Apostolik. Syarat kedudukan menyangkut sakramen-sakramen itu adalah:

    a. necessity or genuine spiritual advantage
    b. when the danger of error or indifferentism is avoided
    c. it is physically or morally impossible to approach a Catholic minister
    d. a church which has valid sacraments

    Karena gereja-gereja yang lahir setelah gerakan Reformasi Protestan tidak punya sakramen yang sama dengan Gereja Katolik dan Ortodox, Gereja Protestan tidak termasuk dalam “Gereja-Gereja Lain”. Mungkin anda punya pembaptisan dan semacam komuni, tapi selain baptis, tidak ada sakramen protestan yang diakui di dalam Gereja Katolik.

    Karena itu, umat Gereja setelah Reformasi dilingkup dalam KHK 844§4:

    Kan. 844 § 4: JIKA ADA BAHAYA MATI ATAU MENURUT PENILAIAN USKUP DIOSESAN ATAU KONFERENSI PARA USKUP ADA KEPERLUAN BERAT LAIN YANG MENDESAK, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.

    Selain itu, anda mempermasalahkan hosti yang dibawa ke tempat duduk? Memang tidak boleh!
    Redemptionis Sacramentum, dan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR):
    RS 92 “Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat dengan recognitio oleh Tahta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar HOSTI DIMAKAN OLEH SI PENERIMA PADA SAAT MASIH BERADA DI HADAPAN PETUGAS KOMUNI, sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.”

    (http://www.catholiceducation.org/en/religion-and-philosophy/apologetics/communion-questions-just-keep-coming.html, bacaan bagus nih. baca? baca.)

    Hati-hati menololkan diri-sendiri. :p

  4. Bengcu..imanmu hanya selebar sawah 2 petak.ada alasan kenapa setiap umat khatolik wajib makan hosti di dpn misdinar/pelayan gereja..karena pernah terjadi pencemaran hosti d beberapa gereja khatolik..Jadi tolong dong jgn saling membandingkan gereja ini dan itu.atau hanya modus ne gan…tolong dong promosikan web bukan begini caranya…atau kepingin terkenal.

  5. saya pemeluk Katholik. Semua komen yang berisi umpatan dan makian pada saudara2 yang seiman maupun pada saudara 2 yang tidak seiman sepertinya BUKAN cerminan seorang Katholik. Apapun perilaku dan tutur kata seseorang merupakan cerminan IMAN, bukan AGAMA.

  6. halaaaah reply comment lo kebanyakan template. Cuma copas doang dan menjawab HAMPIR semua comment dengan kalimat yang sama. Udah salah masih bisa berkelit. Lo nanya kan tindakan mana yang melecehkan Gereja Katolik? tindakan lo yang bukan UMAT KATOLIK menerima tubuh dan darah Kristus yang diimani secara KATOLIK. Lo bukan umat KATOLIK kan? NAH MASIH NANYA LAGI TINDAKAN PELECEHAN LO YANG MANA? Udah salah ga sadar sadar. Kalo memang lo punya iman KATOLIK tinggal daftar katekumen dibaptis secara katolik dan menjadi umat katolik. Bukannya umat sebelah yang main masuk aja dan sok mencari pembenaran dengan otak lo yang cetek itu. Sekarang gini deh, gw yang ke GKI dan gw seenaknya ga menuruti tata cara beribadah umat GKI. Lo marah ga? Kalo ga berati iman lo cuma ada di ujung kuku doang. Mas eh dimana pun juga TIDAK ADA YANG NAMANYA UMAT YANG TIDAK DIBAPTIS SECARA KATOLIK BISA MENERIMA TUBUH KRISTUS. Lo tuh udah salah tapi biar ga malu masih cari pembenaran. Kalo ini gw bawa ke meja persidangan atas tuduhan pelecehan Institusi mao ga? Institusi di sini atas nama Gereja Stella Maris serta pencemaran nama baik kepada Suster dan Misdinar. Teman teman yang lain mohon dibantu untuk membawa orang ini ke pengadilan.

  7. hai jon23, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan anda dengan mengutip dari website KAJ (Keuskupan Agung Jakarta).

    1. itu hanya sepotong roti, kenapa harus disakralkan?
    “Perjamuan Ekaristi adalah peringatan syukur untuk mengenangkan dan sekaligus menghadirkan kembali Yesus yang mempersembahkan diri-Nya dalam kematian di salib demi keselamatan manusia, sesuai dengan perintah Yesus.
    Melalui Ekaristi, kita mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus (Komuni Suci) serta turut serta dalam pengorbanan diri-Nya. Roti dan anggur ditransformasi menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Perubahan ini disebut transubstansiasi.”

    jadi dengan kata lain, itu BUKANLAH SEKEDAR roti seperti yang anda katakan. tetapi sudah diubah menjadi tubuh dan darah Kristus melalui doa syukur agung.

    2. apa ada yang namanya perjamuan kudus?
    “(Perayaan) Ekaristi diimani sebagai “sumber dan puncak” kehidupan Kristiani. Di dalamnya terdapat TINDAKAN PENGUDUSAN yang paling istimewa oleh Allah kepada umat beriman karena terdapat kehadiran (dan pengorbanan) Yesus Kristus dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya atau Sakramen Ekaristi. Ekaristi juga menjadi tindakan penyembahan yang paling istimewa oleh umat beriman kepada Allah. Ekaristi juga menjadi representasi umat beriman terhubung dengan liturgi di surga. Betapa pentingnya sakramen ini sehingga partisipasi dalam perayaan Ekaristi (Misa) dipandang sebagai kewajiban pada setiap hari Minggu dan hari raya khusus, serta dianjurkan untuk hari-hari lainnya. ”

    tindakan pengudusan tersebut yang kemudian direpresentasikan sebagai perjamuan kudus seperti yang dilakukan Yesus bersama dengan muridNya sebelum Ia disalibkan.

    3. yang ada hanya suatu tatacara perjamuan dan makan roti yang ga berbeda dengan roti-roti lainnya.
    silakan anda lihat kembali di jawaban no 1. roti SUDAH DIUBAH menjadi tubuh dan darah Kristus. ya, memang tata cara perjamuan di gereja katolik dengan gereja kristen berbeda. mungkin di setiap gereja kristen pun memiliki tata cara yang berbeda pula. namun, saya ingin menggarisbawahi bahwa baik gereja katolik maupun gereja kristen, sama-sama mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus.

    ya, memang benar hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan kita. akan tetapi, Yesus sendiri ingin umat manusia untuk mengenang dan memperingati kematianNya melalui perjamuan atau sakramen ekaristi. akhir kata, saya akan kembali mengutip……
    “Sakramen Ekaristi berasal dari Yesus sendiri. Dalam Perjamuan Terakhir bersama para murid, Yesus mengucap syukur dan memberikan pesanNya: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi kenangan akan Aku. “ Ia juga berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagimu.” Ia juga memberikan perintah untuk melakukan hal itu sebagai kenangan akan diri-Nya: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Daku “. Perjamuan Tuhan diteruskan oleh Gereja dalam perjamuan Ekaristi. Perjamuan Ekaristi adalah peringatan syukur untuk mengenangkan dan sekaligus menghadirkan kembali Yesus yang mempersembahkan diri-Nya dalam kematian di salib demi keselamatan manusia, sesuai dengan perintah Yesus. Melalui Ekaristi, kita mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus (Komuni Suci) serta turut serta dalam pengorbanan diri-Nya.”

    semoga dapat anda dapat memahami kesakralan dalam sakramen ekaristi.

  8. Maaf sebelumnya. Saudara bengcu, perkenalkan. Saya adalah seorang misdinar perempuan / putri altar dari sebuah gereja Katolik. Umur saya 13 tahun. Anda telah belajar teologi Katolik, dan dalam teologi tersebut menyatakan bahwa sidhi di GKI diakui Gereja Katolik, sehingga semua orang yang telah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa Katolik. Jika memang benar demikian, baiklah demikian. Namun, tata perayaan misa di Gereja Katolik punya tata cara dan ritualnya sendiri. Dalam tata cara perayaan Katolik, setelah menerima hosti, haruslah dimakan saat itu juga. Tidak boleh dibawa ke tempat duduk. Kecuali anda dalam kondisi sakit, dan anda tidak mampu bergerak sama sekali, maka pelayan misa akan membawakan hosti tersebut ke tempat duduk anda, tidak boleh orang lain yang notabene adalah bukan pelayan misa. Bahkan, sebagai misdinar, saya tidak boleh membagikan hosti yang langsung dari sibori ke orang yang sakit. Jika anda mengikuti perayaan misa di Gereja Katolik, taatilah peraturan dan tata caranya! Menurut saya, tidak ada yang salah dengan tindakan misdinar dan suster seperti yang anda katakan dalam pengalaman anda di atas. Mereka tidak ada maksud untuk mempermalukan anda. Tujuan mereka, hanya untuk menegur anda, bahwa anda salah. Mereka ingin menegaskan, bahwa tata cara perayaan Misa Katolik adalah “JIKA ANDA MENERIMA HOSTI KUDUS, SANTAPLAH SAAT ITU JUGA, DI TEMPAT ANDA MENERIMANYA”. Sebagai misdinar, saya mungkin juga akan bertindak demikian. Jika anda ingin mengkritik, setidaknya gunakanlah bahasa yang santun. Apakah anda tidak malu, anda ditegur dengan seorang anak perempuan berumur 13 tahun? Kalau saya menjadi anda, saya akan malu. Sangat malu. Untuk saudara Katolik yang lain, jangan terpancing emosi ya! Jangan gunakan bahasa yang tidak santun dan kasar. Kita kan, sama-sama Pengikut Kristus. Sebaiknya masalah ini jangan diperpanjang lagi. Tidak ada gunanya. Masalah ini hanya akan membuat kita terpancing emosi, iya kan? Itu saja yang ingin saya sampaikan. Maaf jika terlalu panjang. Sekian dari saya. Terimakasih. Tuhan memberkati.

  9. Inilah yang kami orang Katolik sebut dengan iman. Kami mengimani bahwa ada yang disebut dengan transubstansiasi, yaitu perubahan substansi, dari sepotong roti dan segelas anggur, menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Ada beberapa mukjizat Ekaristi – silakan dibaca di buku Mukjizat Ekaristi – bahwa pada beberapa kesempatan, sepotong roti dan setetes anggur menjadi daging dan darah yang setelah di-test adalah daging dan darah manusia.

    Oleh karena itu juga orang Katolik sangat hati-hati dalam menjaga roti (hosti) dan anggur yang telah diberkati oleh imam sehingga tidak tercecer, karena kami sungguh meyakini bahwa roti dan anggur itu sudah secara mukjizat menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri.

    Mungkin bagi orang non Katolik hal ini sulit dipahami, tapi demikianlah iman kami. Dan sebagaimana kami menghormati orang-orang Kristen non Katolik yang tidak melihat roti dan anggur dengan iman yang sama, kami pun mohon agar bapak/ibu non Katolik juga dapat menghormati iman Katolik kami. Kami mohon maaf kalau mungkin di dalam perkataan dan tindakan pada saat itu ada yang menyinggung bapak/ibu, tapi sebagaimana bapak/ibu pasti marah ketika sebuah buku Alkitab diinjak2, demikianlah pula perasaan kami ketika ada hosti dan anggur yang telah diberkati diperlakukan secara tidak hormat. Terima kasih.

  10. Oh ya, ada yang ketinggalan. Memang, “BAPTIS SIDHI DI GKI” memang diakui Gereja Katolik, namun, bukan berati anda bisa menerima komuni di Gereja Katolik kan? Think Again. Saya juga pernah mengikuti pendalaman iman dan membaca dari berbagai sumber, bahwa seorang Katolik tidak bisa menerima komuni di Gereja Kristen, begitu juga sebaliknya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.