
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
@ Andre, tindakan anda menjadi FRONT PEMBELA KATOLIK bolah boleh saja namun lakukanlah dengan CERDAS. Ha ha ha ha …. RULE? MEmangnya RULE mana yang hai hai LANGGAR?
RULE hosti nggak boleh di bawa PERGI? Kisanak, Setelah menerima hosti, hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Kisanak, nggak ada tuh KASUS hai hai mau BAWA hosti ke hongkong. Juga tidak ada tuh kasus hai hai mau bedoa di MEKAH. Ha ha ha ha …
RULE orang Kristen nggak boleh ikut sakramen ekaristi? ha ha ha ha … Lu pasti nggak tahu apa itu KITAB HUKUM KANON KATOLIK, makanya main HAKIM membabibuta tanpa DASA HUKUM yang JELAS. Ha ha ha ha …. nich baca yang jelas ya?
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Mohon maaf Pak hai hai…
Mungkin kami orang Katolik emang GOBLOK dan TOLOL seperti yg Bapak sampaikan… Gereja Katolik dalam ekaristi kudusnya memang mengagungkan prosesi penerimaan sakramen ekaristi pada setiap perayaan ekaristi ato misa kudus. Kenapa demikian…? Dalam Gereja Katolik, roti dan anggur telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus setelah Konsekrasi dalam Doa Syukur Agung. Iman Katolik meyakini benar akan misteri iman ini. Itu sebabnya menyia2kan hosti setelah konsekrasi sama halnya dengan menyia2kan Tubuh Kristus. Apalagi ada statement anda selanjutnya yg karna kekesalan ingin menginjak2 hosti suci itu hingga hancur. Mohon maaf… itu artinya anda tidak bisa mengimani bahwa yg akan anda injak2 itu tidak lain adalah Tubuh Kristus yg jelas2 sudah menebus dosa2 anda dan kita semua dengan wafat dan bangkit dari salib. Saya tidak tau apakah perjamuan kudus di GKI memiliki makna yg sama ato berbeda tapi yang pasti persyaratan utk menerima komuni suci adalah bukan hanya karena telah dibabtis tapi harus juga telah menerima komuni pertama dengan pelajaran agama yang cukup termasuk diantaranya bagaimana memaknai sakramen ekaristi dan mengimani misterinya serta tata cara penerimaannya menurut ajaran iman katolik. Tentu menjadi jelas kenapa pelayan Tuhan yakni suster dan misdinar memperhatikan ketidakwajaran ketika anda akan membawa hosti dan berniat memakannya di t4 duduk. Mohon maaf ini SOP nya. Kalo ada hal yg terjadi di luar SOP maka tentu perlu diklarifikasi. Untuk itulah misdinar meminta anda utk memakannya. Semoga dapat dimaklumi karena demikianlah iman katolik. Kalo kiranya salah menurut anda mohon dengan segala kerendahan hati agar dapat dimaafkan. Bapa Paus John Paul II bahkan memaafkan penembak jitu yg tertangkap karena telah menembaknya dan bahkan mengunjunginya di penjara. Saya yakin dan percaya suster dan misdinar tsb akan melakukan hal yg sama pada anda. Tuhan memberkati…
Maaf kak,sy org GKI…sy rasa sebaiknya anda jangan membandingkan GKI dan Katolik. Setiap tempat punya cara yg berbeda dalam mengambil perjamuan kudus…teman2 dekat sy bnyk yg dari katolik..tp kami saling menghargai…sy selalu disarankan tdk ikut perjamuan kudus di umat katolik…hal ini menghindarkan sy untuk ga melakukan hal kesalahan liturgi seperti anda…ingat setiap gereja punya tata cara liturgi sendiri…saya rasa jika anda berTuhan anda ga harusnya menghina sesama iman kristen..baik itu katolik dan protestan..ingat kita satu Tuhan,satu iman,satu baptisan…jgn merasa diri paling hebat…krn yg merasa paling hebat dan paling tahu bnyk hal.dia palg jd sasaran empuk buat di pakai iblis berbuat jahat…
Kalau bgtu sama dgn anda, belajar dulu baik-baik bukan menyesatkan dan lebih bijaksana dalam berkata-kata dan tindakan BARU MEMBUAT BLOG YG BERISI SEBUAH AJARAN YG MEMBANGUN BUKAN MENGHANCURKAN, terima kasih 🙂
@lydia, Cobalah anda bayangkan, kalau JUDUL tulisasn saya buat sesuai usulan anda. Kemudian bagian-bagian yang mencatat PIKIRAN dan PERASAAN hai hai saya HILANGKAN. Juga bagian yang menyatakan hai hai bukan orang Katolik saya hilangkan.
Tulisan itu menjadi TIDAK JUJUR apa adanya. BUKAN KESAKSIAN lagi namanya namun PENCITRAAN dan PEMBOHONGAN PUBLIK. Apa TANGGAPAN mereka yang membaca TULISAN tersebut? Saya yakin, semua yang BACA akan menyatakan SIMPATI dan menyalahkan misdinar dan suster tersebut.
Tulisan demikian adalah tulisan BALAS DENDAM. TULISAN untuk MENGHASUT pembaca MEMBENCI misdinar dan suster tersebut.
Saya menuliskan PENGALAMAN saya dan PERASAAN serta PIKIRAN saya saat mengalaminya APA ADANYA. Apa yang terjadi kemudian? bangkitnya FRONT PEMBELA KATOLIK. KATOLIK VS non KATOLIK. KATOLIK pasti BENAR dan non Katolik HARUS SALAH. Itu sebabnya yang terjadi kemudian adalah MENGHALALKAN segala CARA untuk MENGHINA dan MengEJEL serta MEMBULLY dan menyalahkan hai hai. TIDAK ada yang MEMANDANG kejadian tersebut apa adanyaa.
Bagaimana dengan anda? Anda kasihan hai hai dipermalukan di depan umum? hai hai tidak melakukan KESALAHAN itu dia tidak MERASA MALU sama sekali dengan apa yang dialaminya. hai hai MARAH karena PELAYAN ekaristi MENCEMARI sakramen ekaristinya.
Sama seperti FRONT PEMBELA KATOLIK anda tidak lebih tidak kurang adalah FRONT PEMBELA KRISTEN. Anda melakukan hal yang SAMA dengan FRONT PEMBELA KATOLIK itu. MENGHALALKAN segala CARA untuk MEMBERSIHKAN Kekeristenan. anda sama TOLOLNYA dengan para FRONT PEMBELA KATOLIK itu dengan menasehati hai hai menghormati PERATURAN orang lain. Anda nggak suka saya sebut TOLOL? Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, tindakan and demikian memang TOLOL. Saya harus gunakan kata APA untuk menyebut anda? PERATURAN apa yang hai hai LANGGAR dalam kasus tersebut? KASUS hai hai orang Kristen seharusnya tidak makan hosti gereja Katolik? tahu di mana tOLO-nya anda?
Anda tidak tahu bahwa orang Kristen boleh ikut ikut sakramen ekaristi bila MEMINTANYA dengan SUKARELA dan MENGERTI. Itulah yang tercatat di dalam KITAB HUKUM KANONIK KATOLIK. di samping itu, MASALAH timbuk bukan karena misdinar dan suster itu MELARANG hai hai makan hosti karena hai hai Kristen. namun entah kenapa keduanya melakukan tindakan TOLOL demikian tanpa alasan.
Jadi kisanak, KELUARLAH dari FRONT PEMBELA KRISTEN bila anda mau MENGHAKIMI kasus tersebut dan HAKIMILAH dengan ADIL. HAKIMI dengan AKAL SEHAT dan PENGETAHUN. bukan dengan PRASANGKA perasaan SOK SALEH. Anda tidak suka disebu TOLO? bagaimana kalau saya ganti dengan sebutan alkitabiah, “HAI ULAR BELUDAK”?
Kalau memang hanya untuk alasan gak mau ekaristi itu tercemar jd utk apa anda marah-marah di blog, mungkin bisa anda marah di Gereja, itu urusan anda dan Tuhan, berhubung itu rumah Tuhan, tapi kalau di blog itu sudah masuk ranah sosial. Anda paham sekali alkitab, pastinya tahu tentang hal yang mengajarkan KASIH.
Aduh, pas baca headline nya saya kira ini artikel apa, taunya…
Sori, saya mungkin ngga mendalami teologi dan saya juga ngga terlalu religius. Tapi saya mau bahas dari sisi Psikologi aja, karena kebetulan background saya dari sana, dan kebetulan saya juga Katolik dari lahir. Tidak ada maksud untuk membela atau apa, ini hanya pendapat pribadi saja berdasarkan pengetahuan “minim” yang ngga sebanding dengan pribadi spt bapak yang “sepertinya sih” lebih tahu banyak soal agama yang saya anut.
Sepertinya perilaku Bapak menulis artikel ini adalah bentuk pertahanan diri bapak terhadap prinsip yang bapak pegang. Masalahnya hanya ada di perbedaan prinsip antara yang selama ini bapak anggap benar (karena bapak merasa tahu banyak dengan belajar teologi dsb, atau sering mengikuti kegiatan rohani agama Katolik) dan aturan yang memang sebenarnya berlaku di Gereja Katolik.
Saya pernah dengar dari mama saya karena beliau pernah bertugas sebagai bagian tata tertib dalam Misa, beliau cerita kalau memang tugas tata tertib selain membagikan box kolekte, juga mereka punya tugas yang sama seperti yang dilakukan Suster dan Misdinar tersebut, yaitu mengawasi jalannya perayaan ekaristi agar berjalan sesuai tradisi dan menegur kalau2 ada hal yang ngga sesuai tradisi dan memang harus langsung ditegur di tempat, seperti yang bapak alami di Misa pernikahan kerabat bapak sebulan yang lalu.
Mungkin kalau pemahaman versi GKI Bapak adalah mendoakan sakramen tersebut terlebih dahulu baru memakannya, ya.. saya menghargai pendapat bapak. Tapi setahu saya hal itu ngga sesuai sama tradisi Gereja Katolik. Ya, saya ngga tau kenapa selama ini Bapak selalu “lolos” melakukan hal itu setiap kali mengikuti misa di Gereja Katolik, tapi mungkin Bapak bisa mulai mengendurkan prinsip bapak dan berpikir, siapa tahu kejadian di misa pernikahan itu memang peringatan buat Bapak supaya Bapak bisa lebih memahami sudut pandang lain dalam agama Katolik.
Jujur saya prihatin baca artikel Bapak. Saya sampe mikir, ini siapa yang ngaco sih. Tapi setelah saya pikir2 lagi, mungkin bapak hanya ingin dimengerti soal prinsip yang bapak anut. Cuma tolong, ketika kita ingin dimengerti, ada baiknya kita juga mencoba memahami, tapi bukan mencari pembenaran atas sudut pandang sendiri.
Sori kalau ada salah-salah kata atau terkesan menggurui, saya hanya mengungkapkan pendapat pribadi saya (saya ingin dimengerti, tapi saya juga berusaha untuk mengerti apa yang dirasakan penulis artikel ini). Semoga untuk ke depannya, kejadian seperti ini ngga terulang lagi. Salam.
Kalau bgtu anda seorang katolik? Dari semua balasan yg anda masukan, hanya pertanyaan ini yg blm dijawab, bgmn?
Nb: TOLONG BAGI YANG TAHU ATURANNYA DI GEREJA KATOLIK, APAKAH YG MENERIMA HOSTI SAKRAMEN EKARISTI DI GEREJA KATOLIK HANYA UTK AGAMA KATOLIK? ATAU BOLEH DARI AGAMA KRISTIANI?
(maaf memakai huruf kapital semua, krn ini notice yg sangat saya butuhkan jawabannya)
Saudara bengcu..jika anda tidak percaya ritual dan iman katolik, untuk apa anda maksa ikut misa katolik dan makan hosti bersama dgn istri anda yg katolik? Saya jd tidak mengerti dgn niat anda yg sebenarnya..tolong jgn menebar kebohongan dan kesaksian palsu..dan hormati iman dan keyakinan org lain..jika anda tidak suka, silahkan pilih agama yg anda anggap benar..tidak ada seorangpun yg berhak memaksa anda untuk menghadiri misa katolik dan merayakan perjamuan ekaristi. Jadi tidak sepatutnya anda bicara buruk dan memperpanjang masalah yg sebenarnya tidak ada.
Atau anda sedang cari perhatian dan popularitas? Kalau ya, tolong cari topik lain yg tidak menyinggung org atau komunitas tertentu. Hormati perasaan org lain.
bengcu…….TOLOL …