
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
Coba sekali waktu anda mengikuti Misa suci ini di Flores pedalaman atau di Timor Leste, Pak Tua…… mungkin anda akan bisa merasakannya bila beruntung…… atau malah tak akan merasakan apa apa lagi…… silakan kau kunjungi gereja gki-mu sering sering dan gak perlu gagah gagahan dengan mengacau di gereja Katolik kami….. damai itu indah…. tetapi terkadang peperangan harus mendahuluinya.
INI ADA ATURANYA!!!!
RS 92 Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat dengan recognitio oleh Tahta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya.
Akan tetapi harus dperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni,
sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.”
-AKAN TERLIHAT SIAPA YANG TERLIHAT TOLOL DAN TAK TAU ATURAN-
kalo situ mau mengikuti ibadah kami ya harus dengan tata cara kami, bukan kami yang harus mengikuti ego anda. ibarat kata anda bertamu ke rumah orang dengan adat dan kearifan yang telah mereka junjung tinggi dari generasi ke generasi, kebetulan saat anda bertamu ke situ anda merasa risih dengan hal tersebut dan anda malah protes dan memaki makinya ..
saya sarankan anda segera menghapus postingan anda ini terima kasih
Selamat siang Pak, saya mengerti perasaan Anda yang marah ketika ditegur tersebut. Bukan karena saya pernah melakukan hal tersebut, tetapi karena saya pun pernah ditegur di depan umum ketika saya merasa bahwa saya berada di posisi yang benar. Akan tetapi, saya harus mengatakan, bahwa sejauh yang saya pelajari selama menjadi seorang Katolik dua puluh tahun, dalam hal ini, Andalah yang berada dalam posisi bersalah.
Pertama-tama, Ekaristi hanya boleh diterima oleh orang yang telah dibaptis secara Katolik dan telah mengikuti kursus selama beberapa bulan untuk menerima Komuni Pertama. Argumen Anda bahwa Alm. Romo Broto dan Mgr. Leo Soekoto pernah berkata bahwa baptisan Anda dianggap sah dalam Gereja Katolik tidak cukup untuk membenarkan Anda menerima komuni. Mengapa? Karena walaupun baptisan dari GKI dianggap sah (karena menggunakan forma dan materi yang sama dengan Gereja Katolik), setahu saya tetap harus dilakukan beberapa upacara penerimaan masuk Gereja Katolik dan tetap harus mengikuti kursus agama tersebut, bahkan lebih panjang dari beberapa bulan sebelum Bapak diperbolehkan untuk menerima Komuni Pertama. Mungkin menurut Bapak kursus dan upacara tersebut tidak penting, karena yang penting adalah “hatinya”. Akan tetapi, saya pun pernah bersekolah di sebuah sekolah yang berafiliasi dengan GKI selama belasan tahun, dan dari apa yang saya pelajari di sana, penghayatan makna Ekaristi dalam GKI dan Gereja Katolik sangat berbeda. Inilah yang setahu saya mendasari larangan bagi penerimaan Komuni oleh orang-orang non-Katolik.
Kedua, Komuni memang harus dimakan segera setelah diterima, dan tidak dibawa ke bangku untuk berdoa dahulu. Bukankah sudah diberikan waktu untuk berdoa dahulu sejenak sebelum umat maju menerima Komuni? Prosedur penerimaan Komuni ini ditentukan untuk menghormati Hosti yang memang benar adalah Tubuh dan Darah dari Yesus Kristus sendiri. Bahkan, sebenarnya, dalam posisi yang sangat hormat, Hosti tidak diterima dengan tangan dalam posisi berdiri, melainkan diterima dengan lidah dalam posisi berlutut. Oleh karena itu, ketika Anda dipaksa untuk mengembalikan Hosti tersebut, Suster dan para Misdinar tersebut telah melakukan hal yang benar, sebab perilaku yang tidak langsung memakan Hosti setelah diterima dan bahkan hingga membawa Hosti ke tempat duduk dianggap perilaku yang SANGAT TIDAK MENGHORMATI Hosti dalam Gereja Katolik. Memang benar, ketika maju menerima Hosti, umat tidak perlu menunjukkan sertifikat surat baptis, akan tetapi, umat WAJIB menunjukkan perilaku yang sangat menghormati Hosti. Karena Gereja Katolik percaya bahwa Hosti itu adalah benar Tubuh dan Darah Yesus Sendiri, yaitu Tuhan kita. Apabila Bapak melihat seseorang menghina dan menghujat Tuhan secara langsung, bukankah Bapak juga akan marah, seperti Suster dan para Misdinar tersebut?
Oleh karena itu, saya rasa tidak perlu lah Bapak menyebut Suster dan Misdinar di Stella Maris dengan sebutan, maaf, “tolol” maupun “goblok”. Saya percaya Bapak sebagai seorang pengikut Kristus mau memaafkan dan mencoba memahami mengapa Suster dan para Misdinar berlaku demikian, terutama setelah Bapak diingatkan (berulang-ulang dalam komentar di tulisan ini) bahwa apa yang Bapak lakukan memang dianggap SANGAT MENYALAHI tata cara yang hormat dalam Gereja Katolik.
Dengan hormat,
Agustina Maria Dominika Prisilia (umat Gereja Katolik Stella Maris)
menunjukan KETOLOLAN DAN KEGOBLOKAN ANDA SENDIRI dari tulisan anda ini.
jika anda melakukan ini di Gereja Katolik daerah Flores…. maka siap2lah anda menerima akibatnya. seorang dari GKI masuk dalam GK dan menunjukan sikap yang kurang sopan. dari tulisan anda banyak yang terlihat sangat meragukan. kata dan sikap anda dr tulisan ini TERLIHAT SANGAT MASIH LEMAH PENGETAHUAN TENTANG IMAN KATOLIK ANDA.
nasib baik anda tidak meramas Hosti itu dan mengebaskan debunya. jika ini terjadi maka bukan saja anda berdosa terhadap Tubuh Tuhan sendiri tapi juga akan dikerjakan sampai babak belur jika anda melakukan ini di Flores atau Timor Leste.
=======>>>>>> YANG TOLOL DAN GOBLOK ITU IALAH ANDA<<<<<<============
Maaf, pak. Menurut saya, jika bertamu di rumah orang, kita harus ikut peraturan empunya rumah dan tidak sepatutnya menghina bila kebiasaan di rumah itu tidak sesuai dengan kita. Saya seorang penganut ajaran Buddha Gautama. Jika sembahyang bersama teman di Vihara Maitreya, maka saya akan ikut peraturan mereka tanpa protes apalagi menghina dan merendahkan dengan kata-kata kasar walaupun ada sedikit perbedaan tatacara. Saya tidak akan minta mereka memaklumi keinginan pribadi karena saya adalah tamu di rumah mereka.
Pak tolong mulut itu di jaga bicaranya. Anda menghina dan mencaci apa yang dilakukan oleh misdinar dan suster yang notabennya mereka mengikuti aturan Gereja Katolik. Jadi rasanya andalah yang TOLOL dan GOBLOK karena bukanlah bagian dari Iman Gereja Katolik tetapi sok tau isi aturan dari kegiatan liturgi yang ada di Katolik.
Coba sebaiknya anda belajar yang benar lagi dan jika memang ingin menikmati Tubuh Kristus dengan cara Katolik maka sebaiknya mengerti dahulu aturannya, karena hanya anggota Iman Katolik lah yang boleh menyantap Tubuh Kristus dalam perjamuan Kudus di Katolik.
Jadi gak perlu ngoceh panjang lebar kalo basicnya saja anda tidak mengerti.
Entah kenapa saya kok seperti membaca tulisan orang inferior yang mencari pembenaran dengan back up nama2 uskup n romo yg saya yakin tidak sedangkal itu mereka akan sharing iman Katholik (jika Anda benar2 konsultasi dengan mereka), atau mungkin penerimaan Anda yang tidak sampai ke inti iman Katolik alias hanya surface saja). Kedua, beristrikan orang Katholik juga rasanya tidak pas buat back up bahwa Anda paham Katholik. Ketiga, Anda sebutkan kata kata ‘TOLOL’ dan ‘GOBLOK’ berulang kali, tapi Anda bilang tulisan ini bukan ekspresi kemarahan… hmmm… saran saya, jika ingin benar2 memahami ajaran Katholik mulailah dari bersikap rendah hati (bukan rendah diri) dan penuh kasih, dan pelajari iman Katholik dengan benar. Baptisan Anda diterima di Katholik tapi Anda belum berhak menerima Tubuh Kristus. Keliatan kok dari tulisan Anda bahwa Anda hanya tau sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit buanget. Yuk belajar! Tuhan memberkati.
Sudah pak, suster dan misdinar itu hanya melakukan tugasnya. Mari kita coba untuk saling memahami, karena setiap agama dasarnya adalah kasih, dan dengan kasih berarti kita saling memahami dan memaafkan.
Sedikit saran untuk bapak,
1. Menurut saya akan lebih baik jika bapak memperhalus ucapan bapak karena sebuah ucapan bisa melukai hati orang lain..Bapak punya pendapat. Jika bapak ingin pendapatnya dihargai, ada baiknya bapak mulai dari menghargai orang lain
2. Cobalah bapak belajar untuk memahami, sebelum berspekulasi negatif akan pikiran orang lain.
Ketika suster tersebut tersenyum belum tentu maksudnya adalah dia telah menang,dll sebagainya. Namun bisa saya dia tersenyum berterimakasih pada bapak karena telah mau menghargai ucapannya, atau tersenyum sebagai bentuk kesopanan, atau mungkin hal lain yang tidak berkonotasinegatif.
Jangan menganggap diri bapak yang paling benar. setiap manusia mempunyai gambaran idealnya masing masing, dan apa yang menjadi ide setiap orang itu belum tentu benar.Oleh karena itu kita harus menyamakan pikiran dan tujuan (dengan memahami). Karena itulah dibuat aturan berupa hukum, ataupun aturan dalam agama2.Tujuannya adalah menyamakan persepsi yang tujuannya tidak lain adalah mengatur aspek2 kemanusiaan.
Akhir kata mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya hanya mensharingkan sedikit pelajaran tentang dunia dari kacamata saya. Jika bapak tidak suka, maafkan saya, dan silahkan acuhkan.
Habat sekali ya anda JAUH lebih TAHU isi kepala dan isi hati hai hai dibandingkan hai hai sendiri. Ha ha ha ha … Untuk apa lagi hai hai komentar, wong anda jauh lebih tahu isi kepala dan hatinya? ha ha ha
di rumah saya tidak ada aturan. aturan apa yang mau dirubah? ha ha ha …