Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi benar-benar ADIGUNG ADIGUNA. Mereka pikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI? Mereka tidak tahu bahwa di GKI sakramen ekaristi JAUH dihormati dari pada di gereja Katolik.

    Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi BARU diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus yang SUCI. Menyiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI.

    Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya. Saya bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa namun orang GKI yang mempersiapkan jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus. Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi, bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

    Kisanak itulah alasan kenapa hai hai MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hoste setelah mengalami apa yang dilakukan oleh misdinar kepadanya. Ketika tidak diizinkan oleh suster, saya kembalikan hostinya.

    Aneh bin ajaib. tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN di mana ya?

    Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lukas 9:5

    Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium. Kisah Para Rasul 13:51

    Kisanak, KEInGInaN hati hai hai untuk MEREMAS dan menginjak hosti kemudian mengebaskan debu di katiknya sama sekalii BUKAN tindakan untuk MELECEHKAN hosti apalagi menghina sakramen ekaristi namun MMEBERI PERINGATAN kepada kedua orang itu. Namun saya tidak melakukannya karena saya hidup dipimpin AKAL SEHAT bukan EMOSI.

    KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

    1401 Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.

    Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit

    imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit JUGA kepada orang-orang Kristen LAIN yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri SECARA SUKARELA memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.

    Ada DUA HAL yang membolehkan yaitu:

    1. Ada situasi darurat yang mendesak
    2. SECARA SUKARELA memintanya

  2. Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi benar-benar ADIGUNG ADIGUNA. Mereka pikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI? Mereka tidak tahu bahwa di GKI sakramen ekaristi JAUH dihormati dari pada di gereja Katolik.

    Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi BARU diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus yang SUCI. Menyiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI.

    Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya. Saya bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa namun orang GKI yang mempersiapkan jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus. Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi, bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

    Kisanak itulah alasan kenapa hai hai MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hoste setelah mengalami apa yang dilakukan oleh misdinar kepadanya. Ketika tidak diizinkan oleh suster, saya kembalikan hostinya.

    Aneh bin ajaib. tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN di mana ya?

  3. sudah menjadi aturan umum…, bila kita berada pada suatu tempat lain atau kelompok lain kita harus mengikuti atau mentaati aturan yg sudah berlaku bagi mereka atau berlaku di tempat itu. begitu pula dengan anda yg sedang berada di dalam gereja katolik dimana perayaan ekaristi sedang berlangsung. mengenai pengumuman soal hosti hanya diperuntukkan bagi yg sudah dibabtis secara katolik atau sudah menerima sakramen komuni pertama, berlaku bukanya pada pelayan ekaristi yg membagikan komuni , tetapi juga mengingatkan kepada umat yg hadir bahwa untuk menerima hosti harus sudah di baptis dan sudah menerima komuni pertama. semua umat katolik yg sudah di baptis tahu betul aturan tersebut dan tidak akan melanggar. kecuali bagi masih beragama lain. dan memang aturannya sudah demikian hosti harus langsung segera dimakan setelah ditempat sesaat setelah diletakkan ditangan kiri kita dan tidak boleh dibawa ke tempat duduk. Aturan tersebut berlaku di seluruh gereja katolik di dunia bahkan sampai ke pelosok kalimantan hingga papua sabang sampai merauke….
    mengenai status anda yg masih kristen GKI, meskipun mendapat pengakuan oleh gereja katolik dalam hal mengikuti misa kudus dan ekaristi, bukan berarti anda boleh menyambut komuni kudus dengan semaunya….pengakuan tidak sama artinya dengan umat katolik yg sudah dibaptis secara katolik. dan anda saat itu belum dibaptis secara katolik. di gereja katolik memang banyak aturannya pak….. bahkan terkadang ngejelimet bikin pusing juga mempersulit umat katolik sendiri. tapi memang itulah adanya yg sudah terjadi. pihak gereja pun memberikan kebebasan memilih agar orang yg tertarik untuk dibaptis secara katolik agar mengikuti katekumen. bila anda merasa keberatan jgn mengikuti perjamuan kudus di gereja katolik.

  4. Kisanak, yang harus KATEKISASI itu diri anda. Kalau mau konsultasi tentang Katekismus sebaiknya anda hubungi romo gereja Katolik terdekat. meskipun tidak menuliskannya namun saya menduga ALASAN anda menyalahkan hai hai adalah karena KEYAKINAN anda bahwa HANYA orang yang sudah DIBAPTIS secara katolik yang boleh menerima sakramen ekaristi. Anda benar-benar PICIK karena gara-gara hai hai bukan KATOLIK maka tindakan TOLOL misdinar dan perbuatan goblok suster itu menjaadi BENAR?

    anda jangan BERLAGAK PILON. FAKTANYA adalah hai hai tidak jadi makan hosti di depan ALTAR setelah dia menerima hosti dan bergeser ke kanan satu langkah karena TERGANGGU oleh misdinar yang MENCEGAT dan MEMEPET-nya. Dia kembali gagal makan hosti setelah menghindari mis dinar dengan bergeser selangkah ke kanan karena tangannya dipegang dan hostinya DICOMOT oleh misdinar.

    Karena tidak BERANI MENCEMARI sakramen ekaristi maka hai hai MEMUTUSKAN untuk makan hosti di tempat duduknya setelah BERDOA melakukan perdamaian. MENGAMPUNI dan BERDOA bagi misdinar yang MENGGANGGU sakramen ekaristinya serta MENGHAPUS kekesalan di hatinya.

    Kisanak kalau mau MENGHAKIMI lakukan dengan ADIL! itulah ajaran Kristus. Kalau hati anda TERLALU panas sehingga kepala anda BERASAP sehingga pandangan ADIL anda tertutup lebih baik MINGKEM saja.

    Jangan lupa nak, yang lebih penting dari MAKAN hosti di depan pelayan ekeristi adalah JANGAN melakukan PENCEMARAN. coba anda pikir baik-baik. Apakah TINDAKAN hai hai mau BERDOA perdamaian dulu baru makan HOSTI itu MENJAGA kekudusan sakramen ekeristi atau MENCEMARKAN hosti?

    Apa susahnya membiarkan hai hai BERDOA di bangku barisan depan sebelum dia makan hosti? apa susahnya membiarkan hai hai EBRLUTU di depan altar sebelum dia makan hosti?

    Kisanak, jangan bikin malu umat Katolik. Belajar Katekismus dulu baik-baik sebelum sembarangan MENYALAHKAN orang lain. Anda pasti tidak pernah belajar KATEKISMUS KATOLIK dengan baik itu sebabnya tidak tahu pelajaran ini.

    KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

    1401 Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.

    Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit

    imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit JUGA kepada orang-orang Kristen LAIN yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri SECARA SUKARELA memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.

    Ada DUA HAL yang membolehkan yaitu:

    1. Ada situasi darurat yang mendesak
    2. SECARA SUKARELA memintanya

    Nah, kisanak anda akan membenarkan diri dan menyalahkan hai hai sebab dia MEMARAHI anda? anda akan bilang hai hai TIDAK punya kasih Kristiani karena MEMARAHI anda? Ha ha ha ha ….. kalau tidak sayang untuk apa saya MEMARAHI anda dan MENGAJARI anda? ha ha ha …

  5. kalau anda berada di gereja katolik di daerah kalimantan, ataupun NTT (Flores) dan berbuat demikian , apalagi menyebut kata kasar , anda pasti bisa diproses hukum atau minimal dihakimi masa…..pikir dahulu sebelum melakukan niat dan perbuatan

  6. @michelle, kalau saya HANYA diskusi dngan romo PAroki maka anda tidak akan mendapat PELAJARAN berhaga ini:

    Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi benar-benar ADIGUNG ADIGUNA. Mereka pikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI? Mereka tidak tahu bahwa di GKI sakramen ekaristi JAUH dihormati dari pada di gereja Katolik.

    Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi BARU diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus yang SUCI. Menyiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI.

    Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya. Saya bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa namun orang GKI yang mempersiapkan jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus. Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi, bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

    Kisanak itulah alasan kenapa hai hai MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hoste setelah mengalami apa yang dilakukan oleh misdinar kepadanya. Ketika tidak diizinkan oleh suster, saya kembalikan hostinya.

    Aneh bin ajaib. tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN di mana ya?

    Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Mustahil melanggar peraturan membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar seblum makan hostinya. tujuannya adalah MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

    Apakah orang Kristen boleh menerika sakramen ekaristi?

    KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

    1401 Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.

    Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit

    imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit JUGA kepada orang-orang Kristen LAIN yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri SECARA SUKARELA memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.

    Ada DUA HAL yang membolehkan yaitu:

    1. Ada situasi darurat yang mendesak
    2. SECARA SUKARELA memintanya

  7. Itulah sebabnya sebelum maju untuk mengambil Hosti dari para pelayan Tuhan umat katolik terlebih dahulu berlutut di bangku masing masing dan berdoa, mempersiapkan dirinya untuk menyambut Hosti yang menurut kepercayaan umat Katolik adalah Tubuh Kristus. Dan setelah hosti disantap dihadapan para pembagi hosti kemudian umat duduk dan berdoa lagi. Bukan setelah minta hosti, lalu hostinya dibawa ke bangku lalu didoakan lagi.

    Sikap para suster dan mesdinar saya rasa sudah sangat benar.
    Ada banyak orang yg non katolik mengikuti ibadah di gereja katolik, dan maju untuk mengambil hosti. Tapi dia tidak tahu bahwa hosti yg diambilnya itu hendak diapakan, sementara hosti adalah satapan yg sangat sakral dan kudus bagi umat katolik.
    Nah, itulah alasan mengapa hosti tidak dapat dibawa ke bangku atau pulang.
    Bukan berarti mesdinar atau susternya yang tolol. Mohon dipahami. Thanks

  8. Setiap aliran gerejawi pny tradisi, saat qt gak menghargai tradisi suatu gereja, jgn pikir qt pny kasih. Smntr kasih adalah hal paling d junjung oleh Kristus. Nah, kalo sadar bkn katolik, saat masuk gereja katolik, hargai aja tata aturan. D rmh qt msg2 ada tata aturan kan? Kalo d langgar pst ortu qt ngamuk. Klo bs gak hargain tradisi gereja org lain, kyknya lu d rmh sm d gereja lu sndr jg gak bs hargai aturan deh…..

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.