
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
Berdoa perdamaian otak miring lu pak bengcu, judul blog ini aja sdh TOLOL, hurup besar lg lu buat,gak akan sanggup lu tau yg damai lg.. Buat lah sekali lagi kayak gini d GK NTT, supaya nanti lu tau otak lu diluruskan lg! Lu gak minta diajar tapi DIHAJAR.!
Memang gak cocok otak miring kayak lu gini terima hosti kudus. Gak akan mampu kau,.otak miring.!
Trus kalo kau gak jd terima hosti kenapa kau protes ?? Yg harusnya mingkem itu kau, mungkin mama lu gak pernah ajar yg mana baik dan buruk ya? Ato dari nenek dstnya sdh gt, tukang cari gara2??? Hai hai pula nama lu, sok pintar lu.. Padahal 1 keturunan sakit jiwa.!!
Bukan “pandangan adil saya tertutup” tp jiwa anda sedang tidak cehad hahaha.
natas: Saat ini sudah sering ditemukan gumpalan tisu di laci tempat duduk di dalam gedung gereja yang berisi HOSTI YANG SUDAH DIKUNYAH KEMUDIAN DIBUANG. Hal ini dipandang sebagai pelecehan terhadap Gereja Katolik dan Tubuh Kristus. Sejak penemuan barang tersebut, ada peraturan baru yang diterapkan di gereja-gereja Katolik bahwa Tubuh Kristus harus dimakan saat itu juga, didepan Pastur / Suster / Prodiakon yang bertugas saat itu. Tubuh Kristus tidak boleh dibawa ke tempat duduk lagi.
@mrp, tersebut di atas adalah kesaksian seorang Katolik. Di bawah ini adalah PENDAPAT saya, DULU waktu diajak membahas masalah demikian oleh teman-teman Katolik.
PENCEMARAN ekaristi tidak boleh DIANGGAP sebagai PELECEHAN gereja apalagi PENGHINAAN tubuh Kristus! Memuntahakn HOSTI kemudian membungkusnya dengan tisue dan meninggalkannya di laci kursi, sudah terjadi SEJAK dulu. Jumlahnya tidak banyak. Jarang sekali terjadi hal demikian. Kita menganggapnya PENCEMARAN, itu sebabnya yang kita lakukan adalah BERDOA agar Allah mengampuni orang itu dan memberi pencerahan kepadanya agar mengerti MAKNA sakramen ekaristi. Apabila kita MENGUMUMKAN bahwa itu adalah PELECEHAN alias PENGHINAAN terhadap gereja Katolik dan Tubuh Kristus, maka itu sama dengan MENGAJARI dunia CARA untuk menghina Gereja Katolik dan Tubuh Kristus. PERCAYALAH kepada saya, bila melakukan hal demikian maka JUMLAH muntahan hosti dibungkus tisue akan TERUS meningkat dari hari ke hari. Kenapa demikian? Karena semakin hari semakin banyak orang yang TAHU cara untuk menghina gereja Katolik dan Tubuh Kristus.
ADA banyak orang yang TIDAK suka dengan orang yang menjadi Penjaga Liturgi. Akan banyak orang yang menaruh DENDAM karena MERASA diperlakukan tidak adil bahkan merasa dipermalukan oleh Penjaga Liturgi. Bagaimana cara orang-orang itu MELAMPIASKAN kebenciannya kepada Penjaga Liturgi? Tentu saja, yang paling KERAS adalah dengan memuntahkan hosti dan meninggalkannya di laci bangku.
Perlahan-lahan orang-orang yang menjadi Penjaga Liturgi akan merasa BERKUASA dan BERTANGGUNGJAWAB membela gereja dan Tubuh Kristus. Itu sebabnya SEMAKIN hari mereka akan SEMAKIN meningkatkan KINERJANYA untuk MENCEGAH umat menghina gereja dan Tubuh Kristus. Itu sebabnya semakin hari Penjaga Liturgi akan BERTINDAK semakin TUHAN sehingga semakin banyak orang yang MUAK melihat lagak mereka dan menjadi KORBAN tindakan mereka.
Memasukan hosti ke dalam mulut di hadapan pelayan ekaristi sama sekali TIDAK mencegah orang MEMUNTAHKANNYA kembali lalu menaruhnya di laci bangku.
Sebetulnya, kalau suster itu tidak berprasangka BUSUK, maka atas KEINGINAN hai hai untuk BERDOA dulu sebelum makan hosti, dia bisa MEMPERSILAHKAN hai hai berdoa di TEMPAT itu juga atau menyuruh hai hai berdoa di BANGKU barisan depan. bukanakh dengan CARA demikian hai hai BISA makan hosti dengan TENANG dan Suster dan Penjaga liturgi itu BISA mengawasi apakah hai hai MENCEMARKAN hosti atau tidak?
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi benar-benar ADIGUNG ADIGUNA. Mereka pikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI? Mereka tidak tahu bahwa di GKI sakramen ekaristi JAUH dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi BARU diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus yang SUCI. Menyiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya. Saya bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa namun orang GKI yang mempersiapkan jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus. Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi, bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
Kisanak itulah alasan kenapa hai hai MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hoste setelah mengalami apa yang dilakukan oleh misdinar kepadanya. Ketika tidak diizinkan oleh suster, saya kembalikan hostinya.
Aneh bin ajaib. tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN di mana ya?
Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lukas 9:5
Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium. Kisah Para Rasul 13:51
Kisanak, KEInGInaN hati hai hai untuk MEREMAS dan menginjak hosti kemudian mengebaskan debu di katiknya sama sekalii BUKAN tindakan untuk MELECEHKAN hosti apalagi menghina sakramen ekaristi namun MMEBERI PERINGATAN kepada kedua orang itu. Namun saya tidak melakukannya karena saya hidup dipimpin AKAL SEHAT bukan EMOSI.
CEMBURU tanda tak mampu, MARAH tanda tak berdaya. Itu sebabnya ketika hati saya PENUH kemarahan, saya TIDAK BERTINDAK sebab sedang tak berdaya.
Setau saya untuk Hal ini anda salah Bapak. Dikarenakan di ajaran agama Katolik yang saya terima saat katekumen dewasa. HOSTI yang sudah dikonsekrasi stlh diberikan oleh Imam / pelayannya HARUS LANGSUNG DIMAKAN DITEMPAT. Apabila bapak meragukannya, HUBUNGI PASTOR KATOLIK (JANGAN PENDETA).
@Johan bun, anda jangan BERLAGAK PILON. FAKTANYA adalah hai hai tidak jadi makan hosti di depan ALTAR setelah dia menerima hosti dan bergeser ke kanan satu langkah karena TERGANGGU oleh misdinar yang MENCEGAT dan MEMEPET-nya. Dia kembali gagal makan hosti setelah menghindari mis dinar dengan bergeser selangkah ke kanan karena tangannya dipegang dan hostinya DICOMOT oleh misdinar.
Karena tidak BERANI MENCEMARI sakramen ekaristi maka hai hai MEMUTUSKAN untuk makan hosti di tempat duduknya setelah BERDOA melakukan perdamaian. MENGAMPUNI dan BERDOA bagi misdinar yang MENGGANGGU sakramen ekaristinya serta MENGHAPUS kekesalan di hatinya.
Kisanak kalau mau MENGHAKIMI lakukan dengan ADIL! itulah ajaran Kristus. Kalau hati anda TERLALU panas sehingga kepala anda BERASAP sehingga pandangan ADIL anda tertutup lebih baik MINGKEM saja.
Jangan lupa nak, yang lebih penting dari MAKAN hosti di depan pelayan ekeristi adalah JANGAN melakukan PENCEMARAN. Coba anda pikir baik-baik. Apakah TINDAKAN hai hai mau BERDOA dulu baru makan HOSTI itu MENJAGA kekudusan sakramen ekeristi atau MENCEMARKAN hosti?
Apa susahnya memberi kesempatan kepada hai hai untuk BERDOA dulu di bangku barisan depan yang kosong lalu makan hosti? Apa susahnya mempersilahkan hai hai BERDOA dengan berlutut di depan altar sebelum makan hosti? Adakah ATURAN gereja Katolik yang menentang hal demikian? nah, kisanak, buka PIKIRAN anda. JANGAN PICIK. jangan menghakimi MEMBABIBUTA.
@alex tandayu, jangan PICIK dan membabibuta. anda jangan BERLAGAK PILON. FAKTANYA adalah hai hai tidak jadi makan hosti di depan ALTAR setelah dia menerima hosti dan bergeser ke kanan satu langkah karena TERGANGGU oleh misdinar yang MENCEGAT dan MEMEPET-nya. Dia kembali gagal makan hosti setelah menghindari mis dinar dengan bergeser selangkah ke kanan karena tangannya dipegang dan hostinya DICOMOT oleh misdinar.
Karena tidak BERANI MENCEMARI sakramen ekaristi maka hai hai MEMUTUSKAN untuk makan hosti di tempat duduknya setelah BERDOA melakukan perdamaian. MENGAMPUNI dan BERDOA bagi misdinar yang MENGGANGGU sakramen ekaristinya serta MENGHAPUS kekesalan di hatinya.
Kisanak kalau mau MENGHAKIMI lakukan dengan ADIL! itulah ajaran Kristus. Kalau hati anda TERLALU panas sehingga kepala anda BERASAP sehingga pandangan ADIL anda tertutup lebih baik MINGKEM saja.
Jangan lupa nak, yang lebih penting dari MAKAN hosti di depan pelayan ekeristi adalah JANGAN melakukan PENCEMARAN. Coba anda pikir baik-baik. Apakah TINDAKAN hai hai mau BERDOA dulu baru makan HOSTI itu MENJAGA kekudusan sakramen ekeristi atau MENCEMARKAN hosti?
Apa susahnya memberi kesempatan kepada hai hai untuk BERDOA dulu di bangku barisan depan yang kosong lalu makan hosti? Apa susahnya mempersilahkan hai hai BERDOA dengan berlutut di depan altar sebelum makan hosti? Adakah ATURAN gereja Katolik yang menentang hal demikian?
Saya mengembalikan hosti ketika TIDAK diizinkan untuk BERDOA dulu sebelum makan hosti.
nah, kisanak, buka PIKIRAN anda. JANGAN PICIK. jangan menghakimi MEMBABIBUTA. uJI dulu tindakan misdinar dan sUSTER itu sebelum anda MENUNJUK keluar gereja Katolik dan menyalahkan hai hai.
1400 Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (UR 22).
1401 Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dah disposisi yang baik
… imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dah disposisi yang baik
Doddy Prayogo, anda paham arti kalimat, “imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dah disposisi yang baik”? Kalau tidak paham sebaiknya kunjungi romo anda untuk minta penjelasan. ha ha ha ha …
Sebagai seorang Katholik yg baik dari bahasa anda saja sudah tidak mencerminkan iman Katholik yg baik. Saya rasa tidak perlu dengan kesombongan dan merasa paling hebat yang akhirnya tidak mencerminkan bahwa anda bnr2 tidak tau tata cara perayaan Ekaristi didlm gereja. Lebih baik anda belajar dari awal utk menjadi Umat Katholik yg baik dan benar. Saya yakin anda bukan dan tidak beragama Katholik dan tdk baik memecah belah keyakinan org lain melalui cara seperti ini.Semoga Tuhan mengampuni dosa Anda.
@Doddy Prayogo, kalau mengutip jangan setengah-setengah. ini LANJUTANNYA:
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
1401 Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.
Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit
imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit JUGA kepada orang-orang Kristen LAIN yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri SECARA SUKARELA memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.
Ada DUA HAL yang membolehkan yaitu:
1. Ada situasi darurat yang mendesak
2. SECARA SUKARELA memintanya
@Vincent, kalau respect anda kepada hai hai HILANG namun anda memerlukannya, silahkan CARI lagi. Siapa tahu KETEMU? Karena anda pernah RESPECT kepada hai hai maka baiklah saya bantu anda untuk MENEMUKAN respect anda yang hilang. Ha ha ha ha ha ha …
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi benar-benar ADIGUNG ADIGUNA. Mereka pikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI? Mereka tidak tahu bahwa di GKI sakramen ekaristi JAUH dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi BARU diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus yang SUCI. Menyiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya. Saya bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa namun orang GKI yang mempersiapkan jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus. Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi, bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
Kisanak itulah alasan kenapa hai hai MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hoste setelah mengalami apa yang dilakukan oleh misdinar kepadanya. Ketika tidak diizinkan oleh suster, saya kembalikan hostinya.
Aneh bin ajaib. tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN di mana ya?
Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lukas 9:5
Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium. Kisah Para Rasul 13:51
Kisanak, KEInGInaN hati hai hai untuk MEREMAS dan menginjak hosti kemudian mengebaskan debu di katiknya sama sekalii BUKAN tindakan untuk MELECEHKAN hosti apalagi menghina sakramen ekaristi namun MMEBERI PERINGATAN kepada kedua orang itu. Namun saya tidak melakukannya karena saya hidup dipimpin AKAL SEHAT bukan EMOSI.
Apakah orang kristen boleh ikut sakramen ekaristi? baca sendiri katekismus anda.
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
1401 Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.
Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit
imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit JUGA kepada orang-orang Kristen LAIN yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri SECARA SUKARELA memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik.
Ada DUA HAL yang membolehkan yaitu:
1. Ada situasi darurat yang mendesak
2. SECARA SUKARELA memintanya