Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. ya memang harus dimakan ditempat pak ^^ setelah konsekrasi Hosti Kudus bagi iman katolik itu benar2 Tubuh Kristus, bukan lg roti biasa, penerimaan Hosti Kudus itu sangat personal dan tidak dapat diwakilkan ataupun dipindahtangankan.
    Imam atau diakon berhak memutuskan apa orang tersebut berhak atau tidak, tp sangat jarang mereka tidak memberi ketika anda sudah menyodorkan tangan. Tapi anda harus memakannya ditempat, itu berlaku untuk semua, bahkan paus sekalipun, tidak hanya di Gereja Stella Maris, semua Gereja Katolik di seluruh dunia berlaku sama. Jangan marah pada mereka yg memang bertugas memastikan Hosti Kudus dimakan di tempat. Salam Damai Dalam Kristus ^^

  2. Katolik Indonesia Tanggapan untuk isi artikel Bengcu Menggugat.
    Oleh seorang Misdinar dari Keuskupan Agung Pontianak
    +++

    Salam Damai dari Allah Bapa, dan Tuhan kita Yesus Kristus serta Roh Kudus semoga beserta kita.

    Saya ucapkan selamat memasuki masa Adven, masa yang penuh berkat bagi kita semua, semoga Sang Imanuel memberikan kita sukacita dalam mewartakan InjilNya di dunia ini.

    Catatan ini dipublikasi untuk menanggapi sebuah situs https://bengcumenggugat.wordpress.com/2014/11/29/pelayan-ekaristi-tolol-di-gereja-stella-maris/

    Berjudul “Pelayan Ekaristi TOLOL di Gereja Stella Maris”

    Catatan ini tidak bermaksud untuk membuat “benteng” permusuhan, melainkan untuk mewartakan apa yang menjadi Iman Gereja Katolik, dalam hal ini Kurban Misa, Sakramen Ekaristi dirayakan.

    Baiklah langsung ditanggapi tulisan saudara yang dituangkan dalam situs tersebut.
    Tulisan dengan penomoran adalah pernyataan dari penulis blog.
    Tulisan di bawah setelahnya adalah tanggapan atas pernyataan dari sang penulis blog (Kecuali Sumber-sumber untuk menangapi artikel tersebut).

    1. Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

    Tanggapan:
    Ekaristi berasal dari Bahasa Yunani yakni Eucharistia, yang artinya PUJIAN atau SYUKUR. Jadi kurang tepat diartikan sebagai bergembira.

    2. Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

    Tanggapan:
    Terima kasih saudaraku, tidak “anti” terhadap Kurban Misa. Namun ada tindakan yang amat keliru, yakni “Menikmati” [Dalam arti menyantap(?)] Hosti kudus yang sudah dikonsekrasi oleh Imam. Hosti dan anggur yang sudah dikonsekrasi oleh Imam adalah sungguh Tubuh Kristus, dan Anggur adalah sungguh Darah Kristus. Oleh karena itu, yang berhak untuk menerima Tubuh dan / Darah Kristus adalah mereka yang SUDAH dibaptis, dan tidak dilarang oleh HUKUM, serta memiliki PEMAHAMAN yang benar bahwa yang disantap adalah Tubuh Tuhan Yesus, bukan ROTI BIASA!

    Hal ini dapat dilihat dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik:
    Kan. 912 – Setiap orang yang telah dibaptis dan tidak dilarang oleh hukum, dapat dan harus diizinkan untuk menerima komuni suci.

    Kan. 913 – § 1 – Agar Ekaristi mahakudus dapat diterimakan kepada anak-anak, dituntut bahwa mereka memiliki pemahaman cukup dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya-tangkap mereka dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan khidmat.

    3. Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

    Tanggapan:
    Ya sungguh Benar, Baptisan gereja Kristen Indonesia dan denominasi gerejawi lainnya yang masuk dalam keanggotan PGI adalah SAH!. SAH dalam arti VALID, tetapi ILICIT yang berarti TIDAK bersatu dengan Gereja Katolik secara UTUH.

    Gereja Katolik TIDAK pernah melarang kepada siapapun untuk hadir dalam Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi, tetapi Gereja MELARANG mereka yang berkehendak untuk menyambut Komuni Kudus atau menyambut Tubuh Kristus bagi mereka yang belum secara sah menjadi Katolik. Mengapa? Karena BELUM menerima Sakramen Baptis (mereka yang bukan Kristen, dan mereka yang menamai dirinya Kristen namun rumusan baptis salah!).

    Sakramen Baptis adalah “Kunci” untuk dapat menerima sakramen-sakramen lainnya. Lalu lantas apakah seorang Protestan yang sudah menerima Sakramen Baptis (dengan rumusan yang benar) dapat langsung menerima Sakramen Ekaristi? TIDAK! Karena secara HUKUM dalam arti status keanggotan BUKANLAH anggota Gereja Katolik. Secara pemahaman Ekaristi juga! Perbedaan pandangan mengenai Ekaristi inilah yang menjadi salah satu terhalangnya bagi seorang Kristen denominasi untuk memperoleh hak menerima Sakramen Ekaristi di Gereja Katolik.

    Perlu diketahui juga, MISA bukanlah kebaktian yang biasa dilakukan oleh saudara dalam komunitas gerejawi. Misa Kudus adalah Kurban yang SAMA nilainya dengan KURBAN Kristus tersalib di golgota yang pernah TERJADI di 2000 tahun yang lalu.

    4. Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
    Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
    Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

    Tanggapan:
    Gereja yang Kudus sangat menghormati Kurban Misa, sehingga cara penerimaan diatur untuk TERHINDARNYA Profanisasi dan DOSA Sakreligi. Penerimaan Hosti hendaknya diterima tidak menjauh dari pelayan komuni. Hal ini tercantum dalam Redemptionis Sacramentum:

    “Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat, dengan recognitio oleh Takhta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni; sebab orang TIDAK BOLEH menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.” (Redemptionis Sacramentum, No. 92).

    Oleh karena itu, sungguh tepat tindakan Misdinar atau pelayan Misa meminta saudara menyambut Tubuh Kristus dengan tidak menjauhkan diri dari pelayan komuni. Namun tetap kembali ke pembahasan di atas, seorang Kristen denominasi TIDAK diperkenankan menerima Sakramen Ekaristi.

    5. Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
    Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

    Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”

    Sambil menunjukkan Hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
    Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya.

    Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib.

    Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

    Tanggapan:
    Kembali ke penjelasan di atas, Gereja SANGAT menghormati Kurban Misa yang sangat sakral, dalam hal ini Sakramen Ekaristi dirayakan. Penerimaan Komuni HARUS dekat dengan pelayan Komuni, tidak boleh menjauh APALAGI memakannya di tempat duduk!

    6. Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

    Tanggapan:
    Bagi Gereja Katolik, perilaku Suster dan Misdinar ini sungguh terpuji! Melindungi Tubuh Kristus dari pencemaran.

    7. Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

    Tanggapan:
    Terima kasih sudah mengembalikan Hosti Kudus kepada pelayan Komuni dan mengurung niat untuk menginjak Tubuh Kristus. Wajah suster cerah menandakan kelegaan serta penuh syukur dapat menjauhkan hosti kudus dari bahaya Profanisasi.

    8. Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

    Tanggapan:
    PELAYAN KOMUNI mempunyai KEWAJIBAN untuk melindungi Tubuh Kristus dari pencemaran. Bahkan seorang yang sudah Katolik pun dapat terhalang untuk menerima komuni kudus, diantaranya dalam keadaan dosa berat atau terekskomunikasi! Jika umat Katolik saja dapat terhalang untuk memperoleh makanan surgawi, apalagi yang bukan warga Gereja Katolik !

    9. Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

    Tanggapan:
    Tidak semua Perayaan Ekaristi sebelum dimulai diadakan pengumuman mengenai hal penerimaan komuni, kecuali pada hari-hari besar saja yang memungkinkan banyaknya umat beragama lain untuk berpartisipasi dan “turut” menghayati dari suatu perayaan seperti Paskah dan Natal.

    Tidaklah tepat menggunakan kata prasangka untuk menafsirkan prilaku pelayan komuni, tepatnya adalah berhati hati. Adanya pengumuman mengenai penerimaan komuni pun kadang tidak diindahkan. Contohnya seperti yang dibahas sekarang.

    10. Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

    Tanggapan:
    Gereja Katolik harus melayani secara penuh perhatian terhadap tamu – tamu yang datang atas dasar kehendak bebas, untuk memuji dan bersyukur kepada Allah. Namun sebagai tamu juga harus tahu diri mengenai aturan dalam sebuah pesta surgawi. Gereja Katolik punya aturan dalam melaksanakan Kurban Misa, yang tidak boleh diganti atau dimodifikasi tanpa hal mendasar.

    Akhir kata, catatan ini bukan hanya penyampaian atas kekeliruan saudara dari komunitas GKI, tetapi JUGA teguran KERAS bagi umat KATOLIK sendiri agar menerima Sakramen Ekaristi HARUS dalam keadaan berahmat.

    Kan. 915 – Jangan diizinkan menerima komuni suci mereka yang terkena ekskomunikasi dan interdik, sesudah hukuman itu dijatuhkan atau dinyatakan, serta orang lain yang berkeras hati membandel dalam dosa berat yang nyata.

    Kan. 916 – Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin.

    Terima kasih semuanya yang membaca catatan ini. Jika ada kesalahan dalam catatan ini jangan segan untuk mengkoreksi demi kebaikan bersama.
    +++

    HANYA Kepada ALLAH Sajalah YANG DIMULIAKAN.

    [+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. Thomas A Kempis, ‘De Imitatione Christi’ II, 2, 2]

    Sumber rujukan untuk menjawab artikel “Pelayan Ekaristi TOLOL di Gereja Stella Maris:
    1. Kitab Hukum Kanonik
    2. Redemptionis Sacramentum.

  3. Semua tempat punya tata cara dan aturan.Sekalipun anda boleh parkir di tempat parkir yang telah disediakan, anda tetap tidak boleh memarkir dalam posisi seenaknya.Dan ini adalah aturan etika yang tidak tertulis.
    Sama ketika anda kuatir mengacau di acara pernikahan teman anda, di tempat parkir tersebut andapun akan dihujat orang banyak bila memarkir kendaraan anda dalam posisi sesuka anda.
    Sekalipun tempat itu memang tempat parkir yg tersedia bagi anda.

    Aturan hosti harus dimakan di tempat, juga sudah lama ada di tradisi gereja katolik, karena pernah ada beberapa kejadian hosti dibuang ke tempat sampah, atau hosti dibawa pulang untuk diberikan ke orang lain.Untuk menghindari hal ini, maka hosti harus dimakan di tempat.

    Salam Damai Bung Bengcu

  4. Mungkin anda sebaiknya mengikuti pelajaran agama Katolik terlebih dahulu. Memahaminya dg hati dan pikiran tenang. Banyak aturan Gereja Katolik dan Gereja Kristen yg berbeda. Dg demikian diharapkan terbukalah pemikiran anda tentang Sakramen Ekaristi Gereja Katolik.
    Kami umat Katolik saja banyak halangan untuk menerima Tubuh Kristus bila memang tidak layak.

  5. Hello pak… Saya baru denger GKI bisa terima hosti di grj khatolik… Yah bapa kan tamu… Lbh baik menerima peraturan… Dan yg penting bapa unshare blog ini sblm ada umat khatolik stela maris yg tak senang bisa ke jalur hukum…

  6. hadeuh si abeng ahli dugalogi, ahli anggaplogi kembali berulah, tidak puas dengan obok-obok alkitab dengan berduga sana duga sini, anggap sana anggap sini, sekarang dia obok-obok pula gereja katolik dengan dugalogi dan anggaloginya yang ngawur. suram banget hidup lo beng.lebih baik lo tutup nih blog abal-abal lo.

  7. Kok yg anda persoalkan hanya perilaku misdinar dan suster? Tidak taukah anda kalau Roh Kudus telah bekerja menunjukkan kepada mereka berdua bahwa anda bukan katolik dan tidak boleh menerima hosti? Walaupun anda merasa gerakan anda sudah benar, dan anda mengira tidak ada orang yg bakal tahu anda bukan katolik, anda lupa akan hadirnya Roh Kudus. Semoga anda selalu dalam lindungan kasih Nya…

  8. Tata cara = budaya = yg disanjung.
    Pak Bengcu hrsnya taat/hormati tatacara suatu tempat (GK). Coba kalo berani berbuatlah demikian di NTT, saya jamin Pak Bengcu ini sdh jadi tape alias benjut2 dimassakan karena artinya itu hosti sudah dilecehkan oleh anda. Pelecehan dsni sdh pelecehan kesucian dr Tuhan: Tuhan kita sdh dinjak2. Gak usah jauh2 mencari perbandingan seperti apa perasaan sdh dilecehkan itu, ibarat anak gadis bapak dilecehkan lebih kurang sperti itu perasaan umat yg gak terima hosti itu sdh dilecehkan. Jd harapan Pak Bengcu tolong hormati tatacara GK.

  9. Kami orang Katolik sangat toleran Pak. kami biasa menunggu sampai orang yang MENYAMBUT Tubuh Kristus selesai dan kembali ke tempat duduk. justru tindakan bapak tadi itu yang menimbulkan kecurigaan misdinar dan suster.

    saya rasa dari penjelasan ini sudah jelas, aturannya ada. silakan bapak lihat lagi tanggapan di poin nomor 4. yang saya heran justru keterangan bapak yang menyebutkan bapak belajar kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, tapi tidak mengetahui dasar dari Gereja Katolik itu sendiri. saya sendiri saja untuk MENYAMBUT Tubuh dan Darah Kristus yang pertama kali memerlukan persiapan dan proses panjang, tetapi bapak (menurut saya) dengan mudah dan sepertinya tidak menjalani proses yang saya lakukan.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.