Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris


Gambar: litac-consultant.com

Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan  kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.

Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.

Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.

Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.

Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta.  Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.

Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.

Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.

Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.

Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”

Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.”  Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.

Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”

“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”

Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”

Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas  hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.

Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha …..  Tak U U ya.

Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …

METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.

Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.

Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus  makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?

Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.

Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.

Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.

Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.

Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik?  Ha ha ha ha …

Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.

NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.

Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.

Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.

Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.

Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi?  Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.

hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.

Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.

Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?

Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK.  Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.

Kitab Hukum Kanonik Katolik

Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.

1,125 thoughts on “Pelayan Ekaristi Tolol Di Gereja Stella Maris

  1. Kepada Penulis,

    Saya tidak tahu ajaran atau tata cara yang diajarkan kepada Anda di GKI. Namun, dalam Katolik, tindakan suster dan misdinar tersebut untuk melarang Anda membawa hosti di tangan Anda dan membawanya ke bangku adalah benar, walaupun menurut saya memang caranya agak tergesa – gesa (tipikal orang seperti Anda seharusnya diajarkan dan diberi pengertian baik – baik dan perlahan – lahan).

    Hosti adalah tubuh Kristus adalah sesuatu yang sangat istimewa dan jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Bayangkan bila hosti tersebut ternyata dibagikan ke orang yang tidak berhak, lalu memperlakukannya secara hina sesuai dengan rencana Anda untuk meremas, membuang, dan menginjak – injak tubuh Kristus itu.

    Tujuan suster dan misdinar tersebut menyuruh Anda agar memakannya segera di hadapan mereka adalah agar tidak terjadi pelecehan terhadap tubuh Kristus. Bahkan, pada proses aslinya, hosti dibagikan langsung ke lidah, bukan ke telapak tangan kanan.

    Karena Anda berasal dari GKI, mungkin Anda tidak pernah mendengar seorang martir bernama Tarsisius. Beliau mati karena melindungi hosti yang saat itu terancam jatuh ke orang yang tidak berhak. Saat itu beliau tengah mengantar hosti tersebut ke tawanan Katolik di penjara. Ya, beliau mati, -kalau sesuai dengan tulisan Anda- mati secara TOLOL.

    Dalam pikiran Anda, Anda terbesit untuk meremas, membuang, menginjak – injak, menghempaskan hosti. Hal ini membuat saya sangat marah, kecewa, dan mempertanyakan kekristenan Anda.

  2. terima kasih sudah mengembalikan tubuh dan darah KRISTUS bagi kami… terima kasih buat suster dan misdinar yang bertugas upahmu besar disurga.amin. anda bangga membuat tulisan ini tanpa anda sadari anda telah mempermalukan keluarga anda sendiri.JADI TAMU DIRUMAH ORANG HARUS PUNYA ETIKA YANG SOPAN JANGAN SOK JADI MANUSIA. ini ka sifat dan perilaku gereja sebelah??? sangat sangat disayangkan…

  3. Kisanak siapa bilang hai hai beruntung? DUA kali dia DIGANGGU oleh misdinar ketika hendak makan hosti di depan Altar.

    Pertama kali, dia DIPEPET oleh misdinar ketika setelah menerima hosti dia bergeser satu langkah ke kanan untuk berdiam diri sejenak sebelum makan hosti.

    Kedua kali, tangannya dipegang dan hostinya dicomot setelah dia bergeser satu langkah ke kanan dan berdiam diri sejenak sebelum makan hosti.

    dua kali diganggu membuatnya KESAL, itu sebabnya hai hai merasa perlu melakukan doa perdamaian dulu sebelum makan hosti. Dia memberi tahu suster bahwa dia akan BERDOA dulu sebelum makan hosti. Suster menolak permintaanya. dan hai hai mengambalikan hosti.

    nah, kisanak, hai hai tidak beruntung. Anda bayangkan saja apa yang hai hai ALAMI. mustahil hai hai beruntung, bukan?

    natas: Saat ini sudah sering ditemukan gumpalan tisu di laci tempat duduk di dalam gedung gereja yang berisi HOSTI YANG SUDAH DIKUNYAH KEMUDIAN DIBUANG. Hal ini dipandang sebagai pelecehan terhadap Gereja Katolik dan Tubuh Kristus. Sejak penemuan barang tersebut, ada peraturan baru yang diterapkan di gereja-gereja Katolik bahwa Tubuh Kristus harus dimakan saat itu juga, didepan Pastur / Suster / Prodiakon yang bertugas saat itu. Tubuh Kristus tidak boleh dibawa ke tempat duduk lagi.

    Kisanak, terima kasih informasinya. Jadi itu ALASAN tubuh Kristus TIDAK BOLEH dibawa ke tempat duduk lagi? Itu berarti SEBELUM itu tubuh Kristus BOLEH dibawa ke tempat duduk, bukan? Semoga orang-orang Katolik yang MENGHINA hai hai TOLOL dan GOBLOK karena mau membawa tubuh Kristus ke tempat duduknya untuk melakukan perdamaian sebelum memakannya MEMBACA komentar anda. Ha ha ha ha ha …

    MEMUNTAHKAN hosti lalu membungkusnya dengan tisue dipandang sebagai PELECEHAN terhadap Gereja Katolik dan TUBUH Kristus. Itu sebabnya pelayan Ekaristi pun BERAKSI MEMBELA gereja dan Tubuh Kristus? Tahukah anda FPI beraksi untuk MELAWAN mereka yang dianggap MELECEHKAN umat Islam dan agama Islam serta membela Allah?

    Yang saya hadapi di misa nikah itu adalah PETUGAS liturgi yang anda MAKSUDKAN. Saya sengaja menyebutnya MISDINAR alias PUTRA ALTAR. Ha ha ha ha … teman-teman Katolik pasti ngomel bila saya sebut petugas liturgi sebagai putra altar alias misdinar. Bila mereka ngomel, saya akan bilang, bukankah dulu kita hanya punya misdinar alias putra altar? Kenapa ujug-ujug punya FPGTK = Front Pembela Gereja dan Tubuh Kristus? ha ha ha ha ha …

    PENCEMARAN ekaristi tidak boleh DIANGGAP sebagai PELECEHAN gereja apalagi PENGHINAAN tubuh Kristus! Memuntahakn HOSTI kemudian membungkusnya dengan tisue dan meninggalkannya di laci kursi, sudah terjadi SEJAK dulu. Jumlahnya tidak banyak. Jarang sekali terjadi hal demikian. Kita menganggapnya PENCEMARAN, itu sebabnya yang kita lakukan adalah BERDOA agar Allah mengampuni orang itu dan memberi pencerahan kepadanya agar mengerti MAKNA sakramen ekaristi. Apabila kita MENGUMUMKAN bahwa itu adalah PELECEHAN alias PENGHINAAN terhadap gereja Katolik dan Tubuh Kristus, maka itu sama dengan MENGAJARI dunia CARA untuk menghina Gereja Katolik dan Tubuh Kristus. PERCAYALAH kepada saya, bila melakukan hal demikian maka JUMLAH muntahan hosti dibungkus tisue akan TERUS meningkat dari hari ke hari. Kenapa demikian? Karena semakin hari semakin banyak orang yang TAHU cara untuk menghina gereja Katolik dan Tubuh Kristus.

    Itulah yang saya katakan kepada teman-teman Katolik ketika diajak MEMBAHAS masalah muntahan hosti di laci bangku gereja. Dan seperti dugaan saya, semakin hari jumlahnya memang semakin BANYAK.

    ADA banyak orang yang TIDAK suka dengan orang yang menjadi FPGTK. Akan banyak orang yang menaruh DENDAM karena MERASA diperlakukan tidak adil bahkan merasa dipermalukan oleh FPGTK. Bagaimana cara orang-orang itu MELAMPIASKAN kebenciannya kepada FPGTK? Tentu saja dengan memuntahkan hosti dan meninggalkannya di laci bangku.

    Perlahan-lahan orang-orang yang menjadi FPGTK akan merasa BERKUASA dan BERTANGGUNGJAWAB membela gereja dan Tubuh Kristus. Itu sebabnya SEMAKIN hari mereka akan SEMAKIN meningkatkan KINERJANYA untuk MENCEGAH umat menghina gereja dan Tubuh Kristus. Itu sebabnya semakin hari FPGTK akan BERLAGAK semakin TUHAN sehingga semakin banyak orang yang MUAK melihat lagak mereka dan menjadi KORBAN tindakan mereka.

    Aneh bin ajaib. Ternyata dugaan saya benar tuh? Ha ha ha ha … itu sebabnya ada teman yang cerita tentang kesaksian temannya, “Dari lagaknya waktu jalan, gua udah TAHU dia nggak BENER makanya gua tarik dia ke samping waktu dia mau ambil hosti dan suruh dia kembali duduk.”

    Memasukan hosti ke dalam mulut di hadapan pelayan ekaristi sama sekali TIDAK mencegah orang MEMUNTAHKANNYA kembali lalu meninggalkannya di laci bangku.

    Bagaimana di gereja anda? Apakah jumlah hosti di laci bangku HILANG dengan adanya PETUGAS liturgi alis Front Pembela gereja dan Tubuh Kristus?

  4. pracoyosakti, terima kasih untuk nasehatnya yang TELAT banget. Kenapa demikian? Waktu SMA saya pernah mempertimbangkan untuk manjadi Katolik, itu sebabnya saya ikut katekisasi. Saya tidak ikut baptis karena tidak mendapat izin dari mama saya. Tahun 84 saya kuliah di Atma Jaya Jakarta dan kenal dengan romo Broto serta sangat mengaguminya itu sebabnya saya kembali ikut katekisasi dan mempertimbangkan untuk menjadi Katolik. Alasan saya tidak menjadi Katolik adalah, saya tidak bisa mengimani doktrin Marialogi gereja Katolik. Tahun 86 saya menemani mama saya Katekisasi di GKI, gereja tempat saya sekolah minggu sejak SD kelas 2, dan baptis Sidhi. Saya pun menjadi anggota jemaat Sidhi GKI.

  5. liana: #dr saya yang hanya org biasa dan ga pinter2 amat#

    Anda ANEH bin ajaib! Mengaku orang biasa dan ga pinter pinter amat namun NEKAD mengajari hai hai? Haha ha ha … kalu sudah tahu diri nggak pinter-pinter AMIT, bersikap RENDAH hatilah. Jangan SOK mengajari hai hai. BELAJAR dulu gih. kalau sudah PINTER baru kemnbali lagi untuk mengajari hai hai. Ha ha ha ha …

  6. Kisanak, anggota jemaat GKI yang BERHAK menerima Sakramen Perjamuan Kudus di GKI juga berhak menerima Sakramen Ekaristi di Gereja Katolik. Demikian pula sebaliknya. Di GKi mau pun di gereja Katolik, ada yang MENDuKuNG hal demikian namun banyak pula yang menolaknya seperti anda. yang tidak setuju menyebut gerejanya GEREJA KAMI dan anggota gereja lain BUKAN pengikut Kristus. Yang setuju menolak konsep GEREJA KAMI karena meyakini semua gereja adalah GEREJA KRISTUS. Pelajarilah apa itu OIKUMENE.

  7. Lili, kenapa anda tidak MENUNJUKKAN kesalahan saya? bukankah tugas sesama pengikut Kristus untuk SALING mengingatkan bila ada yang SALAH? Bertahun tahun ambil komuni, salahnya di mana ya? ha ha ha …

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.