
Gambar: litac-consultant.com
Ekaristi (Yunani: Eukaristen) artinya bergembira. Ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Pelayan ekaristi adalah HAMBA yang melayani bukan TUHAN yang menghakimi.
Sejak baptis sidhi tahun 1986 di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sudah ribuan kali saya mengikuti Misa baik di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta maupun di berbagai gereja Katolik dan di tempat-tempat lainnya di seantero pelosok Indonesia. Sudah ribuan kali pula saya menikmati sakramen ekaristi alias Perjamuan Kudus dalam misa.
Ketika kuliah di Atma Jaya, saya belajar teologi Katolik kepada almarhum romo Broto dan Mgr Leo Sukoto, uskup agung Jakarta saat itu. Keduanya yang mengajari saya bahwa baptisan dan sidhi GKI diakui oleh gereja Katolik. Itu sebabnya semua orang yang sudah dibaptis sidhi di GKI boleh ikut perayaan ekaristi dalam misa. Istri saya seorang Katolik. Kami menikmati kebaktian sama seperti kami menikmati misa. Kami menikmati perayaan ekaristi sama seperti kami merayakan perjamuan kudus.
Saya menerima hosti (roti perjamuan) dengan cara biasa. Meletakkan telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan dan membiarkan pelayan ekaristi meletakkan hosti ditelapak tangan kiri saya. Bergerak ke kanan satu atau dua langkah, menatap langit, menyapa Allah kemudian menunduk dan menikmati hosti. Tidak jarang hostinya saya bawa ke bangku saya. Setelah berlutut dan berdoa, saya baru memakannya. Perayaan ekaristi adalah perayaan untuk mengenang Kristus. Adalah perayaan perjamuan antara Kristus dan mempelai-Nya.
Tanggal 29 November 2014, Jam 11.00 WIB, saya dan Iis (ini istri saya) serta anak kami menghadiri misa pernikahan seorang sahabat di gereja Katolik Stella Maris Pluit Jakarta. Pastor yang melayani Misa minta tolong dua orang suster untuk membantunya melakukan pelayanan ekaristi alias membagi-bagikan hosti.
Saya maju untuk menikmati sakramen ekaristi. Suster itu menatap ragu ketika memberi hosti kepada saya. Mungkin penampilan saya tidak berkenan baginya. Mungkin baginya rambut panjang sepantat dan baju tradisional Tionghoa sama sekali tidak mencerminkan iman Katolik? Ha ha ha ha … Dengan ragu-ragu dia meletakkan hosti di telapak tangan kiri saya yang ada di atas telapak tangan kanan saya, “Tubuh Kristus,” ucapnya. “Amin,” saya menanggapinya. Saya lalu bergeser ke kanan satu langkah.
Karena misdinar yang berdiri di samping suster bergeser menghalangi saya dari mimbar dan memandang aneh maka saya kembali bergeser satu langkah ke kanan agar bisa menghadap mimbar tanpa penghalang. Saya juga takut menghalangi orang yang mengambil hosti di setelah saya. Ketika tunduk hendak mengambil hosti dengan tangan kanan untuk memakannya, misdinar itu justru memegang tangan kiri saya dan berkata, “Hostinya harus dimakan di sini pak!” Dia lalu mengambil hosti di tangan saya.
Saya mengambil kembali hosti itu dari tangannya dan menatap misdinar itu. Aneh! Apa urusan dia dengan hosti dan cara saya memakannya? Tindakannya merusak kenikmatan saya merayakan ekaristi benar-benar kurang ajar. Karena merasa tidak nyaman makan hosti dengan gangguan misdinar itu maka saya pun bermaksud membawa hosti itu ke bangku untuk melanjutkan makan hosti di sana saja.
Alih-alih membiarkan saya pergi, misdinar itu justru mencegat saya dan memaksa saya untuk makan hosti di situ juga. “Harus dimakan di sini pak. Tidak boleh dibawa pergi.”
Melotot kepada misdinar itu saya menunjuk wajahnya dengan telunjuk kiri dan berkata, “Tolong. Jangan kurang ajar.” Sambil menunjukkan hosti di tangan kanan saya kepadanya saya berkata, “Saya tahu apa yang saya lakukan dengan hosti ini.” Misdinar gila. Dia berusaha mengambil hosti yang saya acungkan. Saya mengelak dan berbalik untuk meninggalkannya.
Begitu saya berbalik, suster yang tadi membagikan hosti mencegat saya. Dia bertanya, “Mau dibawa kemana pak?” Menatapnya saya berkata, “Saya perlu waktu untuk berdoa dulu sebelum makan hosti ini.” Aneh bin ajaib. Dia bekata, “Nggak boleh pak. Harus dimakan di sini. Nggak boleh dibawa pergi” Misdinar itu menguatkannya dengan berkata, “benar pak harus dimakan di sini. Tidak boleh dibawa pergi.”
“Tidak boleh dibawa pergi pak. Bapak orang Katolik?” tanya suster itu. “Bapak orang Katolik bukan?” lanjutnya galak. “Apa itu orang Katolik?” saya bertanya. “Orang Katolik adalah pengikut Kristus. Saya pengikut Kristus!”
Suster itu berusaha mengambil hosti yang saya pegang dengan jari telunjuk dan jempol setinggi dahi sambil berkata, “Tidak boleh dibawa, pak. Kembalikan. Kembalikan.”
Perilaku misdinar dan suster itu benar-benar menyebalkan. Ingin sekali mengungkapkan kemarahan saya dengan meremas hosti yang sudah tercemar karena dipegang oleh misdinar TOLOL dan suster GOBLOK itu sampai hancur kemudian membuangnya ke lantai lalu menginjak-injaknya diakhiri dengan mengebaskan debu dari sepatu saya di hadapan mereka.
Namun tindakan demikian pasti akan menimbulkan keributan. Itu sebabnya tidak saya lakukan. Membuat keributan di misa pernikahan sahabat saya gara-gara misdinar dan suster yang merasa dirinya HEBAT karena membela KATOLIK. Ha ha ha ha ha ….. Tak U U ya.
Itu sebabnya, alih-alih ngamuk saya justru tersenyum dan berkata kepada suster itu, “Saya kembalikan hosti ini” Suster itu mengambil hosti yang sudah tercemar itu dari tangan saya kemudian memasukkannya ke dalam piala. Wajahnya cerah sorot matanya penuh kemenangan. Dia pasti merasa HEBAT karena berhasil membela IMAN Katolik. Ha ha ha ha ha …
METADON adalah obat pengganti obat bius yang diberikan kepada pecandu untuk mengatasi kecanduannya (sakau). Metadon memberi efek sama seperti mengonsumsi obat bius namun tidak menyebabkan kecanduan. Agar tidak dijual maka pecandu narkoba harus menunjukkan Kartu Identitas sebagai bukti dirinya berhak menerima jatah metadon. Dia juga harus menelan metadon jatahnya di hadapan petugas yang akan memeriksa mulutnya untuk memastikan metadon jatahnya sudah ditelannya.
Kerabatku sekalian, umat Katolik yang terhormat, hosti bukan METADON dan sakramen ekaristi bukan pembagian jatah metadon. Itu sebabnya mereka yang maju mengambil hosti nggak perlu menunjukkan kartu baptis sidhi dan mereka yang menerima hosti tidak perlu DIPAKSA menelan hosti di depan pelayan ekaristi.
Handai taulanku sekalian, umat Katolik yang mulia, izinkan saya memberitahu anda bahwa PELAYAN ekaristi bukan TUAN namiun HAMBA yang tugasnya MELAYANI mempelai Kristus yang sedang MENIKMATI perjamuan KUDUS. Itu sebabnya pelayan ekaristi tidak berkuasa untuk menyeleksi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh makan hosti, juga tidak berhak memaksa mempelai Kristus harus makan hosti di mana dan harus makan hosti bagaimana?
Umat Katolik yang mulia, bukankah sebelum perayaan ekaristi ada pengumuman bahwa hosti hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah dibaptis secara Katolik? Pengumuman itu adalah jaminan bagi pelayan ekaristi bahwa mereka yang maju mengambil hosti memang berhak secara tradisi gereja Katolik. Itu sebabnya mereka harus dilayani dengan tulus tanpa prasangka dan tanpa pilih bulu.
Umat Katolik yang terhormat, izinkan saya memberitahu anda bahwa perayaan ekaristi adalah perjamuan kudus antara Kristus dan mempelai-Nya. Mereka yang maju mengambil hosti adalah mempelai Kristus. Itu sebabnya sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani mereka dengan tulus tanpa prasangka.
Apabila pelayan ekaristi mencurigai seseorang tidak berhak makan hosti dan atau makan hosti dengan cara yang tidak sesuai dengan tradisi Katolik, dia tidak boleh MERUSAK PERAYAAN ekaristi dengan MENEGOR apalagi MEMPERMALUKAN orang tersebut saat perayaan ekaristi berlangsung.
Sebagai pelayan ekaristi anda harus melayani semua tamu tanpa pamrih dan tanpa pilih bulu. Biarkan mempelai Kristus yang anda curigai menikmati pelayanan anda. Biarkan dia menikmati perayaan ekaristi dengan caranya. Setelah misa berakhir anda punya waktu untuk mendekatinya guna mencari KEBENARAN tentang dirinya dan perilakunya dan MENEGOR-nya bila anda mengaggap tindakan demikian baik untuk dilakukan.
Kerabatku sekalian, anda bisa membayangkan apa yang terjadi bila hai hai tidak mengalah ketika dipaksa makan hosti di tempat dan dipaksa mengembalikan hosti karena dicurigai bukan Katolik? Ha ha ha ha …
Saya menulis blog ini bukan untuk melampiaskan kemarahan apalagi balas dendam namun untuk bersaksi tentang apa yang saya alami hari ini dengan harapan mereka yang membacanya tidak bertindak TOLOL dan tidak berlaku GOBLOK di dalam misa, khususnya dalam perayaan ekaristi.
NB.
Misdinar alias putera altar adalah anak-anak muda yang membantu pastor menyelenggarakan misa.
Orang-orang Katolik yang MENUDUH hai hai MELECEHKAN sakramen ekaristi berpikir di gereja Katoliklah Sakramen ekaristi paling DIHORMATI. Padahal di GKI sakramen ekaristi JAUH lebih dihormati dari pada di gereja Katolik.
Di GKI Perjamuan Kudus alias Sakramen Ekaristi baru diadakan setelah DUA kali DIUMUMKAN kepada Jemaat alias diumumkan dalam DUA kali KEBAKTIAN Minggu. Tujuannya adalah MENGHIMBAU anggota JEMAAT agar mempersiapkan DIRI untuk menghadapi SAKRAMEN perjamuan kudus. Itu berarti anggota jemaat GKI diberi waktu 20 hari untuk memeriksa dan mempersiapkan diri secara JASMANI dan ROHANI sebelum merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Undangan ikut misa nikah saya terima sekitar tanggal 7 November 2014 yang lalu. Sejak hari itu saya mempersiapkan DIRI untuk merayakan sakramen ekaristi di misa pernikahan sahabat saya.
Hai hai bukan orang Katolik yang mengambil hosti setiap kali ikut misa. Dia juga bukan orang Kristen CELAMITAN yang ikut-ikutan minta hosti di misa. Namun hai hai adalah orang GKI yang mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani jauh-jauh hari untuk merayakan sakramen ekaristi alias perjamuan kudus.
Orang-orang Katolik mengutamakan makan hosti di depan pelayan ekaristi? Bagi orang GKI, SIKAP hati adalah yang paling UTAMA dalam sakramen perjamuan Kudus.
hai hai dicegat dan dipepet ketika dia bergeser ke kanan satu langkah untuk makan hosti. Tangannya ditangkap dan hostinya dicomot ketika dia bergeser ke kanan selangkah lagi untuk makan hosti. Iitulah alasan kenapa hai hai MERASA perayaan ekaristinya DICEMARKAN oleh misdinar dan MERASA perlu untuk BERDOA dulu sebelum MAKAN hosti. Ketika tidak diizinkan oleh suster, hai hai mengembalikan hostinya.
Tindakan hai hai demikian DIANGGAP melecehkan aturan gereja Katolik? MELECEHKAN aturan yang mana ya? Hendak berdoa dulu sebelum makan hosti untuk menjaga KEKUDUSAN sakramen ekaristi tidak melanggar aturan gereja Katolik.
Apa susahnya membiarkan hai hai berdoa dulu di bangku barisan depan baru makan hostinya? Membiarkan hai hai BERLUTUT berdoa dulu di depan altar sebelum makan hostinya, mustahil melanggar peraturan. Tujuan misdinar dan suster itu ingin MENCEGAH hai hai mencemarkan hosti, bukan?
Orang-orang Katolik yang menuduh hai hai dari GKI tidak boleh ikut Sakramen Ekaristi adalah mereka yang asal JEBLAK. Kalau saja sedikit rendah hati dan BELAJAR, sebetulnya tidak sulit untuk mengerti.
Kitab Hukum Kanonik Katolik
Kan. 844 § 3: Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen- sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota- anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
Bila memang harus ditetapkan siapa yang SALAH dan siapa yang TIDAK SALAH, maka inilah kesimpulan hai hai. Silahkan klik di SINI untuk membacanya.
Baca dulu yang teliti blognya, kisanak. BACA sampai anda MENGERTI. BACA 10 kali kalau anda belum ngerti juga.
Kalau saja anda bukan Front pembela Katolik maka anda PASTI melihat bahwa TINDAKAN misdiner dan suster tersebut benar-benar JAHAT. Anda SUDAH dibutakan olah NAFSU front Pembela Katolik itu sebabnya anda jadi DUNGU.
Hai katolik DUNGU, anda benar-benar BEBAL sekali. Ketahuilah hai Katolik GOBLOK, bahwa, KALAU misdinar itu CURIGA hai hai TIDAK BERHAK ikut Sakramen Ekaristi, maka yang harus dia lakukan adalah BERTANYA, “Apakah BERHAK ambil HOSTI?” bukannya SOK JAGOAN merampas hosti dari tangan hai hai? Hal yang sama juga seharusnya ditanyakan oleh Suster BEBAL itu, bukan SOK JAGOAN menuduh hai hai bengcu bukan KATOLIK.
Masuk RUMAH orang? Rumah PALA LU PEYANG? Itu rumah Tuhan alias Gereja goblok, bukan RUMAH orang. Siapa saja BERHAK untuk MASUK ke rumah Tuhan GOBLOK! Siapa saja BERHAK menerima PELAYANAN dari para HAMBA Tuhan yaitu Pastor, Suster dan lain-lainnya. Kalau ada orang yang TIDAK makan HOSTI sesuai dengan yang DIAJARKAN oleh ajaran Katolik maka DIA BERHADAPAN dan BERDOSA kepada Tuhan bukan kepada diri anda dan misdinar dan suster BODOh demikian.
Anda TOLOL sekali, kisanak. Itu karena otak anda sudah dipenuhi NAFSU BUSUK Front Pembela Katolik. Kunjungi pastor anda dan BERTANYALAH kepadanya tentang KISAH Daud dan PASUKANNYA MENJARAH makanan dan anggur yang dipersembahkan PARA IMAM kepada YHWH di BAIT Allah.
Kalau anda memang SOK JAGOAN dan SOK TAHU aturan gereja Katolik dan SOK TAHU bahwa hai hai memang TIDAK BERHAK untuk makan HOSTI maka yang harus anda lakukan adalah MEMBUKTIKAN bahwa hai hai bengcu memang tidak berhak untuk makan HOSTI. CARI tahu sana bahwa di dalam Sistem Administrasi Gereja Katolik, memang TIDAK ada orang yang namanya hai hai bengcu alias Ang ci Yang alias Arief Krisdiyanto yang BERHAK untuk makan hosti.
Ha ha ha ha ha ….. Stefanus Jo? anda bukan hanya TIDAK sopan kepada Allah namun juga tidak sopan kepada gereja Katolik, tau? ha ha ha ha ….. Soru lu kalau anda digoblok-goblokin? Ha ha ha ha ….
Betul, karena itu rumah Bengcu jadi Bengcu boleh bikin aturan sendiri. Demikian juga dengan rumah orang lain, mereka punya aturan sendiri yg harus diikuti disitu.
Demikianlah bengcu juga tidak boleh bikin aturan sendiri kalau sedang di gereja Katolik.
Jadi tindakan Suster dan misdinar yg melarang Bengcu membawa komuni ketempat yg tidak seharusnya itu bukanlah tindakan kurang ajar, melainkan bengcu lah yg kurang ajar karena masuk rumah orang dan tidak tau aturan.
Kirim soja buat bengcu.
Bahasamu mencerminkan pendidikanmu.
<>
Jangan bawa2 Tuhan untuk bersembunyi dari kegoblokan. Karena bangunan gereja juga yg bikin manusia, yang memiliki juga manusia (organisasi manusia), yg bikin aturan juga manusia.
Rules to obey, itu bedanya manusia dengan binatang.
posting diulang krn ada bagian yg dihilangkan oleh web nya
————————————————————
Bahasamu mencerminkan pendidikanmu.
Bengcu menulis: “Masuk RUMAH orang? Rumah PALA LU PEYANG? Itu rumah Tuhan alias Gereja goblok, bukan RUMAH orang.”
Jangan bawa2 Tuhan untuk bersembunyi dari kegoblokan. Karena bangunan gereja juga yg bikin manusia, yang memiliki juga manusia (organisasi manusia), yg bikin aturan juga manusia.
Rules to obey, itu bedanya manusia dengan binatang.
Pendidikan saja baik-baik saja kisanak. Karena anda mengagul-agullan pendidikanmu maka yang bermasalah sudah pasti MORAL anda yang yang RENDAH itu. Ha ha ha ha ha …… makanya BACA yang saya tulis PRINT lalu BAWA dan diskusikan kepada ROMO di gereja anda. Ha ha ha ha ha …… BEDANYA manusia dan MANUSIA yang berperaku binatang adalah ketika KETAHUN kesalahannya, alih-alih membani DIRI anda JUSTRU mengagul-agulkan DIRI sok SALEH dan SOK berpendidikan dan MENGHINA orang lain dengan semenang-menang. Ha ha ha ha ha …. Anda memang HEBAT sekali, Stefanus Jo. Ha ha ha ha ha ….
Anda tahu apa yang dilakukan oleh Yesus dan Paulus ketika berhadapan dengan orang-orang BODOH yang SOK jagoan? Dia langsung MENEGOR, “Hai BODOH!” dan “hai GOBLOK!” lalu mengajari mereka agar membina diri agar tidak BODOH dan GOBLOK lagi. Ha ha ha ha …
stefanus Jo, anda jangan bawa-bawa GEREJA dong waktu bicara tentang juga jangan bawa-bawa suster dan misdinar. Ha ha ha ha ha ha … BAWA diri saja nak? Ha ha ha ha ha ….. kok anda mala bawa-bawa TUHAN dan KEGOBLOKAN? Ha ha ha ha …
Stefanus Jo, kamu KESAL ya? Ha ha ha ha ha ….. BAWA doa bapa kami saja nak, agar kekesalannya berkurang. ha ha ha ha …
jangan ganti topik dong.
Topiknya adalah, anda kurang ajar di gereja karena tidak mengikuti aturan.
jangan ganti topik dong.
Topiknya anda kurang ajar dan tidak tau aturan di dalam gereja.
Jadi kesimpulan dari posting anda adalah, anda yg tidak punya tata krama dan sopan santun, tidak tau aturan, mau seenaknya sendiri dan tidak menghargai orang lain.
Sudahlah nak, bukankah saya sudah bilang? PRINT tulisannnya lalu hubungi PASTOR anda dan belajarlah kepadanya. Ha ha ha ha ha ..