
Gambar: ilovejesus-ministry.blogspot.com
Robby Kristian Sitohang menuduh, “Media-media keliru menafsirkan, mengutip sepotong-sepotong, dan menuduh Paus Fransiskus seorang liberal sehingga yang disampaikan oleh Paus Fransiskus menjadi kabur atau dikaburkan.” Lebih lanjut dia berkata, “Dalam konteks pemberitaan yang kabur oleh media-media ini yang mengira Paus sedang menyangkal iman Katoliknya, seharusnya kita bertanya-tanya juga mengapa Paus dan kita masih menjadi seorang Katolik? Mengapa Paus dan kita tidak menjadi universalis atau spiritualis tanpa agama?” Benarkah Paus menyangkal iman Katoliknya? Benarkah Media mengaburkan pernyataan Paus? Kenapa banyak orang Katolik kebakaran jenggot?
Memberanikan diri bertanya, Tentang blog Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik, di Indonesiapapist.com Robby Kristian Sitohang merespon:
Banyak umat Katolik juga non-Katolik terkejut atau bingung dengan pemberitaan media-media Indonesia yang bertajuk “Paus Fransiskus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik”. Jika membandingkan pemberitaan di media-media tersebut dengan teks asli wawancara Paus Fransiskus dengan Ateis bernama Eugenio Scalfari, dapat dengan mudah ditemukan fakta bahwa media-media keliru menafsirkan, mengutip sepotong-sepotong, dan menuduh Paus Fransiskus seorang liberal. Seorang rekan sesama admin di page Katolik Menjawab telah membuat tanggapan atas pemberitaan media-media tersebut. Saya sangat merekomendasikan anda sekalian membacanya. Silahkan klik link di bawah ini:
Pada artikel ini, saya hendak mengajak para pembaca sekalian untuk membaca pernyataan Paus Fransiskus mengenai keyakinan Beliau akan Allah dalam terang sebuah homili yang Paus Fransiskus berikan pada Pesta Santo Georgius. Sebelumnya saya akan mengutip tanya jawab dalam wawancara tersebut yang menjadi topik artikel ini:
“It has almost never been the case. Often the Church as an institution has been dominated by temporalism and many members and senior Catholic leaders still feel this way. But now let me ask you a question: you, a secular non-believer in God, what do you believe in? You are a writer and a man of thought. You believe in something, you must have a dominant value. Don’t answer me with words like honesty, seeking, the vision of the common good, all important principles and values but that is not what I am asking. I am asking what you think is the essence of the world, indeed the universe. You must ask yourself, of course, like everyone else, who we are, where we come from, where we are going. Even children ask themselves these questions. And you?”
“Ini hampir tidak pernah terjadi. Seringkali Gereja sebagai lembaga didominasi oleh temporalisme dan banyak anggota dan pemimpin senior Katolik yang masih berpikir demikian. Namun sekarang, izinkan saya bertanya kepada anda., “Anda, orang sekuler yang tidak percaya kepada Allah, Apa yang anda yakini? Anda seorang penulis dan pemikir. Anda percaya pada sesuatu, anda pasti punya sesuatu yang bernilai dominan. Jangan menjawab saya dengan kata-kata seperti kejujuran, pencarian, pandangan tentang kebaikan umum, segala kebaikan nilai hakiki, karena bukan itu yang saya tanyakan. saya bertanya apa pikiran anda tentang hakekat dunia di dalam alam semesta. Anda pasti bertanya kepada diri sendiri seperti orang lain, siapa kita, dari mana kita berasal, kemana kita akan pergi? Bahkan anak-anak pun mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan demikian kepada dirinya sendiri. Bagaimana dengan anda? Terjemahan hai hai
I am grateful for this question. The answer is this: I believe in Being, that is in the tissue from which forms, bodies arise.
Saya sangat menghargai pertanyaan ini. Jawabannya adalah: saya percaya pada Being (keberadaan), yang darinya tubuh muncul. Terjemahan hai hai
I believe in God, not in a Catholic God. There is no Catholic God, there is God and I believe in Jesus Christ, his incarnation,” the pope said in the interview with the Italian newspaper La Repubblica, as quoted by the Inquisitr. “Jesus is my teacher and my pastor, but God, the Father, Abba, is the light and the Creator. This is my Being. Do you think we are very far apart?”
“Saya percaya kepada Allah, bukan kepada Allah Katolik. Allah Katolik itu tidak ada. Allah itu ada dan saya percaya kepada Kristus inkarnasinya,” Kata Paus dalam interview oleh koran Italia La Republica seperti yang dikutip The Inquisitr. “Yesus adalah guru dan gembala saya namun Allah, Sang Bapa, Abba, adalah Terang dan Pencipta. Itulah “Being” saya. Anda pikir kita berbeda jauh sekali? Terjemahan hai hai
Di sini, Paus Fransiskus mengajukan pertanyaan kepada Scalfari, “sebagai seorang yang tidak percaya kepada Allah, apa yang engkau percayai?”. Scalfari menjawab bahwa dia percaya pada Being yang dipahami sebagai esensi dunia, sesuatu yang membentuk. Dan barulah setelah itu Paus Fransiskus merespon “Saya percaya kepada Allah, tidak kepada seorang Allah Katolik, tidak ada Allah Katolik, yang ada adalah Allah dan saya percaya kepada Yesus Kristus, inkarnasi-Nya. Yesus adalah guru dan gembala saya, tetapi Allah Bapa, Abba adalah terang dan Pencipta. Ini adalah Being saya. Apakah kamu berpikir kita sungguh terpisah jauh?”
Sebenarnya dengan melihat konteks wawancara tersebut, kita menemukan sesuatu yang cukup jelas dan tidak bertentangan dengan iman Gereja Katolik. Di sini, Paus Fransiskus sedang mengajak Si Ateis Scalfari untuk mencari dan mengenal Allah lebih dalam, sembari Paus Fransiskus menegaskan bahwa Allah itu bukan hanya Allah bagi orang Katolik tapi bagi semua manusia termasuk bagi para ateis. Sayangnya pemahaman yang berbeda disampaikan media-media Indonesia sehingga apa yang disampaikan oleh Paus Fransiskus menjadi kabur atau dikaburkan.
Dalam konteks pemberitaan yang kabur oleh media-media ini yang mengira Paus sedang menyangkal iman Katoliknya, seharusnya kita bertanya-tanya juga mengapa Paus dan kita masih menjadi seorang Katolik? Mengapa Paus dan kita tidak menjadi universalis atau spiritualis tanpa agama?
Homili Paus Fransiskus dalam Pesta St. Georgius memberikan kejelasan atas pertanyaan-pertanyaan ini.
And so the Church was a Mother, the Mother of more children, of many children. It became more and more of a Mother. A Mother who gives us the faith, a Mother who gives us an identity. But the Christian identity is not an identity card: Christian identity is belonging to the Church, because all of these belonged to the Church, the Mother Church. Because it is not possible to find Jesus outside the Church. The great Paul VI said: “Wanting to live with Jesus without the Church, following Jesus outside of the Church, loving Jesus without the Church is an absurd dichotomy.” And the Mother Church that gives us Jesus gives us our identity that is not only a seal, it is a belonging. Identity means belonging. This belonging to the Church is beautiful.
Demikianlah Gereja adalah seorang Bunda, Bunda dari lebih banyak anak, banyak anak. Gereja semakin dan semakin menjadi seorang Bunda. Seorang Bunda yang memberikan kita iman, seorang Bunda yang memberikan kita sebuah identitas. Tetapi identitas Kristiani bukanlah sebuah kartu identitas (KTP): Identitas Kristiani adalah menjadi milik Gereja, karena semua ini merupakan milik Gereja, [milik] Bunda Gereja. Karena tidaklah mungkin menemukan Yesus di luar Gereja. Sang Agung Paus Paulus VI berkata: “Ingin hidup bersama Yesus tanpa bersama Gereja, mengikuti Yesus di luar Gereja, mencintai Yesus tanpa Gereja adalah sebuah dikotomi yang absurd.” Dan Bunda Gereja yang memberikan kita Yesus, memberi kita identitas yang bukan sekedar sebuah materai, [tapi] suatu kepemilikan. Identitas berarti kepemilikan. Menjadi milik Gereja ini adalah [hal] yang indah.
Dan di bagian dari paragraf terakhir dari homili tersebut, Paus Fransiskus menegaskan kembali:
“Think of this Mother Church that grows, grows with new children to whom She gives the identity of the faith, because you cannot believe in Jesus without the Church.”
“Pikirkanlah mengenai Bunda Gereja ini yang tumbuh dan tumbuh dengan anak-anak baru yang kepada mereka dia (Bunda Gereja) memberikan identitas iman, karena engkau tidak dapat percaya kepada Yesus tanpa Gereja.”
Bagi yang familiar dengan pengajaran Bapa Gereja St. Siprianus dari Kartago, kita bisa melihat bahwa Paus Fransiskus dalam homilinya ini menegaskan kembali apa yang disampaikan St. Siprianus dari Kartago mengenai Gereja sebagai Bunda dan dalam relasinya dengan Allah sebagai Bapa.
Thus too the Church bathed in the light of the Lord projects its rays over the whole world, yet there is one light which is diffused everywhere, and the unity of the body is not separated. She extends her branches over the whole earth in fruitful abundance; she extends her richly flowing streams far and wide; yet her head is one, and her source is one, and she is the one mother copious in the results of her fruitfulness. By her womb we are born; by her milk we are nourished; by her spirit we are animated. (St. Cyprian of Carthage, On The Unity of the Catholic Church chapter 5)
Demikian juga gereja bermandikan cahaya kehendak Tuhan yang menerangi seluruh dunia, namun hanya ada satu cahaya yang menyebar ke mana-mana yang kesatuan tubuhnya tidak dipisahkan. Dia menambahkan cabang-cabangnya di seluruh bumi dan berbuah berlimpah-limpah; Dia menambah aliran kekayaannya jauh dan luas. Namun kepalanya satu dan sumbernya adalah satu dan dia adalah seorang ibu yang kesuburannya berlimpah-limpah. Dengan rahimnya kita dilahirkan, oleh susunya dia menghidupi kita, dengan jiwanya kita dihidupkan (St. Cyprian of Carthage, On The Unity of the Catholic Church chapter 5) Terjemahan hai hai
The spouse of Christ cannot be defiled; she is uncorrupted and chaste. She knows one home, with chaste modesty she guards the sanctity of one couch. She keeps us for God; she assigns the children whom she has created to the kingdom. Whoever is separated from the Church and is joined with an adulteress is separated from the promises of the Church, nor will he who has abandoned the Church arrive at the rewards of Christ. He is a stranger; he is profane; he is an enemy. He cannot have God as a father who does not have the Church as a mother. (St. Cyprian of Carthage, On The Unity of the Catholic Church chapter 6)
Istri Kristus tidak bisa najis; dia tidak cemar dan suci. Dia tahu satu rumah, dengan kerendahan hati sucinya dia menjaga kesucian satu dipan. Dia menjaga kita untuk Allah; dia mengutus anak-anak yang diciptaannya untuk kerajaan. Siapa pun yang terpisah dari gereja dan bergabung dengan penzinah terpisah dari perjanjian gereja, mereka yang telah meninggalkan gereja mustahil mendapat anugerah Kristus. Dia adalah orang asing, ia adalah orang cemar, dia adalah musuh. Dia tidak dapat memiliki Allah sebagai Bapaknya tanpa gereja sebagai ibunya. (St. Cyprian of Carthage, On The Unity of the Catholic Church chapter 6) Terjemahan hai hai
Sangat jelas diajarkan oleh St. Siprianus, dan digemakan lagi oleh Paus Fransiskus, bahwa mereka yang tidak memiliki Gereja sebagai Bunda tidak dapat memiliki Allah sebagai Bapa. Kebundaan Gereja sendiri secara konsisten sudah diajarkan sejak era Para Bapa Gereja Awal.
Kita bisa mendapatkan sebuah kejelasan di sini dari memahami pernyataan Paus Fransiskus dalam wawancara tersebut dalam kesatuan dengan homili Paus Fransiskus pada Pesta St. Georgius.
Paus Fransiskus menjelaskan tidak pernah Gereja mengajarkan bahwa ada yang namanya Allah Katolik. Allah adalah Allah. Dia adalah Allah bagi seluruh manusia tak peduli agamanya atau keyakinannya apa termasuk bagi Si Ateis Eugenio Scalfari, terlepas dari mereka percaya atau tidak. Allah memang mendirikan GerejaNya, yaitu Gereja Katolik. Tapi hal ini bukan berarti bahwa Dia secara eksklusif hanya menjadi Allah bagi orang Katolik saja atau menjadi salah satu dari banyak ilah-ilah atau sesembahan yang ada di dunia. Demikian juga Allah yang berinkarnasi, Tuhan Yesus Kristus, yang diimani oleh Paus Fransiskus; Yesus bukan hanya Tuhan bagi umat Katolik tapi juga bagi semua orang, dan Tuhan Yesus Kristus tidaklah mungkin ditemukan di luar Gereja. Kita tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus Sang Allah tanpa Gereja.
pax et bonum
Bengcu Menggugat:
Kerabatku sekalian, Kompas.com mengunggah artikel berjudul: Paus Fransiskus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik. Beberapa media online dan blogsite lalu mengutipnya. Kompas.com hanya memuat sebagian kecil dari wawancara Paus, sama sekali memotong-motong. Kompas.com hanya menerjemahkan wawancara yang bersangkutan, meskipun terjemahannya tidak lengkap 100% namun sama sekali tidak mengaburkannya. Tidak ada perubahan isi sama sekali antara terjemahan Kompas.com dan kalimat-kalimat aslinya. Kompas.com menuduh Paus Fransiskus seorang liberal? Tidak! Kompas.com hanya memberitakan fakta bahwa Paus Fransiskus memang disebut liberal oleh orang-orangKatolik Fundamentalis. Setiap orang yang membaca tanpa prasangka pasti menemukan fakta bahwa penulis berita tersebut sama sekali tidak mengemukakan opininya atas berita yang ditulisnya.
Saya sudah mencari-cari di internet dengan mesin pencari google, dan tidak menemukan satu tulisan berbahasa Indonesia pun yang menuduh Paus Fransikus menyangkal iman Katoliknya. Itu berarti tuduhan “Media-media mengira Paus Fransiskus menyangkal imat katoliknya” tidak lebih dari pepesan kosong belaka.
Selain tulisan di atas, saya juga menemukan dua blog lainnya yang berapologetika menghadapi berita Kompas.com tersebut. Pertama, di grup FB Katolik Menjawab. Kedua, di blog Katolisitas. Untuk membaca tulisan bengcu menggugat tulisan di FB Katolik Menjawab, silahkan klik di Sini.
Allah Katolik
Kerabatku sekalian, apakah Allah yang disembah oleh umat Yudaisme, Islam dan khonghucu adalah Allah yang disembah oleh umat Katolik? Bukan! Apakah Allah yang disembah oleh umat Kristen, Saksi Yehova, Mormon, bahkan Allah yang disembah oleh pastor Greg Reynold dari Gereja Katolik Australia yang baru diekskomunikasi oleh Vatikan adalah Allah yang disembah oleh umat Katolik? Mustahil. Kenapa demikian? Karena mereka tidak menyembah Allah Katolik.
Allah Katolik bukan Allah universal. Allah Katolik hanya disembah oleh umat Katolik alias anak-anak gereja Katolik. Itu sebabnya dikatakan, seseorang mustahil memiliki Allah (Katolik) sebagai Bapanya tanpa gereja Katolik sebagai ibunya.
Bila demikian, kenapa Robby Kristian Sitohang menyatakan, “Di sini, Paus Fransiskus sedang mengajak Si Ateis Scalfari untuk mencari dan mengenal Allah lebih dalam, sembari Paus Fransiskus menegaskan bahwa Allah itu bukan hanya Allah bagi orang Katolik tapi bagi semua manusia termasuk bagi para ateis.”? Karena dia tidak mengerti ajaran Gereja Katolik sama sekali bahkan dia tidak paham paragraf-paragraf yang dikutipnya untuk berapologetika. Mengenaskan.
Apakah Allah Katolik alias Allah yang disembah oleh umat Katolik adalah Allah umat Yudaisme, Islam, khonghucu, Kristen, Saksi Yehova, Mormon, pastor Greg Reynold dari Gereja Katolik Australia yang baru diekskomunikasi oleh Vatikan? Mustahil! Kenapa demikian? Karena anda mustahil memiliki Allah (Katolik) sebagai Bapamu tanpa gereja Katolik sebagai ibumu.
“Saya percaya kepada Allah, bukan kepada Allah Katolik. Allah Katolik itu tidak ada. Allah itu ada dan saya percaya kepada Kristus inkarnasinya,” Kata Paus dalam interview oleh koran Italia La Republica seperti yang dikutip The Inquisitr. “Yesus adalah guru dan gembala saya namun Allah, Sang Bapa, Abba, adalah Terang dan Pencipta. Itulah “Being” saya. Anda pikir kita berbeda jauh sekali? Allah tidak Katolik. Allah itu universal dan kami disebut Katolik karena cara kami menyembah-Nya.”
Kerabatku sekalian, apa yang dapat kita simpulkan dari pernyataan paus Fransiskus tersebut di atas?
1. Paus Fransiskus tidak paham ajaran: Anda mustahil memiliki Allah (Katolik) sebagai Bapamu tanpa gereja Katolik sebagai ibumu.
2. Paus Fransiskus khilaf sehingga menyangkal ajaran: Anda mustahil memiliki Allah (Katolik) sebagai Bapamu tanpa gereja Katolik sebagai ibumu.
3. Paus Fransiskus menyangkal ajaran: Anda mustahil memiliki Allah (Katolik) sebagai Bapamu tanpa gereja Katolik sebagai ibumu.
4. Paus Fransiskus menganggap ajaran: Anda mustahil memiliki Allah (Katolik) sebagai Bapamu tanpa gereja Katolik sebagai ibumu, makanya menyangkalnya alias membenahinya dengan pernyataannya di atas.
Allah Mendirikan Gereja Di atas Petra Bukan Petros
Robby Kristian Sitohang: Allah memang mendirikan GerejaNya, yaitu Gereja Katolik.
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (Petros) dan di atas batu karang (Petra) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (ekklesia) dan alam maut tidak akan menguasainya. Matius 16:18
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Matius 16:19
dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang (petra) rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang (petra) itu ialah Kristus. 1 Korintus 10:4
Orang-orang Katolik memang lucu. Mereka mengaku gereja Katolik didirikan oleh Allah di atas Petrus (petros) berdasarkan Matius 16:18, padahal ayat tersebut mencatat dengan tegas dan gamblang bahwa jemaat alias gereja alias Ekklesia di dirikan di atas PETRA (batu karang) bukan di atas PETROS (petrus). Siapakah PETRA yang dimaksudkan oleh Matius 16:18? 1 Korintus 10:4 mengajarkan dengan tegas dan gamblang bahwa Kristus adalah PETRA.
Siapakah NYA yang dimaksudkan di dalam Matius 16:18? Siapakah yang tidak akan dikuasai oleh alam maut? Jemaat alias gereja alias Ekklesia atau NYA yang di atasnya jemaat didirikan? Tentu saja NYA dalam ayat tersebut bukan Petros alias Petrus karena Petrus sudah MATI dan tubunya pun sudah membusuk jadi tanah. NYA di dalam ayat tersebut juga mustahil gereja alias jemaat alias kumpulan orang-orang Kristen (pengikut Kristus) karena semua manusia pasti MATI dan tubuhnya membusuk jadi tanah. Dengan demikian maka NYA dalam ayat tersebut adalah PETRA alias Kristus. Maut tidak menguasai Kristus.
Kepala Gereja Allah Adalah Kristus, Bukan Petrus Apalagi Paus
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (ekklesia). Dialah yang menyelamatkan tubuh. Efesus 5:23
Orang-orang Katolik percaya rasul Petrus adalah KEPALA gereja Katolik. Gelar untuk kepala gereja Katolik adalah Paus. Ketika Petrus meninggal maka jabatan kepala diwariskan kepada Paus penggantinya.
Berdasarkan fakta demikian maka nampak gamblang sekali bahwa gereja Katolik mustahil gereja Allah yang didirikan di atas PETRA alias KRISTUS sebab KEPALA gereja Allah adalah KRISTUS, bukan Petrus atau PAUS.
Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. 2 Korintus 11:2
Berdasarkan Efesus 5:23 dan 2 Korintus 11:2, umat Katolik percaya bahwa gereja Katolik adalah ISTRI dari Kristus dan orang-orang Katolik adalah anak-anak gereja Katolik. Lebih lanjut diajarkan bahwa orang-orang Katolik DILAHIRKAN oleh gereja Katolik.
Kisanak, siapakah KAMU dalam 2 Korintus 11:2 yang dipertunangkan oleh Paulus sebagai perawan suci kepada Kristus? Gereja Katolikkah? Mustahil! Kenapa demikian? Karena KAMU dalam ayat tersebut adalah SETIAP orang Kristen di Korintus. Ditambah dengan Efesus 5:23 maka nampak gamblang sekali bahwa mempelai perempuan Kristus bukan GEREJA alias JEMAAT namun SETIAP orang Kristen (pengikut Kristus).
Umat Katolik percaya Gereja Katolik adalah BUNDA umat Katolik. Dengan rahimnya kita dilahirkan gereja Katolik, oleh susunya gereja Katolik menghidupi kita, dengan jiwanya kita dihidupkan oleh gereja Katolik. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, hai hai mustahil hidup dengan TAHYUL demikian.
Seharusnya Allah memang universal, mana ada Allah Katholik, Allah Islam, Allah Kristen, Allah Hindu, Allah Budha, Allah Kong Hu Chu, hahahaha…
Apa pendapat Suhu tentang Vatikan Sentris?
Lalu apa pendapat suhu tentang penulisan agama pada KTP di negara kita khususnya umat kristiani, mengapa hanya ditulis kristen saja untuk kristen protestan dan katolik saja untuk yang kristen katolik?
POLITIKKAH INI? padahal dua duanya ini konsepnya berbeda dengan yang suhu ajarkan, kristen saja tanpa embel embel.
yaitu Kristen [baca:Pengikut Kristus]
Vatikan sentris = Vatikan adalah standar dan sumber kebenaran? Mengenaskan. kolom agama dalam KTP? baik baik saja. AGAMA: ……, BuKAN denominasi: ……
ALLAH. Itu adalah Tuhan orang muslim bukan TUHAN orang Yahudi . Sebab yoh4:22 sebab keselamatan hanya dari orang Yahudi. Berarti dari TUHAN orang Yahudilah kita akan selamat (lihat Alkitab pada kamus dipaling belalang ada TUHAN orang Yahudi)
@Sudarto write:
“ALLAH. Itu adalah Tuhan orang muslim bukan TUHAN orang Yahudi . Sebab yoh4:22 sebab keselamatan hanya dari orang Yahudi. Berarti dari TUHAN orang Yahudilah kita akan selamat (lihat Alkitab pada kamus dipaling belalang ada TUHAN orang Yahudi)”
“Allah” yg anda maksud di sini adalah “Sebutan/Nama” ya? Itu cuma klaim bro.
Karena itu hanya lafal atau dialek orang Arab untuk menyebut Elohim, Eloi. Orang Arab kalo menyebut Sang Pencipta dg sebutan Allah. Orang kristen berbahasa Arab juga menyebut kata Allah.
Dan sebenarnya memang ga ada yang namanya Allah Arab, Allah Eropa, Allah Yahudi, Allah China, Allah Islam, Allah Kriten, Allah Hindu, Allah Budha, Allah Konghucu, sebab Allah harus universal. Allah atau Sang Pencita adalah milik semua orang.
Saya kutip sebuah pernyataan sehubungan dengan nama Allah.:
Akhmad Sahal, aktivis NU, menulis di facebook-nya begini: Malaysia Putuskan kata “Allah” Hanya untuk muslim. Keputusan Malaysia ini super pekok!!!
Di QS 29:61 dinyatakan kalau kaum kafir Quraisy ditanya siapa yang mencipta langit & bumi dan menundukkan matahari dan bulan, mereka akan jawab “ALLAH.” Ada bbrp ayat lain yg senada. Lah, Qur’an aja mengakui bahwa kata Allah sudah dipakai orang kafir Quraisy sblm Islam datang, kok ini Mulsim Malayasia mau memonopolinya.. Kalau Qur’an saja mengakui bahwa kafir Quraisy memakai sebutan Allah, apalagi kalau ahlul kitab (Yahudi dan Kristen) memakainya. Tentu sangat boleh.
Walhasil, keputusan Malaysia ini didasarkan pada paham “Islam Sontoloyo.” Jangan sampai ditiru negara kita…
sebetulnya penyebutan lafal ALLAH (seperti dibaca orang kristen ) adalah penyebutan nama tuhan yang “sembarangan”
Muslim menyebut nama Tuhan adalah ALLOH …. orang Yahudi menyebut nama Tuhan dengan ELLOH … tak ada Muslim maupun Yahudi yang menyebut nama Tuhan dengan ALLAH … tertulis di Kitab Perjanjian Baru Yesus saja menyebut nama Tuhan dengan ELOI = ELLOH + I = Tuhan Ku ….. sayangnya tak ada kristen yang mengikuiti Yesus dalam menyebut nama Tuhan
Hai Ucin, apa kabar?
Anda yang selalu malang melintang memberi komentar di dunia perblogan. Anda juga yang dulu sering memberi sanggahan dan fakta bodoh di milis debat, blog edyprayitno, sekarang inipun ingin merusuh pula di blog haihai ini?
Video yang Anda tampilkan berasal dari pembahasan seorang rabbi yahudi tapi dengan pemahaman awam yang kelihatannya pro arab tapi tidak benar-benar menguasai makna leksikal ibrani dan arab (aneh). Sudah banyak sanggahan terhadap beliau yang berdasarkan fakta dan yang pastinya Anda lewatkan untuk Anda pelajari.
Urus saja tu blogmu yang sudah tidak pernah update lagi, daripada melempar berita-berita usang yang tidak bermutu sama sekali. Hanya membodohi saja ceritanya
kabar baik …
sayangnya kamu tak bisa membantah fakta ALLH ( Elloh / jew , Alloh / Arab ) nama Tuhan Yang benar ….
Allah = Alloh, ALLH ≠ ALH
Elloh ≠ Allah, Eloi ≠ Elloi, Ellohi ≠ Elohim, Elohi ≠ Eloi, Allah ≠ Elloh
Allah kok sama dengan Elloh. Belajar tatabahasa darimana? Prasasti Moab menyatakan sebaliknya. Pendapatmu tidak benar.
http://www.youtube.com/watch?v=p66fz7PSDpg