Tumimbal Lahir Memang Ngaco Belo


Gambar: chanelduniareptil.blogspot.com

EHIPASSIKO! Artinya datang dan lihat sendiri. Benar. Datang dan lihatlah sendiri bahwa meskipun kebanyakan buddhis mengagul-agulkan dirinya LOGIS dan ILMIAH namun faktanya tidak lebih dari tukang kecap belaka.

Meskipun gembar-gembor ajarannya telah TERUJI dan terbukti LOGIS dan ILMIAH namun kebanyakan justru dongeng belaka. Tanyakan kepada  sepuluh maka seratus Buddhis akan menjawab, “Tumimbal lahir mustahil reinkarnasi sebab tumimbal lahir adalah ajaran Budha yang logis dan ilmiah sedangkan reinkarnasi adalah ajaran Hindu yang tidak logis apalagi ilmiah.” Dari mana para Buddhis tahu tumimbal lahir MUSTAHIL reinkarnasi? Apakah mereka EHIPASSIKO? Apakah mereka melakukan PENGUJIAN? Mustahil! Mustahil ehipassiko bila tidak tahu bahwa tumimbal lahir (Buddha) dan reinkarnasi (Hindu) diterjemahkan dari kata Pali yang sama yaitu: Punabbhava (lafal: punabawa). Tanyakan kepada seratus maka seribu Budhis akan menjawab, “doktrin tumimbal lahir Agama Budha benar-benar LOGIS dan ILMIAH.” Kerabatku sekalian, mari ehipassiko (datang dan lihat sendiri) untuk membuktikan bahwa doktrin tumimbal lahir selain tidak logis dan ilmiah juga menyangkal ajaran Buddha lainnya.

Memberanikan diri bertanya, di dalam buku berjudul: Kajian Tematis Agama Buddha & Agama Kristen, Djoko Mulyono, Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman menulis:

Kehendak,  O Biku, adalah karma yang Aku katakan! Setelah memunculkan kehendak, seseorang menciptakan karma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Nibbedhika-sutta

Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebajikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai kejahatan
Taburlah benihnya dan tanamlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya. Samyutta Nikaya I:227

Para makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, memiliki karma sebagai penyebab kelahiran kembali, sebagai sanak karma, dan terlindung oleh karmanya sendiri. Karma yang membedakan makhluk yang memiliki keadaan hina dan mulia. Majjhima Nikaya III:203

Agama Buddha percaya bahwa makhluk terlahir kembali di salah satu dari enam alam kehidupan: surga, asura, manusia, binatang, hantu, dan neraka. Kata kunci pengertian kelahiran kembali adalah “muncul kembali”, tidak serupa dengan konsep reinkarnasi Hindu yang mempercayai adanya suatu roh kekal yang bertransmigrasi (meninggalkan tubuh lama dan memasuki tubuh baru). Manusia bisa naik ke alam yang lebih tinggi seperti surga atau turun ke alam yang lebih rendah seperti menjadi binatang atau hantu. Seperti halnya listrik dapat termanifestasi dalam bentuk cahaya, panas, gerakan, demikian pula energi karma dapat termanifestasi dalam bentuk dewa, manusia, binatang, atau makhluk lainnya, di mana satu bentuk tak ada kaitan fisik dengan yang lain. Daripada mengatakan bahwa manusia menjadi binatang, lebih tepat mengatakan bahwa energi karma yang termanifestasi dalam wujud manusia dapat termanifestasi dalam bentuk binatang.

Bengcu Menggugat:

ketika itulah TUHAN Allah membentuk (yatsar) manusia itu dari debu tanah (aphar admah) dan menghembuskan nafas hidup (nashamah chay) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (nephes chay). Kejadian 2:7

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah (banah) seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kejadian 4:1

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28

Karena kami tahu, bahwa jika kemah (skenos) tempat kediaman (oikia) kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman (oikodome) di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman (oikia) yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Korintus 5:1

Kerabatku sekalian, kisah penciptaan yang tercatat di dalam Alkitab sangat tegas dan gamblang sehingga mustahil menyangkalnya. Ada TIGA jenis manusia. Manusia jenis pertama tubuhnya DIBENTUK dari debu tanah dan jiwanya DILAHIRKAN dari TUHAN Allah. DILAHIRKAN TUHAN Allah artinya KELUAR dari TUHAN Allah. Manusia jenis kedua namanya lelaki dan perempuan. Yang disebut perempuan DIBANGUN dari tulang rusuk dan daging LELAKI. Dalam bahasa modern namanya KLONING. Yang disebut lelaki adalah manusia JENIS pertama yang diambil rusuk dan dagingnya  untuk membangun perempuan. Manusia jenis ketiga dibangun dari sperma lelaki dan telur wanita. Setelah dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari oleh wanita lalu dilahirkan. Tubuh manusia yang dibentuk dari debu tanah adalah kemah alias cangkang yang akan aus dan mati. Namun setelah tubuhnya mati, jiwa manusia akan mengenakan cangkang baru yang kekal sifatnya.

Agama Hindu mengajarkan bahwa pada mulanya adalah ATMA atau BRAHMAN atau Shang Hyang Widhi Wisesa alias Yang Mulia Mahaesa Yang Mahamula. Atma lalu menjadikan manusia. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwatman. Jiwatman adalah Atma yang lahir dari Brahman dan tinggal di dalam CANGKANG atau tubuh. Ketika tubuhnya mati, Jiwatman pun dilahirkan kembali (Punabbhava) dalam cangkang atau tubuh baru. Dalam tubuh seperti apakah jiwatman dilahirkan kembali? Tergantung KARMA alias perilakunya alias karya baktinya ketika hidup.

Kesamaan ajaran Kristen dan Hindu tentang manusia adalah keduanya mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa alias jasmani dan rohani alias roh dan daging. Perbedaannya adalah Agama Kristen mengajarkan bahwa makluk hidup beranak cucu alias berkembang biak alias MENCIPTAKAN makluk sejenisnya. Itu sebabnya jumlah makluk hidup semakin banyak dari generasi ke generasi. Agama Hindu melalui doktrin reinkarnasinya mengajarkan bahwa jumlah TOTAL makluk hidup tetap namun jumlah makluk menurut wujudnya atau jenisnya berubah-ubah karena KARMA. Doktrin reinkarnasi juga menyangkal ajaran BERKEMBANG BIAK alias BERANAKCUCU alias BERTAMBAH BANYAK.

Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada PRIBADI. Karena tidak ada JIWA yang KEKAL maka manusia itu ibarat api unggun. Ketika api unggun mati, kayunya atau tubuhnya menjadi debu tanah sedangkan apinya PADAM alias TIDAK ada lagi. Melalui doktrin Aanicca anatta Sidharta meyakini TIDAK ada kehidupan setelah MATI.

Meskipun meyakini doktrin Anicca Dukha Anatta namun umat buddhis juga meyakini tumimbal lahir (Punabbhava) alias reinkarnasi alias dilahirkan kembali (Re birth). Karena menganut doktrin Annata (tidak ada roh; tidak ada pribadi) itu berarti yang dilahirkan kembali mustahil jiwatman (jiwa).  Ketika ditanya APA yang dilahirkan kembali? Umat Buddha pun berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menceritakan PROSES kematian. Mereka bilang, ketika menghadapi kematian, seseorang akan MENGENANG (Bhavanga) perilakunya selama hidup lalu MENYADARI kematiannya sedang terjadi (cuti citta). Ketika kesadaran kematiannya (cuti citta) PADAM maka muncullah kesadaran penerusan alias kesadaran untuk melanjutkan hidup alias kesadaran untuk dilahirkan kembali (Patisandhi Vinnana – Patisandhi citta). Setelah mati maka orang itu pun dilahirkan kembali menjadi makluk sesuai dengan KARMA-nya.

Apa yang dilahirkan kembali? Yang dilahirkan kembali bukan JIWA. Lalu apa yang dilahirkan kembali? Kembali para buddhis berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menjelaskan apa ituu tumimbal lahir dengan berkata, “Tumimbal lahir itu ibarat api lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Api dan lilin yang digunakan untuk menyalakan tidak berpindah. Itu sebabnya tetap menyala. Lilin yang dinyalakan menyala karena kondisi memungkinkannya menyala, bukan karena mendapat warisan api dari lilin yang digunakan untuk menyalakannya.”

Kerabatku sekalian, menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan api lilin untuk menjelaskan doktrin tumimbal lahir benar-benar dungu! Kenapa demikian? Karena lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin lain tidak mati alias PADAM dulu ketika lilin lain menyala sedangkan orang yang tumimbal lahir mati DULU baru dilahirkan kembali. Menyalakan lilin dengan lilin justru menyangkal doktrin tumimbal lahir. Menyalakan lilin dengan lilin cocok untuk menjelaskan BERANAKCUCU alias berkembang biak. Anaknya lahir namun induknya tetap hidup dan ada.

LAGU lama JUDUL baru. Itulah yang terjadi. Judul lamanya REINKARNASI. Judul barunya adalah TUMIMBAL LAHIR. Namun lagunya tetap sama yaitu setelah MATI maka BAGIAN yang TIDAK BERWUJUD dari makluk pun MENEMPATI cangkang alias tubuh baru alias WUJUD baru. Bagian tak berwujud itu KEKAL sifatnya alias berperibadi dan PENGETAHUANNYA terus berakumulasi. Itu sebabnya diajarkan bahwa Sidharta BERSAKSI bahwa dia MENGINGAT semua WUJUD atau CANGKANG yang pernah DITEMPATINYA. Itulah BUKTI bahwa BAGIAN tidak berwujud Sidharta Gautama sifatnya PRIBADI dan KEKAL alias ADA terus dan TIDAK bercampur dengan PRIBADI orang lain alias UNIK alias the one and only. Sidharta Gautama itu KEKAL dan PRIBADI. Itu sebabnya ketika dilahirkan jadi tokek dan yang lainnya, dia tetap Sidharta Gautama. Bahkan ketika mencapai Nirwana pun dia tetap Sidharta Gautama, bukan Jokowi atau Ahok apalagi Foke. Gamblang dan tegas sekali bukan? Ajaran tumimbal lahir MENYANGKAL doktrin  Anicca (tidak kekal) dan Anatta (tidak ada roh – tidak ada pribadi).

Menurut ajaran tumimbal lahir alias reinkarnasi WUJUD nanti ditentukan oleh wujud kini dan Karma (perilaku kini) serta Bhavanga (kenangan) sebelum mati.

Wujud nanti = Wujud kini + Karma + Kenangan

Suatu makluk PASTI dilahirkan kembali menjadi DINOSAURUS bila KARMA dan BHAWANGA (KB) untuk lahir sebagai dinosaurus TERPENUHI. Makluk yang menanggung Karma dan bhawanga lahir kembali sebagai DINOSAURUS mustahil lahir kembali jadi KECOA atau TOKEK apalagi burung bangkai. Namun saat ini DINOSAURUS tidak ada lagi. Dinosaurus sudah MUSNAH! Dinosaurus sudah PUNAH!

Apabila doktrin tumimbal lahir Buddha memang LOGIS dan ILMIAH maka punahnya dinosaurus diakibatkan oleh tidak ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir sebagai dinosaurus. Andaikata doktrin Tumimbal lahir agama Buddha memang LOGIS dan ILMIAH, itu berarti SUATU saat nanti bila ada MAKLUK yang MEMENUHI syarat lahir sebagai dinosaurus maka DINOSAURUS pun akan ada LAGI di bumi ini.

Dinosaurus sudah MUSNAH. Dinosaurus sudah PUNAH. Tidak ada dinosaurus lagi di bumi ini. Bila demikian, saat ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus, siapa yang akan MELAHIRKAN dia? Mungkinkah UJUG-UJUG muncul bayi dinosaurus dari ENTAH berentah karena ada MAKLUK yang MATI dan memenuhi Karma  Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus? Ha ha ha ha ha ha …….

Apabila doktrin anatta (tidak ada roh; tidak ada pribadi) dan anicca (tidak ada yang kekal) serta tumimbal lahir memang BENAR serta LOGIS dan ILMIAH maka REINKARNASI bisa dijelaskan sebagai berikut:

ES itu anicca (tidak kekal). ES itu anatta (tidak ada rohnya). Ketika DIPANASKAN (Karma) maka ES pun tumimbal lahir alias reinkarnasi menjadi AIR. Ketika AIR dipanaskan (Karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi gas. Dan Ketika AIR didinginkan (karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi ES.

Ketika ES tumimbal lahir menjadi AIR, maka ES itu pun TIDAK ada lagi alias PUNAH alias PADAM. Kenapa tidak ada LAGI? Karena SUDAH tumimbal lahir alias reinkarnasi alias MENJELMA menjadi AIR. Karena SELURUH ES tumimbal lahir menjadi AIR.

Apabila ES dikubur lalu membusuk jadi tanah atau dibakar menjadi debu kemudian ada mata AIR menyemburkan AIR mustahil dikatakan bahwa AIR dari mata AIR tersebut adalah REINKARNASI atau tumimbal lahir dari ES yang mati lalu dikubur dan membusuk jadi tanah atau dibakar jadi debu tersebut.  Kenapa demikian? Karena ES yang dikubur itu tumimbal lahir menjadi tanah dan ES yang dibakar itu tumimbal lahir menjadi debu dan baik sebagai TANAH maupun sebagai DEBU, TANAH atau DEBU ES itu masih ada.

Apa yang terjadi ketika si Buddhis MATI? Dia TUMIMBAL lahir sebagai bangkai. Bila dikubur bangkai si Buddhis pelan-pelan tumimbal lahir menjadi menjadi TANAH si Buddhis. Bila dibakar, bangkai si Buddhis tumimbal lahir menjadi DEBU. Bila dibekukan dia tetap BANGKAI. Selama tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih ada MUSTAHIL menyatakan bahwa si Buddhis SUDAH dilahirkan KEMBALI. Hanya orang-orang DUNGU yang percaya DONGENG si Buddhis sudah tumimbal lahir menjadi si UCOK dengan LOGIS dan ILMIAH padahal  tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih utuh apa adanya.

Di bawah ini adalah DONGENG yang digunakan oleh kaum Buddhis untuk membuktikan secara LOGIS dan ILMIAH bahwa ajaran REINKARNASI alias TUMIMBAL LAHIR itu memang BENAR.

KISAH GNANATILLAKA

Gnanatillaka adalah namanya, Ia (wanita) dilahirkan pada 14 Februari 1956 di Kotamale, Sri Lanka (Ceylon). Kasus ini berawal di tahun 1960, Ketika ia berumur 4,5 tahun. Waktu itu ia berkata kepada orang tuanya, “Saya ingin bertemu dengan ayah dan ibu saya” “Kami adalah orang tuamu.” jawab ibunya. “Tidak.” Gnanatillaka bersikeras, “Saya ingin bertemu dengan ibu dan ayah saya yang sesungguhnya. Saya akan memberitahukan kamu dimana mereka tinggal. Tolong antar saya ke sana.”

Gnanatillaka menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana menuju rumah dimana orang tuanya yang sesungguhnya tinggal. Rumah itu terletak dekat penampungan teh di Talawakele, sekitar 30 mil dari tempat tinggalnya sekarang.

Kedua orang tua itu mengabaikan cerita gadis kecilnya yang aneh. Setelah berhari-hari berlalu, Gnanatillaka tetap meminta untuk diantar menemui ibu-ayahnya yang sesungguhnya.

Segera berita itu mulai tersebar. Beberapa professor dari Universitas Ceylon dan Bhikkhu Piyadassi Maha Thera juga mengetahui cerita itu. Mereka memutuskan untuk menelitinya. Mereka mendengarkan Gnanatillaka bercerita ketika ia menjadi seorang bocah laki-laki bernama Tilakaratna. Mereka (para peneliti itu) mencatat semua keterangan. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Gnanatillaka, mereka bersama-sama dengan Gnanatillaka pergi menuju kerumah yang dijelaskan oleh Gnanatillaka.

Gnanatillaka belum pernah mengunjungi rumah itu di kehidupan yang sekarang, dia juga belum pernah mengunjungi daerah lokasi rumah itu. Juga kedua keluarga itu tidak saling kenal satu sama lain dan tidak saling mengetahui kehidupan masing-masing.

Ketika Gnanatillaka dan para peneliti itu memasuki rumah itu, Gnanatillaka memperkenalkan para professor kepada kedua orang tua dirumah itu. “Ini adalah ayah dan ibu saya yang sebenarnya.” Lalu ia juga mengenalkan adik laki-lakinya dan kakak-kakak perempuannya. Gnanatillaka menyebut nama-nama kecil saudara-saudarinya dengan tepat.

Lalu kedua orang tua Gnanatillaka di kehidupan sebelumnya itu diwawancarai. Mereka menjelaskan sifat dan kebiasaan anak laki-laki mereka yang telah meninggal pada 9 November 1954. Ketika Gnanatillaka melihat bekas adik laki-lakinya dalam kehidupan lampau, ia menolak bertemu atau berbicara dengannya. Kemudian orang tua Gnanatillaka di kehidupan lampau menjelaskan bahwa kedua bersaudara itu selalu berkelahi dan bertengkar. Mungkin Gnanatillaka masih menyimpan dendam dari kehidupannya yang lampau ketika dia menjadi seorang anak laki-laki.

Ketika kepala sekolah setempat mendengar cerita tersebut, ia sendiri datang berkunjung. Ketika kepala sekolah memasuki rumah, Gnanatillaka memperkenalkannya sebagai gurunya.

Gnanatillaka juga dapat mengingat pelajaran-pelajaran dan pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya ketika ia menjadi anak laki-laki dikehidupan sebelumnya.

Gnanatillaka juga dapat menunjukkan tempat pemakaman dimana ia dimakamkan di kehidupannya yang terdahulu sebagai seorang anak laki-laki.

Dengan cepat cerita Gnanatillaka tersebar luas. Seorang peneliti spesialis kasus kelahiran kembali, Dr. Ian Stevenson dari Universitas Virginia, terbang dari Amerika ke Ceylon untuk menyelidiki kasus itu. Setelah penyelidikannya, Dr.Ian mengatakan bahwa kasus Gnanatillaka adalah salah satu peristiwa kelahiran kembali yang terbaik, baik segi bukti maupun dari aspek psikologis.

Sebuah buku menarik tentang kasus Gnanatillaka diterbitkan dalam bahasa Sinhala di Ceylon. Buku ini menyajikan foto-foto berserta bukti-bukti dokumentasi yang berhasil dikumpulkan.

Bengcu Menggugat:

Kerabatku sekalian, haruskah kita berakata, “WOW …..” begitu atas dongeng reinkarnasi tersebut di atas? Ha ha ha ha …… katakan saja, “HOAX!” begitu. Ha ha ha ha ha ha ……

Anak lelaki itu meninggal 9 November 1954 sedangkan Gnanatillaka lahir 14 Februari 1956. Jumlah hari antara hari kematian anak lelaki itu dan hari kelahiran Gnanatillaka adalah 462 hari. Rata-rata manusia dikandung selama 280 hari. Itu berarti ada selisih 192 hari. Pertanyaannya adalah selama 192 hari anak lelaki itu alias Gnanatillaka luntang lantung ke mana? Jangan-jangan dia tumimbal lahir sebagai tokek dulu kayak Sidharta Gautama? Pada hari ke 192 dia dipatok burung bangkai lalu  tumimbal lahir lagi menjadi Gnanatillaka? Ha ha ha ha ha ha …… LOGIS dan ILMIAH? Ha ha ha ha ha ha … FIKSI ILMIAH lah yao!

413 thoughts on “Tumimbal Lahir Memang Ngaco Belo

  1. Cuma segitu balasan anda? Berarti anda tidak baca tuh kutipan kitab yg saya cantumkan.

    hai hai Bengcu:
    “Anak lelaki itu meninggal 9 November 1954 sedangkan Gnanatillaka lahir 14 Februari 1956. Jumlah hari antara hari kematian anak lelaki itu dan hari kelahiran Gnanatillaka adalah 462 hari. Rata-rata manusia dikandung selama 280 hari. Itu berarti ada selisih 192 hari. Pertanyaannya adalah selama 192 hari anak lelaki itu alias Gnanatillaka luntang lantung ke mana? Jangan-jangan dia tumimbal lahir sebagai tokek dulu kayak Sidharta Gautama? Pada hari ke 192 dia dipatok burung bangkai lalu tumimbal lahir lagi menjadi Gnanatillaka? Ha ha ha ha ha ha …… LOGIS dan ILMIAH? Ha ha ha ha ha ha … FIKSI ILMIAH lah yao!”

    Di sinilah saya katakan anda tidak membaca dengan hati, Jika anda memang benar2 mempelajari ajaran Buddha, pasti anda tidak berkomentar seperti itu. Sang Buddha tidak pernah menuntut orang lain utk mempercayai ajarannya. Itu terserah anda, tapi jika ada yg menghina ajarannya, siswanya dianjurkan utk meluruskannya.

    Anda tidak membaca dengan seksama (memahaminya) ada 31 alam di dunia ini. Manusia bukan satu2nya alam kehidupan. Anda termasuk orang yang berpikir logis, tapi tidak disertai dengan suatu acuan yg jelas. Penilaian itu hanya menurut pemikiran anda sendiri. 192 hari anak lelaki itu (Gnanatilaka) bukan luntang-lantung. Anda pahami ajaran kelahiran kembali. Masih ada alam lain selain manusia, tapi juga bukan cuma alam binatang.ada alam lain yg begitu banyak dan tidak akan mudah memahami apalagi mempercayainya jika cara berpikir kita seperti ikan yg hidup di kolam. atau seperti orang buta tatkala memegang gajah, takkan pernah tahu seperti apa gajah yg sebenarnya. Ajaran tumimba lahir tidak semudah yang anda bayangkan.

    Jika anda mengerti dan memahami, tiap hari kita telah mati dan terlahir kembali. Antara kematian dan kelahiran kembali menjadi makhluk yg berbeda tidak ada jarak (jeda) sama sekali. seperti air sungai yg mengalir, nampak tak ada jarak. Jika anda melihat satu titik air di situ, sebenarnya air itu bukanlah air yg sama, jg bukan air yg berbeda. Air itu terus bergerak. Seperti jg tubuh kita, anda tidak tahu pada detik yg berbeda sebenarnya tubuh kita selalu berubah sel2 selalu bergerak, mati lalu tumbuh kembali. Apakah ini hoax? Anda pada hari ini tidak sama dengan anda yg kemarin, tapi anda yg hari ini namanya dan tubuh yg terlihat tetap sama. Kalau anda hari ini sama dengan yg kemarin, anda tidak akan pernah tumbuh dan berkembang menjadi yg sekarang. Inilah filosofi ajaran tentang kelahiran kembali (sebuah proses). Pemahaman ini harus disertai dengan pemahanam ajaran Sang Buddha lainnya, yaitu tentang karma, 12 Nidana, 31 alam kehidupan, anicca, dukkha, anatta, Karena mempelajari ajaran Sang Buddha tidak bisa satu-satu. Semua ajarannya memiliki korelasi satu sama lain.Jika anda hanya belajar tentang tumimba lahir saja, ya seperti pendapat anda di atas itu. Coba anda pahami ini dengan pikiran yg jernih. Sulitkah? Jika anda paham, saya salut dengan anda!

    Bagian itu dulu yg saya komentari, karena kalau ditulis semua jadi panjang.

  2. Yaya: Cuma segitu balasan anda? Berarti anda tidak baca tuh kutipan kitab yg saya cantumkan.

    Satu hal yang tidak pernah saya lakukan adalah TIDAK membaca komentar orang lain secara lengkap atau membaca namun TIDAK memahaminya LANGSUNG komentar. Salah SATU kebiasaan BUDDHIS adalah UTAK ATIK ilmu pengetahuan biar NGAIT dengan AJARAN agama BUDDHA (belum tentu ajaran Sidharta Gautama) lalu gembar-gembor ajaran AGama Buddha sangat ILMIAH kemudian menampilkan HOAX ajaran Einsten tentang agama Buddha.

    Yaya:
    Seperti jg tubuh kita, anda tidak tahu pada detik yg berbeda sebenarnya tubuh kita selalu berubah sel2 selalu bergerak, mati lalu tumbuh kembali. Apakah ini hoax? Anda pada hari ini tidak sama dengan anda yg kemarin, tapi anda yg hari ini namanya dan tubuh yg terlihat tetap sama. Kalau anda hari ini sama dengan yg kemarin, anda tidak akan pernah tumbuh dan berkembang menjadi yg sekarang. Inilah filosofi ajaran tentang kelahiran kembali (sebuah proses). Pemahaman ini harus disertai dengan pemahanam ajaran Sang Buddha lainnya, yaitu tentang karma, 12 Nidana, 31 alam kehidupan, anicca, dukkha, anatta, Karena mempelajari ajaran Sang Buddha tidak bisa satu-satu. Semua ajarannya memiliki korelasi satu sama lain.Jika anda hanya belajar tentang tumimba lahir saja, ya seperti pendapat anda di atas itu. Coba anda pahami ini dengan pikiran yg jernih. Sulitkah? Jika anda paham, saya salut dengan anda!

    Kisanak, jadi anda TIAP hari TUMIMBAL lahir ya? ha ha ha ha ….. Bila tidak, coba baca kembali yang anda tulis di atas. ha ha ha …

    ANATTA dalam bahasa pali berarti “Tiada-Aku”, ya? ANICCA artinya segala keberadaan yang berkondisi, tanpa pengecualian, berada dalam perubahan terus menerus. Bila keduanya BENAR, kenapa anda masih MENGENALI diri anda setiap harinya ya? Ha ha ha ha … itu pasti karena ATTA dan NICCA bukan? ha ha ha …

  3. hai hai bengcu:
    “Kisanak, jadi anda TIAP hari TUMIMBAL lahir ya? ha ha ha ha ….. Bila tidak, coba baca kembali yang anda tulis di atas. ha ha ha …”

    Susah ya diskusi dengan orang yang sok tahu. Anda bilang saya tidak membaca dengan baik. tapi apa anda sudah membaca dan paham dengan baik? Saya katakan itu adalah filosofi tumimba lahir yaitu sebuah proses.

    hai hai bengcu:
    “ANATTA dalam bahasa pali berarti “Tiada-Aku”, ya? ANICCA artinya segala keberadaan yang berkondisi, tanpa pengecualian, berada dalam perubahan terus menerus. Bila keduanya BENAR, kenapa anda masih MENGENALI diri anda setiap harinya ya? Ha ha ha ha … itu pasti karena ATTA dan NICCA bukan? ha ha ha …”

    Berarti anda hanya tahu artinya saja dari kata anicca dan anatta tanpa memahaminya. Dari uraian saya: “Seperti jg tubuh kita, anda tidak tahu pada detik yg berbeda sebenarnya tubuh kita selalu berubah sel2 selalu bergerak, mati lalu tumbuh kembali. Apakah ini hoax? Anda pada hari ini tidak sama dengan anda yg kemarin, tapi anda yg hari ini namanya dan tubuh yg terlihat tetap sama.”
    Kalo anda mengerti, di situ ada anicca, dukkha dan anatta. Tapi sepertinya anda tidak mengerti yg saya maksudkan. anatta yg benar adalah tanpa inti, penjelasannya panjang. Anicca adalah ketidakkekalan. Di sini lagi2 anda tidak mengerti maksudnya. Jika hidup ini nicca, mengapa anda bisa sakit dan suatu saat mati? Jika nicca, mengapa ada siang dan malam? Mengapa pohon bisa tumbuh dari biji, berkembang, berbuah, tua dan mati? Inilah yang dikatakan anicca. Jika hidup ini nicca (kekal), mengapa bayi hai hai yg dulu kecil, bisa tumbuh berkembang seperti sekarang?

    Apakah suatu saat anda akan mati?
    Pasti.
    Inilah yg dikatakan ANICCA

    Jika kematian tidak pernah datang menjemput anda, inilah yg dikatakan KEKAL, NICCA

    KEHIDUPAN TIDAK PASTI, TAPI KEMATIAN ITU PASTI!

    Jika ada atta coba tunjuk diri anda yang pasti, mana hai hai? Tangannyakah? Dadanyakah? Matanyakah? kakinyakah? Mana hai hai?

    Anda terlalu memaksakan pembenaran menurut pemikiran anda sendiri, Saya katakan, renungkan dengan pikiran jernih, bukan dengan emosi dan keegoisan, tuduhan terhadap satu ajaran yg anda sendiri tidak dapat membuktikan ketidakbenarannya. Dari kata2 anda di atas semua adalah tuduhan tanpa alasan, yang sebenarnya anda sendiri sama sekali tidak mengerti ajaran Buddha, anda hanya tahu istilahnya saja, bukan makna sesungguhnya. Silahkan anda berpolemik sendiri, saya hanya bermaksud meluruskan apa yg sudah anda tulis agar orang lain tidak salah memahaminya. Kalau soal anda mau terima kebenaran ajaran Buddha atau tidak itu adalah urusan anda, karena Sang Buddha tidak pernah mengajarkan siswanya utk memaksakan atau membujuk orang lain utk percaya ajaranNya.

  4. Yaya: Berarti anda hanya tahu artinya saja dari kata anicca dan anatta tanpa memahaminya.

    TAHU ARTINYA dengan benar namanya MEMAHAMI. Nggak TAHU artinya dengan BENAR namun MERASA tahu itu namanya MENAFSIRKAN. ha ha ha ….

    Yaya: Dari uraian saya: “Seperti jg tubuh kita, anda tidak tahu pada detik yg berbeda sebenarnya tubuh kita selalu berubah sel2 selalu bergerak, mati lalu tumbuh kembali. Apakah ini hoax? Anda pada hari ini tidak sama dengan anda yg kemarin, tapi anda yg hari ini namanya dan tubuh yg terlihat tetap sama.”

    Sel tubuh mati lalu tumbuh kembali memang bukan HOAX namun mengajarkan bahwa itu adalah TUMIMBAL lahir yang diajarkan agama Buddha sudah pasti HOAX, hoex … huax …. hoax ….. Kenapa demikian? Karena TUMIMBAL lahir mustahil DITAFSIRKAN menjadi hal demikian. ha ha ha ha ha …

    wow … Jadi anda TUMIMBAL lahir SETIAP detik ya? Karena ANATTA makanya setiap detik anda adalah BARU ya? ha ha ha ha …

    Yaya: Jika hidup ini nicca (kekal), mengapa bayi hai hai yg dulu kecil, bisa tumbuh berkembang seperti sekarang? Apakah suatu saat anda akan mati? Pasti. Inilah yg dikatakan ANICCA

    ANICCA artinyanTIDAK KEKAL! anda bilan MATI adalah bukti TIDAK KEKAL? ha ha ha ha ha …. Belajarlah kepada orang TIONGHOA karena nenek moyangnya sudah MENGAJARKAN sejak purbakala bahwa: SEGALA yang DILAHIRKAN (sheng) pasti MATI. Yang MATI namun tidak BINASA (musnah) namanya KEKAL.

    MATI namun TIDAK BINASA? ya! Ketika seseorang MATI, tubuhnya perlahan-lahan MUSNAH namun ada BAGIAN dirinya yang yang TIDAK musnah yaitu ATMA alias JIWA alias ROH MANUSIA.

    Kalian menyangka diri HEBAT karena menyangkal KEBENARAN ajaran demikian dengan doktrin ANATTA alias TIDAK ada ATMA alias TIDAK ada JIWA alias tidak ada ROH MANUSIA? Bila demikian, yang menanggung KARMA itu APA atau SIAPA ya? CITTA = KESADARAN.

    KESADARAN alias CITTA bukan JIWA alias ATMA? Ha ha ha ha ha …. Seharusnya anda belajar BAHASA Pali dan Sanskerta dengan baik kisanak, setelah itu pelajarilah ajaran agama HINDU yang lebih TUA dari agama Buddha agar tahu apa itu ATMA. Belajar AGAMA Hindu, bukan DONGENG HINDU misalnya Ramayana dan Kresna. Baiklah saya jelaskan sedikit ajaran HINDU kepada diri anda ya.

    Agama HINDU meyakini bahwa KEHIDUPAN hanya BISA BERASAL dari KEHIDUPAN. MAKLUK hidup hanya bisa berasal dari MAKLUK hidup.

    Pada mulanya adalah BRAHMAN. Brahman adalah yang MAHAMULA. Brahman adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang alias yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan (tidak berubah), tidak diciptakan, tidak binasa (kekal). Atman alias ATMA adalah PERCIKAN dari BRAHMAN. Atman di dalam manusia disebut JIWATMAN. Jiwatman bersifat KEKAL alias ketika TUBUH binasa, JIWATMAN tidak BINASA.

    Umat Buddha merasa MINDER dengan agama Hindu itu sebabnya SOK HEBAT dengan MENOLAK ajaran HINDU dengan ajaran ANATTA dengan memberi JIWATMAN nama baru yaitu CITTA alias KESADARAN yang BERPRIBADI alias KESADARAN yang UNIK (tidak ada yang sama)

    Jadi kisanak, CITTA itu KEKAL adanya alias TIDAK BINASA. CITTA seseorang BEDA dengan CITTA yang lainnya, itu namanya PRIBADI alias PERSON alias UNIK.

    sampai sini dulu ya. ha ha ha ha …….. kebanyakan nanti anda nggak ngerti lagi. ha ha ha …

  5. hai hai bengcu:
    “ada mulanya adalah BRAHMAN. Brahman adalah yang MAHAMULA. Brahman adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang alias yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan (tidak berubah), tidak diciptakan, tidak binasa (kekal). Atman alias ATMA adalah PERCIKAN dari BRAHMAN. Atman di dalam manusia disebut JIWATMAN. Jiwatman bersifat KEKAL alias ketika TUBUH binasa, JIWATMAN tidak BINASA.”

    ANDA KURANG REFERENSI BUDDHIS? Kasihan banget, sehingga diskusi ini anda giring ke Hindu. Sudah jelas ajaran Hindu dan Buddha agak berbeda, tak bisa dijadikan acuan utk diskusi di sini, karena yg anda angkat adalah tumimba lahir Buddhis. Jika anda ingin membahas secara Hindu, seharusnya jangan membahas melalui perspektif Buddhis dari awal. Saya justru tergerak berkomentar karena anda membahas dari perspektif Buddhis, tapi dari versi anda sendiri.

    Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang sebenarnya ajaran Buddha, jangan diselewengkan/diartikan sebagai ATTA. Inilah yang saya katakan anda berdiskusi tidak memakai acuan, hanya menurut rekayasa pikiran anda sendiri.

    Ini lengkapnya yang sudah diterjemahkan dipetik dari kitab Udana VIII:3 (bagian dari Sutta Pitaka)
    “Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.

    Ini penjelasan tentang anatta yang saya ambil dari Milinda Panha.

    Raja Milinda pergi menemui Bhikkhu Nagasena. Setelah saling mengucapkan salam persahabatan secara sopan, raja duduk dengan hormat di satu sisi. Milinda mulai bertanya:

    1. “Apa sebutan Yang Mulia dan siapakah nama Anda?”
    “Baginda, saya disebut Nagasena. Namun itu hanyalah rujukan dalam penggunaan umum, karena sebenarnya tidak ada individu permanen yang dapat ditemukan.”
    Mendengar itu, Milinda mengundang orang-orang Yunani Bactria serta para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Nagasena ini berkata bahwa tidak ada individu permanen yang tersirat di dalam namanya. Mungkinkah hal seperti itu diterima?” Kemudian dia berbalik kepada Nagasena dan berkata, “Yang Mulia Nagasena, jika hal tersebut benar, lalu siapakah yang memberi Anda jubah, makanan dan tempat tinggal? Siapakah yang menjalani kehidupan dengan benar? Atau juga, siapakah yang membunuh makhluk hidup, mencuri, berzinah, berbohong dan mabuk-mabukan? Jika apa yang Anda katakan itu benar, maka tidak ada perbuatan yang bajik atau perbuatan yang tercela, tidak ada pelaku kebajikan atau pelaku kejahatan, dan tidak ada hasil karma. Yang Mulia, seandainya saja seseorang membunuh Anda, maka tidak akan ada pembunuh. Dan itu juga berarti tidak ada master atau guru di dalam Sangha Anda. Anda katakan bahwa Anda disebut Nagasena. Nah, apa itu Nagasena? Apakah rambutnya?”
    “Saya tidak mengatakan demikian, raja yang agung.”
    “Kalau begitu, apakah kukunya, giginya, kulitnya atau bagian tubuh lainnya?”
    “Tentu saja tidak.”
    “Atau apakah tubuhnya, atau perasaannya, atau pencerapannya, atau bentuk-bentuk pikirannya, atau kesadarannya?1 Ataukah gabungan dari itu semua? Ataukah sesuatu di luar semua itu yang disebut Nagasena?”
    Masih saja Nagasena menjawab: “Bukan semuanya itu.”
    “Kalau begitu, dapat dikatakan bahwa aku tidak dapat menemukan Nagasena itu. Nagasena hanyalah OMONG KOSONG. Lalu siapakah yang kami lihat di depan mata ini? Yang Mulia telah berdusta.”
    “Baginda, tuan telah dibesarkan di dalam kemewahan sejak dilahirkan. Bagaimana tadi baginda datang kemari, berjalan kaki atau naik kereta?”
    “Naik kereta, Yang Mulia.”
    “Kalau begitu, tolong jelaskan apakah kereta itu? Apakah porosnya? Apakah rodanya, atau sasisnya, atau kendalinya, atau kuknya, yang disebut kereta? Ataukah gabungan dari itu semua, ataukah sesuatu di luar semua itu?”
    “Bukan semuanya itu, Yang Mulia.”
    “Kalau begitu, baginda, kereta ini hanyalah omong kosong. Baginda berdusta ketika berkata datang kemari naik kereta. Baginda adalah raja yang besar di India. Siapa yang baginda takuti sehingga baginda berdusta?” Kemudian Nagasena memanggil orang-orang Yunani Bactria dan para bhikkhu untuk menjadi saksi: “Raja Milinda ini telah berkata bahwa beliau datang kemari naik kereta, tetapi ketika ditanya, ‘Apakah kereta itu?’ beliau tidak dapat menunjukkannya. Dapatkah hal ini diterima?”
    Maka secara serempak ke-500 orang Yunani Bactria itu berteriak bersama-sama kepada raja, “Jawablah bila baginda bisa!”
    “Yang Mulia, aku telah berkata benar. Karena mempunyai semua bagian itulah maka ia disebut kereta.”
    “Bagus sekali. Baginda akhirnya dapat menangkap artinya dengan benar. Demikian pula, karena adanya tiga puluh dua jenis materi organik2 di dalam tubuh manusia beserta lima unsur makhluklah maka saya disebut Nagasena. Seperti yang telah dikatakan oleh Bhikkhuni Vajira di hadapan Sang Buddha yang Agung, ‘Seperti halnya karena memiliki berbagai bagian itu maka kata ‘kereta’ digunakan, demikian juga bila ada unsur-unsur makhluk maka kata ‘makhluk’ digunakan.’”3
    “Sangat indah Nagasena, sungguh luar biasa teka-teki ini telah Anda pecahkan, meskipun sulit. Seandainya Sang Buddha berada di sini pun Beliau pasti akan menyetujui jawaban Anda.”

    hai hai bengcu:
    Umat Buddha merasa MINDER dengan agama Hindu itu sebabnya SOK HEBAT dengan MENOLAK ajaran HINDU dengan ajaran ANATTA dengan memberi JIWATMAN nama baru yaitu CITTA alias KESADARAN yang BERPRIBADI alias KESADARAN yang UNIK (tidak ada yang sama)

    SEKALI LAGI anda melontarkan tuduhan. Bisa anda tunjukkan keminderan ajaran Buddhis di mana?! yang sok hebat di mana?! Saya tidak pernah merasa minder tuh sebagai seorang Buddhis terhadap hindu. Malah kami sangat akur,

    Manusia menurut pemahaman umum terdiri dari jasmani dan rohani (jiwa).dalam Buddhis adalah NAMA DAN RUPA (PANCAKANDHA).ANDA DI SINI SALAH LAGI. INI AKIBAT DISKUSI TIDAK MENDASAR, TIDAK PUNYA REFERENSI. Buddha tidak pernah menyebut yang membentuk manusia adalah citta/atta/jiwa, tapi disebut NAMA, terdiri dari 4: yaitu vedanakhandha, atau kegemaran akan perasaan, adalah semua perasaan yang timbul karena adanya hubungan lima indra manusia dengan dunia luar, baik perasaan senang, susah ataupun netral. Sannakhandha, adalah kegemaran akan penyerapan yang menyangkut intensitas indra dalam menanggapi rangsangan dari luar yang menyangkut enam macam penyerapan indrawi seperti bentuk suara, bau-bauan, cita rasa, sentuhan jasmaniah dan pikiran. Shankharakhandha, adalah kegemaran bentuk-bentuk pikiran. Menurut ajaran Buddha, bentuk-bentuk pikiran ini terdiri dari 50 macam kegiatan mental seperti perhatian, keinginan, keyakinan, kemauan keras, keserakahan, dan sebagainya. Vinnanakhandha, kegemaran akan kesadaran, adalah kegemaran terhadap reaksi atau jawaban yang berdasarkan pada salah satu dari keenam indra dengan objek dari indra yang bersangkutan.

    Saya sarankan dalam berdiskusi, jika kekurangan referensi jangan melantur ke sana ke mari. Tegaskan diskusi pada relnya. Jika sedang berbicara menurut Buddhis, tidak usah dibawa ke sana ke mari. Saya rasa diskusi ini tidak bermanfaat karena anda tidak mempunyai landasan/acuan jelas dalam berdiskusi. Semua masih berupa tuduhan saja.

    TAMBAHAN DARI SAYA:
    Ajaran Buddha yang membedakan dengan ajaran2 lain (keunikannya) adalah ajaran tentang meditasi Vipassana Bhavana. Sang Buddha dan siswanya tidak pernah mengklaim bahwa meditasi itu hanya dikhususkan untuk umat Buddha, semua umat beragama, dari suku/bangsa apapun boleh mengikutinya. Dan pada kenyataannya semua agama memang mengikutinya, mulai dari muslim, katolik, kristen, hindu dan buddha sendiri. Di sana tidak ada yang dibeda2kan. Jika anda ingin membuktikan kebenaran akan ajaran TUMIMBA LAHIR, KARMA, ANICCA, DUKKHA, ANATTA, 12 NIDANA, PANCA KHANDA, Sang Buddha sudah memberikan caranya, yaitu melalui meditasi Vipassana Bhavana.

    Rasa garam tidak dapat dijelaskan melalui kata2 seperti apa rasanya, hanya jika kita merasakannya sendiri, kita baru tahu rasa garam itu. Ajaran buddha tidak bisa dibuktikan hanya dengan kata2, Dengan datang, melihat dan mengalaminya sendirilah baru kita bisa membuktikannya. Maka Sang Buddha mengajarkan Ehipassiko, Buddhisme bukanlah ajaran hoax, maka berani dibuktikan. Jika ajaran Sang Buddha hoax, tidak mungkin Beliau meminta siswanya untuk membuktikannya, karena omong kosong tidak bisa dibuktikan!!!

    Yang menuduh ajaran buddha Hoax adalah anda sendiri, padahal tulisan anda sendirilah yang hoax, karena tidak mendasar. Sedangkan Sang Buddha mengajarkan apa yang sudah dilihat dan dialami sendiri, bukan hasil rekayasa pemikirannya sendiri. AjaranNya bisa dapat dibuktikan dan sudah banyak yang membuktikannya. Jadi? Anda rasakan sendiri garam itu baru anda tahu rasanya. Anda buktikan sendiri ajaran Buddha tanpa tuduhan baru anda tahu.

    Maka, jangan cari2 kelemahan ajaran lain sebelum anda benar2 mengetahuinya.
    Ajaran Buddha sungguh sulit dimengerti, butuh perenungan yang mendalam untuk memahaminya. Sekedar membaca dan mendengar tidak akan membuat kita bisa memahami ajaran Buddha itu dengan sesungguhnya.

    hai hai bengcu:
    sampai sini dulu ya. ha ha ha ha …….. kebanyakan nanti anda nggak ngerti lagi. ha ha ha …

    Sepertinya malah anda yang tidak mengerti tulisan anda sendiri, makanya melantur ke sana ke mari, itu pertanda orang bingung kehabisan bahan dan memaksakan diri beradu argumen.

    Jika anda ingin belajar BUDDHA DHAMMA, belajarlah dengan tujuan baik, pasti akan ada manfaatnya. Tapi jika anda ingin belajar BUDDHA DHAMMA dengan tujuan tidak baik, sebaiknya anda tidak usah mempelajarinya sama sekali.

    Akhir kata saya ucapkan. “SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BERBAHAGIA”.

    sadhu 3x

  6. Ini yg punya blog umurnya berapa sih? Kok kayak anak sd ya cara diskusinya?
    Dari tulisan2 anda terbukti sekali kalau anda tidak mengerti tentang ajaran buddha, bisanya cuma cuap cuap nunjukkin kebegoan anda.
    Kalau boleh tahu allah itukan yg menciptakan kebaikan lalu siapa yg menciptakan kejahatan?
    Waktu malaikat membelot melawan tuhan dan menjadi iblis darimana dtgnya kehendak jahat malaikat itu?
    Segala sesuatu berasal dari allah, berarti kejahatan jg berasal dari allah bukan?
    Jawabnya jgn cuma hahahah hihihi aja lah, eneg lihat komen2 anda.

  7. @fan, hai hai umurnya sudah 49 tahun. Menurut kalender Tionghoa malah sudah 50 tahun. Namun tentu saja hai hai NGGAK pernah lupa hal-hal yang MENGASYIKKAN wkatu SD, itu sebabnya MASiH melakukannya. Anda mau belajar ajaran Kristen ke hai hai ya? Ha ha ha ha … mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, hari ini hai hai lagi MALES mengajari anda. Jadi belajar dulu dech di Internet. Nanti kalau kurang JELAS baru kembali lagi untuk bertanya kepada hai hai ya. ha ha ha ha ……. Kalau ENEG, muntahin saja. Nggak SEHAT tuh menahan muntah. ha ha ha …

  8. Siapa yg nahan sih hai hai?
    Kl bisa kutunjukkin buat anda, hoax…………!!!!!!!!
    Kenapa malas? Atau gak bisa ngejawab?
    Biasa, lagu lama judul baru, ga bisa jawab alasannya lagi malas.
    Bukannya mau belajar sih, cuma mau tau seberapa ngaco belonya jawaban anda,hihihi….
    Ngomong ngomong belajar agama buddha dari mana? Boleh saya ikutan belajar dari sumber yg anda pelajari?
    Soalnya luar biasa sekali penjelasan anda yg udah panjang lebar dan cape cape ngetiknya tapi ternyata ngawur abis.

  9. Sudah segitu lamanya belajar tapi masih ngaco belo begene?
    Kasihaaaaannn…….
    Belajarnya sama siapa ya?
    Jangan jangan belajar nya dari alkitab makanya ga nyambung, hihihi…..

  10. @fan, anggap saja anda benar. Belajar agama Buddha dari mana? ha ha ha ha …. Tentu sja bukan dari anda. ha ha ha … Belajarlah baik-baik Saat ini SUDAH cukup banyak kitab-kitab Buddhis yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalau tulisan hai hai NGAWUR, sebaiknya TUNJuKKAN salahnya dan ajarkan yagn BENAR, kisanak.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.